SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

BEBERAPA PENYEBAB KEBANYAKAN WANITA MASUK NERAKA


Ikhwan Fillah yang dirahmati Allah Azza Wajalla..

Suatu perkara yang pasti bahawa Syurga dan Neraka adalah dua tempat balasan yang Allah Azza Wajalla ciptakan. Syurga diciptakanNya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Muslimin dan Muslimat dan Neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum Musyrikin, Musyrikat dan pelaku dosa yang Allah Azza Wajalla telah melarang darinya. Setiap Muslim yang mengerti keadaan Syurga dan Neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Syurga dan terhindar jauh dari Neraka, inilah fitrah.

Membicarakan tentang Neraka dan penghuninya, yang mana mayoritas penghuninya adalah wanita karena sebab-sebab yang akan dijelaskan nanti.
Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni Neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Azza Wajalla di dalam Al Quran tentang Neraka dan azab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Allah Azza Wajalla berfirman yang  artinya :

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah At Tahrim ayat 6)
Imam At-Tobari (rahimahu ‘Llah) menyatakan di dalam tafsirnya yang artinya  : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari Neraka.”

Ibnu Abbas r.a juga mentafsirkan ayat ini : “Beramallah kamu dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kamu untuk bermaksiat kepadaNya dan perintahkan keluarga kamu untuk berzikir, niscaya Allah menyelamatkan kamu dari Neraka.”

Masih banyak tafsir para sahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari Neraka dengan mengerjakan amalan soleh dan menjauhi maksiat kepada Allah Azza Wajalla

Di dalam surah lainnya Allah Azza Wajalla berfirman yang artinya :

“Peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Surah Al Baqarah ayat 24)

Sahabat yang dimuliakan, Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan Neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian Neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam di dalam hadis yang sahih dari Abu Hurairah r.a bahawasanya baginda bersabdayang bermaksud :

“Api kamu yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian Neraka Jahanam.”

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api Neraka yang panasnya 70 kali ganda dibandingkan dengan panas api dunia? Semoga Allah Azza Wajalla menyelamatkan kita dari api Neraka.

WANITA PENGHUNI NERAKA
Mengenai hal ini, Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya :

“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam tentang penghuni Syurga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan Neraka yang majoriti penghuninya adalah wanita. Tetapi hadis ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang menyebabkan mereka dimasukkan ke dalam Neraka dan menjadi mayoritas penghuninya, namun demikian sebab-sebab tersebut disebutkan dalam hadis lainnya.

Di dalam kisah solat gerhana matahari, Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukan solat gerhana padanya dengan solat yang panjang , Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam melihat Syurga dan Neraka. Ketika beginda melihat Neraka beginda bersabda kepada para sahabatnya (yang artinya) :

“ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda shallallohu Alaihi Wasallam menjawab : “karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah shallalllahu alaihi wasallam menjelaskan tentang wanita penghuni Neraka, baginda bersabda :

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti bunggul unta. Mereka tidak masuk Syurga dan tidak mendapatkan wanginya Syurga padahal wanginya boleh didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda yang artinya :

“Sesungguhnya penduduk Syurga yang paling sedikit adalah wanita.”
(Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)
Imam Qurthubi (rahimahu ‘Llah) menjelaskan maksud hadis di atas dengan pernyataannya :

“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”

(Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tazkirah halaman 369)

Jika kita perhatikan keterangan dan hadith di atas dengan insaf, nescaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam Neraka bahkan menjadi majoriti penghuniya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoriti dari penghuni Syurga.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya :

Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam menjelaskan hal ini pada sabda baginda di atas tadi. Kekufuran seumpama ini terlalu banyak kita dapati di tengah-tengah keluarga kaum muslimin, iaitu seorang isteri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak sesuai dengan kehendak isteri sebagaimana kata pepatah,’panas setahun dihapus oleh hujan sehari’. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang isteri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan suami karena Allah Azza Wajalla tidak akan melihat isteri seumpama ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam :
“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.”
(Hadis Riwayat Nasaie)

Hadis di atas adalah peringatan keras bagi kaum wanita muslimah yang menginginkan keredhaan Allah Azza Wajalla dan SyurgaNya. Maka tidak layaklah bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal kekurangan yang tidak sepatutnya untuk diperbesar-besarkan.

Jika sedemikian keadaannya, maka sangat tidak sesuai sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam sebagai majoriti kaum yang masuk ke dalam Neraka walaupun mereka tidak kekal didalamnya.

Cukup sekiranya isteri-isteri Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam dan para sohabiyah sebagai suri tauladan bagi isteri-isteri kaum muslimin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.
2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang isteri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

1. Durhaka dengan ucapan.
2. Durhaka dengan perbuatan.
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang isteri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. KeDurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang isteri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk keDurhakaan ini ialah apabila seorang isteri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang dibenarkan oleh syara’. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan yang bermaksud untuk menjatuh dan merosak kehormatannya sehingga suaminya dipandang hina di mata orang lain. Begitu juga apabila seorang isteri meminta talak atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mendakwa telah dianiaya atau dizalimi suaminya atau lain-lainnya.

Permintaan cerai biasanya di awali dengan pertengkaran antara suami dan isteri karena ketidakpuasan isteri terhadap kebaikan dan usaha suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Azza Wajalla dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam. Sungguh hina sekali apa yang dilakukan isteri seperti ini terhadap suaminya.
Ingatlah sabda Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam :

“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’ie) maka haram baginya mencium wangi Syurga.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi )

Bentuk keDurhakaan kedua yang dilakukan para isteri terjadi apabila seorang isteri tidak mahu melayani keperluan batiniyah suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang seumpamanya.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang isteri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tindakan ini sebenarnya adalah seakan-akan seorang isteri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’ie. Demikian pula jika isteri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya (aurat), menerima tetamu tanpa izin suaminya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang lain-lain.
Begiti juga apabila seorang isteri tidak mau berdandan atau mempercantikkan diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal-hal itu, melakukan puasa sunat tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti solat atau puasa Ramadhan.

Maka setiap isteri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah isteri yang durhaka terhadap suami dan telah melakukan maksiat kepada Allah Azza Wajalla Jika kedua bentuk keDurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang isteri maka ia dikatakan sebagai isteri yang Durhaka dengan ucapan dan perbuatannya.

Sungguh rugi wanita yang melakukan keDurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke Neraka daripada jalan ke Syurga karena memang biasanya wanita yang melakukan keDurhakaan-keDurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Jalan menuju Syurga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di hujung jalan ini ada Syurga yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahawa jalan menuju ke Neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sedarlah bahawa Neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mahu berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.

Hanya wanita yang bijaksanalah yang mahu bertaubat kepada Allah Azza Wajalla dan meminta maaf kepada suaminya dari keDurhakaan-keDurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang wajib ditutupnya dari pandangan lelaki bukan mahramnya.
Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang disebabkan pakaian yang mereka pakai tipisnya, berseluar ketat menampakkan bagian-bagian tubuh tertentu, tidak menutup aurat sepertimana yang berlaku di dalam masyarakat kita. Sebagaimana yang dihuraikan oleh Ibnul ‘Abdil Barr rahimahu ‘Llah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan :

“Wanita-wanita yang dimaksudkan Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan tubuhnya atapun yang menunjukkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”

Mereka adalah wanita-wanita yang suka dan amat gembira apabila berjaya menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Azza Wajalla telah melarang hal ini dalam firmanNya yang artinya :
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (Surah An Nur ayat 310)

Imam Az-Zahabi rahimahu ‘Llah menyatakan di dalam kitab Al Kabair :

“Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang dipakai oleh mereka, memakai minyak wangi dengan yang seumpanya jika mereka keluar rumah … .”

Dengan perbuatan seperti ini bererti mereka secara tidak langsung menyeret kaum lelaki ke dalam Neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoncang keimanan yang kukuh sekalipun, apa lagi iman yang lemah yang tidak dikuatkan dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah sendiri menyatakan di dalam hadis yang sahih bahwa :

“ Fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum lelaki adalah fitnahnya wanita.”

Sahabat yang dirahmati Allah,

Sejarah sudah membuktikan bahawa betapa banyak tokoh-tokoh dunia yang tidak beriman kepada Allah Azza Wajalla hancur hanya disebabkan pujuk-rayu wanita. Bahkan berapa banyak persaudaraan di antara kaum muslimin terputus hanya disebabkan wanita. Berapa banyak anak yang menDurhaka kepada ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi gejala-gejala lainnya yang dapat membuktikan bahawa wanita seumpama mereka ini memang layak untuk tidak mendapatkan wanginya Syurga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum lelaki ke dalam lembah dosa yang hina, terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan tubuh mereka kepada kaum lelaki. Tidak menghairankan lagi jika di sana-sini terjadi jenayah dan kezaliman terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang disaran oleh Islam yang akan menyelamatkan kaum wanita dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak. Jangan diikut pemikiran sekular pemimpin-pemimpin wanita Islam yang cuba mempertikaikan hukum-hukum Allah dan mempertikaikan hak-hak wanita yang telah dinyatakan di dalam al-Qur’an.

Allah Azza Wajalla berfirman yang artinya :
“Dan tinggallah kamu di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Surah Al Ahzab ayat 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang menyebabkan wanita menjadi penghuni majoriti Neraka. Tetapi cukuplah dengan tiga sebab ini sahaja yang dijelaskan di sini karena memang tiga perkara inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat kita.

Rasulullah shallallohu Alaihi Wasallam pernah menerangkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Ketika beginda selesai berkhutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Azza Wajalla dan anjuran untuk mentaatiNya. Baginda pun bangkit mendatangi kaum wanita, baginda menasihati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian baginda bersabda :

“Bersedekahlah kamu semua. Karena kebanyakan kamu adalah kayu api Jahanam!”

Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”

Baginda menjawab : “Karena kamu banyak mengeluh dan kamu kufur terhadap suami!” (Hadis Riwayat Al- Bukhari)

Bersedekahlah karena sedekah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Semoga Allah Azza Wajalla menyelamatkan kita dari azab-Nya. Amin

Senin, Mei 06, 2013 | 6 komentar | Read More

KEUTAMAAN DZIKIR HAILALAH (LA ILAHA ILLALLOH)



1. SEBAGAI KUNCINYA SURGA, BENTENGNYA ALLOH DAN AMAN DARI SIKSA

ففى الحديث القدسي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:" يقول الله تعالى لا إله إلا الله حصني فمن دخله أمن عذابي"؛ مسند الشهاب.

" La ilaha Illalloh adalah Ucapanku, dan Aku adalah itu, barang siapa yang mengucapkannya, maka ia masuk dalam bentengku, dan siapapun yang masuk dalam bentengku maka ia akan aman dari siksaku ". hadist diriwayatkan oleh Imam Sairozi. (musnad as-shihab)

وعن عثمان بن عفان عن عمر بن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إني لأعلم كلمة لا يقولها عبد حقا من قلبه فيموت على ذلك إلا حرمه الله على النار: لا اله إلا الله", رواه ابن حبان فى صحيحه.

sungguh aku tidak mengetahui suatu kalimat yang diucapkan seorang hamba dengan benar benar dari hatinya kemudian dia meninggal dalam keadaan tersebut kecuali allah mengharamkan jasadnya masuk kedalam neraka yaitu la ilaha illalloh (HR ibnu hibban dalam shohihnya)

وعن عبدالله بن عمرو بن العاص قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "إن الله يستخلص رجلا من أمتي على رؤوس الخلائق يوم القيامة فينشر عليه تسعة وتسعين سجلا كل سجل مثل هذا ثم يقول أتنكر من هذا شيئا أظلمك كتبتي الحافظون فيقول لا يا رب فيقول أفلك عذر فيقول لا يا رب فيقول بلى إن لك عندنا حسنة وإنه لا ظلم عليك اليوم فيخرج بطاقة فيها أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله فيقول يا رب ما هذه البطاقة مع هذه السجلات فقال إنك لا تظلم قال فتوضع السجلات في كفة والبطاقة في كفة فطاشت السجلات وثقلت البطاقة ولا يثقل مع اسم الله شيء" رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب، وابن حبان في صحيحه، والحاكم والبيهقى، وقال الحاكم: صحيح على شرط مسلم.

وعن أبى ذر رضي الله عنه قال أتيت النبي الله صلى الله عليه وسلم وعليه ثوب أبيض وهو نائم ثم أتيته وقد استيقظ فقال: "ما من عبد قال لا إله إلا الله ثم مات على ذلك إلا دخل الجنة قلت وإن زنى وإن سرق قال وإن زنى وإن سرق قلت وإن زنى وإن سرق قال وإن زنى وإن سرق قلت وإن زنى وإن سرق قال وإن زنى وإن سرق على رغم أنف أبي ذر"؛ رواه البخارى.

وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "مفاتيح الجنة شهادة أن لا اله إلا الله" رواه أحمد.

وعن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " لقنوا موتاكم شهادة أن لا إله إلا الله فمن قالها عند موته وجبت له الجنة قالوا يا رسول الله فمن قالها في صحة قال تلك أوجب وأوجب ثم قال والذي نفسي بيده لو جئ بالسماوات والأرضين ومن فيهن وما بينهن وما تحتهن فوضعت في كفة الميزان ووضعت شهادة أن لا إله إلا الله في الكفة الأخرى لرجحت بهن" رواه الطبرانى.

وعن أبى موسى عن أبيه قال: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم ومعي نفر من قومي فقال: "ابشروا وبشروا من وراءكم، أنه من شهد أنه لا إله إلا الله صادقا بها دخل الجنة" فخرجنا من عند النبي صلى الله عليه وسلم نبشر الناس، فاستقبلنا عمر بن الخطاب، فرجع بنا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله! إذا يتكل الناس، فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم. رواه أحمد والطبراني ورجاله ثقات.

2. PALING BESARNYA SEBAB YANG MENGHANTARKAN SESEORANG KEPADA AMPUNAN ALLOH JALLA WA'ALA DAN PEMBACANYA MEMPEROLEH SYAFAAT RASULULLAH SHALLALLOHU ALAIHI WASALLAM

ففى الصحيح عن أبى هريرة رضي الله عنه قال "قلت يا رسول الله من أسعد الناس بشفاعتك يوم القيامة؟ قال رسول الله: "لقد ظننت يا أبا هريرة أن لا يسألني عن هذا الحديث أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث، أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال: لا اله إلا الله خالصا من قلبه أو نفسه" رواه البخاري.

وعن أنس قال قال رسول الله الله صلى الله عليه وسلم: "ما قال عبد لا إله إلا الله في ساعة من ليل أو نهار إلا طمست ما في صحيفته من السيئات حتى يسكن إلى مثلها من الحسنات"؛ رواه أبى يعلى التميمى فى مسنده.

3. SEBAIK BAIKNYA DZIKIR (ANTARA DIA DAN ALLAH TIDAK ADA HIJAB)

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت النبى صلى الله عليه وسلم يقول: "أفضل الذكر لا إله إلا الله وافضل الدعاء الحمدلله" رواه الترمذي وقال: حديث حسن, والحاكم وقال صحيح الأسناد.

artinya : " utamanya dzikir adalah la ilaha illallah dan utamanya do'a adalah Alhamdulillah " ( hadist di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi,Imam Nasa'i ,Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Imam Hakim dari Imam Jabir.)

وعن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "التسبيح نصف الميزان والحمد يملأه ولا إله إلا الله ليس لها دون الله حجاب حتى تخلص إليه" رواه الترمذى.

وعن طلحة بن عبيد الله بن كريز ان رسول الله الله صلى الله عليه وسلم  قال: "أفضل الدعاء دعاء يوم عرفة وأفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله وحده لا شريك له"؛ رواه الأمام مالك.

4. BEBERAPA KEUTAMAAN DZIKIR HAILALAH TELAH DIJELASKAN DALAM HADITS HADITS RASULULLAH ANTARA LAIN :

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "أكثروا من شهادة أن لا اله إلا الله قبل أن يحال بينكم وبينها" رواه أبو يعلى ورجاله رجال الصحيح.

وعن يعلى بن شداد قال حدثني أبي شداد بن أوس وعبادة بن الصامت حاضر يصدقه قال إنا لعند رسول الله الله صلى الله عليه وسلم إذ قال: "هل فيكم غريب يعني أهل الكتاب قلنا لا يا رسول الله فأمر بغلق الباب فقال ارفعوا أيديكم فقولوا لا إله إلا الله فرفعنا أيدينا ساعة ثم وضع رسول الله الله صلى الله عليه وسلم يده ثم قال الحمد لله اللهم إنك بعثتني بهذه الكلمة وأمرتني بها ووعدتني عليها الجنة إنك لا تخلف الميعاد ثم قال أبشروا فإن الله قد غفر لكم" رواه الحاكم وأحمد والطبراني وابن حبان.

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "قال موسى عليه السلام يا رب علمني شيئا اذكرك به وأدعوك به قال يا موسى قل لا إله إلا الله قال يا رب كل عبادك يقول هذا قال قل لا إله إلا الله قال لا إله إلا أنت يا رب إنما أريد شيئا تخصني به قال يا موسى لو كانت السماوات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ولا إله إلا الله في كفة مالت بهن لا إله إلا الله" رواه الحاكم وقال هذا حديث صحيح الإسناد، ورواه النسائى وابن حبان في صحيحه.

وعن أم هانئ بنت أبي طالب رضي الله عنها قالت قلت   يا نبي الله إني امرأة قد كبرت وضعفت فدلني على عمل, قال: "كبري الله مائة مرة واحمدي الله مائة مرة وسبحي الله مائة مرة فهو خير لك من مائة بدنة متقبلة وخير من مائة فرس مسرج ملجم في سبيل الله وخير من مائة رقبة متقبلة وقول لا إله إلا الله لا يترك ذنبا ولا يشبهها عمل" رواه الحاكم وقال هذا حديث صحيح الإسناد.

وعن أبي الدرداء عن النبي الله صلى الله عليه وسلم  قال: "ما من عبد يقول لا إله إلا الله مائة مرة إلا بعثه الله يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر ولم يرفع لأحد يومئذ عمل أفضل من عمله إلا من قال مثل قوله أو زاد"؛ رواه الطبرانى فى مسند الشاميين.

وعن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ليس على أهل لا إله إلا الله وحشة في قبورهم ولا منشرهم وكأني أنظر إلى أهل لا إله إلا الله وهم ينفضون التراب عن رؤوسهم ويقولون الحمد لله الذي أذهب عنا الحزن"؛ أخرجه الطبراني وأبو يعلى والبيهقى في الشعب.

وعن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "جددوا إيمانكم، قيل: يا رسول الله وكيف نجدد إيماننا؟ قال أكثروا من قول لا اله إلا الله"؛ رواه الحاكم وقال صحيح الأسناد.



Senin, Desember 31, 2012 | 0 komentar | Read More

BAHAYA MENULIS (BERKOMENTAR)




Jangan Menulis ( Berkomentar) Kecuali Sesuatu Yang Baik Dan Bermanfaat, Hindari Hinaan, Cemo’ohan Dan Merendahkan Orang Lain.
____________________________

وما من كاتب الا سيبلى # و يبقى الدهر ما كتبت يداه
فلا تكتب بكفك غير شيئ # يسرك فى القيامة ان تراه

Dan tiadalah penulis melainkan akan mati
Dan tinggal berzaman (masih ada) apa yang telah ditulis tangannya

Maka jangan kau tulis dengan tanganmu selain sesuatu Yang menyukakanmu di hari kiamat jika kau melihatnya (perkara baik)
____________________________

Renungkan-lah bahr wafir yang disusun oleh Sufi Agung, Syaikh Dzun Nun al-Mishri rodhiyallohu wa ardhoh. semoga dapat menjadi panduan ketika kita menggerakkan jari-jemari kita untuk menulis sesuatu.

Alangkah malangnya kita jika sekiranya dalam alam kubur pun dosa kesesatan dan keonaran atas apa yang telah kita tulis terus mengalir. Malang sungguh malang, beribu malang, bahkan berjuta malang,

Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kesalahan kita dan dosa kesalahan para penulis yang mukhlisin yang “tersandung” dalam menulis dan mudah-mudahan tulisan-tulisan tersebut dihapuskan agar kesalahannya tidak berpanjangan.

Wallahu A’lam Wa Ilaihil Musta’an.



Senin, Desember 31, 2012 | 0 komentar | Read More

Batasan Aurat Menurut Madzhab Syafi’iyyah



Aurat menurut madzhab imam Syafi'I, adalah kurang lebihnya  sebagai berikut  :


Aurat

Bersama Laki-laki
Bersama Perempuan
Dalam Shalat
Ketika Sendiri
Laki-laki
Antara pusar dan lutut
·         Asing (bukan mahramnya): seluruh tubuhnya
·         Mahramnya : antara pusar dan lutut
·         Istrinya : tidak ada aurat
Antara pusar dan lutut
Kedua kemaluannya
Perempuan
·         Asing (bukan mahramnya): seluruh tubuhnya
·         Mahramnya: antara pusar dan lutut
·         Suaminya : tidak ada aurat
·         Asing (bukan mahramnya)muslim : antara pusar dan lutut
·         Asing (bukan mahramnya) kafir : seluruh tubuhnya kecuali yang tampak ketika mengerjakan sesuatu
·         Mahramnya :antara pusar dan lutut

Seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan
Antara pusar dan lutut



1.    Imam Syafi’i menyatakan dalam al-Um dalam bab bagaimana memakai pakaian dalam shalat :
وكل المرأة عورة إلا كفيها ووجهها
Artinya : Dan setiap wanita adalah aurat kecuali dua telapak tangan dan wajahnya.[1]
Dengan demikian, pernyataan Syafi’i di atas merupakan penjelasan aurat wanita dalam shalat. Pada halaman sebelumnya, Imam Syafi’i lebih tegas menyebutkannya sebagai aurat wanita dalam shalat :
على المرأة أن تغطى في الصلاة كل ماعدا كفيها ووجهها
Artinya : Wajib atas wanita menutup selain dua telapak tangan dan wajahnya dalam shalat.[2]
2.    Abu Ishaq al-Syairazi mengatakan :

أما الحرة فجميع بدنها عورة إلا الوجه والكفين لقوله تعالى ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها قال ابن عباس: وجهها وكفيها ولأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى المرأة في الحرام عن لبس القفازين والنقاب ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما ولأن الحاجة تدعو إلى إبراز الوجه في البيع والشراء وإلى إبراز الكف للأخذ والإعطاء فلم يجعل ذلك عورة

Artinya: Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”. Ibnu ‘Abbas berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi SAW melarang wanita ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tidak akan mengharamkan menutupnya. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.[3]
3.    Dalam Tuhfah al-Muhtaj, disebutkan :
(وَ) عَوْرَةُ (الْحُرَّةِ) وَلَوْ غَيْرَ مُمَيِّزَةٍ وَالْخُنْثَى الْحُرِّ (مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ) ظَهْرُهُمَا وَبَطْنُهُمَا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا أَيْ إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَلِلْحَاجَةِ لِكَشْفِهِمَا وَإِنَّمَا حَرُمَ نَظَرُهُمَا كَالزَّائِدِ عَلَى عَوْرَةِ الْأَمَةِ لِأَنَّ ذَلِكَ مَظِنَّةٌ لِلْفِتْنَةِ
Artinya : Aurat wanita merdeka, meskipun dia itu belum mumayyiz dan aurat khuntsa merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, zhahirnya dan bathinnya sehingga dua persendiannya, berdasarkan firman Allah : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”, yaitu kecuali wajah dan dua telapak tangan. Alasan lain adalah karena ada keperluan membukanya. Hanya haram menilik wajah dan kedua telapak tangan seperti halnya yang lebih dari aurat hamba sahaya wanita, karena yang demikian itu berpotensi menimbulkan fitnah.[4]
4.    Al-Ziyadi mengatakan :
أَنَّ لَهَا ثَلَاثَ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاةِ وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجَانِبِ إلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَعَوْرَةٌ فِي الْخَلْوَةِ وَعِنْدَ الْمَحَارِمِ كَعَوْرَةِ الرَّجُلِ
Artinya : Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki.[5]
5.    Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب
Artinya : Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat, kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab.[6]
6.    Dalam I’anah al-Thalibin disebutkan :
قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الإمام من اتفاق المسلمين على المنع، ما نقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لأن منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بل لأن فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولأن في بقاء كشفه إعانة على الحرام.اه.
Artinya : Pengarang Fath al-Jawad mengatakan, “Apa yang diceritakan oleh al-Imam bahwa sepakat kaum muslimin atas terlarang (terlarang wanita keluar dengan terbuka wajah) tidak berlawanan dengan yang dikutip oleh Qadhi ‘Iyadh dari ulama bahwa tidak wajib atas wanita menutup wajahnya pada jalan, yang demikian itu hanya sunnah dan hanyasanya atas laki-laki wajib memicing pandangannya, karena terlarang wanita yang demikian itu bukan karena wajib menutup wajah atas mereka, tetapi karena di situ ada maslahah yang umum dengan menutup pintu fitnah. Namun menurut pendapat yang kuat wajib menutupnya atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya, karena memahami dari perkataan ulama “wanita wajib menutup wajahnya dari kafir zimmi” dan juga karena membiarkan terbuka wajah membantu atas sesuatu yang haram.[7]
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat dipahami dalam mazhab Syafi’i sebagai berikut :
1.    Aurat wanita merdeka dalam shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
2.    Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian haram memandangnya oleh laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan telapak tangan.
3.    Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian wajib menutupinya sama dengan aurat dalam shalat, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
4.    wajib menutup wajah dan telapak tangan di dalam dan diluar shalat atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya,
Adapun argumentasi aurat wanita merdeka dalam shalat dan diluar shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan adalah firman Allah berbunyi :
ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها
Artinya : Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya(Q.S. al-Nur : 31)
Yang dimaksud dengan “illa maa zhahara minha” adalah wajah dan telapak tangan, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas yang dikutip oleh Ishaq al-Syairazi di atas.
Sedangkan argumentasi aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian haram memandangnya oleh laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan telapak tangan, ini dengan beralasan berpotensi menimbulkan fitnah, makanya perlu ditutup pintu fitnah itu
Atas laki-laki wajib menahan matanya dari sengaja memandang sebagian tubuh wanita termasuk wajahnya, berdasarkan firman Allah berbunyi :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (Q.S. al-Nur : 30)

[1] Syafi’i, al-Um, Dar al-Wifa’, Juz. II, Hal. 201
[2] Syafi’i, al-Um, Dar al-Wifa’, Juz. II, Hal. 199
[3] Abu Ishaq al-Syairazi, al-Muhazzab, dicetak bersama Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. III, Hal. 173
[4] Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, dicetak pada hamisy Hawasyi Syarwani, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 111-112
[5] Syarwani, Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Mathba’ah Mushthafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 112
[6] Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, Kifayatuul Akhyar, Dar al-Kutub al-Arabiyah, Beirut, Hal. 144
[7] Sayyed al-Bakri al-Syatha, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. III, Hal. 258-259
tambahan
1. Dalam kitab المهذب في فقه الإمام الشافعي karya أبو اسحاق إبراهيم بن علي بن يوسف الشيرازي
فأما الحرة فجميع بدنها عورة إلا الوجه والكفين لقوله تعالى: {ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها} [النور: 31] قال ابن عباس رضي الله عنهما: وجهها وكفيها ولأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى المرأة في الحرام عن لبس القفازين والنقاب ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما في الإحرام ولأن الحاجة تدعو إلى إبراز الوجه في البيع والشراء وإلى إبراز الكف للأخذ والإعطاء فلم يجعل ذلك عورة
Artinya: “Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: {Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya} [an-Nuur ayat 31]. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita merdeka ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tak akan melarang untuk menutupnya ketika ihram. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah, yaitu dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, wajah dan telapak tangan bukanlah aurat.”
2. Dalam kitab المجموع شرح المهذب karya أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي
وأما عورة الحرة فجميع بدنها إلا الوجه والكفين إلى الكوعين وحكى الخراسانيون قولا وبعضهم يحكيه وجها أن باطن قدميها ليس بعورة وقال المزني القدمان ليسا بعورة والمذهب الأول
Artinya: “Adapun aurat wanita merdeka adalah seluruh anggota tubuhnya, kecuali wajah dan dua telapak tangan hingga tulang pergelangan tangan. Ada satu pendapat dari penduduk Khurasan bahwa bagian bawah dari telapak kaki bukanlah aurat. Al-Muzani berpendapat bahwa dua telapak kaki bukanlah aurat. Dan pendapat yang terkuat adalah yang pertama.”
3. Dalam kitab نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج karya شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي
و عورة الحرة ما سوى الوجه والكفين فيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين لقوله تعالى {ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها} [النور: 31] قال ابن عباس وعائشة: هو الوجه والكفان ولأنهما لو كانا عورة في العبادات لما وجب كشفهما في الإحرام
Artinya: “Dan aurat wanita merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, depan dan belakangnya, hingga tulang pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: {Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya} [an-Nuur ayat 31]. Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah (ridhwanullahi ‘alaihim) mengomentari ayat ini, ‘yaitu wajah dan dua telapak tangan’. Alasan lainnya adalah seandainya wajah dan dua telapak tangan merupakan aurat dalam ibadah, maka Rasulullah tak akan mewajibkan dibukanya keduanya ketika ihram.”
4. Dalam kitab البيان في مذهب الإمام الشافعي karya أبو الحسين يحيى بن أبي الخير بن سالم العمراني اليمني الشافعي
وأما المرأة الحرة: فجميع بدنها عورة، إلا الوجه والكفين … … … دليلنا: قوله تعالى {ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها} [النور: 31]. قال ابن عباس: (وجهها وكفاها) . وروت أم سلمة قالت: قلت: يا رسول الله، تصلي المرأة في درع وخمار، وليس عليها إزار؟ فقال: نعم إذا كان سابغا، يغطي ظُهُور قدميها
Artinya: “Adapun wanita merdeka, seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. … …. …. Dalil kami adalah firman Allah ta’ala: {Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya} [an-Nuur ayat 31]. Ibnu ‘Abbas (radhiyallahu ‘anhuma) mengomentari ayat ini, ‘yaitu wajah dan dua telapak tangannya’. Dan Ummu Salamah (radhiyallahu ‘anha) berkata, aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah seorang wanita shalat dengan mengenakan pakaian rumah dan kerudung saja, tanpa memakai jubah? Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, ‘Ya. Jika ia seorang yang besar pantatnya, punggung telapak kakinya harus ditutup’.”
5. Dalam kitab الحاوي الكبير في فقه مذهب الإمام الشافعي karya أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن حبيب البصري البغدادي الماوردي
فالمرأة كلها عورة في الصلاة إلا وجهها وكفيها إلى آخر مفصل الكوع
Artinya: “Adapun wanita merdeka, seluruh tubuhnya merupakan aurat di dalam shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya hingga persendian terakhir pergelangan tangan.”
Senin, Desember 24, 2012 | 0 komentar | Read More