SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

Bila Seseorang Selalu Mengingat Mati

Oleh : Santri Salaf

Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama ALLOH Azza wa Jalla.
Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, "Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa". Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.

Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.

Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" Pikirnya.

Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini.

Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.

Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab.

Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.
***

Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al Ghazali.

Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat ramaja.
Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata rurun ke hati", begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis itu.

Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih dulu.

Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul khatimah.
***

Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.

Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."

Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul khatimah.

Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu."

Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin!
Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

Pakaian Ketat Baik Bagi Laki-Laki Atau Perempuan Serta Solusinya

Oleh : Santri Salaf

Memakai pakaian ketat hukumnya dilarang alias haram dalam Islam bahkan termasuk dosa besar, baik laki-laki maupun bagi wanita. Wanita yang mengenakannya terancam tidak akan mencium bau Surga. Dalam hadits shahih Rasulullah saw :
bersabda:

“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah kulihat sebelumnya, sekelompok lelaki dengan cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk orang-orang dengannya; dan wanita- wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka lenggak-lenggok ketika berjalan. Di kepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya, sedangkan baunya tercium dari jarak yang jauh”.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud berpakaian tapi telanjang diantaranya ialah mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulit. Berangkat dari sini, pakaian ketat yang menampakkan lekuk tubuh dan bagian-bagian menggoda dari tubuh wanita hukumnya juga haram, sebab keduanya sama-sama menimbulkan fitnah. Dalam riwayat lain Rasulullah bahkan memerintahkan kita untuk melaknat wanita-wanita seperti itu karena mereka memang terlaknat .

Kesimpulannya, memakai pakaian ketat sangat diharamkan dalam syari’at, dan hal ini menunjukkan bahwa syari’at Islam benar-benar sempurna untuk diterapkan kapan saja dan di mana saja. Tak ada satu pun dari aturannya melainkan demi kemaslahatan manusia, diantaranya ialah perintah untuk berjilbab sesuai syari yang konsekuensinya harus longgar, menutup aurat, dan seterusnya.
Kedokteran modern membuktikan bahwa pakaian ketat menyebabkan berbagai penyakit, dan ini salah satu hikmah mengapa Allah melarangnya. Berikut ini adalah penjelasan tentang penyakit-penyakit yang ditimbulkan akibat menggunakan pakaian ketat. 

 MENGGANGGU KESUBURAN PRIA

Pakaian ketat tidak cuma haram bagi wanita, namun haram pula bagi laki-laki. Dengan berpakaian ketat, aurat yang mestinya tertutup rapi tanpa bekas justru menonjol. Selain itu, hasil riset mutakhir membuktikan bahwa kebiasaan kaum lelaki memakai celana jeans ketat dapat mengganggu kesuburan mereka.
Riset tersebut melibatkan 1000 orang pria di India, dengan tema µbahaya pola hidup moderen terhadap kesuburan pria. Hasil dari riset tersebut mengatakan bahwa produksi sel sperma laki- laki menurun akibat pola hidup moderen tersebut. Riset tersebut mengaitkan antara ketegangan syaraf dengan testis yang terkena panas. Demikian pula kaitannya antara penggunaan pakaian ketat dan obesitas (gemuk) yang berlebihan, dengan menurunnya produksi spermatozoa

 PARASTHESIA

Dr. Malvinder Parmar dari Timmins dan District Hospital Ontario, Kanada, menyatakan bahwa celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan penyakit Parasthesia. Istilah Parasthesia sendiri, menurut kamus kedokteran Dorland berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar, dan sejenisnya. Dalam tulisannya di Canadian Medical Associational Journal, Parmar mengaku setahun terakhir ini kedatangan cukup banyak pasien yang bisa dikategorikan sebagai korban Parasthesia. Dia sudah mengobati sedikitnya tiga wanita berusia 22-35 tahun yang mengeluhkan rasa panas di sekitar paha. Gangguan syaraf ringan itu terjadi lantaran mereka suka sekali memakai celana ketat sebatas pinggul, setidaknya dalam 6 bulan terakhir. ³Mereka mengalami gejala yang sama, gatal dan panas serta kulit di sekitar paha menjadi lunak,´ kata Parmar. Parasthesia gampang dikenali. Gejalanya adalah kesemutan dan lama- kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi. Umumnya karena tertekan, infeksi maupun gangguan metabolisme. Walaupun kerusakan saraf tidak termasuk kategori serius, hal itu cukup mengganggu aktivitas 

korbannya. Hasil penelitian Parmar menunjukkan, kelainan itu menjadi permanen selama celana ketat sepinggul melilit di tubuh. Itu sebabnya Parmar menyarankan menjauhi segala macam pakaian ketat selama terapi. Resep puasa seksi itu manjur. Setelah 6 pekan mengubah gaya pakaian, pasien-pasien mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun dia tidak bisa menjamin mereka ini tak akan mengalami gangguan serupa jika tergoda ber-hip style. 

Apa Saran Saya?
Saya sarankan, sebaiknya tinggalkan pakaian sepinggul. Pakailah yang longgar atau baju terusan saja.

 ANCAMAN JAMUR

Selain Parasthesia, penggemar pakaian ketat juga harus mempertimbangkan faktor kesehatan kulit. Pasalnya, gangguan saraf masih bisa sembuh tanpa bekas, tapi iritasi dan eksim?
Percuma body seksi kalau belang-belang. Sejumlah ahli spesialis kulit menyatakan pada dasarnya semua jenis pakaian ketat berpotensi menimbulkan 3 macam gangguan kulit. Apakah itu sebatas pinggul maupun di atas pinggul! Masalah kelembapan memungkinkan jamur subur dan berkembang biak. Belakangan ini pasien
korban jamur yang berobat ke Klinik Kulit dan Kelamin RS Cipto Mangunkusumo meningkat di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2002, sekitar 35% pasien terbukti terkena serangan jamur. Usia mereka berkisar 15-45 tahun. 

Idealnya di negara tropis seperti di Indonesia, pakaian ketat memang kudu, wajib dan harus dihindari. Kulit jadi kurang ruang untuk bernafas sementara cairan yang keluar dari tubuh lumayan banyak. Akibatnya, permukaan kulit menjadi lembab. Kalau tak diimbangi busana yang tepat, jamur akan mudah beranak pinak. Yang banyak ditemui adalah jamur panu (bercak putih, coklat atau kemerahan), jamur kurap dengan bintik menonjol gatal, serta jamur kandida yang basah dan gatal.

Setelah kelembapan, kontak langsung antara kulit dengan benda asing juga memungkinkan terjadinya iritasi. Salah satu penyakit kulit yang masuk golongan ini adalah dermatitis kontak. Sesuai namanya, gejala gatal dan beruntusan sang dermatitis hanya muncul jika terjadi gesekan antara kulit dengan benda di luar tubuh. Benda asing yang berpotensi gesek cukup tinggi tak cuma benda keras semisal perhiasan, jam tangan atau ikat pinggang. Busana sehari-hari jika terlalu ketat terutama berpengaruh pada kondisi kulit di sela-sela paha. Awalnya mungkin cuma radang ringan. Tapi, kalau prosesnya berlangsung lama, bisa menimbulkan bercak hitam di pangkal paha. Jika si pemilik tubuh insaf dan menjauhkan diri dari busana ketat, warna hitam tadi mungkin saja berkurang atau hilang
sama sekali. 

Namun, proses menghilangkan noda hitam itu tak bisa dilakukan secepat membalikkan telapak tangan, walaupun sudah dibantu dengan krim pemutih sekalipun. Soalnya, produk pemutih yang kini beredar di pasar lebih berfungsi sebagai pencegah terbentuknya pigmen atau zat pewarna kulit yang baru. Jadi, sama sekali bukan penghilang noda. Bila pigmen masih berada di lapisan tanduk atau lapisan kulit paling luar, noda hitam dapat lebih cepat hilang. Lain halnya kalau sudah menembus lapisan kulit lebih dalam, raibnya bisa dalam hitungan tahun. Jenis penyakit kulit lain yang biasa menghinggapi pemakai celana ketat adalah biduran. Bentuknya bentol-bentol mirip bekas gigitan ulat. Tingkat keparahannya mulai bentol sebesar biji jagung hingga bibir bengkak. Masalahnya, banyak pasien yang tidak menyadari bahwa biduran dapat juga disebabkan oleh tekanan serta ketatnya pakaian. Untuk mengusir iritasi dan biduran, sebagian orang menyiasatinya dengan memakai bedak. Hanya saja, fungsi bedak sekedar mengeringkan. Jika ternyata bedak tadi tidak cukup bagus untuk menyerap keringat. Kulit menjadi lebih lembab, dan akhirnya malah dihampiri jamur.

 SOLUSINYA :


Jalan keluar satu-satunya untuk menghindari berbagai macam penyakit di atas adalah memakai busana yang longgar, yang tidak ngepas di badan seperti firman Alloh dalam surat Annuur ayat 30 (baca dan Telaah dengan baik). Nah, terbuktilah sekarang bahwa syariat Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya....Iyakan Coooy....he4 (Sebagian Artikel ini saya dinukil dari www.dakwah-fk.com)
YAKINLAH DALAM HATIMU BAHWA SETIAP LARANGAN ALLOH ITU DEMI KEMASLAHATAN MANUSIA.....




وَمَاتَوْفِيْقِي إِلاَّبِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ انِيْب


Sekian dari
al-fagir ilaLlah al-ghani 
Allama Alauddin As-Shiddiq Bin Surur Asy-syafi'ie Al qodiry Wan Naqsabandy
Pondok Pesantren "Hidayatul Mubtadi'ien"
Kaliwungu, Jombang, Jawa Timur ,Indonesia.

Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

KESALAH PAHAMAN SEORANG MUSLIMAH DALAM MEMAKAI KERUDUNG

(Cara Memakai Jilbab yang Benar, Sedang Sebelah Kiri adalah pemakaian Jilbab yang kurang benar )

Bismillah Wal hamdulillah, wa Al sholatu Wa Al salamu Ala Rosulillah, muhammadibni Abdillah, Amma ba'du .

Pada masa sekarang ini, dapat kita perhatikan begitu banyak muslimah yang mulai sadar akan kewajiban mengenakan kerudung. Kita dapat melihat bagaimana seorang muslimah sebelumnya tidak berkerudung, kemudian mula mengenakan kerudung. Alhamdulillah,semoga allah menyayangi mereka dan memberikan petunjuk ke jalan yang lurus pada mereka. Walaupun demikian, sayangnya kebanyakan dari mereka masih belum mengenakan kerudung yang benar-benar sesuai dengan tuntunan syariat tapi lebih cenderung kepada tuntunan “mode”. Kebanyakan dari mereka memakai kerudung mengikuti trend atau hanya ingin dilihat lebih islamy. Mereka lebih mementingkan keanggunan, kecantikan tanpa memperdulikan apakah kerudung yang mereka pakai itu sudah betul atau belum. 

Kebanyakan kerudung yang dijual hari ini tidak cukup untuk menutup aurat secara sempurna melainkan meninggalkan celah-celah yang memperlihatkan aurat. Menurut jumhur ulama, aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sebagaimana ulama ahli tafsir Imam Al-Qurthubi berkata, pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah: 

Asma binti Abu Bakar menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : “Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Allah Pemberi Taufik dan tidak ada Tuhan selain-Nya”. Maka, selain muka dan telapak tangan, tidak boleh terlihat walaupun sedikit.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melarang para wanita muslimah berpakaian ketat apalagi jeans dan t-shirt. Dan batasan ketat adalah tergambarnya/terlihatnya bentuk salah satu anggota tubuh yang termasuk aurat. Usamah bin Zaid pernah berkata :

Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada isteriku. Nabi bertanya kepadaku : “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : “Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).

Sungguh mengherankan sebagian muslimah yang sudah menyadari akan kewajiban menutup aurat, namun di dalam hatinya masih ada keinginan untuk menonjolkan bagian-bagian tubuhnya agar terlihat indah di mata laki-laki, Waliyyadzubillah. Sehingga mereka pun memakai kerudung secara ala-kadar saja. kesalahan muslimah dalam memakai kerudung dalam hal ini dapat dibagikan menjadi dua bagian :




1.Antara kerudung yang populer dipakai masa kini adalah kerudung lilit atau kerudung pendek. Hampir kebanyakan muslimah menggayakan kerudung jenis di mana banyak dipengaruhi oleh pemakaian artis-artis setempat . Rata-rata dari mereka akan mengatakan kerudung jenis ini ringkas, tidak rimas dan enak dipakai. Namun tidak ada keraguan lagi bahwa pemakaian kerudung jenis ini menampakan bentuk bagian dada. Padahal telah jelas sekali bahwa hal ini sangat dilarang allah SWT :

“Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dada mereka…” (QS. An Nur : 31)
2. Diantara kebiasaan yang sering dilakukan oleh seorang muslimah pada zaman sekarang ini adalah :




memasukkan kerudung ke dalam baju atau memakai jaket diluarnya (seperti yang dilakukan kebanyakan seorang muslimah disekeliling kita). Ini menyebabkan hilangnya fungsi kerudung yaitu untuk menutupi bentuk tubuh bagian atas. Memang terdapat berbagai alasan dan argumentasi dari seseorang untuk mengenakan kerudung jenis ini.

Pertama adalah untuk keperluan keselamatan, misalnya ingin memasuki makmal, kerudung perlu dimasuki ke dalam jaket bagi mengelak dari disambar api, bahan kimia dan sebagainya. Penyelesaian untuk permasalahan ini, pakailah jaket yang besar dan longgar sehingga tidak menampakkan langsung bentuk tubuh bagian atas. Namun, kalau kita lihat situasi sekarang ini, sukar untuk melihat mereka yang memakai jaket yang disebutkan itu.

Kedua pula, adalah keperluan akademik. Mereka menggayakan kerudung jenis ini dengan alasan kewajiban akademik seperti yang dapat kita lihat pada akper,baju dinas pegawai negeri, baju team pengibar sangsaka merah putih dan sebagainya.Sangat sukar sekali untuk berkompromi dengan alasan semacam ini karena ketidak bolehan memanjangkan kerudung sampai ke dada ? Mengapa mereka tidak mencotohi Pasukan Puteri Islam (malaysia) yang tampak bersahaja dan berwibawa dengan kerudung tidak dimasukkan ke dalam baju tetapi masih berfungsi sebagai satu pasukan? Ini adalah persoalan yang perlu dikaji kembali.

Kesimpulannya dapat dinyatakan disini, jumhur ulama berpendapat bahwa panjang minimal bagi suatu kerudung adalah sampai menutupi dada dengan sempurna. Namun ini bukan berarti sekadar menutupi bagian dada namun alangkah lebih baiknya bila melebihinya. Karena seringkali diterpa angin, maka bagian dada akan terbuka. Maka, tidak ada pilihan lain bagi muslimah kecuali mengenakan kerudung yang lebih panjang dari itu. Bahkan sangat baik bila kerudung menjulur panjang sampai ke punggung. Dan inilah pendapat sebagian ulama dengan mengambil zahir dari perintah Allah pada surat Al-Ahzab ayat 59 (yang artinya):

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : “Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al Ahzab : 59)
Walau demikian kami bersyukur kepada Allah, bahwa sekarang mulai terlihat kesadaran dikalangan muslimah di negara kita untuk mulai mengenakan kerudung. Walaupun sebagian besar masih belum memenuhi kriteria syar’i, namun kami berharap saudari-saudari kita muslimah sentiasa berproses dan memperbaiki diri dalam pemakain kerudung hingga sesuai dengan apa yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kita berharap semoga kaum muslimah kita yang dimuliakan oleh Allah, sentiasa memperbaiki diri dan menjaga kehormatan dirinya dengan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Beragama dengan kaedah yang benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah, bukan hanya mengikuti perasaan, atau mengikuti apa yang dianggap baik oleh kebanyakan orang. Baik menurut alloh terkadang belum tentu baik menurut manusia , Wallahu ta’ala a’lam.
Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

Alasan Seorang muslimah Membuka Aurat Dan Tidak Mau Berkerudung

Oleh : Santri Salaf

Akhir akhir ini, saya seringkali mendapat pertanyaan yang sama mengenai isu-isu aurat. Bagaimana hendak menjawab alasan mereka yang tak menutup aurat? Bagaimana hendak menarik mereka memakai kerudung? Bagaimana memberi kefahaman kepada mereka tentang aurat? Dan lain-lain lagi. Di sini saya berusaha mengumpul alasan-alasan dan hujah-hujah balas buat si pelaku pembuka aurat. Terima kasih kepada sumber-sumber terkait, TERUTAMA IBU-IBU PENGAJIAN KULTUM BA’DA SUBUH yang telah meginspirasikan buat saya untuk menulis tulisan yang sangat sederhana namun bermakna menurut saya pribadi Dan artikel ini bukan saja tertumpu pada isu memakai kerudung, namun juga juga membahas tentang muslimah yang berkerudung pendek, memakai sendat serta kaum muslimin sendiri yang membuka aurat. Insyaallah semoga bermanfaat buat mereka-meraka yang ingin mencari Jawaban pada mengenai isu ini.
---------------------------------------------

1. Walaupun membuka aurat, tapi masih menjaga harga diri dan tidak melakukan perkara tak senonoh?
”Janganlah nilai orang dari luarannya. Don’t judge a book by its cover!”
"Walaupun tidak pakai kerudung, saya tetap masih menjaga solat dan menjaga tingkah laku"

Jawaban:

Adakah anda mendakwa diri anda mempunyai hati yang suci, iman yang tinggi dan kononnya ia sudah cukup menjamin harga diri tanpa perlu menutup aurat? Tetapi adakah anda berani menjamin bahwa semua lelaki ajnabi yang melihat aurat anda mempunyai hati sesuci dan iman setinggi anda juga? Langsungkah mereka tidak memberi kesan dan tidak membangkitkan nafsu birahi mereka yang berada di hadapan anda? Jadi, perlu diberi kefahaman bahwa kewajiban wanita menutup aurat bukanlah semata-mata untuk menjaga maslahat dan harga diri pihak wanita itu sendiri, tetapi maslahah yang lebih besar ialah menjaga masyarakat yang berada di sekelilingnya agar tidak terfitnah disebabkan budaya mendedahkambuka aurat tersebut. Betapa banyak pemerkosaan dan pencabulan bermuara daripada wanita sendiri yang mempamerkan tubuh badannya yang terbuka di hadapan mata laki-laki lelaki. Maka tutuplah aurat bukan sekadar untuk anda, tetapi juga demi kemaslahatan orang lain di sekeliling. [1]

2. Perempuan yang berkerudung lebih baik akhlaknya daripada tak berkerudung?
"Alah… perempuan pakai kerudung pun belum tentu berkelakuan baik!"
“Ada juga teman saya yang betul-betul menutup aurat tetapi perilaku dan kelakuan mereka lebih buruk dari perempuan yang tidak memakai kerudung!”
“Ada seorang kakak tu pakai kerudung, tapi perilakunya buruk, mengumpat sana mengumpat sini”
“kata Siapa orang tak pakai kerudung semua jahat?”

Jawaban:

Ungkapan anda ini seolah-olah sedang memperlemah keimanan orang yang sedang berusaha mentaati perintah Allah (dalam bab tutup Aurat). Apakah anda mengira bahwa anda sudah lebih baik berbanding orang yang menutup aurat tersebut apabila anda berani melafazkan ungkapan seperti itu, sedangkan anda sendiri membiarkan aurat anda terbuka? Sangat tidak benar sekali dalam maslah agama, untuk kita membandingkan diri kita dengan mereka yang lebih buruk agama dan akhlak. Ini adalah teknik Syaitan untuk menghentikan seseorang dari melakukan usaha memperbaiki diri kepada yang lebih baik.
Nabi bersabda: Dua perkara yang sesiapa dapat perolehinya akan ditulis dirinya sebagai hamba yang bersyukur dan sabar dan siapa yang gagal dalamnya, tidak akan ditulis sebagai orang bersyukur dan sabar. Yaitu sesiapa yang melihat tentang agamanya kepada mereka yang jauh lebih baik darinya, lalu ia berusaha mengikutinya, dan dalam hal keduniaan mereka melihat kepada orang-orang yang kurang darinya sehingga ia memuji Allah atas nikmat yang diperolehinya. (HR At-Tirmidzi) [2]

3. Tidak mau terpaksa dalam berkerudung?
"Berkerudung itu perlu keikhlasan…"
“Saya mau berubah karena saya sendiri yang ingin berubah. Saya mau melakukannya dengan ikhlas, bukan karena disuruh.”
“Buat apa pakai kerudung kalau hati tak betul”

Jawaban:

Allah swt dan RasulNya telah mengarahkan seluruh wanita muslimah WAJIB untuk menutup aurat tidak memandang entah seseorang itu ikhlas atau tidak, suka atau tidak, disuruh oleh orang lain atau terbit dari hatinya sendiri. Sama seperti mendirikan solat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan semua petunjuk serta larangan Islam yang lain, sama ada seseorang itu ikhlas atau tidak, terpaksa atau tidak. Sekiranya ikhlas dijadikan alasan maka, ramai diluar sana tidak perlu solat 5 waktu karena sukar mencapai tahap keikhlasan yang ingin dicapai.
Perlu diingatkan, jika seseorang menutup aurat secara ikhlas atau separuh ikhlas, maka dia akan beroleh ganjaran sekadar keikhlasannya. Namun tanggungjawab fisik yang diwajibkan oleh agama dikira sudah terlaksana secara zahirnya. ATAU kata lainnya, tatkala itu dia hanya BERDOSA SEKALI yaitu karena tidak melaksanakannya secara ikhlas, tetapi dia terhindar dari dosa tidak mengerjakan yang wajib ke atasnya secara zahir. Namun jika dia degil dan tidak menutup aurat, atas alasan TIDAK IKHLAS, TIDAK MAU HIPOKRIT dan sebagainya, tindakannya itu menjadikannya BERDOSA di sisi Allah secara fizikal dan juga spiritual, atau dalam kata lainnya, dia berdosa DUA KALI. Dosa di level pertama dan kedua sekaligus, malah lebih musnah apabila dosa level pertama itu sangat mudah bercambah apabila ia berjangkit kepada orang lain, seperti apabila saja ada mata lelaki bukan mahram yang melihat, ketika itu dosa bukan hanya dua kali tetapi sebanyak mata lelaki yang melihat. Adapun bagi mereka yang tidak ikhlas tadi, at least dia sudah terselamat dari cambahan dosa dari mata lelaki. [3]

4. Menunggu diperintahkan untuk berkerudung?
“Biarlah ianya datang daripada saya sendiri, bukan dipaksa sesiapa. Bila tiba masa, Insyaallah saya berkerudung”
“Saya tahu hari itu akan tiba tetapi bukan sekarang”
“Insyaallah, apabila sudah berkahwin barulah saya bersedia”

Jawaban:
Jika bukan sekarang, maka adakah apabila sudah terlantar di rumah mayat baru ingin berubah? Sedarilah wahai diri, bahwa kematian akan datang secara tiba-tiba dan tiada sebarang jaminan umur masih panjang beberapa minggu lagi. [3]

Sumber:
[1] http://abuumair1.wordpress.com/2010/02/26/buat-apa-pakai-kerudung-kalau-hati-tak-betul/
[2] http://latahzan00.blogspot.com/2010/07/alah-perempuan-pakai-kerudung-pun.html
[3] http://www.zaharuddin.net/index.php?option=com_content&task=view&id=898&Itemid=72
Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

Tabarruj (Bersolek/Berhias) Di Facebook



Facebook merupakan laman sosial kegilaan ramai buat masa kini. Cukup aneh untuk berjumpa dengan seseorang yang tidak mempunyai sekurang-kurangnya sebuah akaun facebook. Namun di sebalik penggunaan facebook ini, tanpa kita sedari berbagai dosa berlaku di kalangan pengguna. Ustadz Zaharudin (Malaysia) pada sebuah situs di internet pernah mengulas mengenai dosa-dosa & facebook, bagaimanapun saya ingin menfokuskan pada salah satu point yang diberi beliau ialah 'terlebih gambar'. Sikap suka menunjuk-nunjuk gambar boleh dikaitkan dengan tabarruj, ialah suatu dosa yang dianggap remeh oleh masyarakat kita. Apakah itu tabarruj? Suatu persoalan yang perlu dihurai lanjut.

TABARRUJ ialah mendedahkan kecantikan rupa paras sama ada kecantikan itu di bahagian muka atau di anggota-anggota badan yang lain. Al-Bukhari rahmatullah 'alaihi ada berkata:
“tabarruj, ialah seorang wanita yang memperlihatkan kecantikan rupa parasnya”.

Untuk menjaga masyarakat daripada bahaya menampakkan ‘aurat dan disamping menjaga kehormatan wanita dari semua pencerobohan, maka dengan yang demikian Allah melarang setiap wanita yang berakal lagi telah baligh dari bertabarruj. Allah s.w.t telah berfirman dalam surah an-Nur ayat 31 yang artinya :

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang bisa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, putera-putera lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang ‘aurat wanita. Dan jangalah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka.Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dengan ini jelas bahwa semua corak perhiasan di anggota badan atau di pakaian, adalah boleh membawa fitnah. Dengan inilah Allah melarang bermake-up. Larangan seperti ini hanya sanggup ditaati oleh wanita-wanita yang beriman saja karena takut kepada kemurkaan Allah dan siksaan dari-NYA. Berikut pula mari kita renungi firman Allah khasnya yang ditujukan kepada isteri-isteri Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

“Hai isteri-isteri Nabi(a.s), kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kau bertaqwa. Karena itu janganlah kamu terlalu lunak dalam bicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada perasaan serong di dalam hatinya, tetapi ucaplah perkataan yang baik.” (Al-ahzab: 32)

Pada ayat ini dapatlah difahamkan bahwa suara lemah lembut adalah sebahagian daripada ‘aurat wanita juga.Kembali lagi kita kepada jenis alat-alat make-up. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Andainya wanita keluar dari rumah serta memakai bau-bauan, maka dia sudah dianggap melakukan perzinaan”

Penggunaan wangi-wangian sembur atau jenis jenis bauan bagi kaum wanita diwaktu keluar dari rumah adalah dilarang, karena syari’at Islam, apabila melarang perzinaan, maka segala sumber-sumber dan ciri-ciri yang membawa kepada perbuatan keji tadi semuanya juga dilarang.

Ummu salamah ada menceritakan, artinya sebagai berikut:

“ Asma’ binti Abu Bakar telah menziarahi Rasulullah s.a.w pada suatu hari dengan pakaian yang nipis. Lantas Rasulullah.s.a.w menasihatinya dengan bersabda yang maksudnya :“ Wahai Asma’, sesungguhnya seseorang gadis yang telah berhaidh (baligh), tidak harus baginya menzahirkan anggota badan, kecuali ini dan ini.” Ketika itu, Rasulullah s.a.w mengisyaratkan kepada muka dan kedua tapak tangan.


Sekarang kita khususkan konsep tabarruj ke dalam penggunaan facebook. Lihat-lah sebentar ke laman facebook dan lihatlah bertapa ramai muslimah tanpa segan meletakkan gambar-gambar memperlihatkan kecantikan masing-masing dengan berbagai aksi. Macam-macam gaya ditunjukkan, ada yang menunjukkan peace, ada yang melototkan mata, memuncungkan mulut dan sebagainya. Apabila bila ditanya apakah motif memperlihatkan gambar sedemikian rupa? Rata-rata akan menjawab sekadar berbagi kegembiraan, pengalaman dan sebagainya. Namun tidakkah dapat kita berfikir sejenak, memperlihatkan gambar tersebut boleh mendatangkan berbagai respon dan persepsi ramai. Terutamanya kepada kaum berlawanan, gambar tersebut dapat mendatangkan keghairahan. Jikalah kaum hawa mengetahui apakah kaum adam berkata sesama sendiri mengenai gambar tersebut, niscaya mereka tidak akan meletak gambar sedemikian rupa lagi!


Islam merupakan agama yang menghendaki kita bersederhana. Janganlah berlebih-lebihan meletak gambar, seolah-olah saling berlawan siapakah memiliki paling banyak gambar. Jika tersangat beringinan untuk menunjukkan wajah diri sebagai pengenalan diri, cukuplah sekadar meletak satu gambar dengan syarat gambar tersebut tanpa aksi-aksi tertentu yang mampu menarik perhatian orang luar. Mudah-mudahan kita mampu melawat sifat ingin menunjuk-nunjuk ini. Nah... mulalah berubah. Anda mampu untuk mengatasi penyakit ini!

Semoga kita di jaga Alloh dari semua hal yang dimurkai-NYA,Amin..


Wallohu 'alam Wa ilahil Musta'an.....
Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

MELAFALKAN NIAT (TALAFFUDUN NIYAH) ADALAH SUNNAH MENURUT JUMHURUL ULAMA’


Melafadzkan niat sudah masyhur dikalangan masyarakat, hal ini bukan tanpa dasar tapi karena memang memiliki landasan dalam ilmu fiqh. Contoh melafadzkan niat adalah membaca “ushulli fardhush shubhi rak’atayni mustaqbilal kiblati ada’an lillahi ta’ala”. Dicontohkan dalam kitab Al-Fiqhu ‘alaa Madzhibil Arba’ah,

كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلاً، لأن في ذلك تنبيهاً للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر
“seumpama mengatakan dengan lisannya, “ushalliy fardh ad-dhuhri” …”

Hal semacam ini biasa dibaca oleh kalangan Muslimin sebelum Takbiratul Ihram artinya dibaca sebelum melaksanakan shalat, tidak bersamaan dengan shalat dan bukan bagian dari rukun shalat.

Seperti yang sudah diketahui bahwa permulaan shalat adalah niat dan takbiratul ihram dilakukan bersamaan dengan niat. Niat tidak mendahului takbir (Takbiratul Ihram) dan tidak pula sesudah takbir. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’I dalam kitab Al-Umm Juz 1, pada Bab Niat pada Shalat (باب النية في الصلاة ) ;

قال الشافع: والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده
“..niat tidak bisa menggantikan takbir, dan niat tiada memadai selain bersamaan dengan Takbir, niat tidak mendahului takbir dan tidak (pula) sesudah Takbir.”

Sekali lagi, niat itu bersamaan dengan Takbir. Hal senada juga dinyatakan oleh al-‘Allamah asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibariy asy-Syafi’i dalam Fathul Mu’in Hal 16 (Terbitan Al-Hidayah Surabaya - Indonesia);

. (مقرونا به) أي بالتكبير، (النية) لان التكبير أول أركان الصلاة فتجب مقارنتها به،
“..Takbiratul ihram harus dilakukan bersamaan dengan niat (shalat), karena takbir adl rukun shalat yang awal, maka wajib bersamaan dengan niat”

Al-Imam Hujjatul Islam An-Nawawi, didalam Kitab Raudhatut Thalibin, pada fashal (فصل في النية يجب مقارنتها التكبير)

يجب أن يبتدىء النية بالقلب مع ابتداء التكبير باللسان
“diwajibkan memulai niat dengan hati bersamaan dengan takbir dengan lisan”

Al-Imam Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy, didalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'i, pada pembahasan (باب فرائض الصلاة) ;

النية، والتكبير، ومقارنة النية للتكبير
"Niat dan Takbir, niat bersamaan dengan takbir"

Asy-Syaikh Al-Imam Abu Ishaq asy-Syairaziy, didalam Kitab Tanbih fi Fiqh Asy-Syafi'i (1/30) :
وتكون النية مقارنة للتكبير لا يجزئه غيره والتكبير أن يقول ألله أكبر أو الله الأكبر لا يجزئه غير ذلك
"dan adanya niat bersamaan dengan takbir, tidak cukup selain itu. dan takbir yaitu mengucapkan (ألله أكبر) atau ( الله الأكبر), selain yang demikian tidaklah cukup (bukan takbir)."

Dan masih banyak lagi keterangan yang serupa. Jadi, shalat telah dinyatakan mulai manakala sudah takbiratul Ihram yg sekaligus bersamaan dengan niat (antara niat dan takbir adalah bersamaan). Aktifitas atau ucapan apapun sebelum itu, bukanlah masuk dalam rukun shalat, demikian juga dengan melafadzkan niat, bukan masuk dalam bagian dari (rukun) shalat.

Didalam melakukan niat shalat fardlu, diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ;

- Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu menyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”)
- Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh.
- Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu. Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية).

Jadi berniat, semisal (ﺍﺼﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺩﺍﺀ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﻠﻰ/”Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Allah”) saja sudah cukup.

Sekali lagi, niat tersebut dilakukan bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Yang dinamakan “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) mengadung pengertian sebagai berikut (Fathul Mu’in Bisyarhi Qurratu ‘Ayn),

. وفي قول صححه الرافعي، يكفي قرنها بأوله
“Menurut pendapat (qoul) yang telah dishahihkan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i. bahwa cukup dicamkan bersamaan pada awal Takbir”

وفي المجموع والتنقيح المختار ما اختاره الامام والغزالي: أنه يكفي فيها المقارنة العرفية عند العوام بحيث يعد مستحضرا للصلاة
“Didalam kitab Al-Majmu dan Tanqihul Mukhtar yang telah di pilih oleh Al-Imam Ghazali, bahwa “bersamaan” itu cukup dengan kebiasaan umum (‘Urfiyyah/ العرفية), sekiranya (menurut kebiasaan umum) itu sudah bisa disebut mencamkan shalat (al-Istihdar al-‘Urfiyyah)”

Imam Al-Ibnu Rif’ah dan A-Imam As-Subki membenarkan pernyataan diatas, dan Al-Imam As-Subki mengingatkan bahwa yang tidak menganggap/menyakini bahwa praktek seperti atas (Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ )) tidak cukup menurut kebiasaan), maka ia telah terjerumus kepada kewas-wasan.

Pada dasarnya “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) adalah berniat yang bersamaan dengan takbiratul Ihram mulai dari awal takbir sampai selesai mengucapkannya, artinya keseluruhan takbir, inilah yang dinamakan Muqaranah Haqiqah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﺣﻘﻴﻘﺔ ).

Namun, jika hanya dilakukan pada awalnya saja atau akhir dari bagian takbir maka itu sudah cukup dengan syarat harus yakin bahwa yang demikian menurut kebiasaan (Urfiyyah) sudah bisa dinamakan bersamaan, inilah yang dinamakan Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ ).

Menurut pendapat Imam Madzhab selain Imam Syafi’i, diperbolehkan mendahulukan niat atas takbiratul Ihram dalam selang waktu yang sangat pendek. Namun, Ulama Hanabilah lebih memilih bersamaan untuk menghindari khilaf. [Rujuk Kitab Ash-Shalah ‘alaa Madzahibil Arba’ah, Kitab Fathul Mu’in Bab Shalat dan Al-Fiqh Al-Islamiy wa Adillatuhu]

Tempatnya niat adalah di dalam hati. Sebagaimana diterangkan dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan فرائض الصلاة

ومحلها القلب لا تعلق بها باللسان أصلا
“niat tempatnya didalam hati, pada asalnya tidak terikat dengan lisan”

Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu' (II/43) :

فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه
“sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup,

Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat ;

النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar Fiy Ghayatil Ikhtishar, pada bab (باب أركان الصلاة)]

واعلم أن النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب فلا يكفي نطق للسان
“Ketahuilah bahwa niat dalam semua ibadah menimbang dengan hati maka tidak cukup hanya dengan melafadzkan dengan lisan”

Demikian juga dikatakan dalam kitab yang sama (Kifayatul Akhyar) pada bab باب فرائض الصوم

لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, berdasarkan khabar (hadits shahih), tempatnya niat didalam hati, dan tidak syaratkan mengucapkannya tanpa ada khilaf”

Keterangan : pada bab Fardhu Puasa ini, mengucapkan niat tidak disyaratkan artinya bukan merupakan syarat dari puasa. Dengan demikian tanpa mengucapkan niat, puasa tetap sah. Demikian juga dengan shalat, melafadzkan (mengucapkan) niat shalat bukan merupakan syarat dari shalat, bukan bagian dari fardhu shalat (rukun shalat). Jadi, baik melafadzkan niat (talaffudz binniyah) maupun tidak, sama sekali tidak menjadikan shalat tidak sah, tidak pula mengurangi atau menambah-nambah rukun shalat.


Al-Hujjatul Islam Al-'Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi' fi Kaifiyatis Shalat ;

"niat dengan hati dan bukan dengan lisan"

Semua keterangan diatas hanya menyatakan bahwa niat tempatnya didalam hati (tidak ada cap bid’ah), niat amalan hati atau niat dengan hati. Demikian juga dengan niat shalat adalah didalam hati, sedangkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) bukanlah merupakan niat, bukan pula aktifitas hati (bukan amalan hati) namun aktifitas yang dilakukan oleh lisan. Niat dimaksudkan untuk menentukan sesuatu aktifitas yang akan dilakukan, niat dalam shalat dimaksudkan untuk menentukan shalat yang akan dilakukan. Dengan kata lain, niat adalah memaksudkannya sesuatu. Ibnu Manzur dalam kitabnya yang terkenal yaitu Lisanul ‘Arab (15/347) berkata ;

" Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”.

Sebagaimana juga dikatakan didalam kitab Fathul Qarib Bisyarhi At-Taqrib :

وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya”

Al-Fiqh al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi'i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;

وهي قصد الشيء مقترناً بأول أجزاء فعله، ومحلها القلب. ودليلها قول النبي"إنما الأعمال بالنيات"
"(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan, tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; ("إنما الأعمال بالنيات")"

Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj ‘alaa Matn Al-Minhaj (السراج الوهاج على متن المنهاج)

وهي شرعا قصد الشيء مقترنا بفعله وأما لغة فالقصد
"(niat) menurut syara' adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan perbuatan, dan menurut lughah adl menyengaja"

Dan masih banyak lagi penjelasan yang serupa. Maka, selagi lagi kami perjelas. Niat adalah amalan hati, niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul Ihram, merupakan bagian dari shalat (rukun shalat), adapun melafadzkan niat (mengucapkan niat) adalah amalan lisan (aktifitas lisan), yang hanya dilakukan sebelum takbiratul Ihram, artinya dilakukan sebelum masuk dalam bagian shalat (rukun shalat) dan bukan merupakan bagian dari rukun shalat. Niat shalat tidak sama dengan melafadzkan niat.

Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) hukumnya sunnah. Kesunnahan ini diqiyaskan dengan melafadzkan niat Haji, sebagaimana Rasulullah dalam beberapa kesempatan melafadzkan niat yaitu pada ibadah Haji.

عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَ...مِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا (رواه مسلم)
“Dari sahabat Anas ra berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu (Ya Allah) untuk (mengerjakan) umrah dan haji” (HR. Imam Muslim)

Dalam buku Fiqh As-Sunnah I halaman 551 Sayyid Sabiq menuliskan bahwa salah seorang Sahabat mendengar Rasulullah SAW mengucapkan (نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ اَوْ نَوَيْتُ الْحَجَّ) “Saya niat mengerjakan ibadah Umrah atau Saya niat mengerjakan ibadah Haji”

أنه سمعه صلى الله عليه وسلم يقول : " نويت العمرة ، أو نويت الحج
Memang, ketika Rasulullah SAW melafadzkan niat itu ketika menjalankan ibadah haji, namun ibadah lainnya juga bisa diqiyaskan dengan hal ini, demikian juga kesunnahan melafadzkan niat pada shalat juga diqiyaskan dengan pelafadzan niat dalam ibadah haji. Hadits tersebut merupakan salah satu landasan dari Talaffudz binniyah.

Hal ini, sebagaimana juga dikatakan oleh al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;

(ويندب النطق) بالمنوي (قبيل التكبير) ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج
“Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”

Qiyas juga menjadi dasar dalam ilmu Fiqh,

Al-Allamah Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz didalam Fathul Mu'in Hal. 1 :

واستمداده من الكتاب والسنة والاجماع والقياس.
Ilmu Fiqh dasarnya adalah kitab Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Al-Imam Nashirus Sunnah Asy-Syafi'i, didalam kitab beliau Ar-Risalah الرسالة :

أن ليس لأحد أبدا أن يقول في شيء حل ولا حرم إلا من جهة العلم وجهة العلم الخبر في الكتاب أو السنة أو الأجماع أو القياس
..selamanya tidak boleh seseorang mengatakan dalam hukum baik halal maupun haram kecuali ada pengetahuan tentang itu, pengetahuan itu adalah al-Kitab (al-Qur'an), as-Sunnah, Ijma; dan Qiyas.”

قلت لو كان القياس نص كتاب أو سنة قيل في كل ما كان نص كتاب هذا حكم الله وفي كل ما كان نص السنة هذا حكم رسول الله ولم نقل له قياس
Aku (Imam Syafi'i berkata), jikalau Qiyas itu berupa nas Al-Qur'an dan As-Sunnah, dikatakan setiap perkara ada nasnya didalam Al-Qur'an maka itu hukum Allah (al-Qur'an), jika ada nasnya didalam as-Sunnah maka itu hukum Rasul (sunnah Rasul), dan kami tidak menamakan itu sebagai Qiyas (jika sudah ada hukumnya didalam al-Qur'an dan Sunnah).

Maksud perkataan Imam Syafi'i adalah dinamakan qiyas jika memang tidak ditemukan dalilnya dalam al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika ada dalilnya didalam al-Qur'an dan as-Sunnah, maka itu bukanlah Qiyas. Bukankah Ijtihad itu dilakukan ketika tidak ditemukan hukumnya/dalilnya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah ?

Jadi, melafadzkan niat shalat yang dilakukan sebelum takbiratul Ihram adalah amalan sunnah dengan diqiyaskan terhadap adanya pelafadzan niat haji oleh Rasulullah SAW. Sunnah dalam pengertian ilmu fiqh, adalah apabila dikerjakan mendapat pahala namun apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Tanpa melafadzkan niat, shalat tetaplah sah dan melafadzkan niat tidak merusak terhadap sahnya shalat dan tidak juga termasuk menambah-nambah rukun shalat.

Ulama dan Kitab Syafi’iyyah & ulama lainnya yang mensunnahkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) adalah sebagai berikut ;

1. Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in ...bi syarkhi Qurratul 'Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 ;

. (و) سن (نطق بمنوي) قبل التكبير، ليساعد اللسان القلب، وخروجا من خلاف من أوجبه.

2. Al-Imam Muhammad bin Abi al-'Abbas Ar-Ramli/Imam Ramli terkenal dengan sebutan "Syafi'i Kecil" [الرملي الشهير بالشافعي الصغير] dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 :

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ
خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

3. Asy-Syaikhul Islam al-Imam al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Bermadzhab Syafi'iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Ath-Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] :

( ونطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب

4. Diperjelas (dilanjutkan) kembali dalam Kitab Syarah Fathul Wahab yaitu Hasyiyah Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-'Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal ;

وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنْ الْوَسْوَاسِ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ انْتَهَتْ

6. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150) ;

( ويندب النطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس

7. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat ;

ويندب النطق قبيل التكبير
ليساعد اللسان القلب

8. Al-‘Allamah Al-Imam Syayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153] ;

(قوله: وسن نطق بمنوي) أي ولا يجب، فلو نوى الظهر بقلبه وجرى على لسانه العصر لم يضر، إذ العبرة بما في القلب. (قوله: ليساعد اللسان القلب) أي ولانه أبعد من الوسواس. وقوله: وخروجا من خلاف من أوجبه أي النطق بالمنوي

9. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163) :

(وَيُنْدَبُ النُّطْقُ) بِالْمَنْوِيِّ (قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ

10. Didalam Kitab Matan Al-Minhaj lisyaikhil Islam Zakariyya Al-Anshariy fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i :

"(disunnahkan) melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram)"

11. Kitab Safinatun Naja, Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i ;

النية : قصد الشيء مقترنا بفعله ، ومحلها القلب والتلفظ بها سنة

12. Didalam kitab Niyatuz Zain Syarh Qarratu 'Ain, Al-'Allamah Al-'Alim Al-Fadil Asy-Syekh An-Nawawi Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz) ;

أما التلفظ بالمنوي فسنة ليساعد اللسان القلب

13. Kitab Faidlul Haja 'alaa Nailur Roja, Al-'Alim Ahmad Sahal bin Abi Hasyim Muhammad Mahfudz Salam Al-Hajiniy ;

قوله واللفظ سنة) اللفظ بمعنى التلفظ مصدر لفظ يلفظ من باب ضرب يضرب أى والتلفظ بها أى بالنية سنة فى جميع الأبواب كما قاله حج خروجا من خلاف موجبه

14. Kitab Minhajut Thullab,

وسن نية نفل فيه وإضافة لله ونطق قبيل التكبير وصح أداء بنية وقضاء وعكسه لعذر وتكبير تحرم مقرونا به النية

15. Kitab Minhaj Ath-Thalibin wa Umdat Al-Muftin,

والنية بالقلب ويندب النطق قبل التكبير

16. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam kitab Minhajul Qawim (1/191) ;

فصل في سنن الصلاة وهي كثيرة ( و ) منها أنه ( يسن التلفظ بالنية ) السابقة فرضها ونفلها ( قبيل التكبير ) ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجب ذلك

17. Al-'Allamah Asy-Syaikh Al-Imam Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairamiy Asy-Syafi'i, Tuhfatul habib ala syarhil khotib(1/192), Darul Kutub Ilmiyah, Beirut - Lebanon ;

قوله : ( ومحلها القلب ) نعم يسن التلفظ بها في جميع الأبواب خروجاً من خلاف من أوجبه

18. Al-'Allamah Al-Imam Muhammad Asy-Syarbiniy Al-Khatib, didalam kitab Al-Iqna' Fiy Alfaadh Abi Syuja', pada pembahasan "Arkanush shalah" ;

ويندب النطق بالمنوي قبيل التكبير ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس

19. Didalam kitab Al-Wafi Syarah Arba'in An-Nawawi, Asy-Syekh Musthafa Al-Bugha & Asy-Syekh Muhyiddin Misthu, telah menjelaskan tentang hadits No.1,

ومحل النية القلب؛ فل يشترط التلفظ بها؛ ولكن يستحب ليساعد اللسان القلب على استحضارها

20. Didalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah (Syarah) 'alaa Al-Adzkar An-Nawawiyah (1/54), Asy-Syekh Muhammad Ibnu 'Alan Ash-Shadiqiy mengatakan,

نعم يسن النطق بها ليساعد اللسان القلب ولأنه صلى الله عليه وآله وسلم نطق بها في الحج فقسنا عليه سائر العبادات وعدم وروده لا يدل على عدم وقوعه

21. Di riwayatkan dari Al-Hafidz Al-Imam Ibnu Muqri' didalam kitab Mu'jam beliau (336) tentang Imam Syafi’i :

أخبرنا ابن خزيمة حدثنا الربيع قال كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة، قال: بسم الله، موجها لبيت الله، مؤديا لفرض الله، الله أكبر

22. Kitab Hawasyi Asy-Syarwaniy (1/240) ;

قوله: (سنن كثيرة) منها تقديم النية مع أول السنن المتقدمة على غسل الوجه فيحصل له ثوابها كما مر ومنها التلفظ بالمنوي ليساعد اللسان القلب

23. Kitab Kasyfu As-Saja,

(فصل): في بيان أحكام النية ....(ومحلها القلب والتلفظ بها سنة) ليعاون اللسان القلب، وسمي القلب قلباً لتقلبه في الأمور كلها أو لأنه وضع في الجسد مقلوباً كقمع السكر وهو لحم صنوبري الشكل أي شكله على شكل الصنوبر قاعدته في وسط الصدر ورأسه إلى الجانب الأيسر

24. Kitab Al-Muhadzab (المهذب في فقه الإمام الشافعي),

فصل في فرض النية ..... فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه ومن أصحابنا من قال ينوي بالقلب ويتلفظ باللسان وليس بشيء لأن النية هي القصد بالقلب ويجب أن تكون النية مقارنة للتكبير لأنه أول فرض من فروض الصلاة

25. Kitab Mukhtashar Ar-Risalatul Wahbiyyah fiy Sunanish Shalaati Ar-Raba'iyyah, ta'lif Al-'Allamah Asy-Syarif Hamid bin Abdullah Al-Husainiy Al-A'rajiy Al-Maradiniy ,

الفصل الأول في سنن النية :فمنها ، النطق باللسان قبل التكبير ومنها ، الإضافة إلى الله تعالى

26. Al-Fiqhu 'alaa Madzahibil Arba'ah,

يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلاً، لأن في ذلك تنبيهاً للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أصلي العصر فإنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر في النية إنما هو القلب، النطق باللسان ليس بنية، وإنما هو مساعد على تنبيه القلب، فخطأ اللسان لا يضر ما دامت نية القلب صحيحة، وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة، أما المالكية، والحنفية فانظر مذهبهما تحت الخط (المالكية، والحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية ليس مروعاً في الصلاة، الا إذا كان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا: إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس الحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية بدعة، ويستحسن لدفع الوسوسة.

Diantara Ulama Hanafiyah memang ada yang mengatakan bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah namun disunnahkan untuk menghilangkan was-was, dengan demikian maka maksud bid’ah tersebut adalah bid’ah yang baik sebab ulama Hanafiyah mensunnahkannya jika untuk menghilangkan was-was.

Dan masih banyak lagi hal yang serupa,

Tujuan dari melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) sebagaimana dijelaskan diatas adalah agar lisan dapat membantu hati yaitu membantu kekhusuan hati, menjauhkan dari was-was (gangguan hati), serta untuk menghindari perselisihan dengan ulama ...yang mewajibkannya. Selain itu lafadz niat adalah hanya demi ta’kid yaitu penguat apa yang diniatkan.

Berkata shohibul Mughniy : Lafdh bimaa nawaahu kaana ta’kiidan (Lafadz dari apa apa yg diniatkan itu adalah demi penguat niat saja) (Al Mughniy Juz 1 hal 278), demikian pula dijelaskan pd Syarh Imam Al Baijuri Juz 1 hal 217 bahwa lafadh niat bukan wajib, ia hanyalah untuk membantu saja.

Al-Imam Al-Bahuuti (Ulama Hanabilah) berkata dalam Syarah Muntaha Al-Iradat ;

باب النية لغة : القصد ، يقال : نواك الله بخير ، أي قصدك به ، ومحلها : القلب ، فتجزئ وإن لم يتلفظ .
ولا يضر سبق لسانه بغير قصده وتلفظه بما نواه تأكيد
".. dan melafadzkannya dengan apa yang diniatkan adalah penguat (ta'kid)"

Dan sungguh begitu indahnya kata-kata ulama, mereka sebisa mungkin menghindari perselisihan bahkan dalam perkara yang seperti ini, tidak seperti saat ini, sebagian kelompok kecil ada yang beramal ASBED (asal beda), selalu mengangkat perkara khilafiyah dan begitu mudah mulut mereka membuat tuduhan bid’ah terhadap pendapat yang lainnya. Padahal dengan kata lain, tuduhan bid’ah yang mereka lontarkan, hakikatnya telah menghujat ulama dan menuduh ulama-ulama Madzhab yang telah mensunnahkannya.

Kesunnahan melafadzkan niat dari ulama Syafi’iiyah juga dapat dirujuk pada pendapat dalam kitab ulama syafi’iiyah lainnya maupun kitab-kitab ulama madzhab yang lainnya.

Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) juga merupakan ucapan yang baik, bukan ucapan yang buruk, kotor maupun tercela. Sebagai sebuah perkataan yang baik maka tentunya diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa dan Allah senang dengan perkataan yang baik. Dengan demikian ucapan yang terlontar dari lisan seorang hamba akan dicatat oleh malaikat sebagai amal bagi hamba tersebut.

Allah berfirman ;

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. al-Qaaf 50 : 18)

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
‘Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (QS. al-Fathir 35 : 10)

Dengan demikian, melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) sebagai sebuah ucapan yang baik, juga memiliki nilai pahala sendiri disisi Allah berdasarkan ayat al-Qur’an diatas yaitu masih berada dibawah nas-nash yang umum.

Didalam madzhab lainnya selain madzhab Syafi’iiyah juga mensunnahkan melafadzkan niat, misalnya diterangkan dalam kitab Fiqh ‘alaa Madzahibil Arba’ah bahwa Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah telah sepakat hukum melafadzkan niat adalah sunnah s...edangkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah sunnah bagi orang yang was-was,

، وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة، أما المالكية، والحنفية فانظر مذهبهما تحت الخط (المالكية، والحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية ليس مروعاً في الصلاة، الا إذا كان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا: إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس

Misal pendapat dari Kalangan Malikiyah,

27. Al-Imam Al-'Allamah Ad-Dardir rahimahullah ta'alaa didalam Syarh Al-Kabir,

قال العلامة الدردير رحمه الله تعالى في الشرح الكبير ( ولفظه ) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا ( واسع ) أي جائز بمعنى خلاف الأولى . والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها
..dan melafadzkan niat yaitu seorang mushalli melafadzkan niat dimana dia mengatakan seumpama (نويت صلاة فرض الظهر) adalah wasi'/luas maksudnya boleh (جائز) bimakna khilaful Aula..

28. Ulama Maliki lainnya, Al-Imam Ad-Dasuqiy Al-Maliki rahimahullah didalam kitab Hasyiyahnya 'alaa Syarh Al-Kabir berkata,

قال الدسوقي رحمه الله تعالى في حاشيته على الشرح الكبير : لكن يستثنى منه الموسوس فإنه يستحب له التلفظ بما يفيد النية ليذهب عنه اللبس كما في المواق وهذا الحل الذي حل به شارحنا وهو أن معنى واسع أنه خلاف الأولى
“dan tetapi dikecualikan bagi orang yang was-was maka sesungguhnya baginya di sunnahkan melafadzkan niat..

Dan berikut adalah keterangan dari Asy-Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy,

29. Al-‘Allamah Asy-Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy, didalam Kitab Al-Fiqh Al-Islamiy wa Adillatuhu (1/137-138 dan 182),
ثالثاً ـ محل النية:
محل النية باتفاق الفقهاء وفي كل موضع: القلب وجوباً، ولا تكفي باللسان قطعاً، ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها (2) ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة. وسبب كونها في القلب في جميع العبادات: أن النية: الإخلاص، ولا يكون الإخلاص إلا بالقلب، أو لأن حقيقتها القصد مطلقاً، فإن نوى بقلبه، وتلفظ بلسانه، أتى عند الجمهور بالأكمل، وإن تلفظ بلسانه ولم ينو بقلبه لم يجزئه. وإن نوى بقلبه ، ولم يتلفظ بلسانه أجزأه.,,,,,,,,,,,,.والحاصل أن في الكلام عن محل النية أصلين: الأصل الأول ـ أنه لا يكفي التلفظ باللسان دون القلب، لقوله تعالى: {وماأمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [البينة]، والإخلاص : ليس في اللسان.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,.ولا يصح الإحرام إلا بالنية، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «إنما الأعمال بالنيات» ولأن الحج أو العمرة عبادة محضة، فلم تصح من غير نية، كالصوم والصلاة . ومحل النية كما عرفنا: القلب، والإحرام: النية بالقلب، والأفضل عند أكثر العلماء أن ينطق بما نواه، لما رواه مسلم عن أنس رضي الله عنه، قال: «سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلم يقول: لبيك بحج وعمرة
“Berdasarkan kesepakatan para Fuqaha’ tempatnya niat dalam hal apa saja adalah didalam hati, melafadzkan niat saja tidak cukup dan tidak disyaratkan melafadzkan niat. Tetapi bagi Jumhur selain Ulama Malikiyyyah melafadzkan niat adalah sunnah agar lisan dapat membantu hati dalam hal menghadirkan niat, agar dengan mengucapkannya bisa membantu dalam hal berdzikir (mengingat-ingat). Dan yang lebih utama pada Ulama Malikiyyah meninggalkan melafadzkan niat karena tidak pernah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan shahabatnya. Dan Demikian juga tidak dilafadzkan oleh Imam yang empat, dan karena tempatnya niat adalah didalam hati pada seluruh Ibadah. Sesungguhnya niat itu ikhlas dan tidak akan pernah ikhlas kecuali dengan hati atau hakikatnya niat adlah menyengaja secara mutlak. Apabila berniat dengan hatinya dan melafadzkannya dengan lisan, menurut Jumhur itu lebih sempurna. Namun, bila melafadzka dengan lisan tanpa berniat dalam hatinya maka itu tidaklah mencukupi. Adapun jika berniat didalam hati dan tidak melafadzkan dengan lisannya maka itu sudah mencukupi. …….. Sesungguhnga tidak cukup hanya melafadzkan niat dengan lisan tanpa dengan hati, berdasarkan firman Allah “Mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” dan ikhlas itu bukan dengan lisan, …………, dan tidak sah ber-Ihram kecuali dengan niat berdasarkan sabda Nabi, bahwa “sesungguhnya perkerjaan dengan niat” dan oleh karena Haji dan Umrah merupakan ibadah mahdlah maka tidak sah tanpa niat, seperti puasa dan shalat (yang juga ibadah mahdlah). Tempatnya niat sudah kita pahami bahwa tempatnya adalah didalam hati. Dan Ihram ; niatnya didalam hati, adapun yang lebih utama menurut sebagian besar Ulama adalah melafadzkan niatnya, sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Anas radliyallahu ‘anh..”

Pada halaman lainnya, (1/682),

محل النية: محل التعيين هو القلب بالاتفاق، ويندب عند الجمهور غير المالكية التلفظ بالنية، وقال المالكية: يجوز التلفظ بالنية،والأولى تركه في صلاة أو غيرها
“tempatnya niat yaitu tempat menentukan niat adalah hati berdasarkan kesepakatan, dan disunnahkan melafadzkan niatmenurut Jumhur selain ulama Malikiyyah. Ulama Malikiyyah mengatakan, boleh melafadzkan niat dan yang lebih utama meninggalkannya didalam shalat atau lainnya.”

HAL-HAL YANG BERKAITAN :

A. Perihal Hadits (إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى), “Sesungguhnya amalan-amalan itu dikerjakan dengan niat, dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” [Arba’in an-Nawawi, ha...dits pertama (متفق عليه)]

Hadits ini sama sekali tidak berbicara bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah, namun mengenai niat sebagai syarat sahnya sebuah amal, atau niat sebagai penyempurna sebuah amalan. Sebagaimana shalat juga tidak sah jika tidak disertai dengan niat, sebab niat dalam shalat merupakan bagian dari rukun sholat yang aktifitasnya didalam hati. Berbeda dengan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) dimana aktifitasnya adalah lisan dan bukan merupakan rukun shalat, namun sunnah. Kesunnanan ini (Talaffudz binniyah) baik dikerjakan atau tidak, tidak merusak pada sahnya shalat dan tidak juga menjadikan shalat batal.

Sebagian ulama menjadikan hadits tersebut sebagai dalil bahwa niat adalah termasuk syarat shalat dan sebagian yang lainnya berpendapat bahwa niat adalah termasuk rukun shalat.

Didalam kitab syarahnya yaitu dalam kitab Al-Wafi Syarah Arba'in An-Nawawi, telah dijelaskan tentang hadits No.1,

ومحل النية القلب؛ فل يشترط التلفظ بها؛ ولكن يستحب ليساعد اللسان القلب على استحضارها
"dan tempat niat didalam hati, tiada disyaratkan melafadzkannya, dan tetapi disunnahkan (melafadzkan) agar lisan dapat membantu hati dengan menghadirkan niat".

B. Perihal Jawaban Imam Ahmad : Abu Dawud As-Sijistany , penulis kitab As-Sunan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, "Apakah seorang yang mau melaksanakan Sholat mengucapkan sesuatu sebelum takbir?" Jawab beliau, " tidak usah". [Lihat Masa'il Abi Dawud (hal.31)]

Dalam Masa’il Abi Daud diatas, Imam Ahmad tidak membid’ahkan, beliau hanya mengatakan tidak usah. Sedangkan kalangan Madzhab Hanabilah sendiri mensunnahkan melafadzkan niat.

C. Perihal Ulama Yang Mewajibkan (Melafadzkan niat).

Ini kami anggap penting untuk dijelaskan, agar tidak terjadi salah paham atau disalah pahami untuk menyalah pahamkan pendapat lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan diatas, oleh Imam Ibnu H...ajar Al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj), Imam Ramli (Nihayatul Muhtaj), Al-'Allamah Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz (Fathul Mu'in) dan yang lainnya, bahwa penetapan hukum sunnah terhadap melafadzkan niat (talaffudz binniyah) juga bermaksud menghindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya.

Perlu diketahui bahwa ulama yang mewajibkan (talaffudz binniyah) juga dinisbatkan kepada madzhab Syafi'iyyah sebab memang masih bermadzhab Syafi'i. Beliau adalah Imam Abu Abdillah az-Zubairiy (أبي عبد الله الزبيري). Beliau mewajibkan melafadzkan niat berdasarkan pemahamannya terhadap perkataan Imam Syafi'i tentang "an-Nuthq (النطق). Menurut pemahaman beliau apa yang dimaksud oleh Imam Syafi'i dengan "an-nuthq (النطق)" adalah melafadzkan niat. Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi'i dengan an-Nuthq (النطق) adalah Takbir (Takbiratul Ihram), menurut Al-Imam Nawawi. Hal ini dijelaskan dalam Kitab Al-Majmu' (II/43) ;

، لأن الشافعي رحمه الله قال في الحج : إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ ، وإن لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح إلا بالنطق
"Karena sesungguhnya Al-Imam asy-Syafi'i berkata didalam (Bab) Haji : "apabila seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafadzkan. Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan melafadzkannya (an-Nuthq)"

Jadi, beliau (Abu Abdillah az-Zubairiy ) mengira bahwa Imam Syafi'i memasukkan talaffudz binniyah menjadi bagian dari syarat sahnya shalat, padahal tidak demikian.

Maka, itu sebabnya pendapat yang mewajibkan ini dikatakan syad (menyimpang) oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy didalam Tuhfatul Muhtaj (II/12) :

وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج
" dan (juga) untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang)"

Al-Imam an-Nawawi didalam kitab Al-Majmu' (II/43) juga menjelaskan kekeliruan tersebut.

قال أصحابنا : غلط هذا القائل ، وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا ، بل مراده التكبير
"beberapa shahabat kami berkata : "Orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh Al-Imam Asy-Syafi'i dengan kata "an-Nuthq (melafadzkan)" di dalam shalat, tetapi yang dikehendaki adalah Takbir (Takbiraul Ihram)"

Sementara lihatlah begitu indah menyebut Syekh Abu Abdillah az-Zubairy dengan sebutan "Ashabinaa", walaupun tidak menyetujui pendapatnya. Tauladan yang sangat terpuji dalam menyikapi khilafiyah.

Disebutkan juga dalam Al-Hawi fiy Fiqh Asy-Syafi'i, Al-Imam Al-Mawardiy Asy-Syafi'i, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut - Lebanon ;

وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا : النِّيَّةُ اعْتِقَادٌ بِالْقَلْبِ وَذِكْرٌ بِاللِّسَانِ لِيُظْهِرَ بِلِسَانِهِ مَا اعْتَقَدَهُ بِقَلْبِهِ فَيَكُونُ عَلَى كَمَالٍ مِنْ نِيَّتِهِ وَثِقَةٍ مِنَ اعْتِقَادِهِ ، وَهَذَا لَا وَجْهَ لَهُ : لِأَنَّ الْقَوْلَ لَمَّا اخْتَصَّ بِاللِّسَانِ حكم النية به لَمْ يَلْزَمِ اعْتِقَادُهُ بِالْقَلْبِ ، وَجَبَ أَنْ تَكُونَ النِّيَّةُ إِذَا اخْتَصَّتْ بِالْقَلْبِ لَا يَلْزَمْ ذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ . فَعَلَى هَذَا لَوْ ذَكَرَ النِّيَّةَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَعْتَقِدْهَا بِقَلْبِهِ لَمْ يُجِزْهُ عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ مَعًا . فَلَوِ اعْتَقَدَهَا بِقَلْبِهِ وَذَكَرَهَا بِلِسَانِهِ أَجْزَأَهُ عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ جَمِيعًا وَذَلِكَ أَكْمَلُ أَحْوَالِهِ ، وَلَوِ اعْتَقَدَ النِّيَّةَ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَذْكُرْهَا بِلِسَانِهِ أَجْزَأَهُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ ، وَلَمْ يُجْزِئْهُ عَلَى مَذْهَبِ الزُّبَيْرِيِّ

dan didalam kitab Hilyatul Ulama fiy Ma'rifati Madzahib Al-Fuqaha (2/70), Al-Imam Saifuddin Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Asy-Syasyi Al-Qaffal,

وينوي والنية فرض للصلاة ومحلها القلب وغلط بعض أصحابنا فقال لا تجزئه النية حتى يتلفظ بلسانه

Jadi, pendapat yang dianggap menyimpang/keliru adalah jika melafadzkan niat (talaffudz binniyah) dimasukkan sebagai bagian dari fardhu shalat atau shalat dianggap tidak cukup jika tanpa melafadzkan niat. Sebab mewajibkan talaffudz binniyah sama saja telah masukkannya sebagai bagian dari shalat. Maka yang sebenarnya tidak dikehendaki adalah dalam hal mewajibkannya bukan kesunnahan melafadzkan niat.






وَمَاتَوْفِيْقِي إِلاَّبِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ انِيْب


Sekian dari
al-fagir ilaLlah al-ghani 
Allama Alauddin As-Shiddiq Bin Surur Asy-syafi'ie Al qodiry Wan Naqsabandy
Pondok Pesantren "Hidayatul Mubtadi'ien"
Kaliwungu, Jombang, Jawa Timur ,Indonesia.
Jumat, Agustus 26, 2011 | 0 komentar | Read More

Do'a Kepada Kedua Orang Tua (BerikutTerjemahnya)


دعاء بـر الوالدين لابن أبي الحبّ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ



Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih



اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَمَرَنَا بِشُكْرِ الْوَالِدَيْنِ، وَالإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا، وَحَثَّنَا عَلَى اغْتِنَامِ بِرِّهِمَا، وَاصْطِنَاعِ الْمَعْرُوْفِ لَدَيْهِمَا، وَنَدَبَنَا إِلَى خِفْضِ الْجَنَاحِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَهُمَا، إِعْظَامًا وَإِكْبَارًا، وَوَصَّانَا بِالتَّرَحُّمِ عَلَيْهِمَا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَاراً.



Segala puji-pujian bagi Allah yang telah memerintahkan kami bersyukur (berterima kasih) kepada kedua ibubapakkk dan berbuat baik kepada keduanya, dan yang mendorong kami atas merebut kemuliaan berbakti kepada keduanya, dan melakukan perkara ma’ruf kepada keduanya, yang menyuruh kami agar merendah diri kepada keduanya sebagai pengagungan dan penghormatan terhadap keduanya dan yang mewasiatkan kami dengan menyayangi keduanya sebagaimana mereka memelihara kami ketika kami masih kecil.



اَللَّهُمَّ فَارْحَمْ وَالِدِيْنَا ((ثلاثا))، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْضَ عَنْهُمْ رِضًا تُـحِلُّ بِهِ عَلَيْهِمْ جَوَامِعَ رِضْوَانِكَ، وَتُـحِلُّهُمْ بِهِ دَارَ كَرَامِتِكَ وَأَمَانِكَ، وَمَوَاطِنَ عَفْوِكَ وَغُفْرَانِكَ، وَأَدِرَّ بِهِ عَلَيْهِمْ لَطَائِفَ بِرِّكَ وَإِحْسَانِكَ



Ya Allah ya Tuhanku, Engkau rahmatilah (kasihanilah, sayangilah) kedua ibubapak kami (3 kali), Engkau ampunilah lagi mereka, Engkau ridhoilah mereka dengan keridhoaan yang dengannya Engkau memberikan segala keridhoanMu, dan dengannya Engkau menempatkan mereka pada negeri kemuliaanMu dan keamananMu, dan negeri kemaafanMu dan keampunanMu, dan limpahkanlah ke atas mereka akan kehalusan kebaikanMu dan keihsananMu.



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ مَغْفِرَةً جَامِعَةً تَـمْحُوْ بِـهَا سَـالِفَ أَوْزَارِهِمْ، وَسَيِّئَ إِصْرَارِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ رَحْمَةً تُنِيْرُ لَهُمْ بِـهَا الْمَضْجَعَ فِى قُبُوْرِهِمْ، وَتُؤَمِّنُهُمْ بِـهَا يَوْمَ الْفَزَعِ عِنْدَ نُشُوْرِهِمْ.



Ya Allah ya Tuhanku, Engkau ampunilah mereka dengan ampunan yang menyeluruh yang Engkau hapuskan dengannya kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu dan perbuatan-perbuatan buruk mereka yang terus dilakukan. Rahmatilah mereka dengan rahmat yang dengannya Engkau sinari tempat perbaringan mereka di kubur-kubur mereka dan Engkau amankan mereka pada hari ketakutan ketika mereka dibangkitkan.



اَللَّهُمَّ تَحَنَّنْ عَلَى ضُعْفِهِمْ كَمَا كَانُوْا عَلَى ضُعْفِنَا مُتَحَنِّنِيْنَ، وَارْحَمِ انْقِطَاعَهُمْ إِلَيْكَ كَمَا كَانُوْا لَنَا فِى حَالِ انْقِطَاعِنَا إِلَيْهِمْ رَاحِمِيْنَ، وَتَعَطَّفْ عَلَيْهِمْ كَمَا كَانُوْا لَنَا فِى حَالِ صِغَرِنَا مُتَعَطِّفِيْنَ.



Ya Allah ya Tuhanku, Engkau kasihanilah mereka atas kelemahan mereka sebagaimana mereka dulu pernah mengasihani kami atas kelemahan kami, tetaplah Engkau mengasihi mereka ketika mereka terputus dariMu sebagaimana mereka tetap mengasihani kami ketika kami dalam keadaan terputus dari mereka, dan Engkau lembutlah terhadap mereka sebagaimana mereka lembut kepada kami ketika kami masih kecil.



اَللَّهُمَّ احْفَظْ لَهُمْ ذَلِكَ الوُدَّ الَّذِي أَشْرَبْتَهُ قُلُوْبَـهُمْ، وَالْحَنَانَةَ الَّتىِ مَلَأْتَ بـِهَا صُدُوْرَهُمْ، وَالْلُطْفَ الَّذِي شَغَلْتَ بِهِ جَوَارِحَهُمْ، وَاشْكُرْ لَهُمْ ذَلِكَ الْجِهَادَ الَّذِي كَانُوْا فِيْنَا مُجَاهِدِيْنَ، وَلاَ تُضَيِّعْ لَهُمْ ذَلِكَ الْإِجْتِهَادَ الَّذِى كَانُوْا فِيْنَا مُجْتَهِدِيْنَ، وَجَازِهِمْ عَلَى ذَلِكَ الْسَـعْيِِ الَّذِي كَانُوْا فِيْنَا سَاعِيْنَ، وَالرَّعْيَ الَّذِي كَانُوْا لَنَا رَاعِيْنَ، أَفْضَلَ مَاجَزَيْتَ بِهِ السُّعَاةَ الْمُصْلِحِيْنَ، وَالرُّعَاةَ النَّاصِحِيْنَ.



Ya Allah ya Tuhanku, Engkau peliharalah bagi mereka kecintaan itu yang Engkau tanamkan pada hati-hati mereka, kasih-sayang yang Engkau penuhi dengannya dada-dada mereka dan kelembutan yang Engkau sibukkan dengannya anggota tubuh mereka. Berilah balasan kepada mereka atas perjuangan mereka mengasuh kami. Janganlah Engkau sia-siakan kesungguhan mereka di dalam mengasuh kami dan berilah ganjaran atas usaha mereka yang mereka lakukan pada diri kami dan pemeliharaan yang mereka jalankan terhadap kami dengan ganjaran terbaik yang telah Engkau berikan kepada mereka yang berusaha dan melakukan pembaikan dan mereka yang memelihara dan memberikan nasihat.



اَللَّهُمَّ بِرَّهُمْ أَضْعَافَ مَا كَانُوْا يَبَـرُّوْنَنَا، وَانْظُرْ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ كَمَا كَانُوْا يَنْظُرُوْنَنَا.



Ya Allah ya Tuhanku, Engkau berikanlah kebaikan kepada mereka berlipat ganda dari kebaikan yang mereka berikan kepada kami dan tiliklah (pandanglah) mereka dengan penglihatan rahmat sebagaimana mereka melihat kami.



اَللَّهُمَّ هَبْ لَهُمْ مَا ضَيَّعُوْا مِنْ حَقِّ رُبُوْبِـيَّتِكَ بِـمَا اشْتَغَلُوْا بِهِ فِى حَقِّ تَرْبِـيَّتِنَا، وَتَـجَاوَزْ عَنْهُمْ مَا قََصَّرُوْا فِيْهِ مِنْ حَقِّ خِدْمَتِكَ، بِمَا آثَرُوْنَا بِهِ فِى حَقِّ خِدْمَتِنَا، وَاعْفُ عَنْهُمْ مَا ارْتَكَبُوْا مِنَ الشُّبُهَاتِ مِنْ أَجْلِ مَا اكْتَسَبُوْا مِنْ أَجْلِنَا، وَلاَ تُؤَاخِذْهُمْ بِـمَا دَعَتْهُمْ إِلَيْهِ الْحَمِيَّةُ مِنَ الْـهَوَى لمِاَ غَلَبَ عَلَى قُلُوْبِـهِمْ مِنْ مَحَبَّتِنَا، وَتَحَمَّلْ عَنْهُمُ الظُّلاَمَاتِ الَّتِي ارْتَكَبُوْهَا فِيْمَا اجْتَرَحُوْا لَنَا وَسَعُوْا عَلَيْنَا، وَالْطُفْ بِـهِمْ فِى مَضَاجِعِ الْبِلَى لُطْفًا يَزِيْدُ عَلَى لُطْفِهِمْ فِى أَيَّامِ حَيَاتِـهِمْ بِنَا



Ya Allah ya Tuhanku, kurniakanlah kepada mereka balasan yang baik atas apa yang telah mereka sia-siakan dalam hal kewajiban terhadapMu karena kesibukan mereka dalam mendidik kami, ampunilah mereka atas kekurangan mereka dalam meng’abdi kepadaMu karena mereka mendahulukan kami dalam melayani kami, ampunilah mereka atas segala perbuatan syubhat yang mereka lakukan disebabkan mereka melakukan usaha untuk kami, janganlah Engkau balas mereka atas dorongan nafsu mereka karena hati mereka dikuasai perasaan cinta kepada kami, ampunilah segala ketidak adilan yang mereka lakukannya karena mereka lakukannya untuk kami dan demi keperluan kami dan berilah kelembutan kepada mereka dalam ujian kesusahan mereka dengan kelembutan yang lebih daripada kelembutan mereka terhadap kami ketika mereka hidup bersama kami.



اَللَّهُمَّ وَمَا هَدَيْتَنَا لَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَيَسَّرْتَهُ لَنَا مِنَ الْـحَسَنَاتِ، وَوَفَّقْتَنَا لَهُ مِنَ الْقُرُبَاتِ، فَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ مِنْ صَالِحِ أَعْمَالِنَا حَظًّا وَنَصِيْباً، وَمَا اقْتَرَفْنَاهُ مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَاكْتَسَبْنَاهُ مِنَ الْخَطِيْئَاتِ، وَتَـحَمَّلْنَاهُ مِنَ التَّبِعَاتِ، فَلاَ تُلْحِقْهُمْ مِنَّا بِذَلِكَ حُوْبًا، وَلاَ تَـحْمِلْ عَلَيْهِمْ مِنْ ذُنُوْبِنَا ذَنُوْبًا.



Ya Allah ya Tuhanku, apa yang Engkau berikan petunjuk kepada kami berupa ketaatan, apa yang Engkau mudahkan kepada kami berupa kebaikan, dan apa yang Engkau berikan taufiq kepada kami berupa pendekatan diri kepadaMu, kami memohon kepada Engkau agar Engkau berikan habuan pahala dan bahagian ganjaran kepada mereka dari amal-amal kami yang baik-baik. Manakala segala keburukan yang kami lakukan dan segala kesalahan yang kami perbuat dan kelemahan kami menurut ajaran agama, maka janganlah Engkau kaitkan dosa itu kepada meraka dan janganlah tanggungkan mereka daripada dosa-dosa kami.



اَللَّهُمَّ وَكَمَا سَرَرْتَـهُمْ بِنَا فِى الْحَيَاةِ فَسُرَّهُمْ بِنَا بَعْدَ الْوَفَاةِ.



Ya Allah ya Tuhanku, sebagaimana Engkau mengembirakan mereka dengan kami dalam kehidupan ini, maka bahagiakanlah pula mereka dengan kami setelah kematian.



اَللَّهُمَّ وَلاَ تُبَلِّغْهُمْ مِنْ أَخْبَارِنَا مَا يَسُوْؤُهُمْ، وَلاَ تُـحَمِّلْهُمْ مِنْ أَوْزَارِنَا مَا يَنُوْؤُهُمْ، وَلاَ تُـخْزِهِمْ بِنَا فِى عَسْكَرِ اْلأَمْوَاتِ لِمَا نُحْدِثُ مِنَ الْمُخْزِيَاتِ، وَنَأْتِي مِنَ الْمُنْكَرَاتِ، وسُـرَّ أَرْوَاحَهُمْ بَأَعْمَالِنَا فِى مُلْتَقَى اْلأَرْوَاحِ، إِذَا سُـرَّ أَهْلُ الصَّلاَحِ بِأَبْنآءِ الصَّلاَحِ



Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau sampaikan kepada mereka berita-berita tentang kami yang mengecewakan mereka, janganlah Engkau tanggungkan atas mereka daripada dosa-dosa kami yang memberatkan mereka, dan janganlah Engkau hinakan mereka dengan kami di hadapan tentera kematian dengan hal-hal yang membawa ke’aiban yang kami lakukan dan kemungkaran-kemungkaran yang kami kerjakan. Bahagialah ruh-ruh mereka dengan ‘amal-‘amal baik kami di tempat bertemunya segala arwah ketika orang-orang sholeh berbahagia dengan anak-anak mereka yang sholeh.



اَللَّهُمَّ وَلاَ تُوْقِفْهُمْ مِنَّا عَلَى مَوْقِفِ افْتِضَاحٍ، بـِمَا نَجْتَرِحُ مِنْ سُوْءِ اْلاِجْتِرَاحِ.



Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau tempatkan mereka dengan sebab di tempat terbukanya ‘aib karena perbuatan buruk yang kami lakukan.



اَللَّهُمَّ وَمَا تَلَوْنَا مِنْ تِلاَوَةٍ فَزَكَّيْتَهَا، وَمَا صَلَّيْنَا مِنْ صَلاَةٍ فَتَقَبَّلْتَهَا، وَمَا تَصَدَّقْنَا مِنْ صَدَقَةٍ فَنَمَّيْتَهَا، وَمَا عَمِلْنَا مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ فَرَضِيْتَهَا. فَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ حَظَّهُمْ مِنْهَا أَكْبَرَ مِنْ حُظُوْظِنَا، وَقَسْمَهُمْ مِنْهَا أَجْزَلَ مِنْ أَقْسَامِنَا، وَسَهْمَهُمْ مِنْ ثَوَابـِهَا أَوْفَرَ مِن سِهَامِنَا، فَإِنَّكَ وَصَّيْتَنَا بِبِرِّهِمْ، وَنَدَبْتَنَا إِلَى شُكْرِهِمْ، وَأَنْتَ أَوْلَى بِالْبِرِّ مِنَ الْبَارِّيْنَ، وَأَحَقُّ بِالْوَصْلِ مِنَ الْمَأْمُوْرِيْنَ.


Ya Allah ya Tuhan kami, apa yang kami baca daripada al-Qur’an lalu Engkau sucikannya (beri pertambahan pahala padanya), dan sholat yang kami dirikan lalu Engkau menerimanya dan apa yang kami sedeqahkan lalu Engkau tumbuhkan (keberkatannya) dan apa yang kami amalkan daripada segala ‘amalan yang baik lalu Engkau meridhoinya, maka, kami memohon kepadamu Ya Allah ya Tuhan kami bahwa Engkau menjadikan bahagian mereka dari hal itu lebih besar daripada bahagian kami, bahagian yang mereka terima darinya lebih banyak berbanding bahagian kami, dan bahagian mereka daripada ganjaran pahala lebih melimpah daripada bahagian kami, karena sesungguhnya Engkau telah berpesan kepada kami untuk berbuat baik kepada mereka dan menyuruh kami berterima kasih kepada mereka. Engkaulah yang lebih utama dengan kebaikan daripada orang-orang yang berbuat baik, dan lebih berhak untuk dihubungi (dalam segala hal) daripada orang-orang yang diperintahkan.



اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ يَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادِ، وَأَسْمِعْهُمْ مِنَّا أَطْيَبَ النِّدَاءِ يَوْمَ التَّنَادِ، وَاجْعَلْهُمْ بِنَا مِنْ أَغْبَطِ اْلآبَاءِ بِاْلأَوْلاَدِ، حَتىَّ تَـجْمَعَنَا وَإِيَّاهُمْ وَالْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِى دَارِ كَرَامَتِكَ، وَمُسْتَقَرِّ رَحْمَتِكَ، وَمَحَلِّ أَوْلِيَائِكَ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا.

Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau jadikanlah kmai bagi mereka sebagai penyejuk mata pada hari bangkitnya para saksi, Engkau perdengarkanlah kepada mereka panggilan yang terbaik pada hari orang-orang saling berpisah, dan Engkau jadikanlah mereka ibubapakk yang paling lekat dengan anak-anaknya sehingga Engkau mengumpulkan kami dan mereka serta kaum muslimin semuanya di negeri kemuliaanMu, tempat rahmatMu, dan tempat para kekasihMu bersama orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat-nikmat atas mereka daripada para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para sholihin, mereka itulah teman-teman yang baik. Itulah keutamaan daripada Allah dan cukuplah dengan Allah Maha Mengetahui.



سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍالنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.



وماتوفيقي إلابالله عليه توكلت وإليه انيب

Kamis, Agustus 25, 2011 | 0 komentar | Read More