SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

Tahlilan Dan Ziaroh Kubur


ANJURAN UNTUK TAHLILAN DAN ZIARAH KUBUR.


Sebenarnya permasalahan ini merupakan permasalahan yang cukup usang dan sudah lama diperdebatkan. Akan tetapi dirasa perlu untuk diangkat kembali karena ada pergeseran isu yang cukup substantive, yaitu dari furu’ menuju ushul. Maksudnya, pada awalnya permasalahan ini dianggap sebagai permasalahan furu’iyah, sehingga masing-masing pihak yang berdebat tidak saling mengkafirkan dan mensyirikkan, dan kemudian berubah menjadi permasalahan ushul, sehingga pihak-pihak yang tidak setuju terhadap ziarah kubur dan tahlilan mengkafirkan dan mensyirikkan para pelakunya.

Semua pasti sepakat bahwa syirik dan kafir adalah hal yang mesti harus dijauhi dan dihindari. Semua muslim dari manapun kelompok dan organisasinya pasti marah apabila keislaman dan keimanannya dianggap tercemar dan berlumuran dengan Lumpur kesyirikan dan kekafiran. Demikian juga halnya dengan kita warga nahdliyin, akan marah dan jengkel ketika keislaman dan keimanan kita dianggap berlumuran dengan Lumpur kesyirikan dan kekafiran.

Dalam konteks inilah sebenarnya LBM NU cabang Jember secara intensif melakukan kajian-kajian terhadap tradisi amaliyah nahdliyah dan melakukan advokasi terhadapnya dengan sebuah keyakinan bahwa para pendiri Nahdlatul Ulama adalah sosok ulama yang tingkat keislaman, keimanan, keilmuan dan keikhlasannya tidak perlu diragukan lagu, sehingga dalam menerima dan melanggengkan amaliyah nahdliyah beliah-beliau pasti selektif dan didasarkan pada sebuah ilmu, tidak ngawur, serampangan apalagi sembrono. Dengan tingkat keilmuan dan keikhlasan yang dimiliki pasti beliau-beliau itu lebih takut dosa dan neraka dibandingkan dengan kita, dan mungkin saja dibandingkan dengan mereka para penyerang tradisi amaliyah nahdliyah.


Semua permasalahan apabila dinisbahkan kepada Islam pasti sangat mudah untuk menyelesaikannya. Karena, semua keputusan hukum di dalam Islam harus selalu ada cantolan dalilnya. Seseorang tidak dapat memubahkan, mewajibkan, mengharamkan, mensunnahkan dan memakruhkan sesuatu apabila tidak ada cantolan dalil dan argumentasinya. Demikian juga halnya dengan para pendukung dan penentang amaliyah tahlilan dan ziarah kubur harus mendasarkan pandangannnya pada dalil-dalil yang absah, tidak boleh hanya didasarkan pada logika, hayalan dan lamunan saja.
Tulisan pendek ini mencoba untuk mengurai dasar-dasar argumentatif amaliyah nahdliyah yang biasa kita lakukan khususnya berkaitan dengan tahlil dan ziarah kubur.

Tradisi Tahlilan dan Analisis Argumentasi

Kata “tahlilan” merupakan bentuk masdar dari fi’il madli “hallala” yang berarti mengucapkan لااله الاالله . Dari sisi istilah, kata tahlilan bisa jadi didefinisikan dan digambarkan dengan sebuah bentuk ritual keagamaan yang berbentuk majlis dzikir dengan menggunakan bacaan-bacaan dzikir tertentu dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayit. Biasanya majlis dzikir ini diadakan pada waktu malam jum’at atau malam setelah kematian seseorang, atau juga bisa dilaksanakan pada saat haul atau yang lain. Yang jelas, kapan ritual ini harus dilaksanakan dan modelnya bagaimana tidak ada aturan dan ketentuan yang pasti. Bisa jadi antara daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki teknis dan kaifiyah yang berbeda.


Biasanya sebab dan alasan kenapa tahlilan harus di tolak oleh para penentangnya bermuara pada argumentasi sebagai berikut :


•Tahlilan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, karena demikian dianggap bid’ah.
•Tahlilan merupakan budaya masyarakat Hindu, karena demikian dianggap tasyabbuh bi al-kuffar
•Tahlilan dianggap merepotkan dan memberatkan keluarga mayat, karena di dalam tahlilan pasti selalu ada jamuan
•Berkumpul untuk melakukan tahlilan pada saat setelah kematian dianggap “niyahah” (meratap)
•Di dalam tahlilan pasti ada unsur tawasul.


Argumentasi-argumentasi para penentang di atas adalah argumentasi klasik yang sudah ditanggapi berkali-kali. Akan tetapi, karena sejak awal bersikap tazkiyat al-nafsi (menganggap dirinya yang paling benar), maka penjelasan yang diberikan tidak berdampak dan berpengaruh sama sekali. Namun demikian, dalam kesempatan ini akan kita jelaskan sekali lagi mengenai kesalah-pahaman mereka yang dituduhkan kepada kita.


•Tahlilan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, karena demikian dianggap bid’ah.

Memang harus diakui bahwa kata “tahlilan” sebagai sebuah bentuk tradisi seperti yang kita pahami sekarang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi perlu diingat bahwa substansi tahlilan adalah dzikir berjamaah dan berdoa untuk si mayit. Dzikir berjamaah dan berdoa untuk si mayit yang muslim supaya mendapatkan pengampunan dari Allah -tidak diragukan lagi- terlalu banyak penjelasannya di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, diantaranya adalah :

o Dari al-Qur’an
Surat al-Hasyr : 10


“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Surat Muhammad : 19
“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”.


oDari al-Hadits


•وعن أبي سعيد الخدري وأبي هريرة رضي الله عنهما قالا: قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم «لا يقعد قوم يذكرون الله عز وجل إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده»

Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada disisi-Nya”.


•وَمِنْ حَدِيث مُعَاوِيَة رَفَعَهُ أَنَّهُ قَالَ لِجَمَاعَةٍ جَلَسُوا يَذْكُرُونَ اللَّه تَعَالَى ” أَتَانِي جِبْرِيل فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّه يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَة ” .


” Dari hadits Mu’awiyah yang dihukumi marfu’, dia berkata “Nabi bersabda untuk para jama’ah yang duduk berdzikir kepada Allah: ” malaikat Jibril datang kepadaku dan menginformasikan bahwa Allah membanggakan kamu kepada malaikat”

oDari Logika


إن الجماعة قوة قال الله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا والحجارة لا يستطيع كسرها إلا الجماعة وقد شبه الله تعالى القلوب القاسية بالحجارة في شدة قساوتها فقال عز من قائل ثم قست قلوبكم من بعد ذلك فهي كالحجارة أو أشد قسوة فكما أن الحجارة لا يستطيع كسرها إلا الجماعة فكذلك القلب القاسي يسهل تليينه إذا تساعدت عليه جماعة الذاكرين. (الموسوعة اليوسفية )


Dari uraian dan argumentasi di atas dapat dipastikan bahwa substansi tahlilan memliki cantolan dalil, baik naqliy (al-qur’an dan al-hadits), maupun aqliy.
•Tahlilan merupakan budaya masyarakat Hindu, karena demikian dianggap tasyabbuh bi al-kuffar.
Untuk menyimpulkan apakah di dalam tradisi tahlilan terdapat unsur tasyabbuh bi al-kuffar atau tidak, terlebih dahulu kita harus melakukan penelitian secara seksama. Mungkin saja memang ada tradisi kumpul-kumpul di dalam agama lain pada 1,2,3…..,7…,40 hari dan seterusnya setelah hari kematian seseorang. Tampaknya pada titik inilah tradisi tahlilan dianggap tasyabbuh bi al-kuffar. Namun demikian perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya:

o Harus dipahami bahwa permasalahan ini termasuk dalam wilayah I’tiqadi. Karena demikian, harus ditegaskan bahwa tidak ada keyakinan sama sekali di dalam hati warga nahdliyin bahwa tahlilan pada hari pertama kematian, hari kedua, ketiga dan seterusnya merupakan sebuah kewajiban, juga tidak ada keyakinan bahwa berdo’a kepada si mayit pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya lebih afdlal dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Tahlilan yang substansinya adalah berdoa untuk si mayit agar mendapatkan pengampunan dari Allah boleh dilakukan kapan saja, atau bahkan boleh tidak dilakukan, meskipun biasanya kegiatan tahlilan ini dilaksanakan pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Tasyabbuh boleh dialamatkan kepada warga nahdliyin ketika meyikini bahwa tahlilan wajib dilaksanakan pada hari-hari dimaksud dan juga meyakini bahwa hari-hari dimaksud lebih afdlal dibandingkan hari lainnya. Jadi, penentuan hari dan seterusnya tidak lebih dari sebuah tradisi yang boleh dilakukan dan juga boleh ditinggalkan, berbeda dengan apa yang diyakini oleh umat Hindu. Tradisi ini sama persis dengan dengan tradisi memperingati hari-hari besar dalam Islam (Nuzulul qur’an, halal bi halal, maulid nabi, isra’-mi’raj dan lain sebagainya) yang boleh dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada tanggal-tanggal tertentu. Peringatan hari besar yang biasanya diisi taushiah dan dzikir hanyalah merupakan tradisi yang boleh dikerjakan dan juga boleh ditinggalkan.

o Bahwa sikap warga nahdliyin sebagaimana di atas dapat dilihat dari kitab yang biasa dijadikan sebagai rujukan oleh mereka, diantaranya di dalam kitab al-fatawa al-fiqhiyah al-kubro yang berbunyi :

o ( وَسُئِلَ ) أَعَادَ اللَّهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ مِنْ النَّعَمِ وَيُحْمَلُ مَعَ مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إلَى الْمَقْبَرَةِ وَيُتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى الْحَفَّارِينَ فَقَطْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ ثَالِثِ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ تَمَامِ الشَّهْرِ مِنْ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوتِ النِّسَاءِ اللَّاتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ وَلَمْ يَقْصِدُوا بِذَلِكَ إلَّا مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حَتَّى إنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوتًا عِنْدَهُمْ خَسِيسًا لَا يَعْبَئُونَ بِهِ وَهَلْ إذَا قَصَدُوا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَالتَّصَدُّقَ فِي غَيْرِ الْأَخِيرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَاذَا يَكُونُ الْحُكْمُ جَوَازٌ وَغَيْرُهُ وَهَلْ يُوَزَّعُ مَا صُرِفَ عَلَى أَنْصِبَاءِ الْوَرَثَةِ عِنْدَ قِسْمَةِ التَّرِكَةِ وَإِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَعَنْ الْمَبِيتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ إلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ .( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ جَمِيعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لَا حُرْمَةَ فِيهِ إلَّا إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ فِي عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلَاةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَعَلَّلُوهُ بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ خَوْضِ النَّاسِ فِيهِ لَوْ انْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنْ التَّرِكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيهَا مَحْجُورٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوا كُلُّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ بَلْ مَنْ فَعَلَهُ مِنْ مَالِهِ لَمْ يَرْجِعْ بِهِ عَلَى غَيْرِهِ وَمَنْ فَعَلَهُ مِنْ التَّرِكَةِ غَرِمَ حِصَّةَ غَيْرِهِ الَّذِي لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ إذْنًا صَحِيحًا وَإِذَا كَانَ فِي الْمَبِيتِ عِنْدَ أَهْلِ ( الفتاوى الفقهية الكبرى لأبن حجر الهيتمى )

oوالتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه فى سبعة ايام او اكثر او اقل وتقييده ببعض الايام من العوائد فقط كما افتى بذلك السيد احمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفى سابع وفي تمام العشرين وفى الاربعين وفى المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما افاده شيخنا يوسف السنبلاويني اما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه مالم يكن من مال الايتام والا فيحرم (نهاية الزين : باب فى الوصية , 281)

Tradisi yang berlaku dan berkembang di kalangan nahdliyin adalah : apabila ada seorang muslim meninggal dunia, maka tetangga dan kerabat yang ada disekitarnya berbondong-bondong melakukan ta’ziyah, dan dapat dipastikan bahwa pada saat ta’ziyah kebanyakan dari mereka membawa beras, gula, uang dan lain sebagainya. Tetangga yang ada di kanan-kiri bau-membau membantu keluarga korban untuk memasak dan menyijakan jamuan, baik untuk keluarga korban atau untuk para penta’ziyah yang hadir. Apabila hal ini yang terjadi, apakah ini tidak dapat dianggap sebagai terjemahan kontekstual dari hadits nabi yang berbunyi :

قال النبي صلى الله عليه و سلم : اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم أمر يشغلهم
Hadits di atas apabila diamalkan secara tekstual justru akan menjadi mubadzir, karena kalau seandainya semua tetangga yang ta’ziyah membawa makanan yang siap saji, maka dapat dipastikan akan banyak makanan yang basi. Catatan yang lain lagi adalah bahwa jamuan yang disajikan di dalam acara tahlilan bukanlah merupakan tujuan. Tujuan utama para tetangga yang hadir adalah berdo’a untuk si mayit. Karena demikian, jamuan boleh diadakan dan juga boleh ditiadakan. Bahkan, banyak dari kalangan kyai yang menjadi tokoh sentral warga nahdliyin memberikan pemahaman dan anjuran agar jamuan yang ada lebih disederhanakan, dan bahkan kalau mungkin hanya sekedar suguhan teh saja.

•Berkumpul untuk melakukan tahlilan pada saat setelah kematian dianggap “niyahah” (meratap).
Realitas berkumpul pada saat tahlilan sulit untuk dapat dipahami “hanya sekedar berkumpul” dalam rangka tenggelam dan larut dalam kesedihan, dimana hal ini dianggap sebagai illat al-hukmi kenapa berkumpul tersebut dianggap sebagai niyahah. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab I’anat al-Thalibin, yang berbunyi
كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.

Berkumpul pada malam setelah kematian bukanlah menjadi tujuan. Yang menjadi tujuan adalah berdzikir dan berdoa untuk si mayit yang sedang mengalami ujian berat sebagaimana yang ditegaskan didalam kitab Nihayat al-zain, hal : 281 yang berbunyi :


وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال ما الميت في قبره الا كالغريق المغوث – بفتح الواو المشددة – اى الطالب لان يغاث ينتظردعوة تلحقه من ابنه او اخيه او صديق له فاذا لحقته كانت احب اليه من الدنيا وما فيها

Ketika seorang muslim mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya, serta menghibur agar bersabar dari cobaan.Tidak ada yang lebih baik dari menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit dan keluarga yg ditinggalkannya.
Dari uraian di atas sulit dapat diterima apabila lafadz ” الاجتماع” yang terdapat didalam hadits nabi diarahkan pada tradisi tahlilan yang isinya adalah berdzikir dan berdoa, bukan semata-mata berkumpul hanya sekedar tenggelam dan berlarut-larut dalam kesedihan.

Di dalam tahlilan pasti ada unsur tawasul.
Sebagai gambaran awal untuk memetakan tentang konsep tawasul, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tawasul adalah menjadikan mutawasal bih sebagai wasilah (perantara) dalam rangka berdoa kepada Allah. Berdoa dapat langsung kepada Allah (tanpa tawasul) dan juga dapat menggunakan perantara mutawassal bih. Menggunakan mutawassal bih sebagai perantara bukanlah merupakan sebuah keharusan dalam berdoa.

Mutawassal bih secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
o Mutawassal bih yang berupa al-a’mal al-shalihah.

o Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah. Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah dibagi menjadi dua, yaitu :

o Dengan nabi Muhammad SAW. Kategori ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :


- Sebelum lahirnya nabi (قبل وجوده )
- Pada saat nabi hidup ( فى حياته )
- Setelah nabi wafat (بعد وفاته)

o Dengan awliya dan shalihin. Kategori ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :


- Pada saat mereka masih hidup (في حياتهم)
- Setelah mereka wafat (بعد وفاتهم).
Tidak terjadi perbedaan pendapat mengenai diperbolehkannya menggunakan al-a’mal al-shalihah sebagai mutawassal bih. Hal ini didasarkan pada hadits nabi yang bercerita tentang tiga orang pemuda yang terjebak di sebuah goa. Hadits tersebut berbunyi :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ » . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ » .

Sedangkan tawassul dengan menggunakan dzawat fadlilah (orang-orang yang keistimewaan di hadapan Allah, dari kalangan para nabi, awliya dan shalihin) terjadi perbedaan pendapat yang cukup ekstrim tentang masalah ini. Ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya dan bahkan menganggapnya sebagai sebuah bentuk kesyirikan. Semua pandangan, baik yang pro maupun yang kontra harus diapresiasi selama menggunakan dalil, analisa dan argumentasi yang ilmiyah. Sebaliknya, pandangan yang subyektif, sectarian dan tidak disertai argumentasi yang ilmiyah harus ditolak dan diluruskan.

Dalil-dalil yang menguatkan kebolehan tawasul dengan menggunakan dzawat fadlilah adalah :

• Bi al-nabi :
o Qabla wujudihi. Hadits nabi yang menguatkan hal ini adalah :
(قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يارب ! أسألك بحق محمد لما غفرت لي ، فقال الله: ياآدم ! وكيف عرفت محمداً ولم أخلقه ؟ قال : يارب ! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت فيَّ من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوباً لا إله إلا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك ، فقال الله : صدقت يا آدم ، إنه لأحب الخلق إليَّ ، أدعني بحقه فقد غفرت لك ، ولولا محمد ما خلقتك)) .أخرجه الحاكم في المستدرك وصححه [ج2 ص615] (1) ، ورواه الحافظ السيوطي في الخصائص النبوية وصححه (2) ، ورواه البيهقي في دلائل النبوة وهو لا يروي الموضوعات ، كما صرح بذلك في مقدمة كتابه (3) ، وصححه أيضاً القسطلاني والزرقاني في المواهب اللدنية [ج1 ص62](4) ، والسبكي في شفاء السقام ، قال الحافظ الهيثمي : رواه الطبراني في الأوسط وفيه من لم أعرفهم (مجمع الزوائد ج8 ص253)

o Fi hayatihi. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :
ائت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قال اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة يامحمد إني أتوجه بك إلى ربك فيجلي لي عن بصري ، اللهم شفعه فيَّ وشفعني في نفسي ، قال عثمان : فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر)) ..قال الحاكم : هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه .وقال الذهبي عن الحديث : أنه صحيح (ج1 ص519) .

o Ba’da wafatihi. Penjelasan yang menguatkan tentang hal ini adalah :
وليس هذا خاصاً بحياته – صلى الله عليه وسلم – بل قد استعمل بعض الصحابة هذه الصيغة من التوسل بعد وفاته – صلى الله عليه وسلم – فقد روى الطبراني هذا الحديث وذكر في أوله قصة وهي أن رجلاً كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له ، وكان عثمان رضي الله عنه لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته ، فلقى الرجل عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه ، فقال له عثمان بن حنيف : ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصل فيه ركعتين ثم قل :اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة ، يامحمد ! إني أتوجه بك إلى ربك فيقضي حاجتي . وتذكر حاجتك ..

• Bi al-anbiya wa al-shalihin
o Fi hayatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :
أخرج البخاري في صحيحه عن أنس أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه – كانوا إذا قحطوا – استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : [ اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا ] .

o Ba’da wafatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : من خرج من بيته إلى الصلاة ، فقال : اللهم إني أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاي هذا فإني لم أخرج أشراً ولا بطراً ولا رياء ولا سمعة ، خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك ، فأسألك أن تعيذني من النار ، وأن تغفر لي ذنوبي ، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ، أقبل الله بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك .

Uraian di atas menegaskan bahwa tradisi tahlilan yang dilakukan oleh warga nahdliyin memiliki dasar, dalil dan argumentasi yang kuat, sehingga tidak patut untuk disesatkan, disyirikkan atau dibid’ahkan. Menganggap tradisi tahlilan adalah bid’ah, sesat dan syirik berarti yang bersangkutan kurang memahami konsep dan dalil agama.


Ziarah Kubur dan Analisis Argumentasi


Tak seorangpun dapat menyangkal dan menentang bahwa ziarah kubur merupakan hal yang disyariatkan di dalam Islam. Namun demikian, masih saja terdapat kelompok orang yang menentang ziarah kubur dengan berbagai dalih dan alasan yang tentunya kurang ilmiyah dan sangat emosional.

Ada nasihat yang sangat menarik yang ditawarkan oleh Imam al-qurthubi di dalam kitab tafsirnya yang berbunyi :
قال العلماء : ينبغي لمن أراد علاج قلبه وانقياده بسلاسل القهر إلى طاعة ربه ان يكثر من ذكر هاذم اللذات ومفرق الجماعات وموتم البنين والبنات ويواظب على مشاهدة المحتضرين وزيادرة قبور أموات المسلمين فهذه ثلاثة أمور ينبغي لمن قسا قلبه ولزمه ذنبه أن يستعين بها على دواء دائه ويستصرخ بها على فتن الشيطان وأعوانه فإن انتفع بالإكثار من ذكر الموت وانجلت به قساوة قلبه فذاك وإن عظم عليه ران قلبه واستحكمت فيه دواعي الذنب فإن مشاهدة المحتضرين وزيارة قبور أموات المسلمين تبلغ في دفع ذلك ما لا يبلغه الأول لأن ذكر الموت إخبار للقلب بما إليه المصير وقائم له مقام التخويف والتحذير وفي مشاهدة من احتضر وزيادة قبر من مات من المسلمين معاينة ومشاهدة فلذلك كان أبلغ من الأول

Dari pandangan dan uraian Imam al-Qurtubi di atas, kita akan menganggap wajar dan bahkan menganggap benar tradisi ziarah kubur yang dilakukan dan digandrungi oleh kalangan nahdliyin dengan berjamaah ziarah ke makam wali songo dan lain sebagainya. Karena ziarah kubur merupakan salah satu dari tiga hal yang mujarab untuk mengobati dan menundukkan kerasnya hati; tiga hal dimaksud adalah : mengingat mati, menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut dan ziarah kubur.

Dari pandangan ini, maka sebenarnya orang yang berziarah ke makam para wali tidak hanya berkesempatan untuk bertawasul kepada para awliya dan shalihin, akan tetapi juga berkesempatan untuk mengobati hatinya sehingga pada akhirnya akan lebih taat kepada Allah.

Disamping pertimbangan di atas hadits nabi yang menjelaskan tentang dianjurkannya ziarah kubur sangat banyak dan dikeluarkan oleh banyak perawi, sehingga tingkat kemakbulannya tidak dapat diragukan lagi. Hadits-hadits dimaksud diantaranya adalah :
• حدثنا زبيد بن الحارث عن محارب بن دثار عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إني كنت نهيتكم عن ثلاث عن زيارة القبور فزوروها ولتزدكم زيارتها خيرا ….

(رواه النسائى )
• و حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ ابن وهب أخبرني ابن جريج عن أيوب بن هانىء عن مسروق بن الأجدع عن عبد الله بن مسعود : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور و أكل لحوم الأضاحي فوق ثلاث و عن نبيذ الأوعية ألا فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا و تذكر الآخرة …. (رواه الحاكم )
• حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ هَانِئٍ عَنْ مَسْرُوقِ بْنِ الأَجْدَعِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ ». (رواه ابن ماجه )
• حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً وَنَحْنُ مَعَهُ قَرِيبًا مِنْ أَلْفِ رَاكِبٍ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ فَقَامَ إِلَيْهِ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَفَدَاهُ بِالأَبِ وَالأُمِّ وَقَالَ لَهُ : مَا لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :« إِنِّى اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى اسْتِغْفَارِى لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى فَبَكَيْتُ لَهَا رَحْمَةً مِنَ النَّارِ ، وَإِنِّى كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِىِّ أَنْ تُمْسِكُوهَا فَوْقَ ثَلاَثٍ فَكُلُوا وَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشُّرْبِ فِى الأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِى أَىِّ وِعَاءٍ شِئْتُمْ وَلاَ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى عَنْ زُهَيْرٍ دُونَ قِصَّةِ أُمِّهِ. (رواه البيهقي )

Meskipun manfaat ziarah kubur sangat besar dan dalil yang menguatkannya juga sangat banyak, namun masih saja banyak kelompok yang menentang ziarah kubur. Dari literature yang kita baca yang ditulis oleh para penentang ziarah kubur dapat disimpulkan bahwa penentangan mereka bermuara pada beberapa alasan diantaranya adalah :
• Berbagai kemaksiatan banyak terjadi pada saat ziarah kubur.
• Kesyirikan banyak dilakukan oleh para peziarah.

Dua alasan di atas merupakan alasan yang bersifat ‘aridly (insidentil) dan bukan sesuatu yang pasti terjadi. Karena demikian, sebuah pembahasan akan menjadi bias dan tidak ilmiyah karena meninggalkan substansi permasalahan yang sebenarnya. Marilah kita mencoba untuk mengkritisi alasan yang mereka kemukakan.


E. Sunnahnya membaca Al-quran diatas kubur dan mengirimkan pahalanya untuk mayyit.

Telah masyhur bahwa imam-imam madzab sunni menyatakan sampainya hadiah pahala kepada mayyit muslim, bahkan ibnu qayyim dan ibnu taymiyah yang katanya imamnya para wahhaby menyatakan demikian. Ini buktinya :


bnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburanScan Kitab bahasa Arab :Cover :

Baca Yang berwarna Merah (page 5 digital book):

kitab ar-rooh (ar-ruh digital) Bisa di download di :
http://www.scribd.com/doc/21496576/alrooh
Scan kitab ar-ruh tarjamah (bahasa melayu) :
cover :

Kitab ar-ruh :


Teks Arab Kitab Arruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :
وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ
وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك


Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)
Tarjamahannnya :

Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.


Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.


Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al- Hasan bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

(Tarjamah Kitab Ar-ruh Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)


untuk keterangan dan bukti scan kitab yang lain silahkan lihat di :

Link : http://salafytobat.wordpress.com/2009/10/23/ibnul-qayyim-scan-kitab-ar-ruh-sampainya-hadiah-bacaan-alqur%E2%80%99an-dan-bolehnya-membaca-al-qur%E2%80%99an-diatas-kuburan/
Kamis, Februari 17, 2011 | 2 komentar | Read More

Ajaran Sesat Yang Secara Dusta Disandarkan Kepada Al Imam as Sayyid Abdul Al-Qadir al-Jilani

Dalam tulisan ini penulis sengaja mengetengahkan hal-hal urgen terkait dengan cerita-cerita dusta yang berkembang di sebagian masyarakat kita yang dinisbatkan kepada sebagian wali Allah. Kandungan cerita-cerita ini adalah sesuatu yang tidak layak untuk dinisbatkan kepada mereka. Adalah salah besar apa yang dipahami oleh sebagian orang bahwa yang disebut wali Allah adalah seorang yang memiliki keanehan-keanehan atau keajaiban-keajaiban sekalipun itu semua bertentangan dengan timbangan syari’at.
1. Dalam sebuah kitab berjudul al-Fuyûdlât ar-Rabbâniyyah Fi Ma’âtsir ath-Tharîqah al-Qâdiriyyah yang ditulis oleh Isma’il al-Qadiri al-Kailani dimuat dua bait syair dan dinisbatkan secara dusta kepada Syaikh Abd al-Qadir. Bait pertama berbunyi:
كُلّ قُطْبٍ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ سَبْعًا # وَأنَا اْلبَيْتُ طَائِفٌ بِخِيَامِيْ
“ Setiap wali Quthub melaksanakan tawaf di ka’bah tujuh kali putaran, adapun bagi saya justru ka’bah tersebut tawaf mengelilingi kemahku ”.
Artinya, menurut penulis bait syair ini, ka’bah meninggalkan Mekah dan pergi ke Irak untuk melakukan tawaf di kemah Syaikh Abd al-Qadir. Ini jelas merupakan kedustaan, karena Allah menetapkan ka’bah pada tempatnya di Mekah untuk selalu dikelilingi dalam tawaf oleh seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali, baik di waktu siang maupun malam. Rasulullah sendiri, pembawa syari’at dan makhluk Allah yang lebih tinggi derajatnya dari siapapun melakukan tawaf dengan mengelilingi ka’bah, bukan ka’bah mengelilingi Rasulullah.
Bait syair ke dua berbunyi:
لَوْ أنِّي ألْقَيْتُ سِرِّيْ عَلَى لَظَى # لَأُطْفِئَتِ النّيْرَانُ مِنْ عُظْمِ بُرْهَانِي
“Jika aku letakan rahasiahku di atas kobaran api neraka maka api neraka tersebut akan padam karena keagungan rahasiahku”.

Dalam bait kedua ini jelas berisikan penentangan terhadap teks-teks syari’at yang telah menetapkan bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah selamanya. Seorang muslim yang berakidah benar, bahkan seorang awam sekalipun berkeyakinan bahwa neraka tidak akan pernah padam selamanya. Bagaimana mungkin seorang alim besar seperti al-Jilani mengucapkan semacam bait syair di atas?![1].
2. Kedustaan lain yang juga dikutip dalam kitab al-Fuyûdlât ar-Rabbâniyyah di atas dan dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qadir adalah apa yang disebut dengan al-Ghautsiyyah. Disebutkan dalam kitab tersebut seakan Allah mengajak berbicara kepada Syaikh Abd al-Qadir dengan mengatakan “Ya Ghauts al-A’zham (Wahai penolong yang agung)…! Akan terjadi perkara ini dan itu…!”. Dalam bagian lain disebutkan bahwa Allah berkata kepadanya “Ya Ghauts al-A’zham… (Wahai penolong yang agung) makanan orang-orang fakir (kaum sufi) adalah makanan-Ku, dan minuman mereka adalah minuman-Ku”. Dalam kitab tersebut lafazh “Ya Ghauts al-A’zham” berulang-ulang disebutkan.
Dalam menyikapi hal ini al Imam Abu al-Huda ash-Shayyadi, salah seorang khalifah terkemuka dalam tarekat ar-Rifa’iyyah, berkata:
“Telah dinisbatkan kepada wali yang agung; Abu Shâlih Muhyiddin as-Sayyid al-Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani –semoga Allah meridlainya– beberapa pernyataan dusta yang bukan dari ucapannya. Kalimat-kalimat tersebut tidak dinukil dengan sanad yang benar darinya. Seperti kalimat dusta yang mereka sebut dengan “al-Ghautsiyyah”. Sesungguhnya beliau –semoga rahmat Allah selalu tercurah padanya– jauh dari kalimat-kalimat tersebut dan terbebas darinya”[2].
3. Kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qadir sengaja disisipkan oleh kaum Musyabbihah yang mengaku madzhab Hanbali ke dalam kitab karya beliau sendiri; al-Ghunyah. Supaya dianggap bahwa akidah madzhab Hanbali adalah akidah tasybîh, seperti akidah yang mereka yakini. Juga supaya dianggap bahwa Syaikh Abd al-Qadir berakidah tasybîh seperti mereka, karena Syaikh Abd al-Qadir dalam fiqih mengikuti madzhab Hanbali. Di antara kedustaan tersebut adalah bahwa Allah bersemayam di langit[3]. Keyakinan semacam ini jelas menyalahi akidah Ahlussunnah yang telah menetapkan bahwa Allah adan tanpa tempat dan tanpa arah.
Apa yang disisipkan kaum Musyabbihah dalam kitab al-Ghunyah ini jelas merupakan kedustaan. Seorang awam dari kaum muslimin yang berakidah lurus tidak akan berkeyakinan sesat semacam ini, terlebih Syaikh Abd al-Qadir yang merupakan pemuka kaum sufi dan salah seorang ulama terkemuka. Beliau bukan seorang yang bodoh yang tidak mengenal sifat-sifat wajib pada Allah; yang salah satunya Mukhâlafah Li al-hawâdits.
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (النجم: 31)
“Dan bagi Allah segala sesuatu yang ada di langit-langit dan di bumi”. (QS. Al-Najm: 31)
Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa langit dengan segala isinya serta bumi dengan segala isinya adalah makhluk Allah. Maka bagaimana mungkin Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya tersebut?! Langit dan bumi adalah makhluk Allah, keduanya memiliki permulaan, artinya ada dari tidak ada. Sementara wujud Allah azali; tidak memiliki permulaan dan Abadi; tidak memiliki penghabisan. Artinya mustahil bagi Allah yang sebelum menciptakan langit dan bumi serta tidak membutuhkan kepada keduanya kemudian setelah menciptakan keduanya berubah menjadi membutuhkan kepada keduanya!! Kaum Musyabbihah pasti tidak akan bisa menjawab bila dikatakan kepada mereka kelak apa bila nanti langit dan bumi punah, adakah Allah masih membutuhkan tempat? Lantas di mana? Dan jika kemudian berubah tidak membutuhkan, bukankah perubahan adalah tanda yang paling jelas dari sesuatu yang baharu (makhluk)?! Inilah di antara tanda-tanda kesesatan orang-orang Musyabbihah.
Kaum Musyabbihah, dalam kitab al-Ghunyah di atas juga menyisipkan kesesatan lain terhadap Syaikh’Abd al-Qâdir. Dalam kitab tersebut mereka menuliskan bahwa huruf-huruf al-Qur’an adalah qadîm; tidak memiliki permulaan[4]. Pada bagian lain mereka juga menuliskan bahwa Allah mengeluarkan suara yang mirip dengan suara halilintar[5]. Tulisan ini jelas bukan keyakinan Syaikh Abd al-Qadir yang notabene seorang sunni. Dalam akidah Ahlussunnah telah ditetapkan bahwa tidak ada suatu apapun yang qadîm selain Allah. Huruf-huruf, suara dan bahasa jelas merupakan makhluk Allah. Dengan demikian maka sifat kalam Allah bukan berupa huruf, suara maupun bahasa.
Adapun al-Qur’an; kitab berisikan tulisan atau huruf-huruf dalam bahasa arab Arab, disebut kalam Allah bukan berarti Allah mengeluarkan kalimat-kalimat tersebut. Tapi al-Qur’an yang sudah berbentuk kitab tersebut adalah sebagai ungkapan (‘Ibârah) dari sifat kalam Allah atau dari al-Kalâm al-Dzâti. Al-Qur’an dibawa malaikat Jibrîl dari Allah bukan berarti Jibrîl berhadap-hadapan dengan Allah, dan Allah mengeluarkan huruf-huruf atau suara-suara yang kemudian dibawakan Jibrîl kepada Rasulullah. Karena bila Allah mengeluarkan huruf, suara dan bahasa maka tak ubahnya seperti manusia. Yang benar ialah bahwa malaikat Jibrîl diperintah oleh Allah untuk mengambil bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut dari al-Lauh al-Mahfûzh yang telah tertulis demikian adanya dan kemudian dibawakannya kepada Rasulullah. Dalil bagi hal ini adalah firman Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (الحاقة : 40(
“Sesungguhnya ia benar-benar bacaan utusan yang mulia” (QS. Al-Haqqah: 40)
Yang dimaksud dengan ayat ini tidak lain adalah malaikat Jibrîl, sebagaimana telah disepakati para ahli tafsir. Artinya al-Qur’an yang sekarang kita baca dan tersusun dari huruf-huruf adalah sesuatu yang dibacakan malaikat Jibrîl kepada Rasulullah[6].
Di antara yang dapat membatalkan apa yang dinisbatkan kaum Musyabbihah kepada Syaikh Abd al-Qadir di atas adalah sebuah kisah yang benar adanya dari beliau sendiri. Suatu ketika, Syaikh Abd al-Qadir dalam khlawatnya didatangi Iblis dalam bentuk cahaya yang indah. Iblis berkata: Wahai hambaku, wahai Abd al-Qâdir, aku adalah tuhanmu, aku halalkan bagimu segala sesuatu yang telah aku diharamkan dan aku gugurkan darimu segala sesuatu yang telah aku wajibkan. Maka berbuatlah sekehendakmu karena aku telah megampuni segala dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang…!!. Syaikh Abd al-Qadir tanpa ragu kemudian menjawab: Terlaknat wahai engkau Iblis…!!. Dalam pada ini Syaikh Abd al-Qadir tahu bahwa yang berbicara tersebut adalah Iblis. Karena Allah bukan cahaya atau sinar, Allah ada tanpa tempat, Allah tidak berkata-kata dengan suara dan huruf, dan Allah tidak akan menghalalkan sesuatu yang diharamkannya[7].
Asy-Syibli, dalam menerangkan makna ma’rifat berkata: “Dialah Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Allah ada sebelum adanya segala benda dan huruf-huruf. Dzat Allah bukan benda dan kalam-Nya bukan huruf-huruf”.[8]
4. Cerita-cerita yang dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qadir yang dimuat dalam kitab Bahjah al-Asrâr Wa Mâ’din al-Anwâr adalah kedustaan-kedustaan belaka. Kitab ini ditulis oleh ‘Ali asy-Syathnufi al-Mishri dengan rangkaian-rangkaian sanad yang tidak benar, sebagaimana penilaian sanad ini dinyatakan oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab ad-Durar al-Kâminah[9]. ‘Ali asy-Syathnufi sengaja membuat rangkaian-rangkain sanad palsu tersebut untuk menjual cerita-cerita hingga laku di khalayak kaum muslimin[10].
Di antara kedustaan yang dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qadir dalam kitab Bahjah al-Asrâr di atas adalah pernyataan “Telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah”. Pernyataan semacam ini jelas bersebrangan dengan sifat-sifat para wali Allah yang dikenal sebagai kaum yang sangat tawadlu dan mengutamakan al-khumûl serta menghindari kesenangan-kesenangan duniawi. Syaikh Sirajuddin al-Makhzûmi dalam kitab Shihâh al-Akhbâr Fi Nasab al-Sâdâh al-Fâthimiyyah al-Akhyâr menyatakan bahwa pernyataan di atas jelas-jelas sebuah kedustaan yang dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qadir. Dalam kitab tersebut, Syaikh Sirajuddin juga menyebutkan siapa orang yang sengaja membuat penisbatan pernyataan itu kepada al-Jailani[11].
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda di hadapan beberapa orang sahabatnya:
إنّ التّوَاضُعَ أفْضَلُ الْعِبَادَةِ (رَوَاهُ ابْنُ حَجَر فِي الآمَالِي(
“Sesungguhnya sikap tawadlu adalah ibadah yang paling utama”. (HR. Ibn Hajar dalam al-Âmâli al-Mishriyyah).
Rasulullah mengucapkan hadits ini di hadapan para sahabatnya bukan berarti mereka orang-orang yang tidak tawadlu. Kebanyakan para sahabat, terlebih para sahabat terkemuka beliau (Kibâr al-Shahâbah) adalah orang-orang yang tawadlu. Hadits hendak ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa sikap tawadlu adalah sikap yang sangat terpuji. Sementara kebalikannya, yaitu sikap takabur, sombong dan riya’ adalah sifat-sifat tercela. Sikap tawadlu inilah yang selalu diteladani seluruh para wali Allah, termasuk oleh Syaikh Abd al-Qadir. Bahkan dalam beberapa kesempatan Syaikh Abd al-Qadir menyatakan bahwa derajat ketaqwaan dan kewalian tidak lain salah satunya diraih dengan sifat tawadlu dan lapang dada (Salâmah al-Shadr). Artinya, perkataan “Telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah” jelas memberikan pemahaman kesombongan. Kalimat semacam ini bagaiman mungkin dinyatakan Syaikh Abd al-Qadir yang menjunjung sifat-sifat tawadlu’?!
al Imam Abu al-Huda ash-Shayyadi berkata:
“Adapun apa yang tertulis dalam kitab Bahjah al-Asrâr karya asy-Syathnufi tentang manâqib Syaikh Abd al-Qadir yang memuat hikayat-hikayat dan riwayat-riwayat maudlû’ (palsu), hal ini telah dinilai oleh para pemuka sufi sendiri. Di antara mereka ada yang menilai bahwa asy-Syathnufi sengaja membuat kedustaan-kedustaan tersebut dengan tujuan-tujuan pribadi. Penilaian ini di antaranya dari Ibn Rajab al-Hanbali dalam Thabaqât al-Hanâbilah dalam penulisan biografi Syaikh Abd al-Qadir. Sebagian sufi lain mengatakan bahwa asy-Syathnufi adalah seorang pembuat cerita-cerita dusta. Mereka menyatakan bahwa asy-Syathnufi tidak tahu apa-apa, ia selalu mengambil cerita-cerita apapun, baik yang benar maupun yang tidak benar”[12].
Selanjutnya Syaikh ash-Shayyadi berkata:
“Adapun yang ia tulis dalam Bahjah al-Asrâr dengan rangkaian sanad yang dinisbatakan kepada Syaikh Abd al-Qadir tentang kata-kata “telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah”, para ulama telah berselisih pendapat padanya. Pendapat al-Hâfizh Ibn Rajab al-Hanbali, al-Imâm al-‘Izz al-Fârutsi asy-Syafi’i, adz-Dzahabi, al-Taqy al-Wasithi, Ibn Katsîr dan mayoritas ulama terkemuka lainnya mengingkari kata-kata tersebut dan menafikannya sebagai pernyataan Syaikh Abd al-Qadir. Mereka mengatakan bahwa kata-kata tersebut adalah di antara kedustaan-kedustaan yang dibuat al-Syathnufi, di nama hal tersebut dirangkai dengan sanad yang tidak bisa dijadikan sandaran”[13].
Masih dalam kitab Bahjah al-Asrâr, di dalamnya juga tertulis: “Ketahuilah oleh kalian sesungguhnya amal ibadah kalian tidak masuk ke dalam bumi tapi naik ke langit, dengan dalil firman Allah: “Ilayhi Yash’ad al-Kalim al-Thayyib Wa al-‘Amal al-Shâlih Yarfa’uh…”, maka Tuhan kita berada di arah atas, Dia bersemayam di atas ‘arsy…”. Tulisan ini tanpa kita ragukan adalah karya orang-orang Musyabbihah-Mujassimah. Merekalah yang merusak madzhab Hanbali dengan keyakinan sesat semacam ini. Kaum Musyabbihah dan Mujassimah tersebut tidak hanya mengotori madzhab Hanbali tapi juga memalsukan perkataan-perkataan para ulama Hanâbilah seperti Syaikh Abd al-Qadir yang notabene seorang sunni bermadzhab Hanbali. Dalam pada ini asy-Sya’rani mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam Bahjah al-Asrâr tersebut adalah sisipan dan kepalsuan dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Adakah seorang wali Allah, seorang yang ‘arif dan alim berkeyakinan semacam ini?![14].
5. Pernyataan beberapa orang yang menisbatkan dirinya kepada tarekat al-Qadiriyyah mengatakan bahwa seorang mursyid akan terpelihara dari segala kesalahan. Karenanya setiap ucapan dan tingkah laku seorang mursyid hendaklah menjadi panutan tanpa harus dibantah sedikitpun. Dalam pada ini sebagian mereka dalam menggambarkan Syaikh Abd al-Qadir membuat sya’ir berbunyi:
إنّ لِشَيْخِيْ تَسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اسْمًا # كَسُمَى ذِي الْجَلاَلِ فِي اسْتِجَابِ الدّعَاءِ
“Sesungguhnya Syaikhku memiliki 99 nama, seperti nama Allah “Dzu al-Jalal” dalam mengabulkan setiap doa”.
Artinya menurut penulis bait syair ini Syaikh Abd al-Qadir memiliki 99 nama seperti 99 nama Allah yang salah satunya mengabulkan doa-doa para hamba. Kandungan bait ini jelas berisikan tasybîh; penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya dan benar-benar merupakan kesesatan dan kekufuran.
Syaikh Abd al-Qadir dan para wali Allah lainnya tidak akan mengatakan bahwa seorang wali Allah atau seorang mursyid selalu terpelihara dari kesalahan. Ini dapat kita lihat dari pernyataan beliau sendiri dalam kitab Âdâb al-Murîd:
إذَا عَلِمَ الْمُرِيْدُ مِنْ الشّيْخِ خَطَأً فَلْيُنَبِّهْهُ، فَإنْ رَجَعَ فَذَاكَ الأمْرُ وَإلاّ فَلْيَتْرُكْ خَطَأَهُ وَلْيَتْبَعِ الشّرْعَ

“Jika seorang murid mengetahui suatu kesalahan dari Syaikhnya maka ingatkanlah ia. Jika Syaikhnya tersebut kembali dari kesalahannya maka itulah yang diharapkan -ia dapat tetap bersamanya-. Namun bila Syaikh-nya tersebut tidak mau kembali maka tinggalkanlah kesalahannya dan ikutilah syara’”.
Simak pula perkataan Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir:
سَلِّمْ لِلْقَوْمِ أحْوَالُهُمْ مَا لَمْ يُخَالِفُوا الشّرْعَ فَإنْ خَالَفُوا الشّرْعَ فَكُنْ مَعَ الشّرْع
“Jangan engkau hirauhkan kaum sufi terhadap keadaan apapun yang ada pada diri mereka selama mereka tidak menyalahi syara’, namun jika mereka menyalahi syara’ maka ikutilah syara’ -jangan mengikuti mereka-”.
Dari beberapa pernyataan para ulama di atas dapat dipahami bahwa tidak seorang manusiapun yang dapat terbebas dari kesalahan dalam urusan agama, baik kesalahan kecil maupun besar. Inilah yang dimaksud dengan hadits nabi:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ إلاّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكْ غَيْرَ رَسُوْلِ اللهِ
“Tidak seorangpun dari kalian, kecuali setiap ucapannya ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah, selain Rasulullah; selalu benar”.
Dari pemahaman hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh manusia, dari mulai para sahabat nabi hingga mereka yang hidup di masa sekarang ini, tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan berbuat kesalahan dalam urusan agama. Kecuali Rasulullah, ia dijaga oleh Allah dari kemungkinan kesalahan tersebut. Contoh paling kongkrit, yang hal ini dijadikan alasan kuat oleh para ulama, adalah bahwa beberapa sahabat Rasulullah yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga, jatuh dalam kesalahan. Namun hal ini tidak menafikan keutaman dan derajat mereka. Para sahabat tersebut adalah tokoh-tokoh tertinggi dalam derajat kewalian, artinya jauh lebih utama dari para wali Allah yang datang di kemudian hari.
Seperti sahabat Umar ibn al-Khaththab, seorang sahabat nabi yang dinyatakan oleh nabi sendiri selalu mendapat ilham dan memiliki firasat yang sangat kuat (nabi menyebutnya dengan muhaddats)[15]. Suatu hari ia berkata di hadapan para sahabat lain: “Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membuat harga yang terlalu mahal dalam urusan mas kawin, jika datang kepadaku berita seseorang yang melebihkan mas kawinnya di atas 400 dirham maka aku akan mengambilnya dan aku letakan di bait al-mâl (kas negara)”. Tiba tiba seorang perempuan berkata: “Wahai Amîrul Mu’minîn engkau tidak berhak melakukan itu. Allah berfirman: “Dan bila kalian telah memberikan mas kawin kepada mereka, maka janganlah kalian ambil darinya sedikitpun” QS. Al-Nisa’: 20. Kemudian sahabat Umar naik kembali ke mimbar, seraya berkata di hadapan kaum muslimin: “Wahai manusia aku serahkan kepada kalian tentang harga-harga mas kawin kalian, perempuan ini benar dalam pendapatnya dan Umar telah salah”.
Demikian pula yang terjadi di kalangan para ulama. Kemungkinan kesalahan dalam memberikan fatwa adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dan bila salah seorang dari mereka terjatuh dalam kesalahan, maka klaim salah dari ulama yang lebih kuat pendapatnya adalah hal yang biasa terjadi. Karenanya, Imam al-Haramain dalam beberapa kitabnya seringkali menulis: “Ayahku berkata demikian, dan ini salah!!”. Padahal ayah beliau, bernama Abdullah ibn Yusuf yang dikenal dengan sebutan Imam al-Juwaini, adalah seorang ulama terkemuka di kalangan madzhab Syafi’i. Bahkan, karena sangat agungnya keilmuan Imam al-Juwaini, sebagian ulama berkata jika setelah nabi Muhammad ada lagi seorang nabi maka al-Juwaini inilah yang berhak atas kenabian tersebut.
Dengan demikian pernyataan sebagain pengikut tarekat bahwa seorang mursyid selalu terpelihara dari segala kesalahan adalah sebuah kesesatan belaka. Pernyataan mereka ini jelas tanpa didasarkan kepada ilmu agama. Seperti sebagian mereka yang berkata bahwa seorang syeikh atau mursid mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh muridnya, sekalipun mursid tersebut sedang di tempat tidurnya. Sebagian lainnya berkata bahwa seorang mursid mengetahui hal-hal yang gaib dan mengetahui segala sesuatu yang terlintas di dalam benak setiap muridnya. Na’udzu Billâh.
6. Sebagian pengikut tarekat al-Qadiriyyah, juga beberapa pengikut tarekat lainnya beranggapan bahwa bergabung dalam komunitas tarekat adalah suatu kewajiban. Pernyataan semacam ini jelas merupakan kesesatan. Ini sama juga dengan mewajibkan suatu perkara yang tidak wajib dalam Islam.
Benar, para ulama menyatakan bahwa tarekat adalah suatu yang baik. Walapun ia merupakan bid’ah atau sesuatu yang baharu; karena tidak pernah ada pada masa Rasulullah dan masa sahabatnya, namun ia merupakan bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Tujuan utama dari dirintisnya tarekat oleh para ulama sufi dan orang-orang saleh terdahulu adalah untuk mendorong meningkatkan nilai takwa kepada Allah. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa bid’ah atau sesuatu yang baharu yang tidak ada di masa Rasulullah dan para sahabatnya terbagi kepada dua bagian.
Pertama; Bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik, yaitu seuatu yang baharu yang sejalan dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Kedua; Bid’ah sayyi’ah atau bid’ah yang bersebrangan dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Dalil yang menguatkan adanya pembagian bid’ah kepada dua bagian ini adalah sabda Rasulullah:
مَنْ سَنَّ فِي اْلإسْلاَمِ سُنّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أجُوْرِهِمْ شَىءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإسْلاَمِ سُنّةً سَيّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ مِنْ بَعْدِهِ بِهَا مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهِمْ شَىءٌ ( رَوَاهُ مُسْلِم (
“Barang siapa merintis dalam Islam akan suatu yang baik, maka bagi orang tersebut pahala dari apa yang ia perbuat dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudahnya, dengan tanpa berkurang sedikitpun dari pahala orang-orang tersebut. Dan barang siapa merintis dalam Islam sesuatu yang buruk, maka bagi orang tersebut dosa dari apa yang ia perbuat dan dosa dari orang-orang yang mengikutinya sesudahnya, dengan tanpa berkurang sedikitpun dari dosa orang-orang tersebut” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).
Contoh dari bid’ah hasanah sangat banyak, seperti; pembuatan titik-titik pada huruf huruf al-Qur’an dan harakat i’râb-nya, merayakan peringatan maulid nabi Muhammad, membuat mihrab-mihrab masjid dan lainnya. Termasuk dalam bid’ah hasanah ini adalah tarekat-tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh.
Dengan demikian kita tidak meragukan bahwa tarekat-tarekat seperti al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah, ar-Rifa’iyyah, as-Suhrawardiyyah, al-Jistiyyah, as-Sa’diyyah, asy-Syadziliyyah, al-Badawiyyah, ad-Dasuqiyyah, al-Maulawiyyah dan berbagai tarekat lainnya, tujuan dirintisnya adalah sesuatu yang baik dan masuk dalam pengertian bid’ah hasanah. Mereka yang merintis tarekat-tarekat tersebut adalah orang-orang saleh, ahli ilmu dan amal yang konsisten dalam menjalankan syari’at Rasulullah. Bila kemudian di belakang hari tarekat-tarekat tersebut dimasuki kesesatan-kesesatan maka hal itu tidak merusak asal kebolehan tarekat itu sendiri, hanya saja tentu yang harus dipermasalahkan sekaligus disingkirkan adalah penyimpangan-penyimpanganya, bukan tarekatnya.
Bergabung dengan salah satu tarekat yang ada bukan suatu kewajiban. Sebagian mereka yang mewajibkannya adalah pernyataan tanpa dasar. Pada hakekatnya, komitmen yang dituntut dari setiap orang muslim adalah agar selalu bertakwa, berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam, yaitu dengan mengerjakan segala yang diwajibkan dan menjauhi segala yang dilarang. Sementara itu, tarekat yang berisikan bacaan-bacaan dzikir dengan ditambah janji atau berbaiat kepada seorang mursyid untuk memegang teguh syari’at Islam tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas takwa. Artinya, tanpa bergabung dengan tarekat atau tidak, komitmen awal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada setiap hamba muslim adalah agar selalu menjaga nilai takwa dan meningkatkan kualitasnya dalam berbagai keadaan dan tempat. Kemudian bila dinyatakan bergabung dengan tarekat merupakan kewajiban, berarti sekian banyak orang dari sebelum bermunculannya tarekat-tarekat tersebut adalah orang-orang yang berdosa. Jelas, klaim semacam ini tanpa dasar.
Di dalam beberapa kitab tulisan para ulama pengikut tarekat al-Naqsyabandiyyah dan para ulama lainnya telah dijelaskan bahwa bergabung dengan tarekat bukan merupakan kewajiban. Di antaranya dalam kitab al-Sa’âdah al-Abadiyyah Fimâ Jâ’a Bihi an-Naqsyabandiyyah karya Syaikh Abd al-Majid Ibn Muhammad al-Khani al-Khalidi an-Naqsyabandi dan kitab al-Hadîqah an-Nadiyyah Wa al-Bahjah al-Khâlidiyyah karya Syaikh al-‘Allâmah Muhammad Ibn Sulaiman al-Baghdadi al-Hanafi; salah seorang khalifah tarekat an-Naqsyabandiyyah. Dalam kitab yang terakhir disebut dinyatakan bahwa Ibn Hajar menyebutkan dalam kumpulan fatwa-fatwa besarnya beberapa gambaran dari tatacara mengambilan janji oleh para Syaikh dari tangan seorang yang bertaubat, serta disebutkan pula bahwa mengambil janji di hadapan seorang mursyid atau di atas tangan seorang Syaikh yang saleh adalah sesuatu yang baik dan dicintai[16].





********************** (( Maroji’/footnote/catatan kaki )) ************************

[1] Kandungan bait pertama juga dikutip dalam beberapa kitab, seperti Raudl al-Rayyâhîn. Lihat bantahan penisbatan dua bait syait ini dalam karya al Imam al-Habasyi, al-Tahdzîr al-Syar’i…, h. 24-25
(Faedah): Di antara kesesatan Ibn Taimiyah yang menjadi sorotan para ulama di masanya hingga sekarang dan di anggap telah menyalahi ijma’ adalah pernyataannya bahwa neraka akan punah. Pendapat Ibn Taimiyah ini selain ia ungkapkan dalam karyanya sendiri (Lihat karya Ibn Taimiyah berjudul ar-Radd ‘Alâ Man Qâl Bi Fanâ’ al-Jannah Wa an-Nâr, h. 67), demikian pula dikutip oleh muridnya sendiri, yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam karyanya berjudul Hâdî al-Arwâh Ilâ Bilâd al-Afrâ, h, h. 579 dan 582, dan diikutinya.
Yang sangat mengherankan, kaum Wahhabiyyah merasa bangga dengan keyakinan batil Ibn Taimiyah ini, bahkan sebagian dari mereka menulis sebuah buku dengan judul al-Qaul al-Mukhtâr Li Bayân Fanâ’ an-Nâr. Lihat Mathba’ah Safir Cet. 1, Riyadl th. 1412 H. Artinya, menurut kaum Wahhabiyyah, sebagaimana hal ini ajaran Ibn Taimiyah, bahwa seluruh orang kafir dan orang musyrik akan keluar dari neraka, maka orang-orang semacam Abu Lahab, Abu Jahal, Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku nabi setelah Rasulullah wafat, Fir’aun yang mengaku tuhan, orang-orang Yahudi yang membunuh para nabi Allah, serta orang-orang kafir lainnya, mereka semua akan keluar dari neraka. Kita katakan; Lalu di manakah kemudian tempat orang-orang kafir tersebut?! Apakah mereka pindah masuk ke surga?! Na’ûdzu Billâh. Sementara di akhirat tidak ada tempat ke tiga selain surga dan neraka! Apa yang diyakini Ibn Taimiyah dan orang-orang Wahhabiyyah ini adalah jelas telah menyalahi sesuatu yang Ma’lûm Min ad-Dîn Bi adl-Dlarûrah, dan itu merupakan kesesatan nyata.
Cukup untuk mengetahui kesesatan keyakinan Ibn Taimiyah tentang ini adalah risalah yang telah ditulis oleh seorang ulama besar yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri, yaitu Syaikh al-Islâm al-Hâfizh al-Lughawi al-Mufassir al-Mujtahid, seorang ulama agung di masanya yang telah mencapi derajat mujtahid mutlak; al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki. Beliau telah menulis berbagai risalah dalam bantahan kepada Ibn Taimiyah, di antaranya al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa al-Nâr, al-Durrah al-Mudliyyah Fi al-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah, dan lainnya. Lebih komprehensif tentang kajian kesesatan Ibn Taimiyah lihat al-Hâfizh al-Habasyi, al-Maqâlât as-Sunniyyah Fi Kasyf Dlalâlât Ibn Taimiyah, Dar al-Masyari’, Bairut.

[2] Lihat al Imam al-Habasyi, al-Tahdzîr al-Syar’i…, h. 24, mengutip dari Abu al-Huda ash-Shayyadi, ath-Tharîqah ar-Rifa’iyyah, h. 58-59

[3] al Imam al-Jilani, al-Gunyah…, h. 94 dan 97

[4] Ibid, h. 103

[5] Ibid.

[6] Perdebatan tentang kalam Allah atau al-Qur’an di antara beberapa firqah dalam Islam telah menyita banyak perhatian. Dalam satu pendapat bahkan disebutkan bahwa asal penamaan ilmu tauhid menjadi ilmu kalam merujuk kepada masalah kalam Allah. Secara garis besar, dalam masalah kalam Allah ini terbagi kepada tiga kelompok. Dua kelompok ekstrim sama sesatnya; 180 derajat saling bertentangan. Dan satu kelompok moderat yang haq, di tangah-tengah antara keduanya, ialah Ahlussunnah wal Jama’ah. Dua kelompok ekstrim tersebut, pertama; kaum Mu’tazilah, berpendapat bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat termasuk sifat Kalam. Mereka berkesimpulan bahwa al-Qur’an makhluk. Kelompok ekstrim kedua; Musyabbihah, berpendapat bahwa huruf-huruf yang tersusun dalam kitab al-Qur’an adalah qadîm. Mereka berkesimpulan bahwa Allah mengeluarkan huruf-huruf dan bahasa. Keyakinan kedua ini adalah keyakinan yang ambil kaum Wahhabiyyah sekarang.

Adapun menurut pendapat Ahlussunnah, al-Qur’an atau kalam Allah memiliki dua pemaknaan. Jika yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah al-Kalâm al-Dzâti atau sifat Kalam Allah maka ia bukan berupa huruf, suara dan bukan bahasa. Dalam pengertian ini jelas ia sesuatu yang qadîm. Tapi jika yang dimaksud al-Qur’an adalah yang lafazh-lafazh yang diturunkan, dibawa malaikat Jibrîl, tersusun dari huruf-huruf, tertulis di atas lembaran-lembaran dengan tinta dan dibaca dengan lidah, maka jelas ia sesuatu yang baharu (hâdits). Al-Qur’an dalam pengertian terakhir ini adalah merupakan ungkapan (‘Ibarah) dari al-Kalâm al-Dzâti. Kesimpulannya tidak boleh diucapkan: “al-Qur’an makhluk”, karena al-Qur’an bukan buatan malaikat Jibrîl atau Nabi Muhammad. Juga dikhawatirkan bagi orang mendengar ucapan tersebut berkesimpulan bahwa al-Qur’an benar-benar makhluk, padahal al-Qur’an memiliki dua pemaknaan sebagaimana penjelasan di atas. Penjelasan lebih luas lihat kitab-kitab Ahlussunnah dalam pembahasan terkait. Seperti al-Habasyi, dalam kitabnya Idlhâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Bi Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, h. 84-123 dan kitab ad-Durrah al-Bahiyyah, h. 40-42, juga dalam kitabnya al-MaThalib al-Wafiyyah Bi Syarh al-‘Akidah an-Nasafiyyah, h. 72-79, al-Baijuri dalam Tuhfah al-Murîd Syarh Jauhar al-Tauhîd, h. 55-56, al-Ghazali dalam al-Arba’în Fi Ushûl al-Dîn, h. 17, dan dalam banyak kitab lainnya

[7] Lihat asy-Sya’rani, ath-Thabaqât…, j. 1, h. 218

[8] Al-Qusyairi, ar-Risâlah…, h. 41

[9] Lihat al-Asqalani, ad-Durar al-Kâminah, j. 4, h. 216. Beliau mengatakan bahwa sanad yang ditulis al-Syathnufi dalam Bahjah al-Asrâr adalah sanad yang tidak benar dari Syaikh Abd al-Qadir.

[10] al Imam al-Habasyi dengan tegas membongkar cerita-cerita palsu yang dinisbatkan kepada Syaikh Abd al-Qâdir tersebut. Lihat al-Habasyi, al-Tahdzîr al-Syar’i…, h. 22

[11] Lihat al Imam al-Habasyi, al-Tahdzîr al-Syar’i…, h. 25, mengutip dari Shihâh al-Akhbâr Fi Nasab as-Sâdah al-Fâthimiyyah al-Akhyâr, h. 128

[12] Lihat al Imam al-Habasyi, al-Tahdzîr al-Syar’i…, h. 26, mengutip dari Abu al-Huda ash-Shayyadi, ath-Tharîqah ar-Rifa’iyyah, h. 59

[13] Ibid.

[14] Lihat asy-Sya’rani, al-Yawâqît…, j. 1, h. 66. Makna firman Allah QS. Fathir: 10 di atas tidak menunjukkan bahwa Allah berada di arah atas. Sebab bila ayat mutasyâbihât ini diambil makna zhahirnya maka akan bertentangan dengan ayat mutasyâbihât yang lain yang zhahirnya memberikan pemahaman seakan-akan Allah bertempat di bumi, seperti pada firman Allah QS. Al-Baqarah: 115, QS. Al-Hadid: 4, dan lainnya. Adapun makna yang benar dari firman Allah di atas ialah bahwa al-Kalim al-Thayyib (kalimat-kalimat yang baik); seperti Lâ Ilâha IllAllah naik ke tempat yang dimuliakan Allah, yaitu langit. -Artinya langit adalah tempat kemuliaan dan rahmat Allah, karena dari langit turun rizki-rizki bagi para hamba-Nya-. Dan makna “Wa al-‘Amal al-Shâlih Yarfa’uh” artinya setiap amalan yang saleh diterimanya. Lihat al-Habasyi, al-Shirât…, h. 47

[15] Di antara riwayat mashur menceritakan kekuatan firasat Umar sekaligus sebagai karamah beliau adalah kisah tentang salah seorang panglima perangnya yang bernama Sariyah ibn Zunaim, yang dikirim ke daerah Nahawand. Ketika tentara kaum muslimin yang di pimpin Sariyah ini terdesak dari serangan kaum kafir, pada saat yang sama Umar ibn al-Khaththab sedang menyempaikan khutbah di Madinah, tiba-tiba Umar berteriak dengan keras: “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung… berlindunglah ke gunung…!!”. Setelah beberapa hari kemudian Sariyah dengan pasukannya pulang dalam keadaan selamat. Mereka bercerita bahwa saat mereka terdesak dari serangan kaum kafir, mereka mendengar teriakan Umar untuk berlindung di gunung-gunung. Hadits shahih riwayat al-Asqalani dalam al-Ishâbah Fî Tamyîz al-Shahâbah, j. 2, h. 3. Lihat pula biografi Umar ibn al-Khaththab dalam Hilyah al-Auliyâ’, karya Abu Nu’aim, j. 1, h. 38

[16] Lebih luas lihat al-Habasyi, Tahdzîr…, h. 146. Lihat pula at-Tasyarruf…, h. 151-153
Rabu, Februari 16, 2011 | 0 komentar | Read More

Fiqh Madzab Merupakan Tafsir Al-Quran & Hadits Paling Shohih


MAHIR ILMU HADIS SEMATA-MATA TIDAK CUKUP UNTUK BERFATWA!

Keinginan umat Islam kini untuk kembali kepada Islam di setiap tempat merupakan suatu khabar gembira buat kita. Ianya suatu yang jelas di setiap tempat walaupun kebanyakan daripda mereka mendapat tentangan yang hebat.Kebangkitan Islam dapat dilihat dari pelbagai sudut terutamanya, dalam sudut penggurusan negara Islam). harta, penubuhan syarikat-syarikat Islam, pertubuhan-pertubuhan Islam, penerbitan buku-buku yang membincangkan tentang pengharaman sistem riba dan sebagainya, di kebanyakan tempat (terutamanya di negara-negara Islam).

Suatu khabar gembira yang lebih bernilai ialah, kebangkitan Islam dari sudut ilmiah, iaitu, perbincangan mengenai “Seruan untuk Kembali kepada Sunnah Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam)”. Begitu banyak sekali buku-buku yang diterbitkan mengenai Hadis-hadis Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam) yang terkenal mahupun yang tidak terkenal.

Kebanyakan daripada buku-buku mengenai Hadis-hadis Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam) tersebut, tidak disyarah dan jelaskan oleh ulama’-ulama’ ahli fiqh, secara terperinci mengenainya. Oleh yang demikian, hal ini menyebabkan sebahagian pembaca yang tidak mempunyai bekalan ilmu fiqh yang mantap, ataupun yang tidak belajar dari ulama’-ulama’ terlebih dahulu, akan terkeliru dan seterusnya. pemahamannya akan bercanggah dengan maksud sebenar Hadis-hadis yang dibacanya. Kemungkinan besar juga, si pembaca tersebut akan terdorong untuk mengamalkan seluruh Hadis-hadis yang dinilai sebagai Hadis-hadis Sahih oleh segolongan ahli Hadis (tanpa menilai adakah hadis-hadis itu digunakan atau tidak oleh ulama’-ulama’).
Kemungkinan juga, si pembaca yang cetek ilmu tersebut, akan berkata kepada dirinya: “kami beramal dengan hadis ini untuk satu ketika, dan satu ketika yang lain, ditinggalkan hadis ini (tidak beramal dengan Hadis tersebut)”. Si pembaca yang kurang ilmunya itu tidak bertanya terlebih dahulu kepada ulama’-ulama’ yang khusus dalam bidang syariah yang masih hidup, mahupun membaca ulasan-ulasan pada buku-buku karangan ulama’-ulama’ Muktabar yang telah tiada, mengenai Hadis-hadis yang dibacanya. seperti Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar Al-Asqalani, Syar Sahih Muslim oleh Imam An-Nawawi, dan sebagainya.
Dia juga tidak mempelajari tentang ilmu Al-Arjah (Hadis-hadis yang paling kuat untuk digunakan dalam berhujah pada masalah syariat), tidak mengetahui yang mana hadis yang diriwayatkan terlebih dahulu dan yang mana yang diriwayatkan kemudian, yang mana hadis yang khusus dan yang mana hadis yang diriwayatkan khas untuk keadaaan tertentu, yang mana ilmu-ilmu tersebut amat penting dalam memahami dan mengkaji maksud sesuatu hadis.
Kadang-kadang pembaca buku-buku Hadis, yang kurang ilmunya, apabila telah jelas sesuatu hadis, dia menyangka bahawa Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam) kadang-kadang terlupa apa yang pernah Baginda (sallallahu’alaihi wasallam) pernah sabdakan, kemudian menukar perkataan Baginda (sallallahu’alaihi wasallam) yang berlainan dengan kata-kata Baginda (sallallahu’alaihi wasallam) sebelum itu, walaupun pada hakikatnya, Baginda (sallallahu’alaihi wasallam) seorang yang Ma’shum (tidak berdosa dan melakukan kesalahan). Allah s.w.t. juga pernah berfirman: (( Kami akan bacakan (beri wahyu) kepadaMu (Hai Muhammad), maka janganlah Kamu melupainya )).
Maka, para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. melalui hadis-hadis Baginda s.a.w. yang diriwatkan oleh para ulama’ hadis dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama’-ulama’ fiqh. Ini kerana, didalamnya terdapat adunan adunan daripada hadis-hadis Rasulullah s.a.w. dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.
Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebahagian ulama’-ulama’ hadis yang agung di zaman salaf yang soleh juga, amat menghormati dan memuliakan ulama’-ulama’ Fiqh yang mahir dalam bidang Hadis juga, yang Allah pelihara mereka daripada bercanggah dengan Hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadis yang mereka riwayatkan daripada ulama-ulama fiqh yang muktabar.
Abdullah bin Mubarak (seorang ulama’ Hadis dari Khurasan) r.h.l. pernah berkata: “Jika Allah s.w.t. tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama’ Fiqh), nescaya aku sama sahaja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) “.[1]
Sufian bin ‘Uyainah r.h.l. pernah berkata: “Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadis dan menjadikan saya seorang ahli Hadis ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama’ fiqh)”[2]
Abdulla bin Wahab r.h.l. (seorang ahli hadis juga sahabat Imam Malik r.h.l.) juga pernah berkata: “saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama’, (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith r.h.l (ulama’-ulama’ Fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu.”[3]

Beliau juga diriwayatkan pernah berkata: “Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, duanya di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam Al-Laith bin Sa’ad dan Amr bin Al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan Al-Majishun. Jika tidak kerana mereka, nescaya kami akan sesat.”
Imam Al-Kauthari r.h.l. berkata di dalam kitab Al-Intiqa’ karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahab (dari sanad Ibn ‘Asakir): “Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam Al-Laith Sa’ad, nescaya saya akan binasa. Dulu, saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam) (As-Sunnah dan Al-Hadis), perlu diamalkan“.
Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: percanggahan dengan maksud Hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Kemudian, Imam Al-Kauthari mengulas: “Kesesatan yang dimaksudkan sepertimana berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu Fiqh dan tidak dapat membezakan tentang hadis yang diamalkan dan selainnya. [4]
Al-Qodhi ‘Iyadh r.h.l. meriwayatkan, Ibn Wahab r.h.l. juga pernah berkata: “Andai Allah s.w.t. tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan Al-Laith r.h.l., nescaya saya akan sesat.” Beliau ditanya: “Mengapa begitu?” Beliau menjawab: ” Saya telah menghafal banyak hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian, saya pergi ke Imam Malik dan Al-Laith untuk bertanya mengenainya, maka mereka berkata kepada saya: “Hadis ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah, dan hadis yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya).“[5]
Sufian bin ‘Uyainah pernah berkata: “Hadis itu menyesatkan kecuali kepada Al-Fuqoha’ (ulama’ ahli Fiqh). Kadangkala, suatu hadis itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta’wilannya. Kadangkala, sesuatu Hadis itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga Hadis yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam Fiqh (kefahaman).“[6]
Ibn Rusyd r.h.l. pernah ditanya tentang kata-kata: “Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh”. Beliau ditanya lagi: “Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!” Beliau menjawab: “Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadangkala, sesuatu hadis itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadis yang Nasikh dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih). Ada juga hadis yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli Fiqh sahaja. Barangsiapa yang hanya mengumpul hadis tetapi tidak memahaminya tidak dapat membezakan antara hadis yang maksudnya umum atau khusus. Oleh kerana itu, ahli Fiqh (Faqih) itu bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tdak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadis mahupun Fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli Fiqh (Faqih), walaupun dia mengumpul banyak Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin ‘Uyainah.[7]
Abdullah bin Mubarak r.h.l. pernah berkata mengenai fiqh Imam Abu Hanifah r.h.l.: “Jangan kamu katakan fiqh ini (mazhab Imam Abu Hanifah) merupakan pendapat beliau, tetapi katakanlah, ia (mazhab Abu Hanifah) merupakan tafsiran bagi hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam).[8]
Sebahagian orang, hanya membaca matan-matan hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) sahaja, tanpa menghiraukan ulasan-ulasan ahli-ahli Fiqh yang bergiat secara khusus dalam mengkaji hadis-hadis tersebut, mengenai hadis-hadis tersebut.. Mereka berfatwa dan mengemukakan hadis-hadis yang diragui kesahihannya disisi Imam-imam terdahulu yang ‘Alim, dalam masalah hukum dan percakapan mereka.

Kadangkala, mereka menolak ulasan-ulasan ulama’-ulama’ yang ‘Alim, mengenai kedudukan hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), dan bersangka buruk pula kepada ulama’-ulama’ tersebut. Ada dikalangan mereka pula, yang melemparkan tohmahan yang buruk keatas ulama’-ulama’ muktabar tersebut serta pengikut-pengikut mereka dan mengatakan bahawa mereka (ulama’-ulama’ terdahulu dan pengikut-pengikutnya) jahil tentang hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Amat buruklah tohmahan mereka itu!
Imam Ahmad bin Hanbal r.h.l. pernah bekata (seperti yang diriwayatkan oleh anaknya Soleh r.h.l.): “seseorang yang ingin memberi fatwa perlulah terlebih dahulu memahami keseluruhan Al-Qur’an, mengetahui sanad-sanad hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) dan mengetahui Sunnah-sunnah.[9]
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal r.h.l. berkata, “saya pernah bertanya kepada ayah saya (Ahmad bin Hanbal r.h.l.), tentang seorang pemuda yang memiliki banyak kitab-kitab mengenai hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam) dan himpunan kata-kata paa sahabat r.a. dan para tabi’in r.h.l., tetapi tidak mengetahui tentang kedudukan sesuatu hadis tersebut samada sahih atau sebaliknya, adakah dia boleh beramal sesuka hatinya? Ataupun, adakah dia layak memilih hadis mana yang dia mahu gunakan, dan memberi fatwa atau beramal dengannya? Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Tidak! Sehinggalah dia bertanya kepada ulama’ mengenai hadis mana yang boleh digunakan. Kemudian, barulah dia boleh beramal dengannya (hadis yang disahkan kesahihannya oleh ulama’ yang ditanya mengenainya).“[10]
Imam As-Syafi’e r.h.l. pernah menegaskan: “Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), serta ilmu-limunya (‘ulumul hadis) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya’ir-sya’ir Arab, dan sastea-sasteranya (kerana Al-Qur’an dan Hadis dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbezaan Bahasa Arab di kalagan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa.“[11]
Khalaf bin Umar r.h.l. telah berkata: “Saya mendengar Malik bin Anas (r.h.l.) berkata: “Saya tidak pernah duduk untuk memberi fatwa sehinggalah saya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lebih ‘alim dari saya tentang kelayakan saya untuk berfatwa. Saya pernah bertanya terlebih dahulu kepada Rabi’ah (r.h.l.) dan Yahya bin Sa’id, sedangkan mereka menyuruh saya untuk berfatwa. Maka, saya menegaskan: “Wahai Aba Adullah, adakah tidak mengapa untuk saya berfatwa sedangkan kamu ada di sini?” Beliau menjawab: “Saya tidak layak berfatwa. Tidak layak bagi seseorang itu, menganggap dirinya layak untuk sesuatu perkara, sehinggalah dia bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahui darinya.“[12]
Maka, jelaslah berdasarkan kata-kata ulama’-ulama’ salaf yang dinukilkan oleh Sheikh Habib Al-Kairanawi r.h.l., telah menolak pendapat orang-orang mewajibkan setiap orang untuk berijtihad. Kemungkinan, mereka tersalah faham terhadap perkataan-perkataan sesetengah ulama’ dalam karangan-karangan mereka, padahal kefahaman yang salah itu, amat bercanggah dengan kefahaman jumhur ulama’. Kemudian, golongan tersebut memperjuangkan kefahaman yang salah ini, dan mengajak seluruh umat Islam mengikuti pendapat tersebut (walaupun pada hakikatnya amat bercanggah dengan kefahaman yang sebanar). Akhirnya, tejadilah kekacauan dan pertelingkahan dikalangan umat Islam, disebabkan oleh perjuangan terhadap fahaman yang salah ini (yang mewajibkan setiap orang berijtihad). Na’uzubillah min zalik.
Salah faham ini sebenarnya membawa kepada pepecahan dikalangan penuntut-penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling jauh menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah s.w.t. menyuruh umat Islam menyambungkannya (tali persaudaraan Islam).
Kita perlulah mempelajari ilmu dari ahli ilmu yang muktabar dari sudut ilmunya, bukan sekadar membaca buku-buku imiah tanpa dibimbingi oleh seseorang guru yang alim. Ini kerana, barangsiapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan, para ulama’ muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaedah isnad, di mana kefahaman tentang agama Islam diambil dari para ulama’ yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah s.a.w.
Nas-nas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi Syariat Islam. Ia perlulah diadun dengan acuan-acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu Asbabun Nuzul, Asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Qur’an, ulumul Hadis, usul Fiqh dan sebagainya. Sheikhuna As-Syarif, Al-Habib Yusuf Al-Hasani h.f.l. pernah menyebut bahawa “sesiapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun cuba mengamalkan hadis-hadis yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, bagaikan mengambil daging mentah dari peti sejuk dan memakannya begitu sahaja. Bukankah ianya memudaratkan diri sendiri“
Jika kita dikalangan orang awam, bukan ahli ilmu, maka bertanyalah kepada orang yang ‘alim, dan janganlah beijtihad sendiri terhadap nash-nash. Allah telah berfirman:
(( فسئلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون))
Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).
Wallahu’alam
________________________________________
[1] Kitab “Tibyiidh As-Shohafiyyah” m/s 16
[2] Kitab “Jawahir Al-Mudhiyah” jilid 1 m/s 31
[3] Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”
[4] Ktab “Al-Intiqa’ fi Fadhail Al-A’immah Ath-Thalathah Al-Fuqoha’” m/s 27-28
[5] Kitab “Tartib Al-Madarik” jilid 2 m/s 427
[6] Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, “Al-Jami’” m/s 118
[7] Abu ‘Abbas Al-Wansyarishi “Al-Mi’yar Al-Mu’rab” jilid 12 m/s 314
[8] Kitab “Manaqib Al-Muaffaq Al-Makki” m/s 234
[9] Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah, “I’lamul Muaqi’iin”, jilid 2 m/s 252
[10] Al-Faqih Shiekh Habib Ahmad Al-Kairanawi m/s 5, dipetik dari “I’lamul Muaqi’iin”
[11] Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.
[12] Ibid m/s 6, dipetik dari kitab “Tazyiin Al-Mamalik” karangan Imam As-Suyuti m/s 7-8
Rabu, Februari 16, 2011 | 0 komentar | Read More

Ahlus Sunah Dalam Menyikapi hadist Dhoif

Ahlusunnah Menyikapi Hadis – Hadits Dhoif
بسم الله الرحمن الرحيم.
الله.
وظيفة الحديث الضعيف فى الاسلام وأقوال كبار أئمة السلف والخلف فيه لفضيلة السيد محمد زكى ابراهيم.
Wazifah
Hadis-Hadis Dhoif.
Ta’lif
Fadhilah al- Sheikh al-Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim.
Mantan Sheikh al-Masyaikh Thuruq al-Shufiyyah Mesir.
Terjemahan dan olahan
Oleh
Alama Alaudin As-shidiy
Pondok Pesantren Hidayatul mubtadi’ien
Kaliwungu ,jombang .
2010












Sekapur Sireh
Risalah yang padat dengan fakta-fakta bernas. Meluruskan salah faham terhadap hadis-hadis Dhoif yang berkait dengan amalan dan fatwa-fatwa hukum-hukum mayoritas umat Islam semenjak berkurun-kurun yang lalu. Membacanya mesti disertai ketelitian tanpa taa’sub pada mana-mana fahaman.
Mengapa dicerca rapuhnya sesuatu jika ianya berada di atas atau di dalam sesuatu yang teguh?. Mengapa dilontar buang Aqiq disebabkan Intan Permata?. Apa salahnya Aqiq, keberadaannya di sisi Intan? . Intipati risalah di antaranya:
1. Hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak. Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.
2. Hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih.
3. Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya karena berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata karena mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka
Wassalam
Alama alaudin As-shidiqy.













PENDAHULUAN
Waba’du: Di antara perkara bida’ah yang dianggap buruk, yang berlaku di kalangan orang ramai, yang tersebar luas melalui perkataan daripada mereka yang ghairah mendakwa memperjuangkan sunnah, tauhid dan pembaharuan (tajdid) iaitu keterlaluan mengkritik hadis-hadis Dhoif sebagai Batil dan Dusta. Menganggap beramal dengan hadis-hadis Dhoif sebagai keji dan fasik atau sekurang-kurangnya sebagai kejahilan dan melampaui batas syaria’t.
Padahal displin keilmuan tidaklah beranggapan begitu karena hadis-hadis Dhoif mendapat tempat di sisi syariat dan ia berperanan di dalamnya. Hadis Dhoif juga mempunyai peranan yang asas dalam agama Islam. Sebahagian daripada kezaliman terhadap ilmu dan agama iaitu menganggap dan menghukumkan hadis Dhoif dengan hukuman dusta (iaitu disamakan dengan hadis Maudhu’). Demikian itu karena hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih. Iaitu bermakna pada hadis Dhoif terdapat di sisinya keSohihan pada suatu sudut, dan sebahagian syarat-syarat Makbul hadis, tetapi sifat-sifat tersebut tidak sempurna sebagaimana yang berlakunya pada hadis-hadis Sohih . Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.
Maka hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak, dan hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih..Daku tahu kenyataan ini tidak akan disenangi oleh sebahagian orang tetapi menuntut keredhoan Al-Haq adalah wajib sekalipun dibenci oleh sebahagian orang.
3. Kitab-Kitab hadis Sohih sangat banyak.
Kitab-kitab yang memuatkan hadis Sohih amat banyak. Hadis-hadis Sohih bukanlah semata-mata hadis yang dikumpulkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim saja. Saya tidak menemui adanya Nas dalam agama Allah ataupun Isyarat yang menunjukkan pembatasan hadis Sohih terhadap kitab-kitab ini saja. Membataskan penerimaan Hadis Sohih terhadap kedua-dua kitab ini saja merupakan satu bentuk kefanatikan dan keraguan terhadap ilmu tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.
Dalam kitab Huda al-Abrar ‘ala Tol’ati al-Anwar dan kitab Idha’atul Halik yang ditulis oleh Imam Ibn a-Hajj al-‘Alawi, kitab al-Jami’ oleh Safiyuddin al-Hindi dan kitab al-manhal al-Latif serta kitab-kitab lainnya ada menyebutkan: Kitab-kitab yang mana kesemua hadis yang termuat di dalamnya dinisbahkan sebagai hadis Sohih menurut kesepakatan jumhur ahli hadis melainkan sedikit saja yang telah dikritik Ulama’ ialah:
1. Sohih Al-Bukhari ( Al- Jaami’ Al- Sohih).
2. Sohih Muslim.
3. Al-Muntaqa oleh Ibn al-Jarud ( melainkan hadis yang beliau telah Mursalkan ).
4. Sohih Ibn Khuzaimah.
5. Sohih Ibn Abi ‘Awanah.
6. Sohih Ibn al-Sakan.
7. Sohih Ibn Hibban.
8. Mustadrak al-Hakim (setelah dibuat pengesahan melalui hafalan semua oleh al-Dzahabi dan al-Iraqi sekalipun pengesahan al-Dzahabi lebih mendasar dan lebih keras ). Sebahagian mereka turut memasukkan Musnad Ahmad 1.
9. Al- Muwata Imam Malik 2 yang lebih berhak .
10. Kemudian (Al-Mustakhrajat) iaitu kitab-kitab yang mentakhrij hadis-hadis yang masyhur dikalangan para ulamak.
Kesemua kitab ini yang sedia dimaklumi di kalangan ulamak yang hanya memuatkan hadis-hadis Sohih samada disudut Ilmiyah dan Ilmu Hadis.
Selain daripada kitab-kitab ini, terdapat hadis yang Sohih, Hasan dan Dhoif.
ألا يقدم أحد على البخارى فى العزو وان كان الحديث فيه وفى مسلم ساقوا لفظ مسلم لمبالغته فى تحرى اللفظ النبوى.
Kaedah (ahli hadis): ((Bahawa tidak boleh didahulukan nama selain al-Bukhari (jika hadis terbabit juga diriwayatkan oleh al-Bukhari) dalam menisbahkan sesuatu hadis kepada perawinya . Dan pada Muslim (jika sesuatu hadis itu juga telah diriwayatkan oleh keduanya) mereka turut menyebutkan namanya (bersama-sama al-Bukhari) disebabkan ketelitian Muslim dalam menyaring lafaz yang benar-benar diucapkan oleh Nabi s.a.w.))
Oleh itu pandangan yang memestikan berpegang dengan hadis yang terdapat dalam kitab Sohih al-Bukhari dan Muslim semata-mata dengan anggapan hanya kedua-dua kitab ini saja yang memuatkan hadis yang Sohih, bukannya pandangan yang
bersandarkan kepada ilmu dan bukan pada agama.
_____________________________________________________________________
1 Karena Dhoif dalam al-Musnad Ahmad adalah Hasan.
2 Semua Mursal yang berada didalam al-Muwata telah diwasalkan oleh Imam-imam hadis dalam karangan-karangan mereka dari thuruq yang lain.
4. Pembahagian Hadis
Ahli hadis bersepakat bahawa ada tiga pembahagian hadis yang paling penting iaitu:
1. Hadis Sohih : Berada pada kedudukan teratas.
2. Hadis Hasan : Berada di kedudukan pertengahan.
3. Hadis Dhoif : Berada di kedudukan paling bawah, karena cedera pada satu
syarat saja dari syarat-syarat hadis Hasan.
Adapun Hadis Maudhu’ (palsu), maka ia terkeluar daripada skop yang kita bincangkan, karena ia adalah satu kekejian, gugur daripada hak untuk berhukum dan hak zatnya, samada disudut matan atau sanad atau kedua-duanya sekali, menurut Ijmak.
5. Pembahagian Hadis Dhoif.
Hadis Dhoif terbahagi kepada dua:
Pertama.
KeDhoifannya boleh ditampung (diperkuatkan) :
Apabila diperkuatkan oleh :
1. Hadis Dhoif Masyhur ,
2. Yang sama tetapi melalui jalan-jalan periwayatan yang lain.
3. Atau apabila mengisnadkannya oleh Sawahid yang makbul, terutama apabila Dhoif perawinya hanya disebabkan:
(a) lemah hafalan. atau
(b)lemah disebabkan Mursal atau
(c) Mastur (tertutup hal rawinya) ,
Maka ternaiklah martabatnya kepada martabat hadis Hasan Li Ghairih (iaitu bertaraf Hasan disebabkan adanya riwayat yang lain). Oleh itu termasuk dalam senarai hadis Maqbul (diterima) dan boleh dibuat hujjah sekalipun dalam soal hukum- ahkam sebagaimana yang telah dimantapkan di sisi para ulama’ dalam bidang Ilmu ini. Tidak perlu diperdulikan kepada dakwaan mereka yang mendakwa ahli dalam Ilmu ini padahal masih di tahap kebudak-budakan, tercari-cari dan tidak pernah belajar, mereka yang tahu satu perkara kemudian hilang pula beberapa perkara. Mereka mengikuti kaedah orang-orang bodoh untuk mengelabui hakikat kebenaran, mendakwa–dakwi diri dan mencari keuntungan dengan pendapat-pendapat pelik-pelik (Syaz) mereka.
Kedua.
KeDhoifannya tidak boleh ditampung:
Walaupun terdapat banyak jalan periwayatannya. Ia dinamakan sebagai al-Wahiy (sangat lemah) hal ini berlaku sekiranya perawi itu ternyata seorang yang fasik atau dituduh berbohong.
Para ulamak Ilmu Ini mengatakan: Hadis yang seperti ini jika diperkukuhkan dengan riwayat-riwayat yang lain, dan mempunyai Syawahid dan Mutab’at, maka tarafnya naik, daripada taraf (hadis Munkar, al-Waahiy atau hadis yang Tidak Ada Asalnya) kepada martabat yang lebih tinggi. Pada ketika itu ia boleh diamalkan dalam soal fadhilat-fadhilat amal selain pada soal:
1. Akidah
2. Hukum – Ahkam.
Sebahagian ulamak menambah:
1. Tafsiran al-Quran. Karena mendahulukan Hadis dalam menafsir daripada tafsiran berdasarkan fikiran semata-mata, tetapi pada pengecualian yang ketiga ini terdapat kritikan yang perlu pengkajian semula.
Dengan itu menerima pakai hadis Dhoif dalam segala jenis amalan yang berbentuk menggemar dan menakutkan, dalam soal adab, sejarah, ketatasusilaan, kisah tauladan, manaqib (biodata seseorang), sejarah peperangan, dan seumpamanya adalah diHaruskan. Perkara ini telah disepakati (Ijmak) oleh para ulamak seperti yang dinukilkan oleh Imam al-Nawawi, Ibn Abdul Barr dan selain mereka. Malah Imam al-Nawawi menukilkan pandangan ulamak bahawa dalam hal-hal tersebut disunatkan beramal dengan hadis Dhoif.
والاستحباب من جملة أصول الدين وأحكام الشرع الشريف
(Perkara yang sunat termasuk dalam himpunan Usuluddin dan hukum-ahkam syarak), perhatikanlah.
Tetapi kami berpendapat :
1. Penerimaan hadis Dhoif dalam perkara-perkara terbabit bersyaratkan jangan terlalu kuat keDhoifannya. Maka tidak termasuk hadis-hadis Dhoif yang ketunggalan periwayatannya yang salah seorang perawinya pendusta atau kesalahannya sangat keji.
2. Ia adalah merupakan perkara yang termasuk di bawah asas sesuatu Kaedah Syarak yang Kuliyyah (mencakupi seluruh soal-soal cabang perkara yang dihukum). Maka hadis-hadis yang tidak langsung berada di lingkungan asas tersebut bahkan merupakan perkara baru, adalah terkeluar dari keharusan ini .
3. Jangan pula hadis tersebut bercanggah dengan hadis yang Sohih. Maka terkeluar pula hadis-hadis Dhoif yang ditolak oleh hadis-hadis Sohih dan Sabit. Ini merupakan pendapat Ibnu Hajar al- Asqolani dan as- Sakhawi 3
6. Penerangan lebih jelas.
Abu al-Syeikh Ibn Hibban dalam kitabnya al-Nawa’ib meriwayatkan secara Marfu’ hadis Jabir r.a yang menyebutkan:
(( من بلغه عن اللّه عز وجل شيء فيه فضيلة , فأخذ به ايمانا به , ورجاء لثوابه ,
أعطاه اللّه ذلك , وان لم يكن كذلك )).
“Barang siapa yang sampai kepadanya sesuatu daripada Allah yang memuatkan sesuatu fadhilat, lalu dia beramal dengannya karena percaya terhadapnya dan mengharapkan ganjaran pahalanya maka Allah memberikan yang demikian itu, sekalipun sebenarnya bukan begitu”.4
Hadis ini merupakan punca asas yang besar dalam membincangkan hukum-hukum berkaitan hadis Dhoif, karena tidak mungkin sabdaan ini terbit daripada fikiran semata-mata tanpa Masmu’ (didengari dari Nabi s.a.w), bahkan ia sebenarnya merupakan dalil bahwa bagi hadis-hadis Dhoif mempunyai asal dan tanda pengesahan makbul (diterima).
Sesungguhnya para Ulama menukilkan daripada Imam Ahmad bin Hanbal bahawa dalam soal hukum-hakam, beliau berpegang dengan hadis yang Dhoif (jika ditampung keDhoifan tersebut dengan kemasyhuran hadis terbabit). Beliau juga mengutamakan hadis Dhoif dari pandangan akal. Beliau mengambil hadis-hadis Dhoif pada perkara-perkara halus (seperti akhlak) dan fadhoil. Seperti itu juga Ibnu Mubarak, al-Anbari, Sufiyan al-Thawri dan di kalangan pemuka-pemuka umat r.ahum.
————————————————————————————————–
3 Qaulul Badi’ : 195.
4 Pengarang Kanzul Ummal – ( 43132) – telah menisbahkan hadis ini kepada Abu Sheikh, Khatib, Ibnu an-Najjar, al-Dailami dari Jabir iaitu dalam kitab al-Durar karangan Ibnu Abdi al-Barr , al-Mu’jam al-Awsath karangan al- Tabarani dari Anas dengan lafaz – (( Sesiapa yang telah sampai kepadanya sesuatu fadhilat dari Allah , maka ia tidak mengakuinya , tidaklah ia mendapatnya.)) tapi terdapat kritikan pada riwayat yang ini , al-Ajluni telah menyebut dalam Kasf al-Khafa ( 2 : 327), telah di nukil dari Imam Sayuthi pada akhirnya (( maka pada jumlah , ada baginya asal )). Satu hadis lagi telah meriwayatkan oleh Imam Ahmad (5: 425) Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat ( 1: 387/388), Ibnu Hibban telah menSohihkannya (92) – Bahawa Nabi s.a.w telah bersabda ((Bila kamu mendengar sesuatu hadis dari ku, yang hati kamu telah mengenalinya, lembutlah bulu dan kulit kamu , kamu nampak hadis tersebut hampir (boleh kamu faham) maka daku lebih utama dengannya dari kamu. Apabila kamu mendengar pula sesuatu hadis dari ku yang hati kamu ingkar, liar darinya oleh bulu dan kulit kamu dan kamu nampak hadis tersebut jauh (untuk difahami), maka daku lebih jauh dari kamu terhadapnya (lantaran ia bukan berasal dariku)).
Begitu juga para ulamak Hanafi mendahulukan hadis Dhoif terhadap pandangan akal, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Zarkasyi, Ibn Hazm dan selainnya.
Maksudnya, bahwa sesungguhnya bagi hadis-hadis Dhoif adalah zat-zat hadis yang terdapat I’tibar, dan kegiatan Ilmiyyah Syaria’t, karena tidak mencukupi sebahagian syarat-syarat hadis Sohih padanya. Maka meletakkan title makzub (hadis dusta/ maudhu’) pada hadis Dhoif adalah kesalahan yang besar di sudut Ilmiyah.
Mazhab Abu Daud samalah seperti mazhab Hanafi dan Hanbali, yang mana mereka mengutamakan hadis Dhoif berbanding penggunaan akal, jika tidak ada sumber lain yang boleh dijadikan dalil dalam sesuatu bab yang dibincangkan.
Tidak ada yang menyanggahi Ijmak bahawa hadis Dhoif boleh diamalkan melainkan Abu Bakar Ibn al-‘Arabi seperti yang dinukilkan oleh Ibn al-Solah. Percanggahan oleh Ibn al-‘Arabi ini mempunyai beberapa alasan yang telah dijawab oleh para ulama, atau penolakannya terhadap hadis Dhoif itu hanya terbatas kepada alasan-alasan yang diberikan saja. Oleh itu sebenarnya tidak ada percanggahan antara beliau dengan ijmak ulama dalam hal keharusan beramal dengan hadis Dhoif jika betul pada tempatnya.
7. Hadis-hadis dalam al- Sohih (al-Bukhari dan Muslim), Dhoif dan Mudha’af.
Di sana terdapat satu lagi bahagian hadis yang dinamakan hadis muda’af, iaitu hadis yang mana senarai perawi dalam isnadnya dianggap Dhoif (lemah) oleh satu kumpulan ulama sementara kumpulan lain pula mengatakan mereka adalah perawi yang thiqah (dipercayai). Kedudukan hadis yang sebegini berada di tengah-tengah antara hadis Sohih dan Dhoif. Dengan kata lain, martabatnya kurang daripada hadis Sohih tetapi melebihi taraf hadis Dhoif. Ia adalah saudara kepada hadis Hasan ataupun dari jenis yang lebih tinggi daripada hadis Hasan. Oleh karena itu para ulama mengharuskan hadis sebegini dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih. Namun hadis-hadis ini pada kebiasaan yang berlaku , dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih hanya berperanan sebagai syawahid dan mutaba’ah atau hanya sekadar disebut ketinggian sanadnya (sanad yang A’liyy) saja.
Al-Bukhari telah menyebut secara bersendirian (tanpa Muslim) sebanyak lebih empat ratus lapan puluh nama perawi yang lapan puluh daripadanya dikritik oleh ahli hadis sebagai bertaraf lemah periwayatannya.
Adapun rangkaian sanad Muslim pula ada enam ratus dua puluh orang perawi, yang mana seratus enam puluh orang daripada mereka dikritik dan dikatakan bertaraf lemah. Namun mereka ini (yang dikatakan lemah periwayatannya) diperakukan sebagai perawi yang thiqah (dipercayai) oleh ramai ahli hadis yang lain.
Maka bagaimana pula fikiran mereka yang mendakwa-dakwi dalam Ilmu Ini cuba mengulas berkenaan hal perwai-perawi tersebut??..
Ibn al-Solah mengulas:
(( يقع بصحة ما أسنداه ( البخارى ومسلم ) أو أحدهما , سوى أحرف يسيرة تكلم
عليها بعض أهل النقد , لا كلهم .
(( Semua perawi yang disebutkan dalam sanad al-Bukhari dan Muslim diputuskan sebagai Sohih kecuali beberapa nama yang dipertikaikan oleh sesetengah ahli al-Naqd (pengkritik sanad) bukan kesemuanya.))
Kami pula mengulas: Beberapa nama yang dipertikaikan sesetengah pengkritik sanad inilah yang termasuk dalam bahagian hadis muda’af, yang mana ia harus dimasukkan ke dalam kitab-kitab hadis yang Sohih, tanpa ada celaan seperti yang telah kami terangkan.
Kemudian seterusnya :
: ان الحكم على الحديث بالصحة , أو الحسن , أو الضعيف , انما هو لظاهر الاسناد , لا لما هو فى نفس الأمر , فنفس الأمر هو اليقين المطلق الذى لا يعلمه الا اللّه وحده
Menentukan sesuatu hadis sama ada bertaraf Sohih atau Hasan atau Dhoif adalah berdasarkan pengamatan zahir terhadap nama-nama yang terdapat dalam sanad. Sesuatu hadis dikategorikan sebagai Sohih, Hasan dan Dhoif bukan berdasarkan hakikatnya, karena hakikatnya yang sebenar hanya Allah jua yang mengetahui. Oleh karena itulah para ulama hadis menyebutkan:
(( كم من حديث صحيح هو فى نفس الأمر ضعيف , وكم من حديث ضعيف هو فى نفس الأمر صحيح , وانما علينا التحرى والاجتهاد ))
((Mungkin ada di antara hadis yang Sohih pada hakikatnya ia adalah Dhoif, dan berapa banyak hadis yang Dhoif sedangkan pada hakikatnya ia adalah Sohih. Yang menjadi kewajipan kita ialah membuat pemeriksaan dan berijtihad.)
Mereka mengatakan lagi:
: لأنه يجوز الخطأ والنسيان على العدل الصدوق , كما يجوز على غيره , فاليقين هنا اعتبارى محض.
((Ini karena ada kemungkinan perawi yang adil/yang benar melakukan kesilapan atau terlupa sebagaimana hal tersebut harus berlaku kepada orang lain. Oleh itu keyakinan terhadap mutu hadis di sini hanya dalam bentuk iktibar (iaitu berdasarkan pengamatan yang zahir)).
ورواية (( العدل )) عن (( الضعيف )) تعديل له عند الأصوليين .
((Apabila seorang perawi yang bersifat adil meriwayatkan hadis yang diambilnya daripada perawi yang bertaraf Dhoif, maka bererti dia menganggap perawi itu bertaraf adil, menurut ulamak Usul.))
Pengarang kitab al-Manhal menyebutkan:
” وقياسه أنه تصحيح له أيضا عندهم ” .
((Qiyasnya, bererti perawi yang bertaraf adil itu telah mentashihkan hadis Dhoif tersebut, menganggap hadis tersebut sebagai Sohih disisi mereka.))
8. Ulama Sufi dan Hadis Dhoif.
Mudah-mudahan para saudara kita di kalangan penulis dan pembimbing selepas ini mengambil sikap warak (berhati-hati) daripada menghamburkan pandangan secara ithlaq (pukul rata) sehingga sampai menganggap palsu (maudhu’) terhadap hadis-hadis yang Dhoif yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Seolah-olah hadis Dhoif itu sebagai maudhu’, makzub dan muftara (( موضوع , مكذوب , مفترى ))
tidak boleh diambil manfaat, tidak perlu dihormati dan tidak boleh dinukilkan dan tidak boleh langsung berjinak-jinak dengan lafaz dan pengertiannya.
Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/ menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya karena berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata karena mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka. Sentiasalah mereka yang redho dengan penyakit hadis Dhoif, berdalilkan dengan mereka (Ahli hadis di kalangan Ahli Sufi).
Ibn Abdul Barr berkata:
: (( أحاديث الفضائل لا تحتاج فيها الى من يحتج به ))
((Hadis-hadis yang berkaitan dengan fadhilat-fadhilat, maka kami tidak perlukan orang yang layak untuk dijadikan hujah.))
Ibn Mahdi menyebut dalam kitab al-Madkhal:
: (( اذا روّينا عن النبى _ صلى اللّه عليه وسلم _ فى الحلال , والحرام , والأحكام , شددنا فى الأسانيد , وانتقدنا الرجال , واذا روّينا فى الفضائل , والثواب , والعقاب , تساهلنا فى الأسانيد , وتسامحنا فى الرجال )) .
((Apabila kami meriwayatkan daripada Nabi SAW tentang halal haram dan hukum-hakam, maka kami akan memperketatkan sanad-sanadnya dan kami akan membuat kritikan (pemeriksaan) terhadap rijalnya (nama-nama perawi yang terdapat dalam sanad). Tetapi apabila kami meriwayatkan hal-hal berkaitan fadhilat, ganjaran pahala dan seksa, maka kami mempermudahkan sanad-sanadnya, dan kami bertolak ansur dengan rijalnya.))
Imam al-Ramli menyebutkan hadis-hadis yang terlalu Dhoif (iaitu hadis yang dinamakan al-Wahiy) apabila sebahagiannya bergabung dengan sebahagian yang lain, maka ia boleh dijadikan hujjah dalam bab ini (iaitu Bab Fadhilat, Perkara yang menambat hati, Nasihat, Ketatasusilaan, Sejarah dan seumpamanya). Berdasarkan inilah, maka al-Mundziri dan para pentahkik yang lain mengumpulkan hadis-hadis terbabit dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib (menggemar dan membimbangkan).
Pendekatan yang diambil oleh golongan terdahulu yang membuat pengkhususan dalam bidang hadis ini samalah dengan pendekatan yang diambil oleh sesetengah fuqaha’ dan ulama tasawuf. Dan dengan pendekatan inilah kami berpegang. Dalam Matan Hadis-hadis Dhoif, kita banyak menemui hikmah-hikmah, ilmu makrifah, perkara yang seni-seni/ halus, kesusateraan yang menghimpun semuanya oleh hembusan wahyu kenabian adalah merupakan barang khazanah (Ilmu ) orang mukmin yang telah hilang.
Inilah pendekatan yang diambil oleh ulama terdahulu seperti al-Thawri, Ibn ‘Uyainah, Ibn Hanbal, Ibn al-Mubarak, Ibn Mahdi, Ibn Mu’in dan al-Nawawi. Ibn ‘Adiy meletakkan satu bab berkaitan hal ini (penerimaan hadis Dhoif) dalam kitabnya yang berjudul al-Kamil. Begitu juga yang dilakukan oleh al-Khatib dalam kitab al-Kifayah.
*******
Pada masa kini, kita dapat melihat (amat mendukacitakan), ada golongan yang menolak hadis-hadis al-Bukhari karena tidak sejajar dengan kefahaman yang dipeganginya, dan tidak bersesuaian dengan kecenderungannya atas nama menolong Sunnah. Malah ada orang yang menulis buku berkaitan hal ini, sedangkan dia bukan orang yang berkelayakan. Ada berpuluh-puluh musuh Islam yang membantunya untuk mencetak buku berkenaan dan mengagihkan secara percuma di merata tempat walaupun menelan kos yang besar yang didorong oleh kepentingan mendapatkan keuntungan material dan niat yang buruk.
Kalau tidak dengan rahmat Allah, dan langkah-langkah yang diambil oleh majalah Muslim (iaitu majalah yang diasaskan oleh penulis) dan sesetengah ulama hadis (untuk menangkis usaha tersebut), nescaya akan menyebabkan timbul keraguan terhadap semua hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan riwayat oleh Imam-imam Hadis yang lain. Tentunya (jika tidak ada usaha yang diambil oleh sesetengah Ulama dalam menangkis golongan terbabit), maka Sunnah Nabi yang telah sabit secara ilmiah terdedah kepada fitnah (semoga Allah melindunginya) yang ditimbulkan oleh golongan yang mendakwa sebagai Salafiyah, kononnya mereka yang lebih mengetahui tentang ilmu Sunnah , berbanding makhluk Allah yang lain. Mereka menghukum kufur orang dan menghukum mereka sebagai Syirik dan Fasiq kecuali sesiapa yang menurut hawa nafsu mereka yang jelek.
Fahamilah keadaan Ini :
Sesungguhnya Imam Al-Nasa’ie telah mentakhrijkan (iaitu memakai dan beri’timad dalam riwayat sesuatu hadis) nama-nama perawi yang tidak diijmak pada matruknya, yakni nama perawi sesuatu hadis yang hanya bersumberkan daripadanya. Asalkan jangan dia dikenalpasti sebagai seorang yang pembohong.
Apa yang berlaku kepada kami (iaitu hadis-hadis yang diamalkan oleh kami) yang diriwayatkan oleh Tokoh-tokoh besar Sufi dan Pendakwah ke jalan Allah, tidak terdapat di dalam sanadnya perawi yang pembohong atau pendusta. Cukuplah ini sebagai dalil keharusan beramal dengan hadis yang Dhoif pada tempatnya. Inilah pendirian yang diambil oleh ulama-ulama Tasawuf dan yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Kami memohon keampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya. Dialah jua yang memberikan taufiq dan tempat untuk meminta pertolongan.
ونستغفراللّه ونتوب اليه , وهو الموقف المستعان .
وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصبه وسلم .
وكتبه المفتقر اليه تعالى وحده
محمد زكى ابراهيم
رائد العشيرة المحمدية وشيخ الطريقة الشاذلي
بسم الله الرحمن الرحيم.
فوائد علمية متناثرة
وكتبه تلميذ المؤلف :
محي الدين حسين يوسف
حول الحديث الضعيف وأحكامه
الحمدللّه , والصلاة والسلام على رسوللّه , وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه. أما بعد .
1. Bilakah naik darjat Hadis Dhoif kepada darjat Hadis Hasan?
Apabila diriwayatkan sesuatu hadis yang mana disegenap sudutnya adalah Dhoif, tidak semestinya hasil daripada berhimpun banyak akan dianggap sebagai Hasan. Maka Hadis Dhoif di sisi Para Muhaqiqin terbahagi dua:
A.Yang ditampung dengan hadis-hadis yang lain: Hadis yang sebegini dibuat hujjah pada masalah fadhoil dan sepertinya. Hadis Dhoif daripada bahagian pertama ini disebabkan beberapa sebab :
1) Dhoif disebabkan lemahnya hafalan perawi yang meriwayatkannya padahal perawi
tersebut bersifat amanah.
2) atau Dhoifnya disebabkan Mursal
3) atau bersifat Tadlis
4) atau tidak dikenal perawinya (Majhul).
atau yang sepertimana perkataan para ahli hadis:
: اسناده محتمل للتحسين , أو قريب من الحسن , أو فى اسناده لين , أو ضعف , ثم : اسناده َضعيف , ثم : فى اسناده مجهول , أو مستور , ثم : ليس فى اسناده متروك , أو من يترك , أو من أجمع على ضعفه.
(( Isnadnya diihtimalkan bagi Hadis Hasan atau hampir dengan martabat Hadis Hasan
atau pada isnadnya terdapat sifat Liin atau sifat Dhoif. Kemudian isnadnya lemah,
kemudian pada isnadnya Majhul atau mastur, kemudian tiada pada isnadnya itu seseorang yang bersifat Matruk, atau mereka yang matruk ( ditinggalkan) atau mereka yang telah di Ijmak kan atas Dhoif riwayatnya.
Maka Dhoif yang begini akan ditampung keDhoifannya dengan hadis Dhoif yang lain yang tidak rendah darjahnya ( sama-sama Dhoif) dan hilang keDhoifan nya dengan sebab terdapat thuruq ( jalan riwayat ) yang lain yang bersamaan atau lebih tinggi daripada darjahnya.
B. Dhoif yang tidak tertampung dengan riwayat yang lain, dan tidak boleh dibuat hujjah dengannya secara mutlak. Tidak boleh pada bab fadhoil dan tidak juga boleh pada perkara yang selain fadhoil. Diantaranya hadis Al Waahiy dan hadis Mungkar. Iaitu hadis yang keDhoifannya disebabkan fasik rawinya atau dusta. Itulah perkataan muhadissin berkenaannya:
اسناده واه أو ضعيف جدّا , أو ساقط , أو هالك , أو مظلم
Hadis-hadis yang begini tidak berfungsi sekalipun maufakat padanya hadis-hadis Dhoif yang lain, lebih-lebih lagi apabila hadis-hadis Dhoif yang lain hanyalah bersamaan dengannya pada istilah-istilah pangkat tersebut, disebabkan kuat Dhoifnya dan sama taraf kedudukan hadis yang menjadi penampung. Ya, bahkan boleh meningkat pangkat hadis-hadis Dhoif tersebut daripada keadaan pangkat-pangkatnya kepada pangkat Hadis Mungkar disebabkan berhimpun Turuqnya (banyak jalan riwayatnya), dan tidak harus (haram) meriwayatkannya melainkan hendaklah disertai penerangan berkenaan keDhoifannya yang Mungkar.
2) Ijmak Ulama menerima sesuatu hadis sekalipun ia tidak Sohih.
Sesuatu hadis yang telah diterima oleh para ulama melalui jalan periwayatan adalah makbul sekalipun tidak mencukupi syarat-syarat Sohih, karena Umat tidak akan bersependapat di atas sesuatu yang sesat.
Berkata Ibn Abdil Barr dalam kitab al-Istizkar:
لما حكى عن الترمذى أن البخارى صحح حديث البحر (( هو الطهور ماؤه )) , وأهل الحديث لا يصححون مثل اسناده , لكن الحديث عندى صحيح , لأن العلماء تلقوه بالقبول .
((Ketika dihikayatkan daripada Imam at-Tarmizi bahawa al-Bukhari telah menSohihkan hadis berkenaan laut هو الطهور ماؤه , padahal para ahli hadis tidak menSohihkan sanad yang sepertinya, tetapi hadis tersebut disisiku adalah Sohih , karena para ulama telah menerima hadis tersebut sebagai makbul. ))
Berkata Ibn Abdil Barr di dalam kitab at-Tamhid, Jabir telah meriwayatkan daripada Rasulullah SAW :(( الدينار أربعة وعشرون قيراطا)) Beliau berkata: Pada berkenaan pendapat sebahagian Ulama yang berkata :
واجماع الناس على معناه غنى عن الاسناد فيه.
((Ijmak manusia atas maknanya itu terkaya daripada isnadnya.))
Berkata al-Ustaz al-Isfiroyni:
, تعرف صحة الحديث اذا اشتهر عند أئمة الحديث , بغير نكير منهم .
((Dikenali keSohihan sesuatu hadis apabila masyhur ia di sisi para ulama hadis tanpa terdapat ingkar padanya.))
Berkata sebahagian ulama:
يحكم للحديث بالصحة اذا يلقاه الناس بالقبول , وان لم يكن اسناده صحيح .
((Dihukumkan sesuatu hadis itu dengan Hadis Sohih apabila para ramai Ulama menerimanya sekalipun isnadnya tidak Sohih.))
3) Beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada hukum-hukum.
Para ulama telah berdalil dengan hadis-hadis Dhoif, yang Dhoifnya tidaklah terlampau Dhoif. Sehingga pada masalah hukum-ahkam yang mana hadis-hadis yang Dhoif telah juga diambil iktibar. Istimewa lebih-lebih lagi bila pada bab yang bukan bab hukum-ahkam.
Contoh contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak. Misalnya hadis-hadis berkenaan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri ketika di dalam sembahyang. Maka hadis-hadis berkenaan dalam perkara tersebut adalah hadis-hadis yang Dhoif. Oleh yang demikian sekalipun tidak ada satu pun hadis-hadis dalam masalah ini yang sah. Ada yang paling Sohih pun ialah hadis yang diriwayatkan oleh Wail: ((Nabi SAW meletakkan kedua-dua tangan tersebut di atas dada.)) Pada hal ia bukan pula dalil untuk amalan meletakkan kanan atas kiri, al-Sawkani dan selain beliau telah menyebut tentang hadis ini.
Engkau akan jumpai contoh-contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak misalnya di dalam (1.) Kitab Muntaqa al-Akhbar – karangan al-Mujid Ibnu Taimiyah, dan syarahanNya ( 2.) Nailul Awthar – karangan as-Syaukani, (3.) Takhrij Al-Hadith al Hidayah – karangan al-Hafiz Zailaie, (4.) Talkhis al-Habir – karangan Ibnu Hajar al-Asqolani, (5.) BBuluughu al-Muram, dan SyarahanNya (6.) Subul al-Salam- karangan as-Suna’ni. Di dalam (7.) Muwata- Imam Malik terdapat hadis-hadis bertaraf Mursal dan hadis-hadis yang di mulai dengan lafaz “Balagha”. Begitu juga di dalam kitab-kitab Sunan terdapat bab-bab hukum yang berhujahkan hadis-hadis Dhoif, dalam jumlah yang tidak sedikit.
Berkata al-Hafidz Abu Fadhal Abdullah bin Siddiq al-Ghumari r.h.m: Perkataan para Ulamak dalam Ilmu Ini:
الحديث الضعيف لا يعمل به فى الأحكام ليس على اطلاقه , كما يفهمه غالب الناس أو كلهم ؛ لأنك اذا نظرت فى أحاديث الأحكام التى أخذ بها الأئمة المجتمعين ومنفردين وجدت فيها من الضعيف ما لعله يبلغ نصفها أو يزيد , وجدت فيها المنكر والساقط , القريب من الموضوع.
((Hadis-hadis Dhoif tidak diamalkan dengannya pada hukum-ahkam tidaklah menurut lafaz ithlaqnya (makna yang menyeluruh) sebagaimana fahaman kebanyakkan manusia atau seluruh mereka. Karena jikalau engkau memerhati pada hadis-hadis hukum yang telah digunakan oleh Imam-imam, samada secara sependapat ataupun sendirian pada sudut berdalil dengan hadis dhoif, nescaya engkau akan dapati terdapat hadis-hadis yang Dhoif barangkali mencapai separuh daripada dalil-dalil hukum-ahkam tersebut atau melebihi separuh. Kadang-kala engkau akan jumpai hadis-hadis Mungkar, hadis Saqith dan hadis-hadis yang hampir kepada taraf Maudhu’.))
Perkara ini telah diisyaratkan oleh saudara kandung kami al-Allamah al-Hafiz as Saiyid Ahmad di dalam kitab al Masnuni wal Battal, maka hendaklah dirujuk di sana. Bahkan mereka yang telah mencontohkan kaedah tersebut adalah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah di mana mereka telah berhujah dengan hadis-hadis Mursal. Sebahagian daripada usul Imam Ahmad dan muridnya Abu Daud adalah berhujah dengan hadis-hadis Dhoif. Beliau telah mendahulukan hadis Dhoif daripada Pendapat dan Qiyas. Imam Abu Hanifah seperti yang telah dinaqalkan oleh Ibnu Hazam juga telah beramal seperti mana mereka yang seangkatan dengannya. Terdapat di dalam perpustakaan kami satu naskah kitab tulisan tangan berjudul al-Mi’yar, di dalamnya disebutkan hadis Dhoif pada tiap-tiap bab, yang telah dipungut daripada ijtihad para Ulamak Mahzab Empat, sebagai dalil mereka samada sependapat atau bersendiri menggunakan hadis-hadis Dhoif pada sesuatu hukum.
Apabila telah mantap bagimu pada kaedah ini, maka janganlah engkau berpaling disebabkan was-was yang telah dilemparkan oleh kumpulan buat kacau-bilau bahawa hadis-hadis Dhoif tidak boleh ditegakkan hujah dengannya sama sekali, karena engkau telah mengetahui kaedah tersebut adalah sebahagian amalan para Imam Umat ini. Tetapi alangkah menghairankan, Thoifah (kumpulan) ini telah menggunakan hadis-hadis Dhoif apabila sesuai dengan kehendak mereka dan mengutamakan hadis-hadis Dhoif daripada yang Sohih. Perkara sebegini boleh diketahui dengan memerhatikan cara mereka menggunakan dalil-dalil untuk menegakkan bida’ah dan bantahan-bantahan mereka. Ini adalah merupakan permainan-permainan yang patut mendapat murka Tuhan
4) Ijmak Para Ulamak atas beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif:
Tidak cedera Ijmak disebabkan terdapat pertentangan dan pendapat yang pelik
( Syaz.) Tidak terdapat seorang pun dikalangan para Ulamak yang menentang Ijmak pada Keharusan beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif pada soal Fadhoil Amal melainkan Al-Qadi Abu Bakar bin Al-Arabi. Yang demikian itu telah menyebut oleh guru kami didalam risalahnya, perkataan yang berbunyi,:
له وجوه يرد عليه منها , ويحمل كلامه عليها … ويكفى انه انفرد بهذا القول لئلا يحتج به
((Beliau (Qadhi al-Arabi) mempunyai pendapat-pendapat yang dibangkang dan (diihtimalkan) ditujukan maksud beliau kepada…. Memadalah bahawa bersendirian beliau dengan perkataan itu dan tidak boleh dipegang sebagai hujjah.))
Adapun perbuatan sebahagian penulis kini yang suka mengubah-ubah fakta, cuba menisbahkan pendapat tersebut (iaitu tidak boleh sekali-kali beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada Fadhoil Amal) kepada Imam al-Bukhari dan Imam Muslim sebenarnya adalah merupakan perkara yang sangat ajeeb (menghairankan).
Kenapa begitu, jawabnya karena Imam Al-Bukhari telah menulis di dalam kitabnya Al-Adabul Mufrod dan di dalam kitab Tarikh yang mana beliau tidak mensyaratkan periwayatan-periwayatan hadis dengan meninggalkan hadis-hadis yang Dhoif. Maka di dalam kedua kitab tersebut, beliau telah menisbahkan riwayat-riwayat tersebut kepada diri beliau sendiri, tidak lain tidak bukan tujuannya supaya bersungguh-sungguh manusia beramal dengan hadis-hadis tersebut walaupun terdapat hadis-hadis yang Dhoif. Kemudian Imam al-Bukhari R.A telah menyebut hadis hadis yang tidak menurut syarat-syarat beliau dalam kitab Jami’ nya, iaitu kitab Jami’ Sohih dan sebahagian daripada hadis hadis tersebut sekalipun di dalam Jami’ Sohih, karangan beliau terdapat hadis-hadis yang Dhoif, Ini terdapat di dalam ta’lik atau tarjamah beliau. Berlakunya perkara yang demikian menunjukkan, bahawa beliau sebenarnya beramal juga dengan hadis-hadis yang Dhoif, Adapun sebab beliau tidak menyebut di dalam Asal Kitab Sohihnya itu karena bertentangan dengan syarat syarat beliau, yang mana beliau hanya akan meriwayatkan hadis-hadis didalam Kitab Jami’ nya itu tidak lain melainkan hadis-hadis yang Sohih saja.
Adapun Imam Muslim, maka sesungguhnya Imam Nawawi yang telah mensyarahkan kitab beliau, telah menghikayatkan Ijmak atas Keharusan, beramal dengan hadis hadis yang Dhoif pada Fadhailul amal,
Padahal Imam Nawawi lebih mengetahui, berkenaan Imam Muslim, dan berkenaan Kitab Sohih Imam Muslim, berbeza jauh apabila dibandingkan dengan mereka yang membantah.
Adapun perkataan, sekumpulan daripada golongan orang yang menisbahkan diri mereka, sebagai golongan Salafi pada zaman kita ini, maka tidaklah akan cedera pula Ijmak lantaran kurang faham mereka itu dan lantaran disebabkan mereka membantahinya pada perkara yang telah diamalkan (iaitu beramal dengan hadis-hadis Dhoif).
Selain daripada itu, sebenarnya kebanyakan mereka yang mendakwa sebagai Salafi itu, bukanlah Ahli di medan Ilmu Ini .
5) Meriwayatkan hadis-hadis Dhoif?
Adalah wajib menerangkan keadaan sesuatu hadis itu adalah Dhoif ketika meriwayatkannya atau wajib disebutkan dengan salah satu dari lafaz yang menunjukkan Dhoif seperti lafaz :
روى untuk memelihara perbezaan di antara hadis yang Sohih, yang Thabit dengan hadis yang Dhoif, yang tidak sempurna padanya syarat-syarat Sohih.
6) Pemuka-pemuka hadis dahulu kala.
Di dalam kebanyakkan kitab-kitab para pemuka hadis yang terdahulu mereka menyebutkan setiap hadis dengan sanadnya tanpa menerangkan darjah hadis tersebut. Demikian itu karena bersandar kepada kaedah:
(( من أسند فقد أحالك , ومن لم يسند فقد تكفل لك ))
Ertinya: ((Sesiapa yang menyebut sanad maka sesungguhnya ia memalingkannya kepadamu, dan sesiapa yang tidak menyebut sanad sesungguhnya memadai ia bagimu.)) Oleh yang demikian lazimlah berniat.
7) Sebahagian daripada tanda-tanda keNabian
Kepada mereka yang berpangkalkan Hadis Nabi s.a.w pada selemah-lemah sebab , dan telah menimpa mereka demam panas Ta’asub ketika mendengar perkara yang bertentangan dengan Hawa Nafsu mereka berkenaan Hadis Nabi , ditujukan kepada mereka sabdaan Rasul s.a.w :
(( لا ألفينّ أحدكم متكئا على أريكته يأتيه الأمر من أمرى مما أمرت به , أو نهيت عنه فيقول : لا ندرى ما وجدنا فى كتاب اللّه اتبعناه )) رواه ابو داود والترمذى وصححه
((Sesungguhnya tidak akan di dapati sesorang dari kamu yang bertelekan (duduk) di katilnya, yang datang padanya sesuatu perkara dari urusan dari perintahku atau laranganku, melainkan akan akan menjawab: Kami tidak tahu dan tidak menjumpainya ada dalam Kitab Allah untuk kami ikutinya.))
Waham dan Tadlis pada menerangkan pangkat hadis.
Telah beradat sebahagian mereka yang telah mewahamkan dan mentadliskan pada menerangkan darjah hadis dengan menggunakan perkataan:
(( ليس بصحيح)) يعنى (( حسن أو ضعيف ))
Ertinya: Tidak Sohih iaitu (maksud yang sebenar adalah samada) Hasan atau Dhoif, melainkan bahawa menisbahkan perkataan berikut sebenarnya bertujuan untuk memberi kesamaran kepada umat bahawa hadis tersebut adalah Maudhu’. Padahal tidak terdapat di dalam kitab-kitab hadis istilah yang begitu, sesungguhnya kebanyakkan mereka yang mengaku Salafi pada masa kita ini menulis di dalam majalah-majalah mereka perkara waham dan tadlis. Mesti diketahui apabila di dapati di dalam kitab-kitab ahli hadis yang terdahulu (al-Mutakaddimin) istilah seperti
لم يصح فى هذا الباب حديث
((Tidak sah pada bab ini suatu hadis pun)), maka yang dimaksudkan adalah terdapat hadis Hasan dan Dhoif padanya. Mereka menggunakan peristilahan sebegitu karena mereka berbicara dihadapan:
1.Para Ulamak atau
2. Pada ketika kebanyakkan hadirin yang hadir adalah membincangkan istilah-istilah di dalam ilmu ini.
9)Membatalkan hadis-hadis dengan menyangka membersih dan menolongnya.
Sebahagian bala Allah Taala yang ditimpakan pada segolongan orang, iaitu sengaja menyeluk kitab-kitab hadis dan membahagi-bahagikannya kepada hadis Sohih dan Dhoif, bahkan cuba mengumpulkan kesemua hadis-hadis Sohih dalam satu kitab dengan hanya menurut hawa nafsunya. Mengandingkan hadis Dhoif bersama Hadis Maudhu’ dalam satu kitab pula. Maka apakah bencana dahsyat yang ditimpakan lagi?. Adakah karena kemasyhuran dan banyak karangan yang menghasilkan banyak harta benda?. Atau di sana ada tujuan yang tersembunyi untuk mengenepikan hadis-hadis yang begitu banyak?. Lantaran menuntut redho syahwat orang-orang tertentu atau menuntut redho mereka yang di tangannya suruh dan tegah, dan menyebarkan sebahagian mazhab dan hawa nafsu yang mengikut siasah dengan memperdaya menggunakan agama?
10) Kaedah usul pada sesuatu yang pada perkara yang ditinggalkan الترك
Setengah daripada bencana yang meratai di kalangan masyarakat bahawa sesorang akan berkata: Perkara ini haram karena Nabi meninggalkannya atau tidak melakukannya.
Firman Allah Ta’ala:
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا
((Perkara yang telah mendatangnya pada kamu oleh Rasul, maka hendaklah kamu ambil, dan perkara yang Baginda tegah pada kamu maka hendaklah kamu tinggalkan.))
Tidak pula Tuhan berfirman: : وما تركهdan perkara yang ia tinggalkan. Maka Nabi meninggalkan sesuatu perkara tidak pula bermakna perkara tersebut haram karena kaedah:
والأصل فى الأشياء الاباحة , الاّ ما ورد فيه نص أو دليل شرعى .
((Asal pada sesuatu perkara adalah harus melainkan apabila telah datang padanya nas atau dalil syarak yang mengharamkannya.))
11) Penyudah, ditujukan pada Para Pemuda kami, Para Pewaris.
Sesungguhnya sebaik-baik perkara yang kami bentangkan pada hari ini kepada para pewaris umat ini dan pemukannya adalah: ((Bahawa berhadaplah sepenuh inayah kamu untuk kitab-kitab hadis, mengambil dan belajar kepada para guru yang beramal dan jadilah kamu para penolong pada beramal dengannya, janganlah kamu menjadi yang memusuhinya. Sejahat-jahat musuh adalah musuh yang menyerupai rupa teman. Dan sesungguhnya kitab-kitab hadis yang sangat berhajat para pemuda padanya lebih daripada berhajat kepada air sejuk pada ketika haus/ dahaga, maka lazim olehmu kitab :
1.Riyadus Solihin—- Imam Nawawi,
2.Al-Targhib wa al-Tarhib—-al- Munziri,
3.Subulus Salam- as- Sun a’ni,
4.Nailul Awthar-al-Syaukani,
Jangan meluputkan kamu oleh Kitab al Syamail al Muhammadiah— al-Tirmizi dan Sifru as Sa’adah– al-Fairu Zabadi. Maka pada perkara-perkara yang telah kami sebutkan terdapat kebaikan yang banyak, dan permulaan keharuman bagi pemuda Islam yang menuju kepada peradaban kebudayaan Islam yang sihat, yang tidak bertukar-tukar dan tidak kacau bilau.
“وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم”

http://alama-alaudin.blogspot.com
Selasa, Februari 15, 2011 | 0 komentar | Read More