SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

HAL-HAL YANG MENYEBABKAN SU'UL KHOTIMAH

Oleh : Santri Salaf


ilustrasi
Seorang muslim yang beriman dengan betul-betul pasti akan takut mati su’ul khatimah. Karenanya, dia berusaha mencari tahu sebab-sebab yang bisa melindunginya dari kondisi tersebut, lalu berlindung di belakangnya.
Dalam kenyataan, ada sebagian orang terlihat sebagai seorang muslim yang rajin ibadah, namun akhir hayatnya ditutup dengan su’ul khatimah, Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kondisi ini.
Berikut ini

beberapa sebab yang bisa menyebabkan seseorang meninggal su’ul khatimah:

Pertama, rusaknya aqidah walaupun disertai dengan kezuhudan dan keshalihan


Jika seseorang memiliki aqidah yang rusak dan meyakininya, walau dia tigak ragu bahwa dia salah dalam meyakininya, maka akan terkuak kebatilan keyakinanya ketika sakaratul maut. Walaupun dalam dirinya terdapat keyakinan yang hak dan yang batil. Tersingkapnya kebatilan akidahnya menjadi sebab hilangnya sisa akidahnya yang lain. Sesungguhnya keluarnya nyawa orang tersebut dalam kondisi ini sebelum mengecap kebenaran dan kembali kepada pokok iman, ditutup dengan su’ul khatimah dan meninggalkan dunia tanpa iman. Dia termasuk di antara orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta’ala :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
 

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)


Siapa saja yang meyakini akidah yang berseberangan dengan akidah yang shahih, baik atas penalarannya sendiri atau mengambil dari orang yang berakidah batil, maka tetap berada dalam lingkup bahaya. Kezuhudan dan keshalihan tidak sedikiitpun membawa manfaat baginya. Dan sesungguhnya yang bisa mendatangkan kebaikan pada dirinya adalah akidah yang benar, yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena akidah dalam Islam tidak dianggap kecuali yang berasal dari keduanya.

Kedua, terus menerus bermaksiat



Orang yang terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan maka akan terekam dalam batinnya. Dan semua tindakan yang terekam selama hidupnya akan teringat kembali saat kematian menjemput. Jika kecenderungannya kepada ketaatan lebih dominan, maka yang akan terngiang dalam benaknya ketika ajal datang adalah amal-amal ketaatan. Sebaliknya, jika kecenderungannya kepada perbuatan maksiat lebih banyak, maka yang akan muncul dalam ingatannya ketika maut menjemput adalah kemaksiatan-kemaksiatan. Dan boleh jadi, keinginan berbuat kemaksiatan itu mendominasi dirinya ketika kematian menghampirinya, sehingga hatinya kecanduan dengannya. Akibatnya, muncul hijab antara dirinya dengan Rabb-nya dan menjadi sebab kesengsaraannya di akhirat. Sebagian ulama salaf berkata :


الْمَعَاصِيْ بَرِيْدُ الْكُفْرِ كَمَا أَنَّ الْقُبْلَةَ بَرِيْدُ الْجِمَاعِ وَالْغِنَاءَ بَرِيْدُ الزِّنَا وَالنَّظَرَ بَرِيْدُ الْعِشْقِ وَالْمَرَضَ بَرِيْدُ الْمَوْتِ

“Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran sebagaimana halnya ciuman pengantar menuju jimak, nyanyian adalah pengantar menuju zina, pandangan adalah pengantar menuju kerinduan, dan sakit pengantar menuju kematian”. (Lihat Al-Jawab Al-Kafi (hal. 33) karya Ibnul Qoyyim)

Dan siapa yang tidak pernah melakukan kemaksiatan atau pernah melakukannya lalu bertaubat, maka dia jauh dari bahaya ini. Sedangkan orang yang banyak melakukan dosa sehingga jumlahnya lebih banyak dari ketaatannya, dan dia tidak bertaubat darinya bahkan terus menerus melakukannya, maka ini akan menciderai dirinya. Karena banyaknya goresan dosa tersebut menyebabkan ukiran dalam hatinya, sehingga dia kecanduan terhadapnya. Maka ketika nyawanya dicabut dalam kondisi itu, maka itu menjadi sebab akhir hidupnya yang buruk (su’ul khatimah).


Contoh mudah dari hal ini, seseorang memimpikan kondisi yang dijalani selama hidupnya. Sehingga orang yang menghabiskan waktunya untuk berkecimpung dengan ilmu, akan memimpikan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Seseorang yang menghabiskan waktunya dalam menjahit, maka dia akan memimpikan jahitan, para penjahit dan pelanggan. Kenapa seperti itu? Karena tidak akan hadir dalam mimpi seseorang kecuali yang sesuatu yang memiliki kesan dalam batinnya karena seringnya berkecimpung dengan hal itu. Sedangkan kematian, walaupun tingkatannya di atas tidur, tetapi kondisi yang mengawalinya hampir sama. Maka yang sering dilakukan akan diingatnya ketika maut datang, akan terkenang dalam hatinya dan cenderung kepadanya. Ketika ruhnya dicabut dalam kondisi itu, maka dia telah mengakhiri hidupnya dengan su’ul khatimah.



Imam al-Dzahabi berkata dalam al-Kabaair, …. Mujahid berkata, “Tidak ada satu orang yang meninggal kecuali terbayang olehnya teman-temannya yang sering duduk bersamanya, sehingga datang seseorang yang biasa bermain catur bersamanya. ..Lalu dikatakan padanya, “Ucapkan Laa Ilaaha Illallaah”, maka dia menjawab, “Sekak” lalu dia mati. Maka yang banyak terucap oleh lisannya adalah yang biasa dikerjakanya saat bermain catur. Maka ucapannya Sekak adalah pengganti dari kalimat tauhid.

Dan datang lagi seorang laki-laki kepada laki-laki lain yang biasa menenggak minuman keras. Dia mendekatinya, lalu mulai mentalkinkan (menuntunkan)-nya dengan kalimat syahadat. Maka dia berkata kepada orang yang menjenguknya tadi, “Minum dan tuangkan untukku”, lalu dia mati. Laa Haula wa laa Quwwata Illaa Billaahi al-‘Aliyyi al-‘Adzim.”

Ketiga, sengaja tidak istiqamah (sengaja menyimpang)



Jika seseorang sebelumnya istiqamah, lalu berubah kondisinya dan meninggalkan keadaan tadi, maka hal itu menjadi sebab dia mengalami su’ul khatimah. Contohya: Bal’am bin Ba’ur yang telah Allah berikan kepadanya ayat-ayat-Nya, lalu dia sengaja melepaskan diri darinya dikarenakan cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah, akhirnya dia menjadi orang yang sesat dan celaka.

Contoh lainnya adalah pendeta Barshisha, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang dibujuk syetan, “Kufurlah”. Ketika telah kufur maka syetan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Rabb, Tuhan semesta alam.” Dia telah ditipu syetan untuk kufur. Maka ketika dia telah kafir, syetan berlepas diri darinya karena takut akan menyertainya dalam adzab. Tapi hal itu tidak bermanfaat baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:


فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hasyar: 17)

Keempat, lemah iman



Jika iman seseorang lemah, maka lemah pula rasa cintanya kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, cintanya kepada dunia menguat dalam hatinya sampai menguasai dirinya. Sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk mencintai Allah Ta’ala. Akibatnya, jiwanya tidak lagi merasakan terpengaruh atas penyimpangan dirinya. Larangan berbuat maksiat tidak lagi berguna. Anjuran untuk taat tidak lagi memiliki tempat dalam dirinya. Sehingga dia terjerembab dalam kubangan syahwat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Kegelapan dosa telah menutupi hatinya. Sampai-sampai cahaya iman selalu dipadamkan olehnya. Ketika datang sakaratul maut, maka kecintaan kepada Allah melemah dalam hatinya ketika dia tahu akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Sedangkan kecintaannya kepada dunia mengalahkan dirinya sehingga berat meninggalkannya.

Tingkatan Suul Khatimah


Su’ul khatimah memiliki dua tingkatan:



1. Sangat berbahaya. Yaitu muncul keraguan dan penentangan ketika sakaratul maut dan kengeriannya datang. Sehingga nyawanya dicabut dalam kondisi demikian. Maka hal itu menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala untuk selama-lamanya. Hal itu menjadikannya kekal dalam siksa yang abadi.

2. Tingkatan di bawah itu, tapi masih berbahaya. Ketika sakaratul maut datang, dalam hatinya didominasi kecintaan kepada dunia dan kesenangannya. Hal itu tergambar jelas dalam benaknya sehingga tidak terpikir olehnya selain dari itu. Maka kondisi tercabutnya nyawa semacam ini sangatlah menghawatirkan. Karena seseorang mati dalam kondisi yang biasa dia jalani, maka hal itu menjadi kerugian yang besar.


Jika pokok iman seseorang dan cintanya kepada Allah Ta’ala telah memenuhi hatinya dalam waktu cukup lama yang dikuatkan dengan amal-amal shalih, maka iman dalam hatinya tergolong kuat, -Allah Mahatahu tentang kadar kuatnya-, maka ketika dia harus dimasukkan dalam neraka untuk membersihkan dosa-dosanya, dia akan dikeluarkan darinya dalam waktu dekat. Dan jika imannya ada di bawah itu, maka tinggalnya di neraka lebih lama lagi. Tetapi jika iman dalam hati hanya sebesar biji, maka pasti dikeluarkan dari neraka walaupun setelah beribu-ribu tahun.

Setiap orang yang memiliki sedikit saja keyakinan terhadap Allah dalam sifat dan perbuatan-Nya yang menyimpang dari akidah yang benar, baik karena taklid atau hasil pencariannya sendiri, maka dia dalam kondisi yang membahayakan. Kezuhudan dan keshalihannya tidak cukup untuk menghilangkan bencana ini. Bahkan tidak bisa menyelamatkan darinya kecuali keyakinan yang benar, yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah muthahharah.

Semoga Allah melimpahkan kepada kita husnul khatimah. Menjadikan kuburan kita sebagai bagian dari taman-taman surga dengan ampunan, rahmat, dan kemurahan-Nya.
Minggu, Agustus 21, 2011 | 0 komentar | Read More

MENIKMATI CELAAN DAN HINAAN (MAQOM SUFISME )

Oleh : Santri Salaf

Pada ini yakni malam ke 21 romadhon dimana malam ini memungkinkan turunn-ya lailatul qodar ,setelah qiamul lail bersama santri-santri pondok , maka saya tergerak untuk menulis tentang suatu hal, tentang sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.
Untuk lebih mudah memahami saya akan mengajukan pertanyaan kepada anda, “Pernahkah anda dihina orang? Dicela atau dilecehkan orang?” Jawabannya tentu saja ada. Pengalaman orang yang berguru, menekuni tarekat lebih khusus lagi, tiba-tiba saja tanpa sebab setelah berguru orang yang selama ini menjadi teman kemudian menjauhi anda, bahkan orang tua yang anda hormati jadi ikut membenci anda. Ketika orang tua anda mengetahui anda telah berguru kepada Wali Allah apakah mereka langsung setuju? Jawabannya hampir semua orang tua tidak setuju dengan sebab atau tanpa sebab kecuali orang tua anda benar-benar paham tentang tasawuf/tarekat.
Ditambah lagi orang-orang sekitar anda sangat tidak senang dengan Tarekat, maka semakin bertambah-tambah hinaan dan cacian yang anda terima. Ada yang bisa melewati itu semua dengan tabah dan bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya namun tidak mereka berputus asa menganggap menekuni tarekat membuat hidup jadi susah kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berguru.
Pernahkah anda merenung kenapa anda dikucilkan dan dianggap aneh dan tidak hanya anda sayapun mengalami hal yang sama. Memang harus di akui ada faktor lain yang ikut menyuburkan kebencian dan ketidaksenangan orang terhadap Tarekat seperti tingkah laku pengamal tarekat sendiri yang terkesan eksklusif, tidak mau bergaul dengan lingkungan, tidak menjaga syariat dan lain-lain. Terlepas dari itu semua, saya juga melihat orang-orang yang bertingkah laku baik dan orang juga tidak tahu kalau dia pengamal tarekat namun anehnya orang tetap saja tidak senang. Setelah saya merenung dalam dalam akhirnya saya menemukan jawabannya dan saya uraikan secara singkat dalam empat point berikut ini :
Pertama, Kalau anda sebagai pengamal tarekat sebagai inti dari ajaran Islam dianggap aneh dan asing di zaman ini itu hal yang wajar karena telah terlebih dahulu Nabi mengingatkan dalam hadistnya :

“Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Kalau ada golongan lain yang merasa lebih “Islam” dari anda itupun wajar karena biasanya yang merasa itu berarti tidak memilikinya 
Kedua, anda menemukan mutiara yang dicari oleh seluruh dunia yaitu bertemu dengan Kekasih Allah. Kakasih Allah ibarat pengantin yang disembunyikan oleh Allah dan hanya diperkenalkan kepada orang-orang yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anda harus mensyukuri nikmat dan karunia yang luar biasa ini. Banyak cara Allah untuk menyembunyikan kekasih-Nya, salah satunya manusia terhijab oleh kekurangan yang nampak pada diri seorang wali sebagaimana juga musuh musuh Islam melihat kekurangan yang Nampak pada diri Nabi. Kalau ada orang mengatakan Guru anda sesat, itu juga wajar karena dia melihat Guru anda dibalik hijab yang dibuat oleh Allah.
Anda begitu yakin Nabi Muhammad adalah seorang mulia dan dimuliakan Allah, apakah musuh-musuh Islam dari dulu beranggapan yang sama? Apakah Abu Lahab dan Abu Jahal menilai Nabi seperti anda menilai? Apakah orang yang menggambar karikatur Nabi dengan penuh kebencian melhat Nabi dengan kemulyaan? Tentu saja TIDAK, mereka melihat nabi dibalik hijab.
Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikut jalan kebenaran, dan yang mengunguli derajat pecinta pecinta Tuhan, Kemulyaan Beliau diakui dan kebenaran Beliau menerima wahyu dari Allah tidak diragukan sedikitpun. Namun dalam pandangan orang yang tidak senang, Belau dituduh dengan berbagai macam tuduhan, “Orang yang suka mengada-ada”, “penyair” bahkan Beliau dituduh Gila dan pendusta.
Orang-orang beriman yang mengalami celaan dilukiskan dalam firman Allah :
“Mereka tidak takut celaan seseorang, itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pemurah lagi Maha bijaksana” (QS 5:59).
Ketiga, Coba anda bayangkan disebuah desa ada seorang gadis paling cantik dan anda termasuk penduduk desa tersebut. Gadis itu diperebutkan oleh banyak laki-laki dan anda termasuk salah seorang yang berusaha mengambil hati. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya anda merebut hati si gadis diantara puluhan pesaing. Kemudian bayangkan juga anda berada disebuah kota dan dikota tersebut ada seorang gadis paling cantik, primadona kota dan seluruh pemuda di kota tersebut berlomba-lomba merebut hati sang gadis.
Bisa anda bayangkan pengorbanan harta, pikiran dan tenaga untuk bisa mendapatkan gadis pujaan anda, bisa jadi anda ditolak dan mengalami sakit hati. Sekarang bayangkan yang ingin anda rebut cinta adalah dari Sang Maha Cinta yang diperebutkan oleh Manusia seluruh alam ini, ada 5 milyar saingan anda untuk memperoleh perhatian dan cinta Dia Yang Maha Esa. Sekarang coba anda bayangkan pengorbanan apa yang harus anda berikan agar bisa mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta tersebut?. Apakah harta anda cukup untuk bisa mendekati Dia? Apakah pikiran anda cukup untuk dikorbankan kepada-Nya dan apakah perasaan anda siap untuk kecewa dan sakit hati untuk mencapai Cinta-Nya? Saya tidak melanjutkan uraian ini dan saya yakin ada menemukan jawabannya. Yang diminta dari anda oleh Sang Kekasih adalah sedikit kesabaran dalam menggapai cinta tersebut, pantaskah anda berkeluh kesah?
Ke empat, Orang yang masuk tarekat pada hakikatnya adalah memulai hidup baru dalam Taubat kepada-Nya, melangkahkan kaki setahap demi setahap menuju kehadirat Allah. Anda, saya dan semua kita di dalam hati ini bersemayam Jin, setan yang sejak lahir (buka surat An Naas) telah menemani kita siang dan malam selama 24 jam sampai kita mengucapkan kata perpisahan dengan mereka ketika kita menyatakan diri menjadi murid seorang kekasih Allah. Setan dan dalam diri anda itu kemudian keluar dari tubuh anda, keluar dengan nada kesal dan kecewa. Lalu rasa kecewa tersebut kemudian dia masuk ke tubuh sahabat anda, tetangga anda atau bisa jadi orang tua anda sendiri, lewat mereka para jin/setan tersebut dengan bebas mencaci maki anda sebagai orang yang telah meninggakan mereka. Lalu kenapa anda jadi marah kalau dicaci oleh tetangga yang pada hakikatnya adalah telah di masuki oleh “diri anda”, sekutu yang sejak lahir menemami anda. Kalau ada yang mencaci anda karena anda mengamalkan tarekat, dalam hati ucapkan, “wahai kawan lama, maaf, aku tak bisa bersamamu lagi, sekarang aku sudah jadi murid Wali” he he.
Memegang kebenaran itu ibarat memegang bara api, kalau digenggam tangan akan terbakar kalau dilepas maka bara itu akan terlepas dan hilang. Guru memberikan rahasia kepada saya, “Pegang kuat-kuat bara itu dan nanti bara itu akan padam ditanganmu dan kamu harus punya prinsip tangan yang terbakar atau bara api yang padam dan jangan pernah kau melapaskan bara tersebut”. Ditempat lain Guru juga memberikan gambaran bahwa seorang penempuh jalan kebenaran persis seperti orang yang berada diantara buaya dan dinding terjal. Di depan ada dinding terjal sementara dibelakang ada buaya. Kalau mundur akan mati dimakan buaya sementara kalau maju harus melewati dinding yang terjal dan sangat sulit. Guru memberikan rahasia, “Kalau Aku akan terus maju walau harus merangkak”.
Seorang teman seperguruan bertanya kepada saya, “Menurut anda apakah Guru kita termasuk orang yang benar?”. Saya jawab, “Pertanyaan itu ketika tahun pertama berguru saya masih bisa menjawabnya, tapi sekarang setelah belasan tahun saya berguru pertanyaan tersebut tidak bisa lagi terjawab”. Dengan penasaran dia bertanya lagi, “kenapa bisa begitu?”. Saya jawab, “Bertahun-tahun saya mencari Wali Allah, begitu banyak saya menjumpai Guru yang mengaku Wali Allah dan dan hampir saja saya putus asa karena tidak menemukan orang yang benar-benar Wali Allah dan saya pikir tidak mungkin orang seperti saya bisa berjumpa dengan seorang Wali Allah. Setelah berguru awalnya timbul keraguan dalam hati, dan saya membuka Al Qur’an dan Hadist untuk mencari kebenaran dari apa yang disampaikan Guru. Bukan hanya itu saya juga mempelahari ucapan-ucapan ulama, kitab-kita tentang Tauhid dan tasawuf untuk Menelusuri kebenaran yang di ajarkan oleh Guru. Setelah setahun saya mengambil kesimpulan bahwa Guru kita benar-benar seorang Wali Allah, Ulama Pewaris Nabi dan Beliau benar Khalifah Rasulullah yang menegakkan Agama ini yang kebenarannya tidak diragukan lagi.” Kemudian saya melanjutkan, “Kalau anda saudaraku hari ini bertanya tentang kebenaran Guru kita, saya tidak bisa menjawabnya karena bagi saya saat ini berguru bukan karena benar dan salah tapi karena kecintaan saya kepada Beliau sebagai seoranng pengemban amanah Allah. Andai seluruh dunia ini mengatakan Guru kita salah atau sesat dan siapapun jadi murid Beliau dikatakan masuk Neraka, saya tidak peduli dan saya akan tetap menjadi murid Beliau”. Kemudian saya melanjutkan, “Saudaraku, Kebenaran mutlak itu hanya ada pada Allah dan Guru kita telah mengantarkan saya kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak, jadi untuk apa saya harus mendengarkan kebenaran versi manusia yang sangat besar kemungkinan salahnya?”
Siapapun anda wahai saudaraku, apakah kita satu Guru atau berbeda Guru, saya memberikan nasehat kepada anda, siapapun Guru anda, hormati Beliau sayangi Beliau dan teruslah melanjutkan Berguru karena sesungguhnya bersama Kekasih Allah itu adalah sebesar-besarnya rahmat dan karunia dan sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah pintu yang langsung menuju kehadirat Allah SWT.
Walaupun pandangan orang negatif terhadap anda, digolongkan anda kapada pengikut aliran sesat, dituduh sebagai pembuat bid’ah bahkan orang mengatakan anda kafir jangan membuat pribadi anda berubah menjadi pribadi pendendam, pribadi yang putus asa dan kemudian malah bertingkah laku aneh sesuka hati. “ah saya sudah terlanjur dianggap sesat, mendingan buat yang aneh-aneh sekalian”. Kemulyaan dan ketinggian derajat seseorang tidak tergantung dari penilaian orang, manusia itu bersifat baharu dan penilaiannya pun akan berubah termasuk penilaiaan terhadap anda. Jadilah pribadi yang mulia karena anda mengemban amanah yang mulia, dalam diri anda telah tertanam Nur Allah dan kemanapun anda melangkah Allah dan seluruh alam ini akan ridho kepada anda. Jadilah pribadi yang ketika orang melihat dan menilai anda maka orang akan mengatakan, “orang ini benar dan Gurunya juga benar”.
Bersyukurlah karena masih ada orang yang menghina anda, karena yang paling berbahaya justru ketika anda dipuji karena pujian sering kali membuat orang lalai dan lupa dan kemudian tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh sementara dua sikap itu yang paling tidak disenangi oleh Tuhan dan sikap itu membuat anda jauh dari Tuhan. Hinaan manusia akan membuat cinta anda kepada Tuhan semakin menggelora dan hati anda selalu terjaga untuk selalu mengingat dan membesarkan nama-Nya. Ketika semua orang mencaci dan menghina orang maka anda hanya memikirkan satu saja, semain fokus pada satu tujuan yaitu Allah SWT. Yakinlah bahwa Orang-orang yang menghina anda itu sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai lawan tanding agar anda bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggapai cintai-Nya. Suatu saat nanti anda akan menangis dan selalu bersyukur karena anda dihina orang dan hal itu hanya bisa terjadi ketika anda benar-benar bisa memaknai Nikmatnya Celaan. Salam...!!
Minggu, Agustus 21, 2011 | 0 komentar | Read More

Lailatul Qodar ; Keutamaan,Waktu,Cara Mencari Serta Tanda-Tandanya

Ijtihad : Santri Salaf

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),

[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,

[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).

Imam Syafi’i berkata, "Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, "Apakah kami mencarinya di malam hari?", beliau menjawab, "Carilah di malam tersebut.". (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) "Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya." (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), "Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir." (Lihat maraji’ diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, "Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima)." (HR Bukhari 4/232).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.

Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.

Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, "Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan."

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, "Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?" Beliau menjawab, "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku." (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, "Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).

Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), "Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya." (HR Muslim 1174).

4. Tanda-tandanya

Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR Muslim 762).

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), "Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah." (HR Muslim 1170. Perkataannya "Syiqi Jafnah", syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, "Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.")

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan." (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan). (saya nukil dari http://ghuroba.blogsome.com/)
Sabtu, Agustus 20, 2011 | 0 komentar | Read More

Menaklukkan Dosa Dan Kesalahan Dengan "BERTAUBAT"

Oleh : Santri Salaf

Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa. Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah dilakukan.

Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat.

Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat dosa.
Karena Allah berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31) 

Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang
Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Quran bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha Penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hambaNya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman,


وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)
Allah ta’ala juga berfirman,


وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)
 
Allah ta’ala berfirman,


إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (QS. An Najm: 32)
 

Allah ta’ala berfirman,


وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156)
 
Oleh Karenanya, Saudaraku …
Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu… Jalan orang-orang yang bertaubat telah dihamparkan. Ia merindukan pijakan kakimu… Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu… Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan dirimu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat, sehingga memupus taubatmu yang terdahulu, janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.
Allah ta’ala berfirman,


فَإِنَّهُ كَانَ لِلأَوَّابِينَ غَفُوراً

“Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.” (QS. Al Israa’: 25)
Allah ta’ala juga berfirman,


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah)


Maka di manakah orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya? Di manakah orang-orang yang kembali taat dan merasa takut siksa? Di manakah orang-orang yang ruku’ dan sujud?

KEUTAMAAN TAUBAT

Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Setiap insan selalu membutuhkannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Maka orang yang benar-benar berbahagia ialah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya. Beberapa di antara keutamaan taubat ialah:

Pertama: Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah ‘azza wa jalla.

Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
 

Kedua: Taubat merupakan sebab keberuntungan.
 

Allah ta’ala berfirman
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)


Ketiga: Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.


Allah ta’ala berfirman
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ

“Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25)
Allah ta’ala juga berfirman


وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً

“Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” (QS. Al Furqaan: 71) artinya taubatnya diterima

Keempat: Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka.

Allah ta’ala berfirman,



فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئاً

“Maka sesudah mereka (nabi-nabi) datanglah suatu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun.” (QS. Maryam: 59, 60)
Kelima: Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat.

Allah ta’ala berfirman,


وَالَّذِينَ عَمِلُواْ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُواْ مِن بَعْدِهَا وَآمَنُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa kemudian bertaubat sesudahnya dan beriman maka sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al A’raaf: 153)

Keenam: Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.


Allah ta’ala berfirman,



وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al Furqaan: 68-70)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang bertaubat dari suatu dosa sebagaimana orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah)


Ketujuh: Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.


Allah ta’ala berfirman,



فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

“Apabila kalian bertaubat maka sesungguhnya hal itu baik bagi kalian.” (QS. At Taubah: 3)
Allah ta’ala juga berfirman,


فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيْراً لَّهُمْذ

“Maka apabila mereka bertaubat niscaya itu menjadi kebaikan bagi mereka.” (QS. At Taubah: 74)
Kedelapan: Taubat adalah sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar.
Allah ta’ala berfirman,


إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَاعْتَصَمُواْ بِاللّهِ وَأَخْلَصُواْ دِينَهُمْ لِلّهِ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْراً عَظِيماً

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan berpegang teguh dengan agama Allah serta mengikhlaskan agama mereka untuk Allah mereka itulah yang akan bersama dengan kaum beriman dan Allah akan memberikan kepada kaum yang beriman pahala yang amat besar.” (QS. An Nisaa’: 146)
Kesembilan: Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan.
Allah ta’ala berfirman



وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ

“Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)

Kesepuluh: Keutamaan taubat yang lain adalah menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat.


Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala,



الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْماً فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Para malaikat yang membawa ‘Arsy dan malaikat lain di sekelilingnya senantiasa bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, mereka beriman kepada-Nya dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu maha luas meliputi segala sesuatu, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksa neraka.” (QS. Ghafir: 7)

Kesebelas: Keutamaan taubat yang lain adalah ia termasuk ketaatan kepada kehendak Allah ‘azza wa jalla.
Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala,



وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Dan Allah menghendaki untuk menerima taubat kalian.” (QS. An Nisaa’: 27). Maka orang yang bertaubat berarti dia adalah orang yang telah melakukan perkara yang disenangi Allah dan diridhai-Nya.

Kedua belas: Keutamaan taubat yang lain adalah Allah bergembira dengan sebab hal itu.


Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hamba-Nya ketika ia mau bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu’, dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim)


Ketiga belas: Taubat juga menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa maka di dalam hatinya ditorehkan sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan beristighfar serta bertaubat maka kembali bersih hatinya. Dan jika dia mengulanginya maka titik hitam itu akan ditambahkan padanya sampai menjadi pekat, itulah raan yang disebutkan Allah ta’ala,



كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak akan tetapi itulah raan yang menyelimuti hati mereka akibat apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Muthaffifin: 14) (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Oleh karena itu, saudaraku ..…
Sudah sepantasnya setiap orang yang berakal untuk bersegera menggapai keutamaan dan memetik buah memikat yang dihasilkan oleh ketulusan taubat itu…, Saudaraku:
Tunaikanlah taubat yang diharapkan Ilahi
demi kepentinganmu sendiri
Sebelum datangnya kematian dan lisan terkunci
Segera lakukan taubat dan tundukkanlah jiwa
Inilah harta simpanan bagi hamba yang kembali taat dan baik amalnya
Tingkatan Jihad Melawan Syaitan
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: Jihad melawan syaitan itu ada dua tingkatan.


Pertama, berjihad melawannya dengan cara menolak segala syubhat dan keragu-raguan yang menodai keimanan yang dilontarkannya kepada hamba.


Kedua, berjihad melawannya dengan cara menolak segala keinginan yang merusak dan rayuan syahwat yang dilontarkan syaitan kepadanya.
Maka tingkatan jihad yang pertama akan membuahkan keyakinan sesudahnya. Sedangkan jihad yang kedua akan membuahkan kesabaran.
Allah ta’ala berfirman,



وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Maka Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah: 24)
Allah mengabarkan bahwasanya kepemimpinan dalam agama hanya bisa diperoleh dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Kesabaran akan menolak rayuan syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak, sedangkan dengan keyakinan berbagai syubhat dan keragu-raguan akan tersingkirkan.
Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Wal hamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin.

 TAUBAT SEJATI



Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.
Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.
Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.

Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.
Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah r.a. “Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka menukar agama karena sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim)

Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.
Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama ini.

Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah mengatakan, “Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu mencintainya.”

Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”

Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.

Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. Orang model ini selalu mengatakan, “Besok saya akan taubat.” Ibnu Abas r.a. meriwayatkan, berkata Nabi saw. “Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan taubat (musawwifuun).” Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.“
Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., “Iblis berkata, aku hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.”
Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat.

Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.
Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa.

Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lem
ak dan daging yang tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan mujahadah.

Hanya Alahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban.

Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.

Jumat, Agustus 19, 2011 | 0 komentar | Read More

Tips-Tips Menumbuhkan Serta Mengembangkan Rasa Sabar

Oleh : Santri Salafiyyah


1. Jangan terlalu memikirkan mengenai masalah,seperti sakit kepala dan kesakitan serta mengharapkan simpati dan perhatian daripada orang lain.
2. Terimalah hakikat bahwa lebih banyak perhatian yang anda berikan kepada perkara-perkara ini lebih teruklah keadaan anda nanti. Semua perkara akan menjadi kelam kabut dan hati anda terluka dan berasa tidak sabar karena orang lain tidak ambil peduli.

3. Jangan fikir anda harus menunjuk kepada orang lain bahwa anda berada dalam keadaan yang betul dan dapat memenangi hati mereka dalam setiap perkara yang anda lakukan.
4. Terimalah hakikat betapa sukarnya untuk menyenangkan hati setiap orang pada setiap masa. Pastikan bahwa anda bersikap adil dan wajar dan biarkan masa menentukannya.
5. Jangan fikir anda mengetahui benar apa yang terbaik untuk orang lain.
6. Terimalah hakikat sementara anda boleh terus coba memujuk, tetapi akan menimbulkan kesusahan untuk mengharapkan mereka melakukan apa yang anda hendakkan. Ini tentunya mencetuskan ketidaksabaran ke atas kedua-dua pihak.
7. Jangan memikirkan bahwa karena terdapat mereka yang tidak bersetuju dengan anda, mereka bersifat tidak wajar terhadap anda.
8. Terimalah hakikat bahwa manusia berhak kepada pandangan yang dikemukakan. Anda mengharapkan mereka membenarkan anda mendapat hak yang sama itu.
9. Jangan fikirkan mengenai semua perkara buruk yang akan berlaku ke atas diri anda.
10. Terimalah keadaan bahwa setiap orang mempunyai masa rehatnya. Coba lihat di luar daripada diri anda.
11. Bersimpati terhadap orang lain akan membantu anda bersifat lebih sabar.
12. Jangan fikirkan bahwa sifat yang tidak menentu itu (moodiness) dalam diri seseorang adalah terlalu penting.
13. Terimalah hakikat kadangkala diri kita yang baik inipun boleh mengalami sifat berubah-ubah atau tidak menentu itu. Hadapilah dengan tenang dan cobalah kawal sifat berubah-rubah diri anda itu.
14. Jangan fikir bahwa cita-cita dan apa yang anda kehendaki adalah terlalu penting.
15. Terimalah hakikat bahwa wujudnya kesulitan jika terlalu mengharapkan sesuatu perkara dalam hidup, terhadap diri anda dan orang lain. Jika anda terlalu berharap, kedukaan dan kekecewaan akan menjadikan anda sedih dan berkelakuan hilang sabar.
Senin, Agustus 08, 2011 | 0 komentar | Read More

Hakikat Lailatul Qodar



Oleh :
Santri Salafiyyah

Di antara nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada umat ini adalah malam yang disifati sebagai malam penuh berkah karena banyaknya keberkahan, kebaikan dan keutamaan. Ia adalah malam Lailatul Qodr. Ia memiliki kedudukan yang agung, padanya terdapat kemuliaan dan pahala yang berlebih.


Pada malam itu Allah turunkan al-Quran. Allah -subhanahu wata'âla- berfirman (yang artinya ):

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qodr), dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan (lailatul Qodr) itu?" (QS.al-Qodar: 1-2)
Firman-Nya pula(yang artinya ):

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." (QS. Ad-Dukhân: 3)
Malam ini terdapat pada bulan Ramadhan yang penuh berkah dan bukan pada bulan yang lain. Allah -ta'âla- berfirman:


"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran..." (QS. Al-Baqarah: 185)
Malam ini dinamakan malam Lailatul Qodr karena Allah mengqadar (menentukan) rizki dan ajal, seluruh kejadian alam, menentukan siapa yang hidup dan mati, yang selamat dan yang celaka, yang bahagia dan yang sengsara, yang kaya dan melarat, yang mulia dan yang terhina, musim kemarau dan musim panen serta segala yang Allah inginkan pada tahun itu, kemudian mengabarkannya kepada malaikat untuk merealisasikannya, sebagaimana firman Allah -ta'âla-

"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS. Ad-Dukhân: 4)
Itu adalah takdir tahunan dan takdir khusus. Adapun takdir umum, lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi telah lebih dulu ditetapkan sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih.
Allah telah menyitir kemuliaan malam ini dan menunjukkan keagungannya. Allah -azzawajalla- berfirman (yang artinya ):

"Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan (lailatul Qodr) itu? Malam kemuliaan (lailatul Qodr) itu lebih baik dari seribu bulan." (QS.al-Qadr: 2-3)
Siapa yang ibadahnya di waktu itu diterima, menyamai ibadah selama 1000 tahun, setara kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Ini adalah pahala yang besar, dan balasan yang agung atas amal yang ringan dan sedikit.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
))مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ((
"Siapa yang shalat pada malam lailatul Qodr dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu."
[HR. Al-Bukhari di dalam sahihnya no. 1901]
Menghidupkan malamnya karena percaya dengan janji pahala dan mengharap balasan, bukan karena hal lain. Penentunya adalah kesungguhan dan ikhlas, sama saja mengetahuinya atau tidak mengetahuinya.
Hendaknya engkau bersungguh-sungguh wahai saudaraku yang mulia untuk shalat dan berdoa pada malam itu. Sesungguhnya ia merupakan malam yang berbeda dari malam lain sepanjang tahun. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya, waspadai kelezatan tidur dan kesenangan hidup.
Adapun waktu dan persisnya, terdapat berita dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- ia adalah malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam Ramadhan.
Imam Syafi’i -rahimahullah- berkata:
"Menurutku –wallahu a’lam- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab sesuai dengan apa yang ditanyakan. Ketika ditanyakan kepadanya: 'Apakah kita menantikannya pada malam demikian?' Beliau menjawab: 'Nantikanlah pada malam demikian'."

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan malam Lailatul Qodr hingga terdapat 40 pendapat. Hal itu disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bâri. Pendapat tersebut sebagiannya lemah, sebagian lagi ganjil dan sebagian lagi batil.
Yang sahih dalam hal ini adalah hari-hari ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, 21, 23, 25, 27 dan 29 sebagaimana hadits Aisyah -radiallahu'anha-, dia berkata:
“Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menantikan Lailatul Qodr pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan bersabda:
))تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ((
"Upayakan malam Lailatul Qodr pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan."
[HR. Al-Bukhari no. 2017]
Bilamana seseorang lelah dan melemah kesungguhannya, hendaknya mengupayakannya pada tujuh hari ganjil terakhir, 25, 27, 29 sebagaimana hadits Abdullah Ibn Umar -radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
))الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى((
“Nantikanlah Lailatul Qodr pada sepuluh hari terakhir, jika lemah dan tidak sanggup, jangan terluput 7 hari yang tersisa."
[HR Muslim no.2822 dan Ahmad II/44,75]
Dengan perincian ini hadits-hadits tersebut menjadi saling mendukung dan tidak bertentangan. Yang lebih dekat kepada dalil bahwa malam Lailatul Qodr berpindah-pindah, tidak tetap pada satu malam tertentu setiap tahunnya. Sekali waktu terjadi pada malam 21, pada waktu lain 23, 25, 27, 29, dan tidak dapat dipastikan. Pembuat syariat yang Maha Bijaksana telah merahasiakan waktunya agar kita tidak hanya bergantung pada malam tertentu saja dan meninggalkan amal serta ibadah pada sisa malam-malam Ramadhan yang lain. Dengan demikian dihasilkan kesungguhan pada seluruh malam hingga dia mendapatkan malam itu.
Yang benar adalah bahwa tidak disyaratkan mendapatkan malam itu dengan melihat atau mendengar sesuatu. Tidak musti mereka yang mendapatkannya tidak akan mendapat pahala hingga menyaksikan segala sesuatu bersujud, atau melihat cahaya, atau mendengar ucapan salam, atau bisikan dari malaikat. Tidak benar bahwa malam Lailatul Qodr tidak didapat kecuali jika melihat hal-hal di luar kewajaran, akan tetapi keutamaan Allah itu luas.
Tidak benar juga siapa yang tidak mendapatkan tanda-tanda Lailatul Qodr berarti dia tidak mendapatkannya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tidak membatasi alamatnya dan tidak menafikan karomah.
Ibnu Taimiyah berkata:
“Terkadang Allah memperlihatkan kepada sebagian manusia dalam tidur atau dengan sadar sehingga dia melihat cahayanya, atau mendengar ada yang berbicara kepadanya bahwa malam itu adalah Lailatul Qodar. Terkadang dibukakan hatinya menyaksikan apa-apa yang menjelaskan terjadinya malam itu.”
An-Nawawi berkata:
“Sesungguhnya dia diperlihatkan. Allah telah memperlihatkan kepada siapa saja dari bani Adam dengan kehendak-Nya setiap tahun di bulan Ramadhan, sebagaimana diperlihatkan kejadian-kejadian dan dikhabarkan oleh orang-orang saleh tentangnya. Kesaksian mereka yang telah melihatnya tidak sedikit. Adapun perkataan al-Qodhi Iyadh dari al-Muhlib Ibn Abi Shofroh:
"Tidak mungkin melihatnya secara hakiki"
Merupakan kekeliruan pendapat yang buruk,, aku mengingatkan hal ini agar tidak tertipu karenanya."
Al-Hafidz Ibn Hajar menukilkan, bahwa siapa yang melihat malam Lailatul Qodar disukai untuk merahasiakannya dan tidak mengabarkannya kepada seorang pun, hikmahnya bahwa hal itu adalah karomah, dan karomah sepatutnya dirahasiakan tanpa khilaf.
Lailatul Qodr tidak khusus untuk umat ini, akan tetapi umum, untuk umat Muhammad dan umat terdahulu seluruhnya. Dalam hadits Abu Dzar -radiallahu'anhu- dia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah malam lailatul qodr terjadi ketika ada nabi, dan jika wafat malam itu diangkat (ditiadakan)?"
"Tidak, bahkan ia terjadi sampai hari kiamat." Jawab Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- .
[HR. Ahmad dan selainnya. Dan haditsnya sahih]
Di antara tanda Lailatul Qodr yang bisa diketahui, sebagaimana hadits Ubay Ibn Ka'ab -radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
"Matahari terbit pada pagi malam Lailatul Qodr cahayanya putih tidak terik." [HR. Muslim ]
Maksudnya adalah hal itu terjadi karena banyaknya Malaikat pada malam itu yang turun naik ke langit sehingga cahaya terik matahari tertutupi oleh sayap-sayap dan tubuh mereka." –selesai perkataannya-
Adapun tanda-tanda lain, tidak ada hadits sahih yang menetapkannya, seperti: malam yang tenang, tidak panas dan tidak dingin, bintang tidak terlihat atau setan tidak sanggup keluar dengan terbitnya matahari di hari itu.
Terdapat tanda yang tidak ada dasarnya sama sekali dan tidak sahih, seperti: pohon yang bersujud ke bumi kemudian kembali posisinya semula, air asin akan berubah menjadi manis, anjing tidak menggonggong dan cahaya ada di mana-mana.
Malam Lailatul Qodar tidak khusus bagi mereka yang sedang shalat saja, tetapi juga bagi wanita yang sedang nifas dan haid, musafir dan mukim. Dhohak –-rahimahullah- berkata:
"Mereka semua memiliki bagian pada malam Lailatul Qodr. Siapa saja yang diterima amalannya akan Allah beri dia bagiannya dari malam Lailatul Qodr itu."
Hendaknya seseorang itu menyibukkan kebanyakan waktunya dengan doa dan shalat. Imam Syafi'i -rahimahullah- berkata:
"Disukai memulai kesungguhannya di siang hari seperti kesungguhannya di malam hari."
Sufyan ats-Tsauri -rahimahullah- berkata:
"Berdoa pada malam hari lebih aku sukai dari shalat, dan doa di malam Lailatul Qodr masyhur dan terkenal di antara para sahabat. Hendaknya engkau bersungguh-sungguh wahai saudara dan saudariku yang mulia untuk memilih doa-doa simpel yang terdapat di dalam al-Quran, yang dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- berdoa dengannya atau menganjurkannya. Perlu kita semua tahu bahwa tidak ada doa khusus pada malam Lailatul Qodr yang tidak dibaca selain ia saja, akan tetapi setiap muslim berdoa dengan yang sesuai keadaannya. Dari doa yang terbaik yang dipanjatkan pada malam yang penuh berkah ini adalah apa yang dikeluarkan oleh an-Nasai dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah dari Aisyah -radiallahu'anha- dia berkata:
"Seandainya aku tahu kapan malam Lailatul Qodr itu, niscaya doa yang banyak aku panjatkan adalah meminta pengampunan dan keafiatan."
Demikianlah setiap muslim berupaya untuk berdoa dengan doa yang jâmiah (simpel) dari doa-doa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- yang terekam dalam banyak situasi dan kondisi, yang khusus maupun umum.
An-Nawawi berkata:
"Disukai memperbanyak doa bagi kepentingan kaum muslimin pada malam itu, dan ini adalah syiar orang-orang saleh, dan hamba-hamba-Nya yang mengetahui."
–selesai perkataannya-
Demikianlah wahai kaum muslimin, sesungguhnya kalian memiliki saudara-saudara yang tertindas di barat dan di timur dari belahan bumi ini, kalian memiliki saudara-saudara yang mengorbankan diri untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, janganlah bakhil untuk mendoakan mereka.
Wahai Allah, yang telah menciptakan manusia dan menumbuhkannya, yang menciptakan lisan dan memfungsikannya, wahai Zat yang tiada menolak doa, berilah setiap kami apa yang diharapkannya, dan sampaikan mereka kepada negeri abadi. Wahai Allah, ampuni segala kesalahan kami, tutupi segala kesalahan kami, berilah kelonggaran kepada kami pada hari pertanyaan, berilah manfaat seluruh kaum muslimin dari apa yang telah engkau turunkan dari kitab-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang.
Salawat dan salam tercurah kepada Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.
___________
Referensi:
1) Arba'un Darsan Liman Adroka Romadhan, oleh Abdul Malik al-Qossam hal.126.
2) Al-Mawahib al-Hissan Fi Wadzoif Shahru Ramadhan, oleh Nashir al-Harbi hal. 203-204.
3) Ithaf Ahlul Iman Bidurûs Shahri Ramadhan, oleh Soleh al-Fauzan hal. 68
4) Durus Ramadhan, oleh Audah hal.87.
5) Syarh as-Sodr Bizikri Lailatil Qodr, oleh al-Irâqi hal. 45.
6) Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar IV/319, 333-341.
7) Shifatus Soum Nabi -shalallahu alaihi wasalam- Fi Ramadhan, oleh al-Hilali dan Ali Hasan hal.686-90.
8) Majmu al-Fatawa, oleh Ibnu Taimiyah II/286.
9) Syarh an-Nawawi terhadap kitab Sahih Muslim VI/289 no. 762, VII/314, VIII/312 no.1762, VIII/313
10) Musnad Ahmad XV/547 no.21391.
11) Wadzâif Ramadhan, oleh Ibnu Qôsim hal.62,68-69.
12) Al-Adzkar, oleh an-Nawawi hal.247 no.582.
13) Ithâful Khibroh, oleh Labushiri III/130-131 no. 2369.
14) Mawârid adz-Dzomân Ila Zawaid Ibni Hibbân, oleh Lhaitsami III/131 no. 926.
15) Amalul Yaum wal Lailah, oleh an-Nasai hal.499-500 no.782-878.
16) Al-'Alwân Syarh al-Bulugh (manuskrip).

Senin, Agustus 08, 2011 | 0 komentar | Read More

Sejarah Penamaan Ahlus Sunah Wal jama'ah

Oleh : Santri Salafiyyah

Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah menuliskan bahwa produk-produk hukum yang berkembang dalam disiplin ilmu Fikih yang digali dari berbagai dalil-dalil syari’at menghasilkan banyak perbedaan pendapat antara satu imam mujtahid dengan yang lainnya. Perbedaan pendapat di antara mereka tentu disebabkan banyak alasan, baik karena perbedaan pemahaman terhadap teks-teks yang tidak sharih, maupun karena adanya perbedaan kontestual. Perbedaan pendapat dalam produk hukum ini sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun demikian setiap produk hukum yang berbeda-beda ini, selama di hasilkan dari tangan seorang ahli ijtihad (mujtahid mutlak), maka semuanya dapat dijadikan sandaran dan rujukan. Dengan demikian masalah-masalah hukum dalam agama ini menjadi sangat luas.


Dan bagi kita, para ahli taqlid; orang-orang yang tidak mencapai derajat mujtahid, memiliki keluasan untuk mengikuti siapapun dari para ulama mujtahid tersebut.
Namun kemudian, puncak dan muara penghabisan para ulama mujtahid tersebut hanya terbatas kepada para Imam yang empat saja. Yaitu al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufyy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, al-Imam Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, al-Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan al-Imam Ahmad ibn Hanbal (w 241 H). Sudah barang tentu para Imam mujtahid yang empat memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni hingga mereka memiliki otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak ada penyebutannya dengan jelas (Sharih) secara tekstual, baik dalam al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah.
Para Imam mujtahid yang empat ini, di samping sebagai para Imam madzhab dalam bidang fikih, demikian pula dalam bidang akidah, mereka adalah para ulama teolog terkemuka (al-Mutakllimun) yang menjadi rujukan utama dalam segala persoalan teologi. Demikian pula dalam bidang hadits, mereka adalah pakar-pakarnya (al-Muhadditsun) yang merupakan tumpuan dalam segala rincinan dan berbagai aspek hadits. Lalu di dalam masalah Tasawwuf, disiplin ilmu yang titik beratnya dalam masalah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlah al-A’mal al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs), para ulama mujtahid yang empat tersebut adalah orang-orang terkemuka di dalamnya. Mereka adalah kaum Sufi sejati, ash-Shufiyyah al-Haqiqiyyun, yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Perjalanan hidup mereka benar-benar telah ditulis dengan “tinta emas” oleh orang-orang yang datang di kemudian hari.
Pada periode Imam madzhab yang empat ini kebutuhan kepada penjelasan masalah-masalah Fikih sangat besar. Karena itu konsentrasi keilmuan yang menjadi fokus dan pusat perhatian pada saat adalah disiplin ilmu Fikih. Namun, bukan berarti kebutuhan terhadap ilmu Tauhid tidak urgen, tetap hal itu juga menjadi kajian sangat pokok di dalam pengajaran ilmu-ilmu syari’at. Hanya saja saat itu pemikiran-pemikiran ahli bid’ah dan faham-faham ekstrim dalam masalah-masalah akidah belum terlalu banyak menyebar. Walaupun saat itu sudah ada kelompok-kelompok sempalan, namun penyebarannya masih sangat sedikit dan terbatas. Dengan demikian kebutuhan terhadap kajian atas faham-faham ahli bid’ah dan pemberantasannya belum sampai kepada keharusan melakukan kodifikasi secara rinci, seperti yang telah dilakukan terhadap masalah-masalah fikih.
Benar, saat itu sudah ada beberapa karya teologi Ahlussunnah yang telah ditulis oleh beberapa Imam madzhab yang empat. Seperti al-Imam Abu Hanifah yang telah menulis lima risalah Ilmu Kalam; al-Fiqh al-Akbar, ar-Risalah, al-Fiqh al-Absath, al-‘Alim Wa al-Muta’allim, dan al-Washiyyah. Atau al-Imam asy-Syafi’i yang telah menulis ar-Radd ‘Ala al-Barahimah, Kitab al-Qiyas, dan beberapa karya lainnya. Hanya saja perkembangan kodifikasi terhadap Ilmu Kalam saat itu belum sesemarak pasca para Imam madzhab yang empat itu sendiri.
Seiring dengan semakin menyebarnya berbagai penyimpangan dalam masalah-masalah akidah, terutama setelah lewat paruh kedua dari tahun ke tiga hijriyah, yaitu pada sekitar tahun 260 hijriyah, yang hal ini ditandai dengan menjamurnya firqah-firqah sempalan dalam Islam, maka kebutuhan terhadap pembahasan akidah Ahlussunnah secara rinci menjadi sangat urgen. Pada periode ini para ulama dari kalangan empat madzhab banyak membukukan penjelasan-penjelasan akidah Ahlussunnah secara rinci. Hingga kemudian datang dua Imam yang agung; al-Imam Abu al-Hasan al-As’yari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kegigihan dua Imam agung ini dalam membela akidah Ahlussunnah, terutama dari faham-faham rancu kaum Mu’tazilah yang saat itu cukup populer, menjadikan keduanya sebagai Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Keduanya tidak datang dengan membawa faham atau ajaran yang baru. Keduanya hanya melakukan penjelasan-penjelasan secara rinci terhadap keyakinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dengan merujuk kepada dalil-dali naqli (al-Qur’an dan Sunnah) dan dalil-dalil ‘aqli, ditambah dengan argumen-argumen rasional dalam mambantah faham-faham di luar ajaran Rasulullah itu sendiri.
Imam yang pertama, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imam asy-Syafi’i. Sementara yang kedua, al-Imam Abu Manshur al-Maturidi menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imam Abu Hanifah. Di kemudian hari kedua madzhab Imam yang agung ini dan para pengikutnya dikenal sebagai al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah, yang disebut sebagai kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Penamaan Ahlussunnah adalah untuk memberikan pemahaman bahwa kaum ini adalah kaum yang memegang teguh ajaran-ajaran Rasulullah. Dan penamaan al-Jama’ah adalah untuk menunjukan komunitas para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, di mana kaum ini sebagai kelompok terbesar dari umat Rasulullah. Dari penamaan ini, maka secara nyata menjadi terbedakan antara faham yang benar-benar sesuai ajaran Rasulullah dengan faham firqah-firqah sesat, seperti Mu’tazilah (Qadariyyah), Jahmiyyah, Musyabbihah, Khawarij, dan lainnya.
Akidah Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah sebagai akidah Ahlussunnah ini kemudian menjadi keyakinan mayoritas umat Islam dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk dalam golongan ini adalah para ulama dari kalangan ahli hadits (al-Muhadditsun), ulama kalangan ahli fikih (al-Fuqaha), dan para ulama dari kalangan ahli tasawuf (ash-Shufiyyah).
Dalam kitab Syarh al-Minhaj, al-Imam ar-Ramli menyatakan bahwa orang-orang yang dikategorikan sebagai ahli bid’ah adalah mereka yang di dalam akidahnya menyalahi akidah Ahlussunnah. Artinya menyalahi apa yang telah digariskan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dan yang telah menjadi kayakinan mayoritas umat Islam. Sementara yang dimaksud Ahlussunnah pada masa sekarang ini, –masih dalam pernyataan ar-Ramli–, adalah al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi serta para pengikut keduanya dalam masalah-masalah akidah.
Sabtu, Agustus 06, 2011 | 0 komentar | Read More