SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

Faedahnya Majlis Dzikir / Dzikir Jahar (Dzikir Dengan Suara Agak Keras)



Daftar Isi Pada Bab Ini diantaranya:

• Dalil-dalil dzikir dan uraian ulama-ulama pakar mengenai majlis dzikir
• Dalil mereka yang melarang dzikir secara jahar dan jawabannya

Pada zaman sekarang kumpulan dzikir sangat kita butuhkan karena manusia telah dibisingkan oleh hal keduniaan saja sehingga sedikit sekali untuk meng ingat pada Allah dan Rasul-Nya dan kurang bersilator Rohmi ! Sebelum kami mengutip dalil-dalil dan wejangan ulama pakar yang berkaitan dengan majlis dzikir marilah kita baca berikut ini Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada tahun 2001 dan 2002 yang diarsiteki oleh Saiful Mujani, berikut petikan wawancara Burhanuddin dengan Saiful Mujani, direktur Freedom Institute yang baru menyelesaikan doktoralnya di Univer- sitas Ohio State, Amerika pada 10 Juni 2003.

Dengan adanya kutipan dalil-dalil dibab ini dan wawancara antara Burhanuddin dan Saiful Mujani ini insya Allah pembaca bisa menilai sendiri serta mengambil kesimpulan tentang manfaat kumpulan (halaqat) dzikir umpama Istighothah, Tahlilan, Yasinan dan lain lain untuk masyarakat dan ruginya orang yang tidak mau kumpul berdzikir bersama masyarakat.

Temuan orang-orang seperti Alexis Tocqueville di Amerika yang termuat dalam bukunya yang terkenal, Democracy in America. Tocqueville mendeskripsikan tentang seorang yang religius (beragama) dan aktif dalam kegiatan keagamaan serta menjadi demokratis sekaligus mempunyai sumbangan bagi perkembangan demokrasi. Nah, urgensi agama dalam hubungannya dengan demokrasi akan terlihat bila agama diterjemahkan dalam kelompok-kelompok sosial yang menjadi kekuatan kolektif, membentuk jaring sosial, dan seterusnya. Agama tidak hanya menjadi kekuatan perorangan. Karena itu, urgensi agama di Amerika Serikat, dalam konteks Tocqueville, adalah ketika ia diterjemahkan dalam lingkup gereja, organisasi-organisasi keagama an, atau civil society. 
Misalnya, mereka yang rajin berpuasa sunnah sendiri atau bertahajud pada gelap malam sendirian. Ibadah-ibadah tersebut, sekalipun penting dan pokok dalam agama, kalau ditarik lebih lanjut dalam kehidupan sosial-politik yang lebih luas, hal tersebut tidaklah terlalu bermakna (dalam hubungan antara manusia). Untuk bisa suksesnya konteks demokrasi, maka dimensi-dimensi ritual yang beraspek kolektivitas yang lebih diperlukan dalam konteks demo- krasi. Misalnya, sholat berjama’ah. Dalam Islampun, pahala sholat ber- jama‘ah lebih banyak ketimbang munfarid (sholat sendirian)."

Dalam tradisi NU, kita mengenal praktik yasinan, manakiban, tahlilan, tujuh harian bagi orang yang meninggal, haul, dan lain-lain. Praktik-praktik itu, dalam temuan dua penelitian saya secara nasional pada 2001 dan 2002, mempunyai efek ganda. Biasanya, orang yang aktif dalam kegiatan tersebut akan aktif juga dalam organisasi-organisasi “sekuler”. Misalnya, orang yang aktif di NU cenderung aktif juga di organisasi karang taruna, PKK, dan klub-klub olahraga serta seni budaya. Dengan begitu, dalam diri mereka ada semacam peran-peran dan status sosial yang lebih kompleks. Itulah yang menjadikan seorang yang religius tersebut menjadi positif untuk konteks demokrasi. Sebab, basis sosial semacam itulah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh demokrasi kalau kita melihatnya dari sisi masyarakat.


Pertanyaan: Berarti, kita mempunyai modal sosial demokrasi yang banyak lahir dari rahim sosio-religio budaya kita sendiri?


Jawaban: Memang.



Yang menjadi fokus perhatian saya adalah ritual-ritual kolektif itu. Dalam ritual yasinan, tahlilan, manakiban dan lain-lain, terdapat dimensi transe dental, yakni niat ibadah pada Allah. Hanya, implikasi ritual tersebut juga banyak kita temukan. Dalam ritual yasinan, kita kan tidak hanya membaca yasin, tapi juga bersilaturahmi, bertemu orang lain, dan saling menyapa. Itulah yang dalam konteks demokrasi disebut sebagai civic engagement (keterlibatan masyarakat).

Sekiranya, modal sosial dalam tradisi kita tersebut yang mendorong orang untuk hidup secara kolektif dan terlibat secara sosial dimusnahkan karena dianggap bid’ah bahkan kasus-kasus tertentu diklaim musyrik, tindakan itu tidak akan mendukung kearah demokrasi. Sayang jika gerakan tarekat yang beraspek kolektivitas yang besar dihilangkan semata-mata karena dianggap bid’ah.


Coba lihat, kehidupan keagamaan di Arab Saudi (zaman sekarang) begitu kering. Disitulah akar fundamentalisme dan konservatisme Islam yang sangat anti demokrasi berkembang. Apa penyebabnya? Mereka melihat ke hidupan ini begitu simpel. Mereka tidak membawa ummat Islam dalam kehidupan yang sangat kaya dan heterogen secara sosial-budaya. Artinya, jika umat Islam makin terlibat dalam kehidupan sosial, dia makin terhindar dari benih-benih fundamentalisme. Karena itu, kita bisa menyaksikan orang-orang sufi termasuk yang cukup toleran. Hal itu disebabkan ada dimensi sosial yang mereka rasakan, lihat, dan alami sendiri. Dengan begitu, mereka tahu bahwa hidup bukan hanya hitam-putih atau untuk ibadah yang bersifat personal (perorangan) saja “. Demikianlah wawancara antara Burhanuddin dengan Saiful Mujani.


Dalil-dalil dzikir termasuk dalil dzikir secara jahar (agak keras)


Sebenarnya pada bab ziarah kubur, kami sudah menerangkan mengenai manfaat Tahlilan dan bacaannya, Talqin dan lain-lain, marilah kita sekarang meneliti dalil-dalil mengenai berkumpulnya orang-orang untuk berdzikir pada Allah swt.. Termasuk dalam kategori dzikir juga ialah pembacaan Tahlilan, Talqin, Istighothah, peringatan-peringatan keagamaan (maulud, isra’ mi’raj Nabi saw) dan sebagainya. Didalam majlis-majlis tersebut selalu dibaca ayat Al-Qur’an, tasbih, tahlil, takbir dan sholawat pada Rasulallah saw. Juga dengan adanya dalil-dalil ini membantah golongan Pengingkar yang melarang kumpulan dzikir !!


Apa makna/arti Dzikir yang selalu disebut-sebut dalam ayat al Qur’an dan hadits? Menurut pendapat para ulama yang dimaksud Dzikir ialah ‘mengingat pada Allah swt.. Makna ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk mengingat pada Allah swt. dan Rasul-Nya, misalnya sholat, bertasbih, bertahlil, bertakbir, majlis ilmu, memuji Allah dan Rasul-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran-Nya,sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya, membaca riwayat para utusan Allah dan sebagainya. Tidak lain semuanya ini untuk lebih mendekatkan diri kita pada Allah swt sehingga kita mencintai dan dicintai Allah swt. dan Rasul-Nya. 


Firman-firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi mau pun petang!”. 

Dalam surat Al-Baqarah :152 Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ……….. 


“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)
اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم

“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”. (Ali Imran :191) 

وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا


“Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”. (Al-Ahzab :35) 


الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ. 


 “Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (Ar-Ro’d : 28)


Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw. bersabda : Allah swt.berfirman :


اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي
وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا
وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة. 


Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekat- kan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).


Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata : ‘Hadits diatas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras’. Imam Suyuthi juga berkata: ‘Dzikir dihadapan orang orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas bolehnya’


 Hadits qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’: Allah swt.berfirman:


قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي 



“Tidaklah seseorang berdzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir pada-Ku dihadapan orang-orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi’ “. (HR. Thabrani).

At-Targib wat-Tarhib 3/202 dan Majma’uz Zawaid 10/78. Al Mundziri berkata: ‘Isnad hadits diatas ini baik/hasan. Sama seperti pengambilan dalil yang dikemukakan tadi bahwa berdzikir dihadapan orang-orang maksudnya ialah berdzikir secara jahar ’ !

Hadits dari Abu Hurairah sebagai berikut:


سَبَقَ المُفَرِّقُونَ, قاَلُوْا: وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيْرًاوَالذَّاكِرَاتِ (رواه المسلم)


“Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa?’ Ujar Nabi saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berdzikir baik laki-laki maupun wanita’ ”. (HR. Muslim).

Hadits dari Abu Musa Al-Asy’ary ra sabda Rasulallah saw.:
‘Perumpamaan orang-orang yang dzikir pada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati!” (HR.Bukhori).

Dalam riwayat Muslim: “Perumpamaan perbedaan antara rumah yang dipergunakan dzikir kepada Allah didalamnya dengan rumah yang tidak ada dzikrullah didalamnya, bagaikan perbedaan antara hidup dengan mati”.

Hadits dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah ra. bahwa mereka mendengar sendiri dari Nabi saw. bersabda :


لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.


“Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada disisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).


Hadits dari Mu’awiyah :


خَرَجَ رَسُولُ الله (صَ) عَلَى حَلَقَةِ مِنْ أصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا اَجْلََسَكُم ؟
قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإسْلاَمِِ وَمَنَّ
بِهِ عَلَيْنَا قَالَ: اللهُ مَا أجْلَسـَكُمْ إلاَّ ذَالِك ؟ قَالُوْا وَاللهُ مَا اَجْلَسَنَا
اِلاَّ ذَاكَ. قَالَ : اَمَا إنِّي لَمْ أسْتَخْلِفكُم تُهْمَةُ لـَكُمْ, وَلَكِنَّهُ أتَانِي
جِبْرِيْلُ فَأخْـبَرَنِي أنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبـَاهِي بِكُمُ المَلآئِكَةَ.


“Nabi saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya; ‘Mengapa kamu duduk disini?’ Ujar mereka: ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk dzikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi saw.; ‘Demi Allah tak salah sekali ! Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata; Demi Allah kami duduk karena itu. Dan saya, saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’ “. (HR.Muslim)

Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda :


إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّة يَا رَسُولُ الله ؟
قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَـقَ الذِّكْرِ فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوبِهِمْ.


“Jika kamu lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut ber- cengkerama! Tanya mereka; ‘Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah’? Ujar Nabi saw.; ‘Ialah lingkaran-lingkaran dzikir karena Allah swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran dzikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya”.


Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw.bersabda :


عَنْ أبِيْ هُرَيْرَة(ر) قَالَ: رَسُولُ الل.صَ. : إنَّ اللهَ مَلآئِكَةً يَطًوفُونَ فِي الطُُّرُقِ يَلتَمِسُونَ أهْلِ الذّكْرِ, فَإذَا وَجَدُوا قـَوْمًا
يَذْكُرُونَ اللهَ تَناَدَوْا : هَلُمُّـوْا إلَى حَاجَتِكُمْ, فَيَحُفّـُونَهُمْ بِأجْنِحَتِهِمْ إلَى السَّمَاءِ, فَإذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوْا اِلَى السَّمَاءِ
فَيَسْألُهُمْ رَبُّـهُم ( وَهُوَ أعْلَمُ بِهِمْ ) مِنْ اَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَيْدٍ فِي الاَرْضِ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ
وَيُهَلِّلُوْنَكَ. فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأوْنِي؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : لَوْ رَأوْنِي؟ فَيَقوُلُوْنَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوْا اَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً, وَ اَشَدَّ لَكَ
تَمْجِيْدًاوَاَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا, فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْألُنِى ؟ فَيَقوُلُوْنَ : يَسْألُوْنَكَ الجَنَّةَ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ :
كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لَوْ اَنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوْا اَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَ اَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَاَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. فَيَقُوْلُ :
فَمِمَّا يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ فَيَقولُوْنَ : مِنَ النَّارِ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُلُوْنَ :
لَوْ رَأوْهَا كاَنُوْا اَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا, فَيَقُوْلُ : اُشْهِدُكُمْ اَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ, فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ :
فُلاَنٌ فَلَيْسَ مِنهُمْ, اِنَّمَا جَائَهُمْ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُ : هًمْ قَوْمٌ لاَ يَشْقَى جَلِيْسُهُمْ.


“Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling dijalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru: ‘Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan’. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga kelangit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik kelangit. Maka ber- tanyalah Allah swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman: ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata: Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.


Allah berfirman; ‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata: Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata; Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu. Allah berfirman; ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata; Mereka minta sorga kepada-Mu.


Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat sorga’? Malaikat berkata; Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya’? Malikat berkata; Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan ber- tambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya. Allah berfirman; ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan’? Malaikat berkata; Dari api neraka. Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Tidak pernah!


Allah berfirman: ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya. Allah berfirman; ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka’. Salah satu dari malaikat berkata; Disitu ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?). Allah berfirman; ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’ “. Sedangkan dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: ‘Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka’.


Empat hadits terakhir diatas, jelas menunjukkan keutamaan kumpulan majlis dzikir, Allah swt.akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridho-Nya pada para hadirin. termasuk disini orang yang tidak niat untuk berdzikir serta majlis seperti itulah yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita selalu kumpul bersama majlis-majlis dzikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut sehingga do’a yang dibaca ditempat majlis dzikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah swt. Juga hadits-hadits tersebut menunjukkan mereka berkumpul berdzikir secara jahar, karena berdzikir secara sirran/pelahan sudah biasa dilakukan oleh perorangan !

Al-Baihaqiy meriwayatkan Hadits dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. bersabda: 

لاَنْ اَقْعُدَنَّ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْفَجْرِ ِالَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ اَحَبُّاِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا (رواه البيهاقي



“Sungguhlah aku berdzikir menyebut (mengingat) Allah swt. bersama jamaah usai sholat Shubuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia seisinya.”

Juga dari Anas bin Malik ra riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqiy bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Sungguhlah aku duduk bersama jamaah berdzikir menyebut Allah swt. dari sholat ‘ashar hingga matahari terbenam, itu lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang budak.’

Riwayat Al Baihaqy dari Abu Sa’id Al Khudrij ra, Rasulallah saw bersabda :


يَقُوْلُ الرَّبُّ جَلَّ وَعَلاَ يَوْمَ القِيَامَةِ سَيَعْلَمُ هَؤُلاَءِ الْجَمْعَ الْيَوْمَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ فَقِيْلَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ قَالَ : اَهْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ فِي الْمَسَاجِدِ (رواه البيهاقي


“Allah jalla wa ‘Ala pada hari kiamat kelak akan bersabda: ’Pada hari ini ahlul jam’i akan mengetahui siapa orang ahlul karam (orang yang mulia). Ada yg bertanya: Siapakah orang-orang yg mulia itu? Allah menjawab, Mereka adalah orang-orang peserta majlis-majlis dzikir di masjid-masjid ”.
Ancaman bagi orang yang menghadiri kumpulan tanpa disebut nama Allah dan Shalawat atas Nabi saw.


Hadits riwayat Turmudzi (yang menyatakan Hasan) dari Abu Hurairah, sabda Nabi saw :
مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن


“Tiada suatu golonganpun yang duduk menghadiri suatu majlis tapi mereka disana tidak dzikir pada Allah swt. dan tak mengucapkan shalawat atas Nabi saw., kecuali mereka akan mendapat kekecewaan di hari kiamat”.


Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan kata-katanya yang berbunyi sebagai berikut :


وَرَوَاهُ اَحْمَدُ بِلَفْظٍ مَا جَلَسَ قَوْمُ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوْا اللهَ فِيهِ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تَرَةً


‘Tiada ampunan yang menghadiri suatu majlis tanpa adanya dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan mendapat tiratun artinya kesulitan… “.


Dalam buku Fathul ‘Alam tertera : Hadits tersebut diatas menjadi alasan atas wajibnya (pentingnya) berdzikir dan membaca shalawat atas Nabi saw. pada setiap majlis.
Hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda yang artinya :


قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ وَعَنْ اَبِي هُرَيْرَة (ر)
.صَ. مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فِيْهِ اِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً (رواه ابو داود


“Tiada suatu kaum yang bangun (bubaran) dari suatu majlis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah dalam majlis itu, melainkan mereka bangun dari sesuatu yang serupa dengan bangkai himar/keledai, dan akan menjadi penyesalan mereka kelak dihari kiamat ”. (HR.Abu Daud)


Hadits-hadits diatas mengenai kumpulan/lingkaran majlis dzikir, itu sudah jelas menunjukkan adanya pembacaan dzikir bersama-sama dengan secara jahar, karena berdzikir sendiri-sendiri itu akan dilakukan secara lirih (pelan). Lebih jelasnya mari kita rujuk lagi hadits-hadits yang membolehkan dzikir secara jahar. Hadits dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. dia berkata:


اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ


“Sabda Rasulallah saw. ‘Perbanyaklah dzikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata : Sesungguhnya dia orang gila’ “ (HR..Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman , Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnus Sunni)


Hadits dari Ibnu Abbas ra. dia berkata : Rasulallah saw. bersabda :


اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ


“Banyak banyaklah kalian berdzikir kepada Allah sehingga orang-orang munafik akan berkata : ’Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’ (HR. Thabrani)


Imam Suyuthi dalam kitabnya Natiijatul Fikri fil jahri biz dzikri berkata : “Bentuk istidlal dengan dua hadits terakhir diatas ini adalah bahwasanya ucapan dengan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’ hanyalah dikatakan terhadap orang-orang yang berdzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”

Hadits dari Zaid bin Aslam dari sebagian sahabat, dia berkata :

ِ اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ :
يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي)


“Aku pernah berjalan dengan Rasulallah saw. disuatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya disebuah masjid. Akupun berkata; ‘Wahai Rasuallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’. Beliau berkata; Tidak ! ‘Akan tetapi dia itu seorang awwah (yang banyak mengadu kepada Allah)’ ”. (HR.Baihaqi)


Lihat hadits ini Rasulallah saw. tidak melarang orang yang dimasjid yang sedang berdzikir secara jahar (agak keras). Malah beliau saw. mengatakan dia adalah seorang yang banyak mengadu pada Allah (beriba hati dan menyesali dosanya pada Allah swt.) Sifat menyesali kesalahan pada Allah swt itu adalah sifat yang paling baik !


Hadits dari Uqbah bahwasanya Rasulallah saw. pernah berkata kepada seorang lelaki yang biasa dipanggil Zul Bijaadain; “Sesungguhnya dia orang yang banyak mengadu kepada Allah. Yang demikian itu karena dia sering berdzikir kepada Allah”. (HR.Baihaqi). (Julukan seperti ini jelas menunjukkan bahwa Zul- Bijaadain sering berdzikir secara jahar).


Hadits dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata:

اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ 


‘Sesungguhnya berdzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu pernah terjadi dimasa Rasulallah saw.’ “. (HR. Bukhori dan Muslim)


Dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berdzikir)”. (HR.Bukhori Muslim)
Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jahar, yang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawwuf) setelah sholat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”. 


Sedangkan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai berdzikir secara jahar seusai sholat sebagai berikut:


Hadits nr. 357: Dari Ibnu Abbas, katanya: “Dahulu kami mengetahui selesainya sembahyang Rasulallah saw. dengan ucapan beliau “takbir”.


Hadits nr. 358: Dari Ibnu Abbas, katanya; “Bahwa dzikr dengan suara jahar/agak keras seusai sembahyang adalah kebiasaaan dizaman Nabi saw. Kata Ibnu Abbas, jika telah kudengar suara berdzikir, tahulah saya bahwa orang telah bubar sembahyang”.


Hadits nr. 366: Dari Abu Zubair katanya; “Adalah Abdullah bin Zubair mengucapkan pada tiap-tiap selesai sembahyang sesudah memberi salam:….” Kata Abdullah bin Zubair, Adalah Rasulallah saw. mengucap- kannya dengan suara yang lantang tiap-tiap selesai sembahyang“. 


(Ketiga hadits terakhir ini dikutip dari kitab “Terjemahan hadits Shahih Muslim” jilid I, II dan III terbitan Pustaka Al Husna, I/39 Kebon Sirih Barat, Jakarta, 1980.)


Al-Imam al-Hafidz Al-Maqdisiy dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’ hal.25 berkata:
“Abdullah bin Abbas menyebutkan bahwa berdzikir dengan mengangkat suara dikala para jema’ah selesai dari sembahyang fardhu adalah diamalkan sentiasa dizaman Rasulallah saw.. Ibnu Abbas berkata, ‘Saya memang mengetahui keadaan selesainya Nabi saw. dari sembahyangnya (ialah dengan sebab saya mendengar) suara takbir’ (yang disuarakan dengan nyaring) “. (HR Imam Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Juraij).


Hadits yang sama dikemukakan juga oleh Imam Abd Wahab Asy-Sya’rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110; demikian juga Imam Al-Kasymiriy dalam kitabnya Fathul Baari hal. 315 dan As-Sayyid Muhammad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawiy dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Autar.

Dalam shohih Bukhori dari Ibnu Abbas ra beliau berkata; ‘Kami tidak mengetahui selesainya shalat orang-orang di masa Rasulallah saw. kecuali dengan berdzikir secara jahar’.
Dan masih banyak lagi dalil mengenai keutamaan kumpulan berdzikir yang tidak kami cantumkan disini tapi insya Allah dengan adanya semua hadits diatas cukup jelas bagi kita dan bisa ambil kesimpulan bahwa (kumpulan) berdzikir baik dengan suara lirih maupun jahar/agak keras itu, tidaklah dimakruhkan atau dilarang bahkan didalamnya justru terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, atau kesunnahannya!! 


Demikian juga dzikir dengan jahar itu dapat menggugah semangat dan melembutkan hati, menghilangkan ngantuk, sesuatu yang tidak akan didapat kan pada dzikir secara lirih (sir). Dan diantara yang membolehkan lagi dzikir- jahar ini adalah ulama mutaakhhirin terkemuka Al-‘Allaamah Khairuddin ar-Ramli dalam risalahnya yang berjudul Taushiilul murid ilal murood bibayaani ahkaamil ahzaab wal-aurood mengatakan sebagai berikut: “Jahar dengan dzikir dan tilawah, begitu juga berkumpul untuk berdzikir baik itu di majlis ataupun di masjid adalah sesuatu yang dibolehkan dan disyari’atkan ber- dasarkan hadits (qudsi) Nabi saw.: ‘Barangsiapa berdzikir kepada-Ku (Allah) dihadapan orang-orang, maka Aku pun akan berdzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’ dan firman Allah swt. ‘Seperti dzikirmu terhadap nenek-moyangmu atau dzikir yang lebih mantap lagi’ (Al-Baqoroh: 200) bisa juga dijadikan sebagai dalilnya.(dalil jahar) “


Agama hanya memakruhkan dzikir jahar yang terlalu keras, begitu juga jahar yang tidak keterlaluan bila sampai mengganggu orang yang sedang tidur atau sedang shalat atau menyebabkan dirinya riya’ serta mensyariatkan/ mewajibkan dzikir jahar ini. Berapa banyak perkara yang sebenarnya mubah tapi karena diwajibkan atau disyariatkan pelaksanaanya dengan cara-cara tertentu padahal agama tidak mengajarkan demikian, maka ia akan berubah menjadi makruh sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qori’ dalam Syarhul Miskat, Al-Hashkafi dalam Ad- Durrul Mukhtar dan beberapa ulama lainnya. 


Kalau kita baca ayat-ayat al-Qur’an,hadits dan wejangan para ulama yang telah dikemukakan tadi, jelas bahwa berdzikir baik orang berdzikir sendirian, berkelompok, secara sir atau jahar/agak keras itu semua baik/ mustahab dan sebagai anjuran syari’at Islam. Bagaimana tercelanya saudara kita yang selalu menteror, mencela dan mensesatkan kumpulan dzikir (tahlilan/yasinan, istighotsah dan sebagainya) yang mana disitu selalu dikumandangkan pembacaan diantaranya; ayat-ayat Al-Qur’an, sholawat pada Nabi saw., pembacaan Tasbih, Takbir dan lain sebagainya serta mendo’akan saudara muslimin baik yang masih hidup atau yang sudah wafat? Bacaan yang dibaca didalam majlis tersebut, semuanya tidak ada larangan syari’at, malah sebaliknya banyak hadits Rasulallah saw. yang menunjukkan kebolehannya, atau kesunnahannya!! 


Memang ada hadits riwayat Baihaqi, Ibnu Majah dan Ahmad; “Sebaik-baik dzikir adalah secara lirih (sir) dan sebaik-baik rizki adalah yang mencukupi ”. Menurut ulama’ diantaranya Imam as-Suyuthi, kata-kata Sebaik-baik dalam suatu hadits berarti Keutamaan bukan yang lebih utama. Jadi hadits terakhir ini bukan menunjukkan kepada jeleknya atau dilarangnya dzikir secara jahar, karena banyak riwayat hadits shohih yang mengarah pada bolehnya dzikir secara jahar.


Mari kita baca lagi perincian berdzikir dengan jahar yang lebih jelas menurut pendapat Imam Suyuthi dan lainnya.


“Imam As-Suyuthi didalam Natijatul/fikri Jahri Bidz Dzikri, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya mengenai tokoh Sufi yang membentuk kelompok-kelompok dzikir dengan suara agak keras, apakah itu merupakan perbuatan makruh atau tidak? Jawab beliau: Itu tidak ada buruknya (tidak makruh) ! Ada hadits yang menganjurkan dzikir dengan suara agak keras (jahar) dan ada pula menganjurkan dengan suara pelan (sirran). Penyatuan dua macam hadits ini yang tampaknya berlawanan, semua tidak lain ter- gantung pada keadaan tempat dan pribadi orang yang akan melakukan itu sendiri. 


Dengan merinci manfaat membaca Al-Qur’an dan berdzikir secara jahar/ jahran dan lirih/sirran itu Imam Suyuthi berhasil menyerasikan dua hal ini kedalam suatu pengertian yang benar mengenai hadits-hadits terkait. Jika anda berkata bahwa Allah swt. telah berfirman: 


وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ الجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُضُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ. 


‘Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati dengan merendahkan diri disertai perasaan dan tanpa mengeraskan suara’. (Al A’raf:205). Itu dapat saya (Imam Suyuthi) jawab dari tiga sisi:


1. Ayat diatas ini adalah ayat Makkiyah ( turun di Makkah sebelum hijrah). Masa turun ayat (Al A’raf 205) ini berdekatan dengan masa turunnya ayat berikut ini:


وَلاَ تَجْهَرْ بصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِبَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاً 


‘Dan janganlah engkau (hai Nabi) mengeraskan suaramu diwaktu sholat, dan jangan pula engkau melirihkannya…’ (Al Isra’:110). 


Ayat itu (Al A’raf :205) turun pada saat Nabi saw. sholat dengan suara agak keras (jahar), kemudian didengar oleh kaum musyrikin Quraisy, lalu mereka memaki Al Qur’an dan yang menurunkannya (Allah swt). Karena itulah beliau saw. diperintah (oleh Allah) untuk meninggalkan cara jahar guna mencegah terjadinya kemungkinan yang buruk (saddudz-dzari’ah). Makna ini hilang setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah dan kaum Muslimin mempunyai kekuat- an untuk mematahkan permusuhan kaum musyrikin. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.


2. Jama’ah ahli tafsir (Jama’atul Mufassirin), diantaranya Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan Ibnu Jarir, menerapkan makna ayat diatas tentang dzikir pada masalah membaca Al-Qur’an. Nabi saw. menerima perintah jahran (agak keras) membaca Al-Qur’an sebagai pemuliaan (ta’dziman) terhadap Kitabullah tersebut., khususnya diwaktu sholat tertentu. Hal itu diperkuat kaitannya dengan turunnya ayat: ‘Apabila Al-Qur’an sedang dibaca maka hendaklah kalian mendengarkannya…’ (Al A’raf:204). Dengan turunnya perintah ‘mendengarkan’ maka orang yang mendengar Al-Qur’an yang sedang dibaca, jika ia (orang yang beriman) tentu takut dalam perbuatan dosa. Selain itu ayat tersebut juga menganjurkan diam (tidak bicara) tetapi kesadaran berdzikir dihati tidak boleh berubah, dengan demikian orang tidak lengah meninggalkan dzikir (menyebut) nama Allah. Karena ayat tersebut diakhiri dengan: ‘Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai’.


3. Orang-orang Sufi mengatakan berdzikir sirran (lirih) itu hanya khusus dapat dilakukan dengan sempurna oleh Rasulallah saw., karena beliau saw. manusia yang disempurnakan oleh Allah swt. Manusia-manusia selain beliau saw. sangat repot sekali melakukan dengan sempurna sering diikuti was-was, penuh berbagai angan-angan perasaan, karena itulah mereka berdzikir secara agak keras/jahran. Dzikir jahran semua was-was, angan-angan dan perasaan, lebih mudah dihilangkan, serta akan mengusir setan-setan jahat.


Pendapat demikian ini diperkuat oleh sebuah hadits yang diketengahkan oleh Al- Bazzar dari Mu’adz bin Jabal ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:


‘Barangsiapa diantara kamu sholat diwaktu malam hendaklah bacaannya di ucapkan dengan jahran (agak keras). Sebab para malaikat turut sholat seperti sholat yang dilakukannya, dan mendengarkan bacaan-bacaan sholat- nya. Jin-jin beriman yang berada di antariksa dan tetangga yang serumah dengannya, merekapun sholat seperti yang dilakukannya dan mendengarkan bacaan-bacaannya. Sholat dengan bacaan keras akan mengusir Jin-jin durhaka dan setan-setan jahat’.” Demikianlah pendapat Imam Suyuthi.


Pendapat Ibnu Taimiyyah yang dijuluki Syaikhul Islam mengenai majlis dzikir didalam kitab Majmu ‘al fatawa edisi King Khalid ibn ‘Abd al-Aziz. Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir, membaca al-Qur’an, berdo’a sambil menanggalkan serban dan menangis, sedangkan niat mereka bukanlah karena ria’ ataupun membanggakan diri tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab: ‘Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari’a (mustahab) untuk berkumpul dan membaca al-Qur’an dan berdzikir serta berdo’a….’ “ Pertanyaan ini berkaitan dengan kelompok/majlis dzikir dimasjid-masjid yang dilakukan kaum Sufi Syadziliyyah.

Ibnu Hajr mengatakan, bahwa pembentukan jama’ah-jama’ah seperti itu adalah sunnah, tidak ada alasan untuk menyalah-nyalahkannya. Sebab ber- kumpul untuk berdzikir telah diungkapkan pada hadits Qudsi Shohih: ‘Tiap hambaKu yang menyebutKu di tengah sejumlah orang, ia pasti Kusebut (amal kebaikannya) di tengah jama’ah yang lebih baik’.

Dengan kumpulnya orang bersama untuk berdzikir ini sudah tentu menunjuk- kan dzikir tersebut dengan suara yang bisa didengar sesamanya (agak keras). Bila tidak demikian, apa keistimewaan hadits tentang kumpulan (halaqat) dzikir yang dibanggakan oleh Malaikat dan Rasulallah saw.?, karena berdzikir secara sirran/lirih sudah biasa dilakukan oleh perorangan !


Imam An-Nawawi menyatukan dua hadits (jahar dan lirih) itu sebagai- mana katanya: Membaca Al-Qur’an maupun berdzikir lebih afdhol/utama secara sirran/lirih bila orang yang membaca khawatir untuk riya’, atau mengganggu orang yang sedang sholat ditempat itu, atau orang yang sedang tidur. Diluar situasi seperti ini maka dzikir secara jahran/agak keras adalah lebih afdhol/baik. Karena dalam hal itu kadar amalannya lebih banyak daripada membaca Al-Qur’an atau dzikir secara lirih/sirran. 


Selain itu juga membaca Qur’an dan dzikir secara jahran/keras ini manfaat- nya berdampak pada orang-orang yang mendengar, lebih konsentrasi atau memusatkan pendengarannya sendiri, membangkitkan hati pembaca sendiri, hasrat berdzikir lebih besar, menghilangkan rasa ngantuk dan lain-lain. Menurut sebagian ulama bahwa beberapa bagian Al-Quran lebih baik dibaca secara jahar/jahran, sedangkan bagian lainnya dibaca secara lirih/sirran. Bila membaca secara lirih akan menjenuhkan bacalah secara jahar dan bila secara jahar melelahkan maka bacalah secara lirih. 


Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut:
“Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berdzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan dzikir secara lirih kecuali imam yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat dzikirnya, maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin bahwa para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berdzikir secara sir lagi”. Dengan demikian tidak diketemukan dikalangan ulama Syafi’iyah pernyataan-pernyataan yang melarang/mengharamkan dzikir secara jahar apalagi sampai memutuskannya dengan bid’ah munkar !


Mari kita rujuk lagi riwayat hadits bahwa setan akan lari bila mendengar suara adzan atau iqamah, karena yang dibaca dalam adzan/iqamah kalimat dzikir dan sekaligus mencakup kalimat-kalimat tauhid juga, sebagaimana juga bacaan yang dibaca pada kumpulan majlis-majlis dzikir (tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan sebagainya).


Hadits nomer 581 riwayat Muslim sabda Rasulallah saw.: “Sesungguhnya apabila setan mendengar adzan untuk sholat ia pergi menjauh sampai ke Rauha’, berkata Sulaiman; ‘Saya bertanya tentang Rauha’ itu, jawab Nabi saw.; ‘jaraknya dari Madinah 36 mil’ “.


Hadits nomer 582 riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya apabila setan mendengar adzan sholat ia bersembunyi mencari perlindungan sehingga suara adzan itu tidak terdengarnya lagi. Tapi apabila setan itu mendengar iqamah, ia menjauh (lagi) sehingga suara iqamah tidak terdengar lagi. Namun apabila iqamah berakhir, setan kembail (lagi) melakukan waswas, yaitu membisikkan bisikan jahat “.


Lihat hadits dari Mu’adz bin Jabal dan dua hadits diatas bahwa dengan baca Al-Qur’an waktu sholat malam secara jahar akan didengar oleh malaikat, jin-jin beriman dan lainnya, serta bisa mengusir setan-setan yang jahat dan durhaka. Walaupun hadits ini berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an pada waktu sholat malam hari serta bacaan adzan dan iqomah, tapi intinya sama yaitu pembacaan ayat Al-Qur’an dan bacaan kalimat-kalimat tauhid dan dzikir secara jahar.


Perbedaannya adalah satu didalam keadaan sholat membacanya yang lain diluar waktu sholat, yang mana kedua-duanya bisa didengar oleh malaikat, jin dan mengusir setan. Juga berdasarkan hadits-hadits yang telah di kemukakan tadi, maka tidak ada saat bagi setan untuk memperdayai manusia selama manusia itu sering berdzikir karena dzikirnya itu bisa di dengar oleh setan-setan tersebut. Maka dari itu Allah swt. sering memper -ingatkan dalam Al-Qur’an agar kita selalu berdzikir pada-Nya.
Orang dianjurkan berdzikir setiap waktu baik dalam keadaan junub, haid, nifas maupun dalam keadaan suci (kecuali bacaan ayat Al-Qur’annya), sedang sibuk atau lenggang waktu, sedang berbaring atau duduk dan pada setiap tempat. Itulah yang dimaksud ayat Allah swt. diantaranya surat An-Nisa:103, karena dzikir semacam ini boleh dilaksanakan terus menerus.!! Lain halnya dengan sholat ada syarat dan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh melakukan sholat, umpama: orang yang sedang haid, nifas, junub ( harus mandi dulu), sholat sunnah yang hanya niat sholat saja setelah sholat ashar/shubuh dan sebagainya. Begitu juga ibadah puasa akan batal bagi orang yang sedang haidh, nifas atau junub dan hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa. 


Mereka berdzikir dengan suara yang jahar tapi bila ditempat mereka dzikir terdapat orang yang merasa terganggu umpama orang sedang sholat, atau ada orang tidur maka mereka akan melirihkan suaranya. Sebagian orang senang berdzikir secara agak keras/jahran untuk dapat memerangi bisikan busuk (was-was), godaan hawa nafsu, lebih konsentrasi tidak mudah lengah, dan langsung menyatukan ucapan lisan dengan hatinya, lebih khusyu’ apalagi dengan irama dzikir yang enak, menghilangkan ngantuk dan lain-lain. Masjid-masjid yang dijadikan tempat dzikir oleh kaum Sufi ini diantara- nya masjid Ar Ribath .
Bagi yang memilih dzikir secara sirran (lirih, pelan) untuk memudahkan perjuangan melawan hawa nafsu, melatih diri agar tidak berbau riya’ (meng- harap pujian-pujian orang) dan menahan nafsu agar tidak menjadi orang yang terkenal. Terdapat riwayat bahwa Umar bin Khattab ra. berdzikir secara jahar/agak keras sedangkan sahabat Abubakar ra dengan suara lirih (sirran). Waktu mereka berdua ditanya oleh Rasulallah saw. mereka menjawab dengan penjelasan seperti diatas itu. Ternyata Rasulallah saw. membenar- kan mereka berdua ini !


Dengan adanya keterangan-keterangan diatas ini kita bisa menarik kesimpul an ada ulama yang senang berdzikir secara lirih dan ada yang lebih senang secara jahar, tergantung situasi sekitarnya dan pribadi masing-masing, bila situasi mengizinkan maka secara jahar itu lebih baik/afdhol. Jadi kedua macam cara itu dibolehkan!!


Aturan/adab (paling baik/tidak wajib) dalam dzikir menurut Syaikh ‘Ali Al-Marshafy, dalam kitabnya Manhajus Shalih mengatakan antara lain sebagai berikut: “Kita selalu dalam keadaan bersih yakni mandi dan berwudu’, menghadap kiblat (kalau bisa), duduk ditempat yang suci (bukan najis). Orang agar sepenuhnya konsentrasi (penuh perhatian) dengan hatinya mengenai dzikir yang dibaca itu. Tempat dzikir tersebut ditaburi dengan minyak wangi. Berdzikir dengan ikhlas karena Allah swt…”.


Dan masih banyak yang beliau anjurkan cara yang terbaik untuk berdzikir tapi empat diatas itu cukup buat kita agar tercapainya dzikir itu, sehingga kita bisa menikmatinya dan menenangkan jiwa. Yang dimaksud Syaikh ‘Ali Al Marshafy ditaburi minyak wangi pada tempat dzikir ialah agar tempat dzikir tersebut semerbak wangi baunya. Dalam hal ini dibolehkan semua jenis bahan yang bisa menimbulkan bau harum umpama minyak wangi, sebangsa kayu-kayuan (gahru dan sebagainya) atau menyan Arab yang kalau dibakar asapnya berbau wangi, karena disamping bau-bauan ini lebih mengkhusyukkan/ mengkonsentrasikan, menyegarkan pribadi orang itu atau para hadirin, juga menyenangkan malaikat-malaikat dan jin-jin yang beriman yang hadir di majlis dzikir ini. Bau harum ini malah lebih diperlukan bila berada di ruangan yang banyak dihadiri oleh manusia agar berbau semerbak ruangan tersebut. Gahru, uluwwah atau menyan ini banyak dijual baik di Indonesia, Makkah, Madinah maupun dinegara lainnya. Yang paling mahal harganya adalah Gahru kwaliteit istemewa.


Hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: “Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah ditolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya”. (HR.Muslim, Nasa’I dan Abu Dawud)
Ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i: “Adakalanya Ibnu Umar ra. membakar uluwwah tanpa campuran, dan adakalanya kapur barus yang dicampur dengan uluwwah seraya berkata, ‘Beginilah Rasulallah saw. mengasapi dirinya’.”


Begitu juga tahun 2001 bulan suci Ramadhan kami ziarah ke makam Rasulallah saw. di Madinah, disana setiap usai sholat Isya’ terutama pada di tempat sekitar Raudhah (antara Rumah dan Mimbar Rasulallah saw.) dan disekitar Mimbar Rasulallah saw. selalu di asapi kayu gahru. Bagi orang-orang yang pernah hadir di tempat ini pada waktu tertentu itu insya Allah bisa menyaksikan serta menikmati bau-bauan harum tersebut. Padahal kalau kita lihat negara Saudi Arabia banyak disana golongan wahabi/salafi yang sering mengeritik dan membuat ceritera khurafat atau mengisukan yang tidak-tidak terhadap golongan muslimin yang membakar dupa/gahru waktu mengadakan majlis dzikir. Diantara golongan wahabi dan pengikutnya ini ada yang mengatakan pembakaran dupa/gahru dan sebagainya waktu sedang berkumpul berdzikir maupun sendirian untuk mendatangkan setan-setan dan lain-lain !
Tetapi kalau kita baca hadits Nabi saw., setan malah lari mendengar bacaan dzikir itu, dan senang bersemayam dirumah dan diri orang yang tidak mengadakan majlis dzikir. Lihatlah, karena kedengkian golongan tertentu pada majlis dzikir ini, mereka membuat fitnah dan mengadakan khurafat-khurafat (tahayul) yang dikarang-karang sendiri, agar manusia mengikuti faham mereka dan tidak menghadiri majlis dzikir tersebut. Mengapa golongan pengingkar ini tidak berkata pada sipenjual Gahru, menyan arab di Makkah dan Madinah bahwa itu haram, khurafat karena bisa mendatangkan setan-setan?
Dalil-dalil mereka yang melarang dzikir secara jahar


Dengan adanya riwayat-riwayat yang dikemukakan tadi, buat kita insya Allah sudah cukup jelas mengenai dibolehkannya dzikir baik secara lirih maupun secara jahar. Tetapi bagi golongan pengingkar selalu mengajukan dalil-dalil yang menurut paham mereka sebagai larangan/haramnya orang ber- kumpul berdzikir secara jahar. Mari kita baca dalil mereka untuk masalah ini:

Firman Allah swt (Al ‘Araf : 204): ‘Dan apabila dibacakan (kepadamu) ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat’. Ayat ini dibuat dalil oleh mereka untuk melarang pem- bacaan Al-Qur’an secara bersama, yang di amalkan orang-orang pada majlis dzikir (Istighothah, tahlilan, yasinan dan lain lain).

Sudah tentu pemikiran seperti ini adalah paham yang keliru, karena makna atau yang dimaksud firman Allah swt. itu ialah: Bila ada orang membaca Al-Qur’an sedangkan orang lainnya tidak ikut membaca bersama orang tersebut, maka yang tidak ikut membaca ini di anjurkan untuk mendengarkan serta memperhatikan bacaan Al Qur’an tersebut agar mereka juga mendapat pahala dan rahmat dari Allah swt. Jadi bukan berarti ayat ini melarang orang bersama-sama membaca Al-Qur’an dalam kumpulan majlis dzikir ! Karena cukup banyak hadits yang menjanjikan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an baik membacanya secara berkelompok maupun perorangan, serta tidak ada nash baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang melarang mem- baca Al-Qur’an secara bersama-sama ! Malah justru mendapat pahala bagi yang membacanya !.


Mereka berdalil juga pada firman Allah Al-A’raf :205 yang berbunyi: ‘Dan ingatlah Tuhanmu didalam hatimu sambil merendahkan diri dan merasa takut serta tidak dengan suara keras (yang berlebihan) dipagi maupun sore hari’.


Ayat diatas juga tidak bisa dibuat dalil untuk melarang semua bentuk dzikir secara jahar. Sebenarnya yang dimaksud ayat ini adalah untuk orang-orang yang sedang mendengarkan Al-Qur’an yang sedang dibaca oleh orang lain sebagaimana ditunjukkan oleh ayat yang telah dikemukakan yaitu surat Al-A’raaf : 204. Dengan demikian, makna surat Al-A’raf : 205 tadi adalah: ‘Berdzikirlah kepada Tuhanmu didalam hati wahai orang yang memperhati- kan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan merendahkan diri serta rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara…’.


Seperti ini pula makna yang dikehendaki oleh ulama pakar diantaranya: Ibnu Jarir, Abu Syaikh dari Ibnu Zaed. Sedangkan Imam Suyuthi dalam kitabnya Natijatul Fikri berkata: Ketika Allah swt. memerintahkan untuk inshot (memperhatikan bacaan Al Qur’an) dikhawatirkan terjadinya kelalaian dari mengingat Allah swt., maka dari itu disamping perintah inshot dzikir didalam hati tetap dibebankan agar tidak terjadi kelalaian mengingat Allah swt. Karenanya ayat tersebut diakhiri dengan ‘Dan janganlah kamu termasuk diantara orang-orang yang lalai’. (baca keterangan pada halaman sebelum ini)


Malah menurut Imam Ar-Rozi bahwa ayat Al A’raf : 205 justru menetapkan dzikir dengan jahar yang tidak berlebihan, bukan malah mencegahnya karena disitu disebut juga ‘…dan bukan dengan mengeraskan suara (jahar yang berlebihan)...’ Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tuntutan ayat itu adalah ’melakukan dzikir antara sir dan jahar yang berlebihan’ makna yang demikian sesuai dan dikuatkan oleh firman Allah swt dalam surat Al-Isro’: 110 yang berbunyi: ‘Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdo’a dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah diantara yang demikian itu’.

Golongan pengingkar ini juga berdalil pada hadits Nabi saw. yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Marduwaih dan Al-Baihaqi dari Abu Musa Al-Asy’ari ra yang berkata:
“Kami pernah bersama Rasulallah saw. dalam sebuah peperangan, maka terjadilah satu keadaan dimana kami tidaklah menuruni lembah dan tidak pula mendaki bukit kecuali kami mengeraskan suara takbir kami. Maka mendekatlah Rasulallah saw. kepada kami dan bersabda: ‘ Lemah lembutlah kalian dalam bersuara karena yang kalian seru bukanlah zat yang tuli atau tidak ada. Hanyalah yang kalian seru adalah zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepadamu ketimbang leher-leher onta tungganganmu’ “.


Hadits ini tercantum dalam kitab-kitab hadits yang enam. Imam Turmudzi dalam bab Fadhlut Tasbih menyebutkan juga hadits dari Abu Musa al-Asy’ari yang senada tapi sedikit berbeda dan ditambah dengan sabda Rasulallah saw. “Wahai Abdullah bin Qais, maukah kamu aku beritahukan sebagian dari perbendaharaan sorga…? Dialah : ‘Laa Haulaa Walaa Quwwata Illa Billah’ “. Turmudzi berkata: Ini adalah hadits yang shohih.


Golongan ini berkata: “Mengapa kita harus mengeraskan suara dalam berdzikir…?, padahal hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari diatas memerintahkan untuk merendahkan suara di ketika berdzikir karena Zat yang didzikirkan yakni Allah swt. bukan Zat yang tuli, bukan Zat yang tidak ada bahkan ilmu dan kekuasan-Nya ada dihadapan kita ! Dia lebih dekat kepada kita dibanding leher-leher onta tunggangan kita !


Alasan inipun tidak tepat untuk dijadikan dalil melarang atau mengharamkan semua bentuk dzikir jahar, perintah irba’uu dihadits tersebut bukanlah hukum wajib sehingga berakibat haramnya berdzikir secara jahar. Hal ini karena perintah dengan menggunakan kata ar-rab’u adalah semata-mata untuk memberikan kemudahan kepada mereka. Berdasarkan inilah maka Syeikh Ad-Dahlawi dalam Al-Lama’aat Syarhul Misykat mengatakan bahwa irba’uu adalah satu isyarat dimana larangan jahar hanyalah untuk memudahkan, bukan karena jahar itu tidak disyariatkan !


Kalau sekiranya Rasulallah saw. tidak mencegah para sahabat berdzikir secara keras pada waktu peperangan menaiki dan menuruni bukit, maka mereka jelas akan menyangka bahwa mengeraskan suara dzikir yang berlebihan itu sewaktu dalam perjalanan adalah disunnahkan, karena per- buatan mereka itu didiamkan/diridhoi oleh Rasulallah saw.. Padahal kesunnahan yang seperti itu tidaklah dikehendaki oleh beliau saw. Mengeraskan dzikir pada saat itu sedang dalam perjalanan perang menuju Khaibar seperti itu tidak ada mashlahatnya/kebaikannya, bahkan bisa menimbulkan bencana kalau sampai didengar oleh musuh orang-orang kafir. Terlebih-lebih ada hadits mengatakan ‘Perang itu adalah satu tipu daya’.
Begitupun juga beliau saw. melarang mereka supaya nantinya tidak merasa lebih lelah dan kesulitan dalam menghadapi peperangan. Beginilah juga yang diterangkan oleh Al-Bazzaazi makna pelarangan pengerasan suara pada waktu itu. Pengarang kitab Fathul Wadud Syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa kata-kata rofa’uu ashwaatahum menunjukkan bahwa mereka itu terlalu berlebihan dalam menjaharkan dzikir. Maka hadits itu tidaklah menuntut terlarangnya menjaharkan dzikir secara mutlak ! Jadi dzikir jahar yang dilakukan oleh para sahabat itu adalah jahar yang berlebihan (jerat-jerit) sebagaimana ditunjukkan oleh kaitan larangan itu dalam beberapa riwayat.


Begitu juga bila hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari diatas ini dipakai sebagai dalil untuk melarang semua bentuk dzikir secara jahar maka akan ber- benturan dengan hadits-hadits yang berkaitan dengan dzikir secara jahar (silahkan baca keterangan sebelumnya).


Sebelum ini telah kami kemukakan sebagian fatwa seorang ulama yang di andalkan juga oleh golongan ini yaitu Ibnu Taimiyah didalam kitabnya Majmu’at fatawa edisi Raja Saudi Arabi Malik Khalid bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai berikut: “Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir (secara jahar), membaca al-Qur’an berdo’a sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena ria’ ataupun menunjuk-nunjukkan diri, tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah swt. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab, ‘Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari’a (agama) untuk berkumpul dan membaca al-Qur’an dan berdzikir serta berdo’a’.”


Sebagian golongan ini juga melarang kumpulan majlis dzikir dengan ber- dalil suatu riwayat bahwa Umar bin Khattab ra. mencambuk suatu kaum yang berkumpul karena kaum ini berdo’a untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin ! Dengan berdalil pada hadits ini, mereka melarang semua bentuk berdzikir secara jahar.


Umpama riwayat tersebut benar-benar ada dan shohih, kita harus meneliti dahulu apa sebab Umar bin Khattab ra melarang mereka berkumpul untuk berdo’a kebaikan tersebut, sehingga tidak langsung menghukum semua berkumpulnya manusia untuk do’a kebaikan itu dilarang. Dzikir dan do’a itu termasuk amalan ibadah yang sangat dianjurkan baik oleh Allah swt. maupun Rasulallah saw.. Tidak ada penentuan/kewajiban dalam syariat tentang cara-cara berdzikir dan berdo’a, boleh dilakukan secara berkumpul atau pun secara individu !


Penafsiran mereka seperti itu adalah sangat sembrono sekali, karena ini bisa mengakibatkan orang akan merendahkan sifat Umar bin Khattab, sehingga orang-orang non muslim maupun muslim akan mensadiskan beliau karena mencambuk (tanpa alasan yang tepat) orang yang berkumpul hanya karena berdo’a kebaikan untuk muslimin dan pemimpinnya. Hati-hatilah! Disamping itu riwayat ini berlawanan dengan firman Allah swt (hadits Qudsi) dan hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai keutamaan berdo’a dan halaqat dzikir (lingkaran dzikir) !

Juga golongan ini mengatakan ada riwayat dari Bukhori yang berkata ada suatu kaum/kelompok setelah melaksanakan sholat Maghrib seorang dari mereka berkata: “Bertakbirlah kalian semua pada Allah seperti ini… bertasbihlah seperti ini….dan bertahmidlah seperti ini…maka Ibnu Mas’ud ra mendatangi orang ini dan berkata:….sungguh kalian telah datang dengan perkataan bid’ah yang keji atau kalian telah menganggap lebih mengetahui dari sahabat Nabi.”


Riwayat diatas itu dibuat juga oleh golongan pengingkar sebagai dalil untuk melarang semua kumpulan majlis dzikir, alasan seperti ini juga tidak tepat sama sekali. Pertama kita harus mengetahui dahulu kalimat takbir, tasbih atau tahmid apa yang diperintahkan orang tersebut pada sekelompok muslimin itu. Kedua umpama bacaan takbir, tasbih, tahmid serta cara pem- beritahuan sesuai yang dianjurkan oleh Nabi saw. maka tidak mungkin Ibnu Mas’ud ra akan melarangnya, karena Rasulallah saw. sendiri meridhoi dan memberi kabar gembira bagi kelompok kaum yang sedang berdzikir. Ketiga, kelompok tersebut belum melakukan dzikir yang diperintahkan oleh orang itu, oleh karenanya Ibnu Mas’ud bukan tidak menyenangi kumpulan dzikir dan bacaannya tapi beliau tidak menyenangi cara pemberitahuan orang tersebut kepada kelompok itu, yang seakan-akan mewajibkan atau mensyari’atkan kelompok tersebut untuk mengamalkan hal tersebut, karena dzikir adalah amalan-amalan sunnah/bukan wajib !!
Jadi janganlah kita main pukul rata mengharamkan semua jenis kelompok dzikir secara jahar dengan alasan sebagian sahabat telah melarangnya pada kelompok manusia tertentu, tapi kita harus meneliti motif atau sebab apa dzikir tersebut pada waktu itu dilarang oleh sahabat Nabi tersebut. Dengan demikian kita tidak akan ke bingungan atau kesulitan untuk mengamalkan hadits Rasulallah saw. lainnya yang mengarah kepada kebolehan dan kesunnahan untuk berdzikir baik secara individu maupun berkelompok, baik secara lirih maupun jahar sebagaimana yang telah dijelaskan juga oleh ulama-ulama pakar, Imam Nawawi, Ibnu Hajr, Imam Suyuthi serta lain-lainnya.


Begitu juga bila ada sebagian ulama pakar tidak menyenangi berdzikir secara jahar atau secara lirih itu tidak berarti semua dzikir secara jahar atau lirih itu haram diamalkan! Tidak lain hal tersebut tergantung pada pribadi ulama itu masing-masing atau tergantung pada situasi lokasi dan tempat untuk berdzikir tersebut.

Kami tambahkan lagi hadits yang shohih menganjurkan manusia untuk membaca Talbiyah dan Tahlil secara jahar pada waktu musim haji, yang mana Talbiyah dan Tahlil juga termasuk dzikir pada Allah swt. Hadits dari Khalad bin Sa’id Al Anshori dari Bapaknya bahwa Nabi saw bersabda:
“Jibril datang kepadaku lalu menyuruhku untuk memerintahkan kepada sahabatku atau kepada orang-orang yang bersamaku agar mengeraskan suara dengan Talbiyah dan tahlil ”. ( Riwayat Abu Dawud nr.1797, Tirmidzi nr.829, Nasa’i dalam bab mengeraskan suara ketika ber ihram, Ibnu Majah nr.2364, Imam Malik dalam Al Muwattha hadits nr.34). Menurut Imam Syafii Takbir dan Tahlil dalam haji ini boleh diamalkan secara jahar baik dimasjidil Haram atau dilapangan.


Kalau dzikir Talbiyah dan Tahlil secara jahar yang dilakukan oleh berjuta-juta jama’ah haji secara berkelompok-kelompok malah dianjurkan dan tidak di- larang, apalagi dzikir secara jahar yang hanya dilakukan oleh kelompok jauh lebih sedikit jumlahnya dari itu, apa salahnya dalam hal ini..?. 


Wallahu a’lam.

Contoh zaman sekarang yang bisa kita dengar dan beli kaset-kaset dzikir umpama pembacaan al-Qur’an, qosidah-qosidah (bacaan sholawat Nabi saw. dan lain-lain) yang dijual dan dikumandangkan dipasar-pasar atau ditoko-toko di berbagai negara muslimin, Saudi Arabia, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Marokko, Mesir dan lain lain. Malah sekarang dinegara Eropa yang penghuninya ada orang muslimin umpama di Perancis, Jerman, Belanda, Inggris, disana banyak sekali dijual dan dikumandangkan kaset-kaset dzikir tersebut. Kalau semua dzikir jahar ini mungkar dan dilarang maka menjual dan mengumandangkan kaset-kaset inipun harus dilarang terutama dinegara-negara Islam yang anti majlis dzikir. Tapi nyatanya sampai detik ini tetap berjalan dan malah lebih banyak lagi toko-toko yang jual kaset-kaset tersebut karena banyak peminatnya.


Insya Allah dengan beberapa firman Allah swt. serta hadits-hadits diatas kita dapat mengambil manfaatnya dan mengerti serta jelas apa yang dianjurkan oleh Allah swt. melalui perantara junjungan kita Nabi besar Muhammad saw. Insya Allah saudara-saudara kita muslimin yang belum pernah menghadiri atau mendapat kesalahan informasi mengenai kumpulan dzikir, baca tahlilan/yasinan dan sebagainya ini akan diberi hidayah dan taufiq oleh Allah swt. serta bisa menghadiri majlis dzikir yang penuh berkah, atau setidaknya tidak akan mencela, mensyirikkan dan mensesatkan orang yang mengamal- kan amalan tersebut. Mencela, mensesatkan sesuatu amal kebaikan itu hanya akan menambah dosa bukan menambah pahala


Semoga Allah swt. memberi hidayah kepada semua kaum muslimin. Amin.
Jumat, Juli 27, 2012 | 0 komentar | Read More

Dasar Hukum Tarowih 20 Roka’at


Dibulan ramadhan yang penuh berkah ini, Allah Subhanahu wata’ala melipat gandakan pahala amalan sunnah sehingga menjadi seperti pahala amalan wajib. Sedangkan amalan wajib adalah seumpama menunaikan 70 amalan wajib (fardhu) dibulan yang lain (Mafhum hadits dari Salman Ra. hadits Riwayat Imam baihaqi, Ibnu Hibban, Ibnu khuzaimah, al-ashbahani, dalam kitab shahihnya dsb).

Maka umat islam berbondong-bondang melakukan amalan-amalan sunnah pada bulan ramadhan ini. Malangnya musuh islam wahhaby menyebarkan fitnah dan membidahkan amalan umat islam (Lihat artikel sesat wahaby Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus Th. Ke -9 Romadhon-Syawal 1430 H (September dan Oktober 2009) hal. 35-38.)

Hamba yang lemah dan hina ini, mencoba membuat bantahan terhadap fitnah wahaby dibulan ramadhan, bagi anda yang lebih alim dan lebih teliti lagi mungkin akan menemukan lebih banyak lagi dalil-dalil untuk membantah fitnah keji kaum mujasimmah wahhaby badwi najd ini.

Orang-orang Wahaby mensyariatkan Shalat Sunnah Tarawih 8 rekaat, padahal tidak ada satupun Imam Madzab Sunni yang mensyariatkan.

Pendapat jumhur ahlusunnah : mazhab Hanafi, Syafi’e dan Hanbali: 20 rakaat (selain Sholat Witir) berdasarkan ijtihad Sayyiduna Umar bin Khattab. Menurut mazhab Maliki: 36 rakaat berdasarkan ijtihad

Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. 

Sholat Qiyam Ramadhan (sholat pada malam bulan Ramadhan) dinamakan Sholat Tarawih karena sholat ini panjang dan banyak rakaatnya. Jadi, orang yang mendirikannya perlu berehat. Rehat ini dilakukan selepas mendirikan setiap 4 rakaat, kemudian mereka meneruskannya kembali (sehingga 20 rakaat). Sebab itulah ia dipanggil Sholat Tarawih[4].


Ibn Manzhur menyebutkan di dalam Lisan al-Arab: “ اَلتَّرَاوِيحُ “ adalah jama’ (plural) “ تَرْوِيحَةٌ “, yang bermaksud “sekali istirehat”, seperti juga “ تَسْلِيمَةٌ “ yang bermaksud “sekali salam”. Dan perkataan “Tarawih” yang berlaku pada bulan Ramadhan dinamakan begitu karena orang akan beristirehat selepas mendirikan 4 rakaat[5].


Menurut pendapat jumhur iaitu mazhab Hanafi, Syafi’e dan Hanbali: 20 rakaat (selain Sholat Witir) berdasarkan ijtihad Sayyiduna Umar bin Khattab. Menurut mazhab Maliki: 36 rakaat berdasarkan ijtihad Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. Imam Malik dalam beberapa riwayat memfatwakan 39 rakaat[6]. Walau bagaimana pun, pendapat yang masyhur ialah mengikut pendapat jumhur.


Dalil
a) Dalil lebih dari 8 rakaat:
i) Dalil nas khusus:
1) Hadith:


أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِن جَوْفِ اللَّيلِ لَيَالِي مِن رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّقَةٌ: لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيهَا، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ


“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم keluar untuk sholat malam di bulan Ramadhan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk sholat bersama umat di masjid. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sholat bersama mereka sebanyak lapan rakaat, dan kemudian mereka menyempurnakan baki sholatnya di rumah masing-masing.”[8]
Jumlah 11 rakaat tidak boleh dijadikan hujah untuk jumlah rakaat Sholat Tarawih karena Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم hanya sholat berjemaah bersama sahabat 2 atau 3 kali sahaja di masjid dan selepas itu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan para sahabat menyambung sholat malam di rumah masing-masing.


2) Hadith dari Ibn Abbas berkata:


كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ


“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang pada bulan Ramadhan dengan tidak
berjamaah, sebanyak dua puluh rakaat ditambah witir.”[9]


3) Dalam Sunan al-Baihaqi dengan isnad yang shahih sebagaimana ucapan Zain ad-Din al-Iraqi dalam kitab Syarh At-Taqrib, dari As-Sa’ib bin Yazid رضي الله عنه katanya:


كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً


“Adalah para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab
pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[10]


Hadith ini telah shahihkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Khulashah dan Al-Majmu’, dan ia diakui shahih juga oleh Az-Zayal’i dalam Nashb ar-Rayah, dishahihkan oleh As-Subki dalam Syarh al-Minhaj, Ibn al-Iraqi dalam Thorh at-Tathrib, Al-Aini dalam Umdah al-Qari, Imam Sayuthi dalam Al-Masabih fi Sholat at-Tarawih, Ali al-Qari dalam Syarh al-Muwaththo’ dan An-Naimawi dalam Athar as-Sunan dan para ulama’ lain[11].


4) Diriwayatkan dari As-Sa’ib bin Yazid juga, dia berkata:


كنَّا نَقُومُ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ


“Kami pernah mendirikan (sholat Tarawih) pada masa Sayyiduna Umar bin Al-Khattab
dengan dua puluh rakaat dan ditambah Witir.”[12]


5) Diriwayatkan oleh Yazid bin Ruman berkata:


كَانَ النَّاسُ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ يَقُومُونَ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً


“Adalah orang ramai pada zaman Umar bin Al-Khattab mendirikan sholat Tarawih
pada bulan Ramadhan dengan dua puluh tiga rakaat.”[13]


6) Diriwayatkan dari Al-Hasan:


أَنَّ عُمَرَ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّي لَهُمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً


“Sesungguhnya Umar mengumpul orang ramai kepada Ubai ibn Ka’ab, lalu dia (Ubai)
mengimami sholat bersama mereka dengan dua puluh rakaat.”[14]


Hadith bernombor 3, 4, 5 dan 6 di atas menunjukkan bahawa para sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم telah ijma’ (sepakat) mendirikan Sholat Tarawih pada masa Sayyiduna Umar sebanyak 20 rakaat. Ijma’ Sahabat mengikut kaedah Ushul Fiqh adalah hujah (iaitu menjadi dalil syari’at)[15].


ii) Dalil nas umum:


Antara dalil lain dalam membolehkan ia dibuat lebih dari 11 rakaat ialah firman Allah Ta’ala:


1)
وَافْعَلُواْ الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


“Dan kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).”[16]


Mengerjakan amal kebajikan tidak disebutkan di dalam ayat ini secara khusus dan berapa bilangannya. Ia membawa maksud mengerjakan amal kebajikan sebanyak-banyaknya.


2) Disebutkan di dalam hadith:


صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنىَ مَثْنىَ


“Sholat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat.”[17]


3) Imam Muslim meriwayatkan, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:


اَلصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ فَمَن شَاءَ اِسْتَقَلَّ وَمَن شَاءَ اِسْتَكْثَرَ


“Sholat adalah (termasuk) amal yang terbaik, maka barang siapa berkehendak, dia (boleh) menyedikitkan bilangan rakaatnya dan barang siapa berkehendak, dia (boleh) memperbanyak (bilangan rakaatnya, iaitu menyedikit atau memperbanyakkan sholat sunat/ nawafil).”


iii) Kaedah Ushul


1) Kaedah Ushul Fiqh menyebutkan:


مَا أَكْثَرَ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرَ فَضْلاً


“Ibadah yang banyak perlakuannya (pekerjaannya), akan banyak mendapat fadhilat (pahala).”
Kaedah ini berdasarkan hadith Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم kepada Sayyidatuna ‘Aisyah, riwayat Imam Muslim:


أَجْرُكِ عَلَى نَصَبِكِ


“Pahalamu berdasarkan kadar usahamu.”


Sembahyang adalah ibadat badan yang paling afdhal selepas mengucap dua kalimah syahadah mengikut sebahagian ulama’[18]. Sembahyang Tarawih pula sangat istimewa karena dilaksanakan pada bulan yang sangat istimewa. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memberi khabar gembira bahawa satu ibadah sunat dilaksanakan pada bulan ini menyamai satu ibadah fardhu di bulan lain.
Hadith daripada Salman al-Farisi berkata:


خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم آخِرِ يَوْمٍ مِن شَعْبَانَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظيمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً وَقِيَامُ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَن تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ…


“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah berkhutbah kepada kami pada hari terakhir bulan Syaaban dan bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu satu bulan yang agung lagi penuh keberkatan (bulan Ramadhan), itulah bulan yang ada padanya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang Allah jadikan berpuasa padanya suatu kewajipan dan berqiamullail (beribadat pada malam-malamnya) sebagai amalan sunat. Sesiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan itu dengan melakukan amalan kebajikan (amalan sunat) maka ia mendapat pahala seperti melaksanakan perintah yang wajib dan sesiapa yang melakukan suatu amalan yang wajib pada bulan Ramadhan maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukan tujuh puluh (70) amalan fardhu selainnya (selain Ramadhan).”[19]


Oleh itu, dari segi bilangan sahaja umpamanya, tentulah 20 rakaat Sholat Tarawih lebih baik dari 8 rakaat dan pahalanya tentu sekali lebih banyak. Ini tidak termasuk pahala berapa kali qiyam, ruku’, sujud…., bacaan Surah Al-Fatihah, bacaan surah dan bacaan-bacaan lain ketika sembahyang, pahala mendengar orang membaca Al-Quran di dalam sembahyang, pahala sabar ketika qiyam yang mungkin agak lama dan panjang…jika dilakukan sebanyak 20 rakaat itu. Bolehlah diqiyaskan kepada perlakuan dan pembacaan yang lain yang ada kaitan dengan Sholat Tarawih ini…Ta’ammaluu…


2) Kaedah lain menyebutkan:


اَلْمُثْبَتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّافِي


“Yang menetapkan ada (sesuatu perkara), didahulukan atas yang tidak menetapkannya.”
Dalam perbahasan Sholat Tarawih ini, jika benar hadith Sayyidatuna ‘Aisyah di atas tentang Sholat Tarawih, ia tetap tidak boleh dijadikan dalil untuk menolak pendapt Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang mereka ijma’ (sepakat) melaksanakannya dengan 20 rakaat. Dalam perkara ini, Sayyidatuna ‘Aisyah melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang 11 rakaat, sedangkan Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang utama juga melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang dengan 23 rakaat. Maka, mengikut kaedah ini, orang yang banyak ilmunya didahulukan dari orang yang kurang ilmu pengetahuannya[20].


Pendapat para ulama’:


Berdasarkan dalil dan kaedah di atas, para ulama’ dalam mazhab Syafi’e (Syafi’iyyah) mengistinbatkan bilangan rakaatnya seperti berikut:


1) Disebutkan di dalam Mukhtashar Al-Muzani:


أَنَّ اْلإِمَامَ الشَّافِعِيَّ رحمه الله قَالَ: رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ وَأَحَبَّ إِلَيَّ عِشْرُونَ لأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُومُونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.


“Sesungguhnya Imam Syafi’e berkata: Aku telah melihat mereka di Madinah mendirikan (Solat Tarawih) denga 39 rakaat, dan aku menyukai 20 rakaat karena telah diriwayatkan dari Umar. Dan begitu juga di Makkah, mereka mendirikan 20 rakaat dan mengerjakan Witir dengan 3 rakaat.”


2) Imam Nawawi berkata di dalam Syarh al-Muhazzab:


صَلاَةُ التَّرَاوِيحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيثُ الشَّرِيفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحُ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيفَةِ الرَّاشِدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه وأرضاه – إِلىَ زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِي ذَلِكَ فَقِيهٌ مِنَ اْلاَئِمَّةِ اْلأَرْبعَةِ الْمُجْتَهِدِينَ إِلاَّ مَا رُوِىَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ مَالِكٍ بْنِ أَنَسٍ رضي الله عنه اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيهَا، إِلىَ سِتٍّ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً…فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَن نَافِعٍ أَنَّهُ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ


“Sholat Tarawih termasuk di dalam sholat Nawafil yang muakkad seperti mana yang ditunjukkan perkara itu oleh hadith-hadith yang mulia yang telah disebut terdahulu. Ia adalah sebanyak dua puluh rakaat selain dari sholat Witir. (Jika) bersama Witir maka ia menjadi 23 rakaat…atas jalan inilah berlalunya sunnah dan sepakat ummah, dari kalangan Salaf dan Khalaf dari zaman Khulafa’ ar-Rasyidin Umar ibn Al-Khattab, semoga Allah meredhainya dan dia meredhaiNya juga sampailah ke zaman kita ini…Tidak ada seorang pun ahli feqah dari kalangan empat imam mazhab (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah) membantah perkara ini, melainkan apa yang diriwayatkan dari Imam Dar al-Hijrah, Imam Malik bin Anas tentang pendapat yang lebih bilangannya pada sholat Tarawih kepada 36 rakaat…Dalam riwayat kedua daripada Imam Malik, iaitu dengan hujahnya beramal dengan amalan penduduk Madinah iaitu: Sesungguhnya diriwayatkan dari Nafi’ sesungguhnya dia berkata: Aku mendapati orang ramai mendiri Ramadhan (sholat Tarawih) dengan 39 rakaat dan mereka mendirikan Witir daripadanya sebanyak 3 rakaat…”[21]


Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni[22] menambah:


…أَمَّا الرِّوَايَةُ الْمَشْهُورَةُ عَنْهُ، هِيَ الَّتِي وَافَقَ فِيهَا الْجُمْهُورُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً وَعَلَى ذَلِكَ اتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ اْلأَرْبعَةُ وَتَمَّ اْلإجْمَاعُ.


“Adapun riwayat yang masyhur daripada Imam Malik, iaitulah yang diittifaqkan Jumhur ulama’ dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah atas sholat Tarawih itu 20 rakaat. (Oleh itu) atas sebab perkara itulah (iaitu riwayat yang kedua ini), maka jadilah (sholat Tarawih sebanyak 20 rakaat) adalah ittifaq empat mazhab dan lengkaplah (ia menjadi) ijma’.”[23]


3) Imam Nawawi juga menyebutkan di dalam Al-Majmu’:


مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ غَيْرِ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيحَاتٍ وَالتَّرْوِيحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَتَيْنِ… وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَحْمَدُ وَدَاوُدُ وَغَيرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِيُّ عِيَاضٍ عَن جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ. وَقَالَ مَالِكٌ: اَلتَّرَاوِيحُ تِسْعُ تَرْوِيحَاتٍ وَهِيَ سِتَّةٌ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً غَيْرُ الْوِتْرِ


“Mazhab kami ialah sesungguhnya ia 20 rakaat dengan 10 salam selain Witir. Jadi ada 5 rehat, dan setiap sekali rehat ada 4 rakaat dengan 2 salam…Dan mengikut juga pendapat inilah (iaitu 20 rakaat) oleh Abu Hanifah dan rakan-rakannya, Ahmad, Daud (azh-Zahiri) dan selain dari mereka. Al-Qadhi ‘Iyadh juga menukilkannya dari jumhur Ulama’. Imam Malik berkata: Sholat Tarawih ada 9 rehat iaitu 36 rakaat selain dari Witir.”


4) Imam Syarbini al-Khatib menyebutkan:


اَلتَّرَاوِيحُ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشَرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً.


“Dan Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 salam setiap bulan Ramadhan. Demikiannlah hadith Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahawasanya sahabat-sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mendirikan sembahyang pada masa Umar bin Al-Khattab dalam bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat. Dan Imam Malik meriwayatkan di dalam Al-Muwaththo’ sebanyak 23 rakaat, tetapi Imam Al-Baihaqi mengatakan bahawa yang tiga rakaat yang akhir ialah Sembahyang Witir.”[24]


5) Imam Jalal ad-Din al-Mahalli berkata:


وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ بِاْلإِسْنَادِ الصَّحِيحِ كَمَا قَالَ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً


“Dan Imam Al-Baihaqi dan selainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan di dalam Syarah al-Muhazzab bahawasanya para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[25]


6) Al-Allamah al-Imam Ar-Ramli berkata:


وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، لِمَا رُوِيَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً


“Dan ia (Sholat Tarawih) adalah 20 rakaat dengan 10 salam pada setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan karena diriwayatkan bahawasanya para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[26]


7) Imam Zainuddin bin Abd al-Aziz al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in menyimpulkan bahawa sholat Tarawih hukumnya sunat yang jumlahnya 20 rakaat:


وَصَلاَةُ التَّرَاوِيحِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ لِخَبَرٍ (( مَن قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاِحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ )) وَيَجِبُ التَّسْلِيمُ مِن كُلِّ رَكْعَتَيْن فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ تَصِحُّ.


“Sholat Tarawih hukumnya sunat, 20 rakaat dan 10 salam pada setiap malam di bulan Ramadhan. Karena ada hadith: Barang siapa melaksanakan (sholat Tarawih) di malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahulu diampuni. Setiap dua rakaat harus salam. Jika sholat Tarawih 4 rakaat dengan satu kali salam maka hukumnya tidak sah……”[27]


Di dalam kitab Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-Aimmah karangan Al-Allamah Abi Abdillah Muhammad bin Abdur Rahman ad-Dimasyqi al-Uthmani asy-Syafi’e pada Hamisy al-Mizan al-Kubra menyatakan:


فَصْلٌ: وَمِنَ السُّنَنِ صَلاَةُ التَّرَاوِيحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عِندَ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِي وَأَحْمَدَ
وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ وَفِعْلُهَا فِي الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ


“(Fasal): Dan termasuk dari sholat-sholat sunat ialah Sholat Tarawih pada bulan Ramadhan di sisi Abu Hanifah, Syafi’e dan Ahmad iaitu ia adalah sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam. Dan mendirikannya secara berjama’ah adalah afdhal.”[28]


9) Syaikh Abd al-Qadir ar-Rahbawi menyebutkan di dalam kitabnya As-Sholah ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah:


وَعَدَدُ رَكْعِتِهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً. وَهَذَا الَّذِي بَيَّنَهُ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله بِفِعْلِهِ عِندَمَا جَمَعَ النَّاسَ أَخِيرًا فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلاَتِهِمْ خَلْفَ إِمَامٍ وَاحِدٍ، وَوَافَقَهُ الصَّحَابَةُ عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَكُن لَهُمْ مُخَالِفٌ مِمَّن بَعْدَهُمْ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ…


“Dan bilangan rakaatnya (Sholat Tarawih) 20 rakaat. Dan inilah yang diterangkan oleh Sayyiduna Umar bin Al-Khattab dengan perbuatannya ketika mengumpulkan para sahabat akhirnya dalam masjid. Dan (menyuruh) mereka bersembahyang di belakang seorang imam. Para sahabat bersetuju atas perbuatannya itu dan tidak ada seorangpun Khalifah yang datang selepas mereka (selepas sahabat) yang menyalahkan mereka (Umar dan generasi sahabat yang melakukan 20 rakaat).”[29]


10) Mufti Besar Negara Mesir, Al-Allamah Syaikh Ali Jum’ah [30] menyebutkan di dalam kitabnya Al-Bayan Lima Yasyghal al-Azhan:


وَالْحَقُ أَنَّ اْلأُمَّةَ أَجْمَعَتْ عَلَى أَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ عِشْرِينَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ الْوِتْرِ، وَثَلاَثَ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ، وَهُوَ مُعْتَمَدُ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ اْلأَرْبَعَةِ: اَلْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ فِي الْمَشْهُورِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ.


“Dan yang benarnya (dalam perkara rakaat Tarawih) ialah, sesungguhnya umat Islam telah ijma’ ke atas Sholat Tarawih itu 20 rakaat tidak termasuk Witir, dan 23 rakaat termasuk Witir yang mana itulah yang mu’tamad (dipegang) oleh mazhab-mazhab feqah yang empat: Mazhab Hanafi, pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, mazhab Syafi’e dan mazhab Hanbali.”[32]


11) Di dalam kitab Al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah disebutkan:


وَقَدْ ثَبَّتَ أَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ


“Dan sesungguhnya telah tetaplah (thabit) bahawa Sholat Tarawih adalah 20 rakaat (menurut semua imam mazhab) selain Witir[32].


12) Disebutkan di dalam kitab Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih karangan Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni:


قَالَ اْلإِمَامُ التِّرْمِذِي فِي جَامِعِهِ اَلْمُسَمَّى سُنَنِ التِّرْمِذِي: أَكْثَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُويَ عَنْ عُمَرَ، وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: عِشْرِينَ رَكْعَةً وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِي وَإِبْنِ الْمُبَارَكَ وَالشَّافِعِيّ وَقَالَ الشَّافِعِي : وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً . أهـ.


“Al-Imam At-Tirmizi berkata di dalam kitab Jami’nya yang bernama Sunan at-Tirmizi: Kebanyakan Ahl al-Ilm di atas pendapat seperti yang diriwayatkan dari Sayyiduna Umar, Sayyiduna Ali dan selain keduanya dari para sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم iaitu (mendirikan sholat Tarawih sebanyak) 20 rakaat. Ia adalah pendapat Sufyan ath-Thauri, Ibn Al-Mubarak, Syafi’e. Imam Syafi’e berkata: Dan beginilah aku mendapati orang ramai di Makkah mereka mendirikan (sholat Tarawih dengan ) 20 rakaat.” Intaha.


Ibn Rusyd menyebutkan di dalam Bidayah al-Mujtahid:


اِخْتَارَ مَالِكٌ – فِي أَحَدِ قَوْلَيْهِ – وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِي وَأَحْمَدُ اَلْقِيَامُ
بِعِشْرِينَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ.


“Imam Malik telah memilih –dalam salah satu di antara dua pendapatnya-,
juga Abu Hanifah, Syafi’e, Ahmad dengan 20 rakaat selain Witir.” [33]


Seterusnya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan:


“Bahwa kedua Haramaian (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) juga menjadi panduan dan ikutan kita dalam perkara Sholat Tarawih 20 rakaat ini yang mana kedua-dua masjid suci ini mendirikan Sholat Tarawih dengan 20 rakaat sejak zaman dahulu lagi sehingga sekarang.”[34]


Pendapat mazhab lain:


1) Mazhab Hanafi


Syaikh As-Sarakhsi menyebutkan:
إِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِندَنَا، وَقَالَ مَالِكٌ: اَلسُّنَّةُ فِيهَا سِتَّةٌ وَثَلاَثونَ


“Sesungguhnya ia (Tarawih) 20 rakaat selain Witir di sisi kami, dan Malik berkata: Sunnah padanya 36 rakaat.”[35]


Syaikh Al-Kasani menyokong pendapat tersebut dengan mengatakan:


وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشَرِ تَسْلِيمَاتٍ، فِي خَمْسِ تَروِيحَاتٍ، كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ، وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلمَاءِ


“Dan adapun kadarnya maka (ia adalah) 20 rakaat dalam 10 kali salam, 5 kali rehat, setiap 2 kali salam ada 1 rehat. Dan inilah pendapat kebanyak ulama’.”[36]


Pendapat ini disokong pula oleh Al-Allamah Ibn Abidin di dalam Hasyiahnya:


(قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً) هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ، وَعَلَيْهِ عَمَلَ النَّاسُ شَرْقًا وَغَرْبًا


“(Perkataannya: Dan ia 20 rakaat) adalah pendapat jumhur, dan atas pendapat inilah orang ramai beramal di timur dan barat.”[37]


2) Mazhab Maliki


Apa yang masyhur dalam mazhab Maliki ialah pendapat yang mengikut jumhur (iaitu 20 rakaat). Al-Allamah Ad-Dardir berkata:


(وَالتَّرَاوِيحُ ): بِرَمَضَانَ (وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ، يُسَلِّمُ مِن كُلِّ رَكْعَتَيْنِ غَيْرَ الشَّفع وَالْوِتْرِ. (وَ) نَدِبَ (الْخَتْمُ فِيهَا): أَيْ اَلتَّرَاوِيحِ، بِأَن يَقْرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا يُفَرِّقُهُ عَلَى الْعِشْرِينَ رَكْعَةً.


“(Dan Tarawih): pada bulan Ramadhan (iaitu 20 rakaat) selepas Sholat Isya’, salam pada setiap 2 rakaat selain…. Dan Witir. (Dan) Sunat (mengkhatamkan Al-Quran dalamnya): iaitu ketika Tarawih dengan cara membaca satu juzu’ pada setiap malam yang dibahagi-bahagi dalam 20 rakaat.”[38]


Al-Allamah An-Nafrawi menyebutkan pendapat yang menguatkan pendapat jumhur ulama’ (20 rakaat) dan pengikut mazhab Maliki kembali kepada pendapat ini karena ia adalah salah satu pendapat Imam Malik sendiri dengan katanya:


(كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ) وَهُمُ الصَّحَابَةُ (يَقُومُونَ فِيهِ) فِي زَمَنِ خِلاَفَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. وَبِأَمْرِهِ كَمَا تَقَدَّمَ (فِي الْمَسَاجِدَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً) وَهُوَ اِخْتِيَارُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ. وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ اْلآنَ فِي سَائِرِ اْلأَمْصَارِ. (ثُمَّ) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشْرِينَ ( يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ) مِن بَابِ تَغْلِيبِ اْلأَشْرَفِ لاَ أَنَّ الثَّلاَثَ وِتْرٌ، لأَنَّ الْوِتْرَ رَكْعَةٌ وَاحدَةٌ كَمَا مَرَّ، – إِلَى أَن قَالَ – وَاسْتَمَرَّ عَمَلَ النَّاسُ عَلَى الثَّلاَثَةِ وَالْعِشْرِينَ شَرْقًا وَغَرْبًا. (ثُمَّ) بَعْدَ وَقَعَةِ الْحَرَّةِ بِالْمَدِينَةِ (صَلُّوا) أَيْ اَلسَّلَفُ الصَّالِحُ غَيْرَ الَّذينَ تَقَدَّمُوا، لأَنَّ الْمُرَادَ بِهمْ هُنَا مَن كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ (بَعْدَ ذَلِكَ) اَلْعَدَدُ الَّذِي كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ (سِتًّا وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ) – إِلَى أَن قَالَ – : وَهَذَا اِخْتَارَهُ مَالِكٌ فِي الْمُدَوَّنَةِ وَاسْتَحْسَنَهُ. وَعَلَيْهِ عَمَلَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ. وَرَجَحَ بَعْضُ أَتْبَاعِهِ اَلأَوَّلَ الَّذِي جَمَعَ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ النَّاسَ عَلَيْهَا لاِسْتِمْرَارِ الْعَمَلِ فِي جَمِيعِ اْلأَمْصَارِ عَلَيْهِ.


“Adalah Salafus Soleh) iaitu para sahabat (mendirikan padanya) iaitu pada zaman kekhalifahan Umar bin Al-Khattab. Dan dengan arahannya seperti yang disebutkan terdahulu (untuk mendirikannya) (di masjid-masjid dengan 20 rakaat) iaitulah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, Syafi’e dan Ahmad, dan itulah yang diamalkan sekarang di seluruh tempat. (Kemudian) selepas sholat 20 rakaat (mereka mendirikan Witir dengan 3 rakaat) iaitu termasuk dalam bab melebihkan, bukanlah 3 rakaat itu dinamakan Witir, karena Witir itu 1 rakaat sahaja seperti yang telah dijelaskan…-sehinggalah kepada perkataannya- Dan berterusanlah perbuatan orang ramai dengan 23 rakaat ini, di timur dan barat. (Kemudian) selepas berlakunya kemarau di Madinah (mereka sembahyang) iaitu ‘Salafus Soleh’ bersembahyang tidak seperti yang mereka telah dilakukan. Yang dimaksudkan ‘Salafus Soleh’ di sini ialah mereka yang berada pada masa Umar bin Abdul Aziz (selepas itu) (tidak seperti) bilangan yang telah dilakukan pada masa Umar bin Al-Khattab (iaitu dalam masa Umar bin Abdul Aziz, mereka melakukannya dengan) (36 rakaat tidak termasuk genap dan Witir) – sehinggalah kepada perkataannya-: Dan inilah yang dipilih oleh Imam Malik di dalam mudawwanah dan dia menganggap ia adalah baik (iaitu 36 rakaat itu). Dan pendapat ini menjadi pegangan penduduk Madinah. Dan sebahagian pengikut Imam Malik pendapat pertama (iaitu 20 rakaat) yang mana Umar bin Al-Khattab telah mengumpul orang ramai dengan bilangan ini agar amalan ini berterusan dilakukan di seluruh tempat.”[39]


3) Mazhab Hanbali


Al-Allamah Ibn Qudamah al-Maqdisi berkata:


وَالْمُخْتَارُ عِندَ أَبِي عَبْدِ اللهِ فِيهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً. وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَّةُ وَثَلاَثُونَ. وَزَعَمَ أَنَّهُ اْلأَمْرَ الْقَدِيمَ، وَتَعَلَّقَ بِفِعْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَإِنَّ صَالِحًا مَوْلَى التَّوْأَمَةَ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ بِإِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ منْهَا بِخَمْسٍ.


“Dan (pendapat) yang dipilih di sisi Abu Abdullah (gelaran kepada Imam Ahmad bin Hanbal) padanya 20 rakaat. Dan inilah juga pendapat Sufyan Ath-Thuri, Abu Hanifah dan Syafi’e. Malik berkata: 36 (rakaat). Beliau mendakwa ia adalah perkara yang lama dan menghubungkan pendapatnya dengan perbuatan penduduk Madinah. Soleh maula kepada At-Tau’amah berkata: Aku mendapati orang ramai mendirikan (Sholat Tarawih) sebanyak 40 rakaat dan melakukan Sholat Witir 5 rakaat.”[40]


Al-Allamah Al-Bahuti menukilkan pendapat yang dipegang dalam mazhab Hanbali dengan katanya:
سُمِيَتْ بِذَلِكَ لأَنَّهُمْ يَجْلِسُونَ بَيْنَ كُلِّ أَرْبَعَ يَسْتَرِيحُونَ، وَقِيلَ مَشَقَّةٌ مِنَ الْمَرَاوَحَةِ وَهِيَ التِّكْرَارُ فِي الْفِعْلِ، وَهِيَ (عِشْرُونَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ) لِمَا رَوَى مَالِكٌ، عَن يَزِيدٍ بْنِ رُومَانَ، قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ.


“Dinamakan begitu karena mereka duduk di antara setiap 4 rakaat berehat. Dan dikatakan, kesusahan dari…. Iaitu pengulangan pada perbuatan iaitu (20 rakaat pda bulan Ramadhan) mengikut apa yang diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman berkata: “Adalah manusia mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar pada bulan Ramadhan dengan dua puluh tiga rakaat.”[41]

Pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah dan Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Wahhab
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan:


…..Syaikh Ibn Taimiyyah menyebutkan di dalam Al-Fatawa:


ثَبَتَ أَنَّ أُبَي بْنِ كَعْبٍ، كَانَ يَقُومُ بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ وَيُوَتِّرُ بِثَلاَثٍ فَرَأَى كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ لأَنَّهُ قَامَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلاَنصَارِ وَلَمْ يُنكِرُهُ مُنكِرٌ.


“Telah thabit sesungguhnya Ubay ibn Ka’ab telah mendirikan (sholat Tarawih) bersama orang ramai sebanyak 20 rakaat pada bulan Ramadhan dan dia sholat Witir dengan 3 rakaat. Maka orang ramai melihat perbuatan itu adalah sebagai sunnah karena bahawasanya dia mendirikannya di antara sahabat dari Muhajirin dan Anshar dan tidak ada seorangpun yang menegahnya.”


Di dalam Majmu’ al-Fatawa an-Najdiyyah disebutkan bahawa Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Wahhab menyebutkan di dalam jawapannya tentang bilangan rakaat Tarawih:


أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه لَمَّا جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ كَانَتْ صَلاَتُهُمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً.


“Sesungguhnya Umar ketika mengumpulkan orang ramai bersama Ubay ibn Ka’ab, adalah sholat mereka (ketika itu) sebanyak 20 rakaat.”[42]


B) Hujah kepada pendapat yang mengatakan rakaat Tarawih hanya 8 rakaat (dan menjadi 13 termasuk sholat Witir)


a) Dalil hanya 8 rakaat:


Hadits Sholat Tarawih hanya 8 rakaat (menjadi 11 rakaat termasuk 3 rakaat Witir) karena merujuk kepada hadith dari Sayyidatuna ‘Aisyah:


مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوْتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.


“Tidaklah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya lebih sebelas rakaat. Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang tiga rakaat. Kemudian aku (‘Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum sembahyang Witir?” Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.”[7]


1) Jumlah 13 rakaat bukan untuk Sholat Tarawih, tetapi sholat malam (Qiyamullail) serta Sholat Witir
Syaikh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab Dalil al-Falihin menerangkan bahwa:


“Hadith di atas adalah hadith tentang Sholat Witir karena Sholat Witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan ‘Aisyah bahwa:


مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً…


“Tidaklah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya lebih sebelas rakaat….” sedangkan sholat Tarawih atau “Qiyam Ramadhan” hanya ada pada bulan Ramadhan sahaja.” [43]


Syaikh Al-Khan mengatakan di dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i: “Sholat Tarawih hanyalah dilaksanakan pada malam bulan Ramadhan.”[44]


K.H. Siradjuddin Abbas berkata:


“Sembahyang yang dikatakan oleh Ummul Mu’minin Siti ‘Aisyah yang bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم tidak lebih dari mengerjakannya dari 11 rakaat itu ialah sembahyang Tahajjud malam hari dan Witir di belakangnya, bukan sembahyang Tarawih…”[45]


Beliau (K.H. Siradjuddin Abbas) menulis bahwa Imam Bukhari ketika meletakkan hadith ‘Aisyah ini di dalam Shahihnya, beliau (Imam Bukhari menulis):


بَابُ قِيَامِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ


“Bab pada menyatakan Qiyam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم pada waktu malam pada bulan Ramadhan dan pada bulan selainnya.”


Komentar dari beliau ialah:


“Ini petunjuk bahwa Imam Bukhari juga berpendapat bahwa sembahyang ini bukan Sembahyang Tarawih, tetapi Sembahyang Tahajjud Malam yang dikerjakan dalam bulan Ramadhan dan luar Ramadhan.”[46]


Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Anshari [47] di dalam muqaddimah kitab Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih menyebutkan:


أَمَّا حُجَّةُ مَن يَحْتَجُّ بِحَدِيثِ عَائِشَةَ مِنْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا كَانَ يَزِيدُ عَن ثَلاَثِ عَشْرَةَ رَكْعَةٍ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ، فَإِنَّهَا تَحْكِي مَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم فِي صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَبِمُفْرَدِهِ. وَهَذَا لاَ يُعَارِضُ مَا رَآهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ إِقَامَةِ صَلاَةِ اللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ بِالْجَمَاعَةِ حَيْثُ جَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ.
وَلَعَلَّ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تَحْكِى غَالِبَ مَا كَانَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَيَاتِهِ مِن قِيَامِ اللَّيْلِ وَكَانَ ذَلِكَ تَيْسِيرًا عَلَى أُمَّتِهِ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: (( إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ…))


“Adapun hujah orang yang berhujah dengan hadith ‘Aisyah di mana sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah menambah lebih dari 13 rakaat pada Ramadhan dan tidak pula pada luar Ramadhan, maka dia (Sayyidatuna ‘Aisyah) bahawasanya menceritakan apa yang termasuk dalam amalan sholat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan apa yang dikerjakan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم secara sendirian[48]. Dan ini (apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah) tidaklah menyalahi (membatalkan) apa yang diijtihadkan oleh Umar bin Al-Khattab untuk mendirikan sholat malam pada bulan Ramadhan secera berjemaah di mana dia mengumpulkan mereka dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab.


Dan bolehlah dianggapkan bahawa Ummul Mukminin (dalam mengatakan tentang 13 rakaat itu) menceritakan apa yang selalu dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dalam hidup Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dalam qiyamullail, dan itu adalah karena Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم inginkan keringanan ke atas umat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم seperti yang dinashkan tentangnya oleh Al-Quran al-Karim dalam firman Allah Ta’ala mafhumnya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahawasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam….(Surah Al-Muzammil: 20).”[49]


Mungkin juga hadith Sayyidatuna ‘Aisyah menunjukkan Sholat Witir karena ia adalah sholat malam yang dilaksanakan dengan 1 atau 3 atau 5 atau 7 atau 9 atau 11, yang dilakukan selepas sholat Isya’, dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan luar Ramadhan [50].


Al-Mukarram H.M.H. Alhamid Alhusaini di dalam bukunya Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah[51] mengatakan bahawa hadith ‘Aisyah tidak boleh dijadikan alasan karena 2 sebab:
1- Hadith daripada ‘Aisyah menunjukkan apa yang dilihat oleh ‘Aisyah ketika giliran Baginda صلى الله عليه وآله وسلم di rumahnya pada malam-malam tertentu sahaja karena Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mempunyai isteri-isteri lain. Kemungkinan bilangan rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumah isteri-isteri Baginda صلى الله عليه وآله وسلم yang lain adalah lebih dari itu. Perkara ini tidak mustahil karena perkara lain pernah berlaku kepada ‘Aisyah umpamanya dalam Sholat Dhuha.
Di dalam hadith dari ‘Aisyah menyebutkan:


مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي سَبْحَةَ الضُّحَى، وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا – أَيْ لأُصَلِّيهَا – وَإِن كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِيَدْعَ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَن يَعْمَلَ خَشْيَةً أَن يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضُ عَلَيْهِمْ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang Sholat Dhuha sama sekali. Dan aku sendiri mendirikan sembahyang Dhuha. Dan walaupun Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri sebenarnya menyukainya tetapi Baginda صلى الله عليه وآله وسلم meninggalkannya karena khuwatir orang ramai akan melakukannya lalu (nantinya) akan difardhukan ke atas mereka.”[52]


Walau bagaimana pun, terdapat hadith lain yang jelas menunjukkan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mendirikan Sholat Dhuha dan menganjurkan Abu Hurairah agar tidak meninggalkannya. Di dalam hadith dari Abu Hurairah disebutkan:


أَوْصَانِي حَبِيبِي بِثَلاَثٍ لَنْ أَدْعُهُنَّ مَا عِشْتُ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ كُلَّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَن لاَّ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ


“Kekasihku (Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) telah mewasiatkanku 3 perkara, tidak sekali-kali aku meninggalkannya selagi masih hidup: agar berpuasa 3 hari setiap bulan, Sholat Dhuha dan tidak tidur sehingga sholat Witir terlebih dahulu.”[53]


Di dalam hadith dari Abd ar-Rahman bin Abi Laila menyebutkan:


مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى إِلاَّ أُمُّ هَانِئ، فَإِنَّهَا حَدَثَتْ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَصَلَّى ثَمَانِي رَكَعَات مَا رَأَيْتُهُ قَطٌّ صَلَّى صَلاَةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ


“Tidak ada seorang pun yang pernah memberitahu kepadaku bahawa dia pernah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang Dhuha melainkan Ummu Hani’, sesungguhnya dia berkata: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم masuk ke rumahnya pada hari pembukaan Makkah, lalu sholat 8 rakaat. Aku tidak pernah melihat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sholat lebih ringan daripada sholat yang aku lihat itu, beliau ruku’ dan sujud dengan sempurna.”[54]


Pernyataan Sayyidatuna ‘Aisyah bahawa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah bersembahyang Dhuha adalah berdasarkan apa yang dilihatnya di rumahnya. Walau bagaimana pun, di tempat lain, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memang ada melakukannya.


2) Hadith lain menunjukkan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam lebih dari 11 rakaat.
Hadith dari Ibn Abbas mengatakan:


كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً سِوَى الْمَكْتُوبَةِ


“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam 13 rakaat.”[55]


Hadith dari Ali bin Abi Tholib pula menyatakan:


كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً


“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam 16 rakaat selain sholat wajib.”


Dalam hadith dari Zaid bin Khalid al-Jahni pula mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam sebanyak 13 rakaat [56]


Semua hadith ini menunjukkan bahawa sembahyang malam Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم lebih dari 11 rakaat, tidak sama dengan bilangan rakaat yang disebutkan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah.


2) Kedudukan istimewa para sahabat 


Pendapat dan kedudukan para sahabat adalah sangat istimewa yang harus diikuti oleh umat Islam. Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم:


فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِن بَعْدِي

“Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunatku
dan sunat al-Khulafa’ Ar-Rasyidun sesudah aku.”[57]


Oleh itu, Sayyiduna Umar tidak mungkin mengada-adakan sesuatu tanpa ada asas pendapat dari Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم karena para sahabat semuanya sepakat mengerjakan Tarawih dengan 20 rakaat pada zaman Umar dan selepasnya dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Ini dinama “ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ السُّكُوتِي “ (Sepakat para sahabat menerimanya walaupun tidak menyuarakan pendapat mereka ketika bersetuju tentangnya).


Al-Allamah Taqiy ad-Din Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hushni ketika menyebutkan tentang ijtihad Sayyiduna Umar menyuruh 20 rakaat itu menyatakan di dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar:


وَأَجْمَعَ الصَّحَابَةُ مَعَهُ عَلَى ذَلِكَ


“Dan para sahabat telah ijma’ bersama (pendapat)nya atas perkara itu (mengerjakan Tarawih 20 rakaat secara berjemaah dengan dipimpin oleh seorang imam di masjid).” [58]


K.H. Siradjudin Abas menulis:


“Saidina Umar, seorang Sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang dipercayai Khalifah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang kedua memerintahkan 20 rakaat. Ini berarti bahwa beliau mengetahui bahwa banyaknya sembahyang Tarawih Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, baik di mesjid atau di rumah sebanyak 20 rakaat. Kalau tidak, tentu Saidina Umar tidak akan memerintahkan begitu. Ini namanya riwayat hadits dengan perbuatan. Kita ummat Islam disuruh oleh Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengikuti Saidina Abu Bakar dan Umar.”[59]


Drs. K.H. Achmad Masduqi Machfudh dalam tulisannya telah menukilkan pendapat yang ditulis oleh Almarhum K.H. Ali Ma’sum Krapyak, Yogyakarta dalam bukunya berjudul Hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah:


“…..Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه Beliau menjelaskan, “Sholat Tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar رضي الله عنه tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Beliau tidak memerintahkan sholat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya iaitu dari Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.”[60]


3) Jika benar jumlah 11 rakaat itu untuk Sholat Tarawih (dan Witir), ia adalah apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah saja.


Sebahagian yang lain mengatakan, jumlah yang dikatakan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah, karena mungkin itulah dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah ketika giliran Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumahnya. Kemungkinan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakannya lebih daripada lapan rakaat pada malam lain ketika giliran Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersama isteri-isteri lain [61]


Renungan:


Syaikh Ali Jum’ah ketika menjawab persoalan berapa rakaat Tarawih ini menyebutkan di awal jawabannya:


“Bahwa terdapat golongan yang dengan lantang menyalahkan para Aimmah (Imam-imam mazhab) dan umat yang terdahulu, mengingkari mereka dengan ingkar yang keras dan menuduh para Aimmah dan umat ini melakukan bid’ah (dhalalah). Mereka juga mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dengan kata mereka: “Tidak boleh menambah lebih dari 8 rakaat pada Sholat Tarawih”. “[62]
Beliau menulis lagi:


وَلَمْ تَعْرِفِ اْلأُمَّةُ الْقَوْلَ بِأَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ ثَمَانُ رَكَعَاتٍ إِلاَّ فِي هَذَا الزَّمَانِ، وَسَبَبُ وُقُوعِهِمْ فِي تِلْكَ الْمُخَالَفَةِ اَلْفَهْمُ الْخَاطِئُ لِلسُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ، وَعَدَمُ قُدْرَتِهِمْ عَلَى الْجَمْعِ بَيْنَ اْلأَحَادِيثِ، وَعَدَمُ اِلْتِفَاتِهِمْ إِلَى اْلإِجْمَاعِ الْقَوْلِي وَالْفِعْلِي مِن لَّدُنِ الصَّحَابَةِ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا، فَاسْتَشْهَدُوا بِحَدِيثِ عَائِشَةَ رضي الله عنها…


“Dan umat Islam tidak pernah tahu adanya pendapat yang mengatakan bahawasanya Sholat Tarawih itu 8 rakaat kecuali pada zaman ini (zaman moden ini). Dan sebab terjatuhnya mereka ke dalam perkara khilafiyyah itu ialah karena kefahaman yang salah kepada sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, ketidak upayaan (ilmu) mereka dalam menghimpunkan antara hadith-hadith dan keengganan mereka merujuk kepada ijma qauli (perkataan) dan ijma’ fi’li (perbuatan) yang berlaku dari zaman para sahabat sehinggalah ke zaman kita ini, lalu mereka terus berhujah dengan hadith Sayyidatuna Aisyah…”[63]


Beliau seterusnya memberi komentar tentang golongan yang keras ini dengan katanya:


إِن لَمْ يَكُن مُسْتَنِدُ الأُمَّةِ فِعْلَ سَيِّدنَا عُمَرَ فَلِمَ تُؤَدِّي التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى إِمَامٍ وَاحِدٍ، وَكَأَنَّ هَؤُلاَءِ يَأْخُذُونَ مِن سُنَّةِ سَيِّدِنَا عُمَرَ جَمْعَ النَّاسِ عَلَى إِمَامٍ طَالَ الشَّهْرُ وَهُوَ مَا لَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَيَتْرُكُونَ عَدَدَ الرَّكَعَاتٍ وَيَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يُطَبِّقُونَ السُّنَّةَ فَإِن كَانَ هَذَا صَحِيحًا، وَأَنتُمْ لاَ تلتفوا لِفعْلِ سَيِّدِنَا عُمَرَ فَيَجبُ عَلَيْكُمْ أَن تُصَلُّوا التَّرَاويحَ فِي الْبَيْتِ وَتَتْرُكُوا النَّاسَ يُطَبِّقُونَ دِينَ اللهِ كَمَا وَرَثُوهُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.


“Jika tidak berlaku sandaran umat kepada perbuatan Sayyiduna Umar, kenapakah umat Islam menunaikan Sholat Tarawih secara berjemaah di masjid di belakang seorang imam?[64]. 
Dan adalah mereka[65] itu seolah-olah mengambil salah satu sunah (perlakuan) Sayyiduna Umar umpamanya mengumpulkan orang ramai di belakang seorang imam (untuk sembahyang Tarawih) sepanjang bulan Ramadhan, sedangkan perkara ini tidak pernah dilakukan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم [66] dan mereka meninggalkan bilangan rakaat[67]. Mereka mendakwa bahawa mereka mengikut sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم walau pun memang betul (jika mengikut sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم sebab ia adalah ajaran Islam). Dan kamu[68] (jika) tidak memilih perbuatan Sayyiduna Umar, maka hendaklah kamu bersembahyang Tarawih di rumah[69] dan biarkanlah orang ramai mengikut agama Allah (Islam) seperti yang mereka warisi dari para ulama’ mereka. Tidak ada daya (meninggalkan maksiat) dan kekuatan (melakukan ketaatan) melainkan dengan kekuasaan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”[70]


Kesimpulan:

1. Pendapat yang paling kuat tentang jumlah rakaat sholat Tarawih adalah 20 rakaat. Inilah yang dipilih oleh ulama’ Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah [71] Ia telah menjadi ittifaq empat mazhab dan menjadi ijma’ di kalangan ulama’[72]. Walau bagaimana pun, kepada sesiapa yang melaksanakan Sholat Tarawih 8 rakaat (menjadi 11 termasuk 3 rakaat Witir), juga mempunyai asasnya.


2. Hadith yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah di atas lebih menunjukkan sunnahnya perlaksanaan sholat-sholat Sunat pada waktu malam (Nafilah Qiyam al-Lail) dan bukannya sunnahnya perlaksanaan Sholat Tarawih [73].


3. Jumlah rakaat Tarawih ini hanyalah masalah furu’iyyah/ khilafiyyah yang tidak seharusnya menimbulkan bimbit-bimbit perpecahan di dalam masyarakat terutamanya masyarakat Islam di Malaysia yang sejak dahulu lagi sudah melaksanakan Sholat Tarawih dengan 20 rakaat.


4. Pendapat yang mengatakan bid’ah (dhalalah) orang yang mengerjakan Sholat Tarawih lebih dari 8 rakaat atau “ia seperti menambah Sholat Zohor menjadi 5 rakaat”, adalah pendapat yang kurang cermat dalam beristidlal. Hendaklah kita sentiasa insaf dan menyedari kemampuan keilmuan diri sendiri di bandingkan dengan ketokohan, keluasan ilmu, kefahaman dan bashirah serta ketinggian ubudiyyah para ulama’ mu’tabar terdahulu dan sekarang.


5. Bulan Ramadhan ialah bulan beramal yang seharusnya amal ubudiyyah ditingkat dan digandakan karena ganjaran besar yang dijanjikan Allah. Secara zahirnya, tentulah semakin banyak amal kebajikan dibuat, maka semakin besarlah juga ganjaran pahalanya. Walau bagaimana pun, setiap amalan mestilah disertai dengan ikhlas.


Antara tulisan yang boleh dirujuk dalam masalah ini ialah Al-Mashabih fi Solah at-Tarawih [74], karangan Imam Sayuthi, Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih[75], karangan Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Tahqiq Ahkam Ba’dh Ummahat as-Solawat an-Nafilah[76], karangan Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan[77], karangan Syaikh Ali Jum’ah dan Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah[78], H.M.H. Alhamid Alhusaini lain-lain.


Bagi mereka yang inginkan penjelasan lebih jelas tentang hadith Sholat Tarawih dan perbahasannya secara ilmiah dan mudah serta pendapat golongan yang mengharamkan lebih rakaat pada Sholat Tarawih dan jawapan kepada pendapat ini, bolehlah merujuk buku Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala Al-Albani fi Tadh’ifih (Membetulkan Hadith Sholat Tarawih 20 Rakaat dan Penolakan atas Al-Albani karena Mendhaifkannya), karangan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari, anggota Dewan Mufti (Dar al-Ifta’), Kerajaan Arab Saudi.


Catatan Kaki:


1 – Jawaban ini dinukilkan sepenuhnya daripada buku Menjawab Persoalan Khilafiyyah, tulisan dan susunan Al-Faqir, Ustaz Muhadir bin Haji Joll. (Buku ini akan berada di pasaran sedikit masa lagi, InsyaAllah).


2 – sunat yang sangat dituntut untuk mengerjakannya bagi lelaki dan perempuan.


3 – Lihat Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M, ms. 38.


4 – Ibid, ms. 49-50.


5 – Lihat Lisan al-Arab, 1/615, perkataan: رَوَحَ rawaha.


6 – Lihat dalam Nail al-Author, 3/289.


7 – Muttafaq alaih dan An-Nasa’i.


8 – Riwayat Al-Bukhari dan Muslim.


9 – Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thobrani dan Abd bin Humaid. Walau bagaimana pun, Imam Sayuthi mengatakan: “Hadith ini Dhaif jiddan (terlalu dhaif) tidak boleh digunakan untuk berhujah”. (Lihat Al-Mashabih fi Solah at-Tarawih di dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, Bogor: Ma’had az-Zain al-Makki al-Ali li at-Tafaqquh fi ad-Din, Cetakan Pertama, 1428H/2007M, ms. 172. Kitab Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah ini adalah susunan Syaikhuna, Al-Faqih Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki. Kitab berbahasa Arab ini setebal 592 muka surat. Syaikh Muhammad Nuruddin telah mengumpul dan menyusun sebanyak 15 buah risalah dan 25 buah perbahasan yang diambil dari kitab-kitab tulisan para ulama’ muktabar termasuklah Al-Allamah al-Imam Ibn Al-Mulqan (guru Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani), Imam Al-Hafiz Jalal ad-Din as-Sayuthi, Al-Allamah Yusuf ad-Dijwi, Al-Allamah Zahid Al-Kauthari, Al-Allamah Syaikh Ismail Uthman Zain al-Yamani dan Al-Allamah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki).


10 – As-Sunan al-Kubra, Al-Baihaqi, pada bab Apa yang diriwayatkan Tentang Bilangan Rakaat Qiyam pada Bulan Ramadhan, 2/496.


11 – Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala al-Albani fi Tadh’ifih, karangan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari, ms. 7.


12 – Riwayat Al-Baihaqi. Imam Nawawi di dalam Khulashah mengatakan Isnadnya shahih.


13 – Riwayat Malik dalam Al-Muwaththo’.


14 – Ibn Qudamah di dalam Al-Mughni mengatakan bahawa ia diriwayatkan oleh Abu Daud.


15 – Lihat 40 Masalah Agama, K.H. Siradjuddin Abbas, Jakarta: Pustaka Tarbiyah Jakarta, 1425H/ 2005M, 1/318.


16 – Surah Al-Hajj: 77.


17 – Riwayat Al-Bukhari.


18 – Sabil al-Muhtadin li At-Tafaqquh bi Amr al-Din, Al-Imam Al-Allamah Syaikh Muhammad Ahmad bin Abdullah al-Banjari, Thailand: Maktabah wa Matba’ah Muhammad al-Nahdi wa Auladih, t.t, 1/11.


19 – Riwayat Ibn Khuzaimah di dalam Shahihnya.


20 – Lihat 40 Masalah Agama, 1/324.


21 – 3/527.


22 – Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni hafizahullah ialah seorang ulama’ besar dan ahli tafsir yang sangat terkenal karena ilmu dan wara’nya, dari Makkah. Beliau pernah menyandang jawatan Ketua Fakulti Syari‘ah di Universiti Umm al-Qura’, Makkah. Beliau mengarang banyak kitab terutamanya dalam bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulum al-Qur’an) yang menjadi rujukan ulama’ seluruh dunia termasuklah Mukhtashar Tafsir Ath-Thobari, Mukhtashar Tafsir Ibn Kathir, At-Tafsir wa ‘Ulum al-Qur’an, Shafwah at-Tafasir, At-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam dan Qabas Min Nur al-Qur’an. Beliau mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Al-Marhum, Al-Allamah Al-Muhaddith Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki semasa beliau masih hidup.


23 – Lihat Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M, ms. 54.


24 – Lihat Mughni al-Muhtaj, 1/226.


25 – Lihat Al-Mahalli, 1/217.


26 – Lihat Nihayah al-Muhtaj, 2/127.


27 – 1/360. Lihat juga di dalam I’anah ath-Tholibin, 1/265.


28 – 1/56.


29 – As-Solah ala al-Mazahib al-Arba’ah, Syaikh Abd al-Qadir Ar-Rahbawi, Al-Qahirah: Dar as-Salam, Cetakan Kedua, 1403H/1983M, ms. 169.


30 – Beliau adalah antara ulama’ besar Islam yang masih hidup pada zaman ini. Beliau mempunyai sanad keempat-empat mazhab. Beliau banyak menulis kitab-kitab yang sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesucian aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Antara gurunya yang masyhur ialah Al-Allamah al-Muhaddith, Syaikh Abdullah bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari dan Al-Allamah al-Muhaddith al-Muhaqqiq Syaikh Abd al-Fattah Abu Ghuddah.


31 – ms. 265-266.


32 – 1/276.


33 – ms. 66.


34 – Ibid, ms. 73.


35 – Al-Mabsuth, As-Sarakhsi, 2/144.


36 – Bada’i’ ash-Shana’i’, Al-Kasani, 1/288.


37 – Radd al-Mukhtar ‘ala Ad-Durr al-Mukhtar yang dikenali dengan Hasyiah Ibn Abidin, 2/46.


38 – Asy-Syarh ash-Shaghir, Ad-Dardir, di tepinya ada Hasyiah Al-Allamah Ash-Shawi, 1/404-405.


39 – Al-Fawakih ad-Dawani, An-Nafrawi, 1/318-319.


40 – Al-Mughni, 1/456.


41 – Riwayat Malik dalam Al-Muwaththo’. Lihat Kasysyaf al-Qina’, Al-Bahuti, 1/425.


42 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, ms. 70-71.


43 – 3/659. Lihat juga dalam Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala al-Albani fi Tadh’ifih, ms. 13.


44 – Damasyq: Maktabah Dar al-Qalam, 1998, ms. 238.


45 – 40 Masalah Agama, 1/324.


46 – Ibid, 1/325.


47 – Mudir (Ketua), Yayasan Ihya’ at-Turath al-Islami, Doha, Qatar.


48 – Ia membawa maksud bahawa apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah sebanyak 13 rakaat itu ialah apa yang hanya dilihatnya di rumahnya dan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakannya secara bersendirian, bukanlah seperti bilangan rakaat yang dikerjakan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم secara berjemaah di masjid karena Nabi صلى الله عليه وآله وسلم selalu mengerjakan sholat di masjid.


49 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, ms. 8-9.


50 – Lihat Landasan Amaliyah NU, Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama’, Jombang: Darul Hikmah, Cetakan Kedua, 2008, ms. 50.


51 – Semarang: C.V. Toha Putera, Cetakan Pertama, 1986M, ms. 219-224.


52 – Riwayat Muslim.


53 – Riwayat Muslim.


54 – Riwayat Muslim.


55 – Riwayat Muslim.


56 – Riwayat Muslim.


57 – Musnad Imam Ahmad.


58 – Kifayah al-Akhyar, tahqiq, takhrij dan ta’liq oleh Ali Abd al-Hamid Abu al-Khair dan Muhammad Wahbi Sulaiman, Bairut: Dar al-Khair, Cetakan Pertama, 1417H/1996M, ms. 112.


59 – 40 Masalah Agama, 1/319.


60 – ms. 24-40.


61 – Al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami ad-Daqiq (Salah Faham Terhadap Bid’ah), Dr. Abdul Malik bin Abdur Rahman as-Sa’adi, terjemahan Muhammad Fadhli bin Ismail, Kuala Lumpur: Darul Nu’man, Cetakan Pertama, 2002M, ms. 193.


62 – Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, Syaikh Ali Jum’ah, Al-Qahirah: Al-Maqthum, Cetakan Pertama, 1425H/2005M, ms. 265.


63 – Ibid, ms. 266.


64 – Umat Islam sejak dahulu lagi memang mengikut ijtihad Sayyiduna Umar ini. Sebab itulah mereka menunaikan Sholat Tarawih secara berjemaah di masjid-masjid.


65 – iaitu orang yang mengatakan menambah rakaat Tarawih lebih dari 8 rakaat adalah bid’ah (dhalalah)


66 – iaitu Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah melakukan atau menyuruh orang orang ramai 
bersembahyang Tarawih dengan dipimpin oleh seorang imam sepanjang bulan Ramadhan.


67 – iaitu tidak mengikut 20 rakaat seperti yang disuruh oleh Sayyiduna Umar.

68 – iaitu golongan yang membid’ahkan (dhalalah)orang yang sembahyang Tarawih 20 rakaat atau 36 rakaat


69 – Di sini ada dua maksud; pertama: karena Nabi صلى الله عليه وآله وسلم selepas sembahyang Tarawih beberapa malam di masjid, Nabi صلى الله عليه وآله وسلم terus melaksanakannya hanya di rumah dan kedua: orang sedemikian seharusnya tidak membuat masyarakat Islam yang sudah beramal dengan panduan para ulama’ sejak dahulu lagi menjadi bingung karena pendapat mereka (golongan ini) yang ganjil.


70 – Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 266.


71 – Hukum-Hukum Islam Menurut Empat Mazhab, Kiyai Hj. Ab. Hamid Sulaiman, Selangor: Kunjungan Kreatif Sdn. Bhd., Cetakan Pertama, 1995, ms. 76. Lihat juga Al-Kalim ath-Thoyyib: Fatawa ‘Ashriyyah (Fatwa-fatwa Kontemporari), Syaikh Ali Jum’ah, terjemahan H. Hasanuddin Dolah, H. Ribut Hasanuddin Batubara dan H. Muhammad Zuhirsyam, Selangor: Berlian Publications Sdn. Bhd., Cetakan Pertama, 2008,1/51 dan Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah, ms. 201-224.


72 – Lihat seperti yang dinukilkan oleh Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni di dalam kitabnya Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih di atas.


73 – Lihat pendapat dari Syaikh Ali Jum’ah ini di dalam Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 266.


74 – Lihat Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms. 172-178.


75 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M.


76 – Tahqiq Ahkam Ba’dh Ummahat as-Selawat an-Nafilah, Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, ta’liq dan takhrij Mahy ad-Din Husain Yusuf al-Asnawi, Mishr: Dar Ihya’ at-Turath ash-Shufi, Cetakan Kelima, 2002M, ms. 50-58.


77 – Lihat Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 265-270.


78 – ms. 201-218





wallohu a'lam wa ilahil musta'an
Jumat, Juli 27, 2012 | 0 komentar | Read More