SEBUTLAH DALAM HATIMU.....!!!

عليكم بـــــــــــــ

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'ah

SMS GRATIS

CINTA...!!

MENGENALMU ADALAH SUATU ANUGERAH..
MENYAKITIMU ADALAH SUATU LARANGAN..

MENDAMPINGI HIDUPMU ADALAH SUATU KEBAHAGIAAN..

MENINGGALKANMU ADALAH SUATU KEBODOHAN..

SEBUAH PESAN

Seorang Guru Pernah Berkata :

indahnya kehidupan bila kita dapat membagi dengan adil antara kesibukan dan menghamba kepada alloh ,dan pasti kita kan mendapati bahwa semua waktu kita di dunia ini adalah hanya milik alloh SWT

Ingin Mencari Sesuatu, clik kata kunci disini

Popular Posts Today

Mengenal Sosok Wanita Idaman Nan Agung (Robi'ah Al adawiyyah part 01)

Oleh : Santri Salaf

Mengenal Allah dengan Cinta
Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya. Sebelum menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.” Ayah dan ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi’ah. Makanan yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi’ah dengan pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum, si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika tidak ada lagi yang bisa kita peroleh kecuali barang yang haram?” Rabi’ah menjawab: “Biar saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baik daripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka.” Ayahnya tentu saja sangat heran mendengar jawaban Rabi’ah, karena jawaban seperti itu hanya didengarnya di majelis-majelis yang dihadiri oleh para sufi atau orang-orang saleh. Tidak terpikir oleh ayahnya, bahwa Rabi’ah yang masih muda itu telah memperlihatkan kematangan pikiran dan memiliki akhlak yang tinggi (Abdul Mu’in Qandil).
Penggalan kisah di atas sebenarnya hanya sebagian saja dari kemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.
Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah. Untuk menjelaskan bagaimana Cinta Rabi’ah kepada Allah, tampaknya agak sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Dengan kata lain, Cinta Ilahi bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti, baik melalui kata-kata maupun simbol-simbol. Para sufi sendiri berbeda-beda pendapat untuk mendefinisikan Cinta Ilahi ini. Sebab, pendefinisian Cinta Ilahi lebih didasarkan kepada perbedaan pengalaman spiritual yang dialami oleh para sufi dalam menempuh perjalanan ruhaninya kepada Sang Khalik. Cinta Rabi’ah adalah Cinta spiritual (Cinta qudus), bukan Cinta al-hubb al-hawa (cinta nafsu) atau Cinta yang lain. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H) membagi Cinta menjadi empat bagian.
Pertama, mencintai Allah. Dengan mencintai Allah seseorang belum tentu selamat dari azab Allah, atau mendapatkan pahala-Nya, karena orang-orang musyrik, penyembah salib, Yahudi, dan lain-lain juga mencintai Allah.
Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Cinta inilah yang dapat menggolongkan orang yang telah masuk Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Manusia yang paling Cintai adalah yang paling kuat dengan cinta ini.
Ketiga, Cinta untuk Allah dan kepada Allah. Cinta ini termasuk perkembangan dari mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
Keempat, Cinta bersama Allah. Cinta jenis ini syirik. Setiap orang mencintai sesuatu bersama Allah dan bukan untuk Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan sesuatu selain Allah. Inilah cinta orang-orang musyrik.
Pokok ibadah, menurut Ibnu Qayyim, adalah Cinta kepada Allah, bahkan mengkhususkan hanya Cinta kepada Allah semata. Jadi, hendaklah semua Cinta itu hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain bersamaan mencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu itu hanyalah karena Allah dan berada di jalan Allah.
Cinta sejati adalah bilamana seluruh dirimu akan kau serahkan untukmu Kekasih (Allah), hingga tidak tersisa sama sekali untukmu (lantaran seluruhnya sudah engkau berikan kepada Allah) dan hendaklah engkau cemburu (ghirah), bila ada orang yang mencintai Kekasihmu melebihi Cintamu kepada-Nya. Sebuah sya’ir mengatakan:
Aku cemburu kepada-Nya,
Karena aku Cinta kepada-Nya,
Setelah itu aku teringat akan kadar Cintaku,
Akhirnya aku dapat mengendalikan cemburuku
Oleh karena itu, setiap Cinta yang bukan karena Allah adalah bathil. Dan setiap amalan yang tidak dimaksudkan karena Allah adalah bathil pula. Maka dunia itu terkutuk dan apa yang ada di dalamnya juga terkutuk, kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya
Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).
Dari sekian banyak penulis biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Awliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai buku biografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah, terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin itu (tapi ada yang menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya termasuk keturunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smith dalam bukunya Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah disertasi, terbitan Cambridge University Press, London, 1928), antara lain banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
Diceritakan, sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnya sama sekali tidak ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasuk kain pembungkus untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.”
Aththar juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Suatu hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridla terhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga.”
Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci.
Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Dalam pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati di tengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah dan mereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barang miliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan tak ingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.
Orang-orang itu pun memahami keinginan Rabi’ah, sehingga mereka meneruskan perjalanannya. Rabi’ah terdiam dan kemudian menundukkan kepalanya sambil berdoa, “Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukan dengan seorang perempuan asing dan lemah ini? Engkau-lah yang memanggilku ke rumah-Mu (Ka’bah), tetapi di tengah jalan Engkau mengambil keledaiku dan membiarkan aku seorang diri di tengah padang pasir ini.”
Setelah asyik bermunajat, di depan Rabi’ah tampak keledai yang semula mati itu pun hidup kembali. Rabi’ah tentu saja gembira karena bisa meneruskan perjalannya ke Mekkah.
Dalam cerita yang berbeda disebutkan, saat Rabi’ah berada di tengah padang pasir, ia berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku. Hatiku ini merasa bingung sekali, ke mana aku harus pergi? Aku hanyalah debu di atas bumi ini dan rumah itu (Ka’bah) hanyalah sebuah batu bagiku. Tampakkanlah wajah-Mu di tempat yang mulia ini.” Bgeitu ia berdoa sehingga muncul suara Allah dan langsung masuk ke dalam hatinya tanpa ada jarak, “Wahai Rabi’ah, ketika Musa ingin sekali melihat wajah-Ku, Aku hancurkan Gunung Sinai dan terpecah menjadi empat puluh potong. Tetaplah berada di situ dengan Nama-Ku.”
Diceritakan pula, saat Rabi’ah dalam perjalanannya ke Mekkah, tiba-tiba di tengah ia melihat Ka’bah datang menghampiri dirinya. Rabi’ah lalu berkata, “Tuhanlah yang aku rindukan, apakah artinya rumah ini bagiku? Aku ingin sekali bertemu dengan-Nya yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang mendekati Aku dengan jarak sehasta, maka Aku akan berada sedekat urat nadinya.’ Ka’bah yang aku lihat ini tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap diriku, kegembiraan apa yang aku dapatkan apabila Ka’bah yang indah ini dihadapkan pada diriku?” Singkat cerita, sekembalinya Rabi’ah dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia kemudian menetap di Basrah dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah seraya melakukan perbuatan-perbuatan mulia.
Sebagaimana yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ah al-Adawiyah, wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurut Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah.
Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”
Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w. 172 H). Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki pendapatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, ”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”
Dalam kisah lain disebutkan, ada laki-laki sahabat Rabi’ah bernama Hasan al-Bashri yang juga berniat sama untuk menikahi Rabi’ah. Bahkan para sahabat sufi lain di kota itu mendesak Rabi’ah untuk menikah dengan sesama sufi pula. Karena desakan itu, Rabi’ah lalu mengatakan, “Baiklah, aku akan menikah dengan seseorang yang paling pintar di antara kalian.” Mereka mengatakan Hasan al-Bashri lah orangnya.” Rabi’ah kemudian mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan bersedia menjadi istrimu.” Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.”
“Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.”
“Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.”
“Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.”
“Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu.
Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.
Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergoda sedikit pun oleh berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan sesama manusia. Meskipun demikian, disebutkan bahwa Rabi’ah memiliki sejumlah sahabat pria, dan sangat sedikit sekali ia bersahabat dengan kaum perempuan. Di antara sahabat-sahabat Rabi’ah yang cukup dekat misalnya Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi Mesir yang memperkenalkan ajaran doktrin ma’rifat. Sufi ini meninggal pada tahun 856 M dan sempat bersahabat dengan Rabi’ah selama kurang lebih setengah abad. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa pertemuan antara Dzun Nun al-Mishri dengan Rabi’ah ini terjadi sejak awal-awal usianya.
Di kalangan para sahabat sufi-nya itu, Rabi’ah banyak sekali berdiskusi dan berbincang tentang Kebenaran, baik siang maupun malam. Salah seorang sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri, misalnya menceritakan: “Aku lewati malam dan siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah, berdiskusi tentang Jalan dan Kebenaran, dan tak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku adalah seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, tak pernah ada dalam pikirannya bahwa ia seorang perempuan, dan akhirnya aku menengok dalam diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku tak memiliki apa-apa, yaitu secara spiritual aku tidak berharga, Rabi’ah-lah yang sesungguhnya sejati.
Dalam kisah lain, diceritakan bahwa pada suatu hari Rabi’ah melewati lorong rumah Hasan al-Bashri. Hasan melihatnya melalui jendela dan menangis, hingga air matanya jatuh menetes mengenai jubah Rabi’ah. Ia menengadah ke atas, dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, dan ketika ia menyadari bahwa itu air mata sahabatnya, lalu dihampirinya sahabat yang sedang menangis tersebut seraya berkata, “Wahai guruku, air itu hanyalah air mata kesombongan diri saja dan bukan akibat dari melihat ke dalam hatimu, di mana dalam hatimu air itu akan membentuk sungai yang di dalamnya tidak akan engkau dapati lagi hatimu, kecuali ia telah bersama dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Setelah mendengar kata-kata Rabi’ah itu, Hasan tampak hanya bisa berdiam diri.
Di kalangan para sahabatnya, kehidupan Rabi’ah dirasakan banyak memberi manfaat. Hal ini dikarenakan Rabi’ah banyak sekali memperhatikan kehidupan mereka. Perhatian Rabi’ah yang cukup besar kepada para sahabatnya itu, misalnya saja dibuktikan dengan kisah sebagai berikut: Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang meminta agar Rabi’ah mendoakan untuk dirinya. Tapi permohonan itu dibalas oleh Rabi’ah dengan rasa rendah hati, “Wahai, siapakah diriku ini? Turutlah perintah Allah dan berdoalah kepada-Nya, sebab Dia akan menjawab semua doa bila engkau memohonnya.”

Ke-zuhud-an (Kebencian Terhadap Dunia) Rabi’ah al-Adawiyah
Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar hati-hatinya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, tetapi sebaliknya Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya. Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.
Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan secara konsisten. Pernah misalnya Al-Jahiz, seorang sufi generasi tua, menceritakan bahwa beberapa dari sahabatnya mengatakan kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan kepada salah seorang keluargamu, pasti mereka akan memberimu seorang budak, yang akan melayani kebutuhanmu di rumah ini.” Tetapi ia menjawab, “Sungguh, aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini, bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini?” Tiba-tiba terdengar suara mengatakan:
“Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam kalbumu, sebab Aku tak mungkin berada di dalam kalbu yang memiliki dunia ini. Wahai Rabi’ah, Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”
Rabi’ah kemudian mengatakan, “Ketika mendengar peringatan itu, kutanggalkan hati ini dari dunia dan kuputuskan harapan duniawiku selama tiga puluh tahun. Aku salat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka akau katakana, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata. Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas tikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malik menjawab, “Ya, memang sama.” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?” Malik menyahut, “Tidak.” Rabi’ah lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”
Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lain agar ia hanya lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya. Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”
Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah
Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufi tak ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.
Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.”
Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.”
Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalam salah satu sya’ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi’ah kepada Teman dan Kekasihnya itu:
Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.
Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah dan ma’rifat. Namun begitu, sebelum sampai ke tahapan maqam tersebut, Rabi’ah terlebih dahulu melampaui tahapan-tahapan lain, antara lain tobat, sabar dan syukur. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. 5: 59).
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.
Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.
Abu Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di atas mengatakan, dalam Cinta rindu itu, Rabi’ah telah melihat Allah dan mencintai-Nya dengan merenungi esensi kepastian, dan tidak melalui cerita orang lain. Ia telah mendapat kepastian (jaminan) berupa rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Cintanya telah menyatu melalui hubungan pribadi, dan ia telah berada dekat sekali dengan-Nya dan terbang meninggalkan dunia ini serta menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya, menanggalkan duniawi kecuali hanya kepada-Nya. Sebelumnya ia masih memiliki nafsu keduniawian, tetapi setelah menatap Allah, ia tanggalkan nafsu-nafsu tersebut dan Dia menjadi keseluruhan di dalam hatinya dan Dia satu-satunya yang ia cintai. Allah telah memebaskan hatinya dari keinginan duniawi, kecuali hanya diri-Nya, dan dengan ini meskipun ia masih belum pantas memiliki Cinta itu dan masih belum sesuai untuk dianggap menatap Allah pada akhirnya, hijab tersingkap sudah dan ia berada di tempat yang mulia. Cintanya kepada Allah tidak memerlukan balasan dari-Nya, meskipun ia merasa harus mencintai-Nya.
Al-Makki melanjutkan, bagi Allah, sudah selayaknya Dia menampakkan rahmat-Nya di muka bumi ini karena doa-doa Rabi’ah (yaitu pada saat ia melintasi Jalan itu) dan rahmat Allah itu akan tampak juga di akhirat nanti (yaitu pada saat Tujuan akhir itu telah dicapainya dan ia akan melihat wajah Allah tanpa ada hijab, berhadap-hadapan). Tak ada lagi pujian yang layak bagi-Nya di sini atau di sana nanti, sebab Allah sendiri yang telah membawanya di antara dua tingkatan itu (dunia dan akhirat) (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, 1310 H, dalam Margaret Smith, 1928).
Rabi’ah dan menjelang hari wafatnya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Berbagai kisah menjelang kematian Rabi’ah menyebutkan, di antaranya pada masa menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orang alim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka: ‘Bangkit dan keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!’ Maka semua orang pun bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan kalimat syahadat, setelah itu terdengar sebuah suara: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89: 27-30).
Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saat mereka kembali masuk ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri di hadapannya lalu menyuruh agar jasad Rabi’ah segera dimandikan, dikafani, disalatkan, dan kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.
Karenanya, setelah kematian Rabi’ah, seseorang lalu pernah memimpikanya. Dia mengatakan kepada Rabi’ah, “Ceritakanlah bagaimana keadaanmu di sana dan bagaimana engkau dapat lolos dari Munkar dan Nakir?” Rabi’ah menjawab, “Mereka datang menghampiriku dan bertanya, “Siapakah Tuhanmu?’ Aku katakana, “Kembalilah dan katakan kepada Tuhanmu, ribuan dan ribuan sudah ciptaan-Mu, Engkau tentunya tidak akan lupa pada perempuan tua lemah ini. Aku, yang hanya memiliki-Mu di dunia, tidak pernah melupakan-Mu. Sekarang, mengapa Engkau harus bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’”
Kini Rabi’ah telah tiada. Perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih di sisi-Nya. Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinya terbang bersama para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi.

Rabu, Mei 18, 2011 | 0 komentar | Read More

Mengapa Saya Keluar Dari HIZBUT TAHRIR

Diposkan Oleh :
Amak
=============================================


Menyingkap Aqidah HIZBUT TAHRIR
Hizbut Tahrir selama ini kita kenal sebagai organisasi yang gigih memperjuangkan berdirinya khilafah islam. Jargon-jargon islam selalu menyertai setiap gerakan mereka. Namun tidak banyak yang tahu sesungguhnya di balik itu, mereka membawa paham keagamaan yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal jamaah, baik di bidang akidah maupun syari’ah.
Organisasi Hizbuttahrir didirikan pada tahun1953 di Jerussalem oleh Taqiyuddin An-Nabhani (penting dicatat, ini bukan Syeh Yusuf Annabhani, ulama’ sunni yang terkenal itu)
Taqiyuddin dibantu para koleganya yang telah memisahkan diri dari organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir. An-Nabhani adalah lulusan Al-Azhar Mesir yang berprofesi sebagai guru sekolah agama dan hakim. Ia berasal dari Ijzim Palestina Utara.
AQIDAH
Di bidang akidah, mereka cenderung berpaham Qodariyah, paham yang menganggap manusia bisa menentukan sendiri keinginannya tanpa terikat ketentuan Allah. Berikut beberapa buktinya:
1. Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Al qadha’ wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata:
«وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء» اهـ الشخصية الإسلامية الجزء الأول باب القضاء والقدر: ص94 ـ 95
“Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla.”
1. Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) penulis menyatakan
«فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)
“Jadi mengaitkan adanya pahala sebagai balasan bagi kebaikan dan siksa sebagai balasan dari kesesatan, menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia itu sendiri, bukan berasal dari Allah.”
Ini jelas pendapat kaum Qodariyah yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jamaah karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an dan Hadits. Allah berfirman
وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian” (QS As Shaffat :96)
Ibn Abbas RA berkata :
«إن كلام القدرية كفر»
“Sesungguhnya perkataan kaum Qodariyah adalah kufur”.
Bisa juga maksud Ibn Abbas dengan “kufur” di sini sebagai ‘warning’ bahwa hal itu mengarah pada kekafiran. Namun yang jelas mereka adalah ahli bid’ah.
Diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz, Imam Malik bin Anas dan Imam Awza’i :
«انهم يستتابون فإن تابوا وإلا قُتلوا»
“Sesungguhnya mereka (kaum Qodariyah ) diminta untuk bertaubat, jika menolak maka mereka dibunuh.”
Ma’mar meriwayatkan dari Towus, dari bapaknya. Bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Abbas: “Banyak orang mengatakan perbuatan buruk bukanlah qodar (kepastian) Allah SWT,” maka Ibnu Abbas menjawab: “Yang membedakan aku dan pengikut Qodariyah adalah Ayat ini:
قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ -الأنعام/149
“Katakan! Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. “QS.Al-An’am: 149.”
Tak cukup itu, HIzbut Tahrir malah menuduh ahlussunnah sama dengan kelompok sesat Jabariyyah, tanpa menyertakan bukti yang memadai. Taqiyuddin menyatakan dalam kitab As-Syakhsiyyah Al-Islamiyah juz 1 hal. 73:
والحقيقة هو ان رأيهم _ اي اهل السنة_ورأي الجبرية واحد فهم جبريون
Pada hakikatnya, pendapat mereka – ahlussunnah wal jama’ah – dan pendapat jabariyah adalah satu, maka mereka adalah termasuk kelompok jabariyah”.
SYARIAH
Di bidang syari’ah, HTI tidak mau terikat kepada salah satu dari madzhab empat – Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali – dan lebih mendahulukan ijtihad mereka sendiri, mereka juga tidak mengakui ijma’ sebagai dasar hukum selain ijma’ sahabat. Berikut beberapa contoh fatwa nyleneh mereka.
Dalam kitab mereka, At-Tafkir hal. 149
متى أصبح قادرًا على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهدًا، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس، وميسر لجميع الناس ولا سيما بعد أن أصبح بين أيدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي ، – كتاب التفكير ص/149
” Sesungguhnya apabila seseorang mampu menggali hukum dari sumbernya, maka telah menjadi mujtahid. Oleh karenanya, maka menggali hukum atau ijtihad dimungkinkan bagi siapa pun, dan mudah bagi siapa pun, apalagi setelah mempunyai kitab lughot ( tata bahasa arab ) dan fiqh islam.”
Perkataan ini mengesankan terbukanya kemungkinan untuk berijtihad meskipun dengan modal pengetahuan yang sedikit.
DIALOG
Pada tanggal 23 – Sya’ban -1428H/ 5 – September – 2007M, beberapa pengurus PCNU kab. Pasuruan dan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf selaku musytasyar PCNU Kab.Pasuruan berdialog dengan salah satu tokoh DPP HTI mewakili DPP HTI, di PP. Sunniyah Salafiyah Kraton, setelah membuat janji terlebih dahulu dengan DPP HTI. Dalam dialog tersebut jelas sekali perbedaan faham antara ahlussunnah wal jamaah dengan HTI, khususnya terkait masalah qodho’ dan qodar,
Tokoh HTI ini berterus terang mengakui secara lisan bahwa HTI memang tidak mengikuti rumusan Imam Asy’ari dan Imam Maturidi sebagaimana dianut ahlussunnah wal jama’ah. Rekaman dialog terdokumentasi dengan baik di Sunniyah Salafiyah
Alhasil, Hizbut Tahrir nyata-nyata berseberangan dengan Ahlussunnah. Pun demikian ini hanyalah sedikit dari penyimpangan mereka, masih banyak fakta-fakta yang belum terungkap.
Namun Segal perbedaan yang ada seperti ini jangan sampai membuat kita berpecah belah , khususnya di kalangan umat islam , perbedaan adalah Rahmat dari alloh SWT maka dari itu kita harus mengormati keberagaman dan perbedaan yang ada .

Kunjungi juga :
http://www.forsansalaf.com/2009/catatan-hitam-hizbut-tahrir/
Senin, Mei 16, 2011 | 0 komentar | Read More

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN PERSPEKTIF TASAWUF


A.Pengertian Singkat

Diantara golongan orang sufi (ahli tasawuf) sepakat bahwa kebahagian pada diri manusia itu terletak pada hati yang bersih dan kedekatan seseorang kepada alloh ta’ala hal ini dapat disima’ dalam firman Alloh (yg artinya) :

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. "

Dari firman alloh ini dapat dipahami bahwa ketenangan dan kebahagian itu letaknya adalah pada hati manusia adapun dzikrulloh itu adalah sebab dari ketenangan atau kebahagiaan tersebut .Kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan, bahkan kaum beragama mendambakan kebahagiaan dan kebaikan tidak saja di dunia, tetapi juga di ahirat. Tetapi kenyataan sering menunjukkan cukup banyak orang yang bahagia dan cukup banyak pula yang tidak bahagia hidupnya. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda, bahkan ada orang-orang yang merasa bahagia dan ada juga yang tak bahagia padahal mereka hidup di suatu lingkungan sama. Apa artinya? Artinya kebahagiaan tidak berkaitan dengan latar belakang usia, jenis seks, kekayaan, rumah tangga, pendidikan dan kondisi lingkungan. Jadi siapa pun bisa berbahagia dan bisa juga menjadi tak bahagia ,Sesungguhnya ketenangan itu tidak akan didapatkan sebelum kita benar–benar menikmati hidup ini. Merasakan bahwa hidup ini pasti ada arti dan makna. Rasakanlah bahwa hidup ini adalah Anugrah yang mencerminkan Kasih Sayang Allah SWT.

Ada dua sudut pandang mengenai hidup bahagia yakni sudut pandang agama dan sudut pandang psikologi. Sudut pandang agama, khususnya Tasawuf Islam, pada dasarnya menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki diperoleh bila kita senantiasa dekat dan mendekatkan diri kepada Maha Pemilik dan Maha Sumber segala Kebahagiaan yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Caranya dengan mengikuti, menaati dan menerapkan sebaik-baiknya tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari, karena agama banyak memberi petunjuk mengenai asas-asas dan cara-cara meraih keselamatan dan kebahagian di dunia dan di ahirat 1). Dan agama pun mengajarkan bahwa manusia mampu meraih kebahagiaan, asalkan ia berusaha mengubah keadaan diri mereka menjadi lebih baik. Dalam pandangan agama Islam, manusia benar-benar mampu mengubah nasibnya sendiri ((yg artinya)) :

“ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah., Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. al-Ra'ad/13: 11)

Kurang bersyukur juga merupakan factor seseorang itu akan gundah dan risau sehingga ia tidak memperoleh kebahagiaan ,segala apa–apa yang ada pada diri kita adalah nikmat Allah. Nafas adalah nikmat Allah, penglihatan nikmat Allah, pendengaran nikmat Allah, penciuman nikmat Allah begitu pula darah yang selalu mengalir disekujur tubuh kita, jantung yang selalu memompanya juga nikmat Allah dan segala apa saja organ–organ tubuh yang bekerja semuanya adalah nikmat Allah, milik Allah, karena Allah dan dengan izin Allah semata, kurang nya rasa sukur itu juga dapat memyebabkan hati seseorang akan selalu gundah sehingga ia tidak akan bahagia meskipun factor dari luar berupa harta dan kekayaan-nya melimpah .
Allah SWT mengingatkan kita sampai 31 kali di dalam Firman Nya yang disebutkan di dalam surah Ar–Rahman : Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS,Arrahman:13,16,18,21,23,25,28,30,32,34,36,38,40,42,45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71,73,75,77)

Dan di dalam surah yang lain Allah berfirman :
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS, An – Nahl : 18)

B.Penjelasan

Dimuka telah dijelaskan bahwa kebahagiaan dalam pandangan agama diperoleh dengan jalan mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai Maha Pemberi Kebahagiaan melalui ibadah dan cara-cara yang diajarkanNya. Dalam hal ini Tasawuf Islam sebagai dimensi ihsan dalam Agama Islam yang terutama mengolah daya-daya ruhani manusia dalam proses mendekatkan diri pada Allah SWT tentu mengembangkan pula cara-cara mendekatkan diri secara ruhaniah kepadaNya. Sekalipun pengetahuan mengenai ruh ini sedikit sekali diberikanNya kepada manusia, tetapi dari yang sedikit itu Tasawuf Islam dapat menggambarkan karakteristik ruh antara lain sebagai berikut:
•Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah atau bumi.
•Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur atau tak sadar, bahkan mati.ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tetapi dapat pula dibersihkan dan menjadi suci.
•Tasawuf mengikut sertakan ruh dalam beribadah kepada Tuhan.
•Tasawuf melatih untuk menyebut Kalimah Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tetapi juga tembus ke dalam alam ruhaniah di atas alam sadar. Kalimah Allah yang termuat dalam ruh pada gilirannya dapat membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
•Ruh diciptakan jauh sebelum manusia dilahirkan, berfungsi selama manusia hidup, dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ia hidup ke hadlirat Tuhan. Jadi ruh itu ada dalam diri manusia, tetapi tak-kasatmata (invisible) karena sangat halus dan gaib sifatnya. Selain itu dimensinya jauh lebih tinggi dari alam pikiran, dan tahapannya pun di atas alam sadar (Super-conscious). Ruh ini bukan sembarang ruh, melainkan ruh yang sangat tinggi, indah dan lembut yang dikurniakan Allah kepada manusia melalui "hembusanNya" Firman Alloh (yg artinya) :

“ Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. “ (QS. Al-Sajadah, 32: 9).

•Namun tentang ruh itu sendiri manusia tidak diberi pengetahuan alloh SWT melainkan sedikit , firman Alloh (yg artinya):

“ Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". ( Al isro’ : 85)


C.Trick Menggapai Suatu Kebahagiaan

Di antara sifat-sifat yang dapat membuat orang itu bahagia ,memiliki ketenangan dalam hidup adalah seperti yang di kemukaan oleh para ulama sebagai berikut :

1.Tidak mengukur dan membatasi kebahagiaanya pada sesuatu yang bersifat kebendaan atau materi karena sesuatu yang bersifat kebendaan itu mempunyai dua sifat yang dapat membuat kesusahan dan kesedihan yaitu ia akan berubah dan hilang ,
Al-kindy pernah berkata : 3)
Jika kita memperhatikan apa yang menjadi sebab kesusahan pada kebanyakan orang maka kita akan jumpai bahwa sebabnya adalah karena orang kehilangan sesuatu yang dimilikinya atau tidak berhasil memperoleh sesuatu yang ignin diperolehnya yang sifatnya adalah kebendaan . jika orang hidup menyandarkan kebahagian-nya kepada memiliki ,menguasai dan memperoleh kekayaan kebendaan maka orang itu telah menyimpang dari kebenaran , kebahagiaan sebenarnya terletak pada jiwa . semua yang bersifat kebendaan wataknya dapat mengalami perubahan dan akan hilang ,orang yang berakal seharusnya tidak menyandarkan kebahagiaan pada sesuatu yang akan berubah dan akan hilang itu .mungkin yang dirasakan paling indah diantara benda-benda yang mengalami perubahan dan hilang itu adalah permata dan mutiara ,padahal itu semua tidak lebih adalah batu-batuan tanah dan kerang-kerang air .jika barang-barang tiu di dudukan pada kedudukan yang hakiki ,orang akan berpendapat bahwa barang-barang seperti itu tidak-lah patut menyebabkan kesusahan ika hilang.

2.Ridho terhadap kenyataan yang ada , ini dapat diartikan bahwa jika orang ingin bahagia hendaknya dia itu realistis, Umar Bin Khotob Pernah berkata : 4)

ان صبرت مضى امر الله و كنت مأجورا و ان جزعت قضى امر الله و كنت مأزورا
Artinya :
“Bila kamu sabar tetap berlalu ketentuan/takdir alloh sedang kamu diberi pahala dan bila kamu mengeluh (juga ) tetap berlalu ketentuan alloh sedang kamu mendapat dosa “
Ketidak rihoan seseorang terhadap kenyataan ini biasanya disebabkan karena membandingkan sesuatu dengan yang diatasnya contoh orang yang mempunyai sepeda motor akan merasa miskin jika dia melihat orang-orang yang memiliki mobil mewah.

3.Tidak risau/gundah dan selalu tenang menyikapi kenyataan . 5)
Ibnu athoillah al askandary berkata dalam hikam-nya :


" ارحْ نفسَك من التدبير فما قام به غيرَك عنك لا تقم به لنفسِك "
Artinya :
“ Tenangkanlah jiwamu dari urusan kebutuhan dunia, sebab dijanjikan oleh alloh maka jangan-lah kau ikut memikirkan “

Kita harus selalu ingat bahwa tugas manusia hanyalah menyempurnakan niat dan iktiyar/usaha selebihnya kita pasrakan kepada alloh , masalah atau perkara yang belum terjadi janganlah kita pikirkan , sehingga mengakibatkan jiwa dan pikiran kita akan menjadi risau yang nantinya akan membuat peluang setan untuk menggerogoti dan menggoncangkan iman kita ,perhatikanlah sabda nabi Muhammad SAW :

لو انكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدوا خماصا و تروح بطانا
Artinya :

“Seandainya kamu semua bertawakal kepada alloh dan berserah diri sepenuhnya maka kamu akan mendapat rizqi seperti rizqinya burung-burng diwaktu pagi-pagi dalam keadaan lapar dan kembali dengan perut yang kenyang “
Jadi jiwa atau hati yang tenang itu dapat mendatangkan kebahagiaan dunia akhirat seperti yang telah diterangkan diatas.

=] KESIMPULAN

golongan orang sufi (ahli tasawuf) sepakat bahwa kebahagian pada diri manusia itu terletak pada hati yang bersih dan kedekatan seseorang kepada alloh SWT. Adapun kiat kiat untuk menggapai sebuah kebahagian Adalah engan jalan
1.Tidak mengukur dan membatasi kebahagiaanya pada sesuatu yang bersifat kebendaan
2.Ridho terhadap kenyataan yang ada , ini dapat diartikan bahwa jika orang ingin bahagia hendaknya dia itu realistis
3.Menenangkan hati ketika menghadapi suatu masalah atau kejadian tertentu sambil mencari suatu hikmah di balik kejadian maupun masalah tersebut .
Jika anda bertanya apa sih karunia yang paling berharga? Maka jawabnya adalah karunia yang paling berharga yaitu karunia Allah yang bernama istiqomah. Istiqomah di jalan Allah walau beramal sedikit tapi terus menerus. Tiap pagi sedekah tidak pernah berhenti, setiap hari memperbaiki dirinya dengan membaca qur'an, sebelum berangkat kemana-mana membaca wirid yang dicontohkan Rasulullah.
Semoga Allah yang Maha menatap mengkaruniakan kepada kita semua kerinduan ingin bisa ditatap oleh Allah, selalu merasa didengar oleh Allah, selalu merasa diperhatikan oleh Allah, selalu merasa Allah Maha Tahu isi hati kita. Tidak ada kenikmatan terbesar dalam hidup ini kecuali bagi orang yang sangat mengenal Allah, sangat merasakan kehadiran Allah dan puas dalam hidupnya, akan tentram karena kekuasaan Allah menyelimuti segala-galanya dan akan merasa tercukupi karena segala-galanya adalah milik Allah. Oleh karena itu memiliki gelar, harta, kedudkukan, pankat dan jabatan tapi bila tidak mengenal Allah sebetulnya agak mubazirlah dalam hidup ini. Karena amalpun akan diterima bila benar-benar ikhlas. Untuk mengenal Allah dengan baik tentu kita butuh ilmu dan mudah-mudahan perjumpaan-perjumpaan kita adalah bagian dari percikan ilmu dari Allah.

أسأل الله أن يطهر قلبي وقلوبكم وأن يجعلنا له مخلصين ولرسوله متبعين

=} DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Athoillah , Al hikam Surabaya : Al hidayah tanpa tahun
labib mz,maftuhahnan, Kuliah ma’rifat ,semarang : bintang pelajar 1997
Abuddin nata , Akhlak tasawuf , jakarta : rajawali pers ,2010
Al quran Digital,Software, versi 2.1,2006
DEPAG, Alquran dan terjemah , bintang karya ,3005
Imam An nawawy , Arbain An Nawawy : software HTML tanpa tahun
Mustofa , Filsafat Islam ,Bandung : Pustaka Setia 1997
Senin, Mei 16, 2011 | 0 komentar | Read More

Ahlusunnah Menyikapi Hadis – Hadits Dhoif



بسم الله الرحمن الرحيم.
الله.
وظيفة الحديث الضعيف فى الاسلام وأقوال كبار أئمة السلف والخلف فيه لفضيلة السيد محمد زكى ابراهيم.
Wazifah
Hadis-Hadis Dhoif.
Ta’lif
Fadhilah al- Sheikh al-Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim.
Mantan Sheikh al-Masyaikh Thuruq al-Shufiyyah Mesir.
Terjemahan dan olahan
Oleh
Alama Alaudin As-shidiy
Pondok Pesantren Hidayatul mubtadi’ien
Kaliwungu ,jombang .
2010
-------------------
Sekapur Sireh
===================================================================================
Risalah yang padat dengan fakta-fakta bernas. Meluruskan salah faham terhadap hadis-hadis Dhoif yang berkait dengan amalan dan fatwa-fatwa hukum-hukum mayoritas umat Islam semenjak berkurun-kurun yang lalu. Membacanya mesti disertai ketelitian tanpa taa’sub pada mana-mana fahaman.
Mengapa dicerca rapuhnya sesuatu jika ianya berada di atas atau di dalam sesuatu yang teguh?. Mengapa dilontar buang Aqiq disebabkan Intan Permata?. Apa salahnya Aqiq, keberadaannya di sisi Intan? . Intipati risalah di antaranya:
1. Hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak. Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.
2. Hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih.
3. Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya karena berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata karena mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka
Wassalam
Alama alaudin As-shidiqy.

------------
PENDAHULUAN
=================================================================================
Waba’du: Di antara perkara bida’ah yang dianggap buruk, yang berlaku di kalangan orang ramai, yang tersebar luas melalui perkataan daripada mereka yang ghairah mendakwa memperjuangkan sunnah, tauhid dan pembaharuan (tajdid) iaitu keterlaluan mengkritik hadis-hadis Dhoif sebagai Batil dan Dusta. Menganggap beramal dengan hadis-hadis Dhoif sebagai keji dan fasik atau sekurang-kurangnya sebagai kejahilan dan melampaui batas syaria’t.
Padahal displin keilmuan tidaklah beranggapan begitu karena hadis-hadis Dhoif mendapat tempat di sisi syariat dan ia berperanan di dalamnya. Hadis Dhoif juga mempunyai peranan yang asas dalam agama Islam. Sebahagian daripada kezaliman terhadap ilmu dan agama iaitu menganggap dan menghukumkan hadis Dhoif dengan hukuman dusta (iaitu disamakan dengan hadis Maudhu’). Demikian itu karena hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih. Iaitu bermakna pada hadis Dhoif terdapat di sisinya keSohihan pada suatu sudut, dan sebahagian syarat-syarat Makbul hadis, tetapi sifat-sifat tersebut tidak sempurna sebagaimana yang berlakunya pada hadis-hadis Sohih . Oleh yang demikian, para ulama’ hadis telah memasukkan hadis Dhoif termasuk dalam bahagian hadis yang Makbul (yang diterima), teristimewa pada Fadhoil Amal atau perkara yang bukan hukum-ahkam.
Maka hadis Dhoif tidaklah dimasukkan sebagai hadis yang tertolak di segenap sudut. Lantaran itu, sebahagian ulama’ menganggap sunat beramal dengan hadis-hadis Dhoif pada tempat yang layak, dan hadis-hadis yang Dhoif adalah hadis yang mempunyai asal, tetapi tidak sempurna padanya syarat-syarat hadis Sohih..Daku tahu kenyataan ini tidak akan disenangi oleh sebahagian orang tetapi menuntut keredhoan Al-Haq adalah wajib sekalipun dibenci oleh sebahagian orang.
3. Kitab-Kitab hadis Sohih sangat banyak.
Kitab-kitab yang memuatkan hadis Sohih amat banyak. Hadis-hadis Sohih bukanlah semata-mata hadis yang dikumpulkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim saja. Saya tidak menemui adanya Nas dalam agama Allah ataupun Isyarat yang menunjukkan pembatasan hadis Sohih terhadap kitab-kitab ini saja. Membataskan penerimaan Hadis Sohih terhadap kedua-dua kitab ini saja merupakan satu bentuk kefanatikan dan keraguan terhadap ilmu tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.
Dalam kitab Huda al-Abrar ‘ala Tol’ati al-Anwar dan kitab Idha’atul Halik yang ditulis oleh Imam Ibn a-Hajj al-‘Alawi, kitab al-Jami’ oleh Safiyuddin al-Hindi dan kitab al-manhal al-Latif serta kitab-kitab lainnya ada menyebutkan: Kitab-kitab yang mana kesemua hadis yang termuat di dalamnya dinisbahkan sebagai hadis Sohih menurut kesepakatan jumhur ahli hadis melainkan sedikit saja yang telah dikritik Ulama’ ialah:
1. Sohih Al-Bukhari ( Al- Jaami’ Al- Sohih).
2. Sohih Muslim.
3. Al-Muntaqa oleh Ibn al-Jarud ( melainkan hadis yang beliau telah Mursalkan ).
4. Sohih Ibn Khuzaimah.
5. Sohih Ibn Abi ‘Awanah.
6. Sohih Ibn al-Sakan.
7. Sohih Ibn Hibban.
8. Mustadrak al-Hakim (setelah dibuat pengesahan melalui hafalan semua oleh al-Dzahabi dan al-Iraqi sekalipun pengesahan al-Dzahabi lebih mendasar dan lebih keras ). Sebahagian mereka turut memasukkan Musnad Ahmad 1.
9. Al- Muwata Imam Malik 2 yang lebih berhak .
10. Kemudian (Al-Mustakhrajat) iaitu kitab-kitab yang mentakhrij hadis-hadis yang masyhur dikalangan para ulamak.
Kesemua kitab ini yang sedia dimaklumi di kalangan ulamak yang hanya memuatkan hadis-hadis Sohih samada disudut Ilmiyah dan Ilmu Hadis.
Selain daripada kitab-kitab ini, terdapat hadis yang Sohih, Hasan dan Dhoif.
ألا يقدم أحد على البخارى فى العزو وان كان الحديث فيه وفى مسلم ساقوا لفظ مسلم لمبالغته فى تحرى اللفظ النبوى.
Kaedah (ahli hadis): ((Bahawa tidak boleh didahulukan nama selain al-Bukhari (jika hadis terbabit juga diriwayatkan oleh al-Bukhari) dalam menisbahkan sesuatu hadis kepada perawinya . Dan pada Muslim (jika sesuatu hadis itu juga telah diriwayatkan oleh keduanya) mereka turut menyebutkan namanya (bersama-sama al-Bukhari) disebabkan ketelitian Muslim dalam menyaring lafaz yang benar-benar diucapkan oleh Nabi s.a.w.))
Oleh itu pandangan yang memestikan berpegang dengan hadis yang terdapat dalam kitab Sohih al-Bukhari dan Muslim semata-mata dengan anggapan hanya kedua-dua kitab ini saja yang memuatkan hadis yang Sohih, bukannya pandangan yang
bersandarkan kepada ilmu dan bukan pada agama.
_____________________________________________________________________
1 Karena Dhoif dalam al-Musnad Ahmad adalah Hasan.
2 Semua Mursal yang berada didalam al-Muwata telah diwasalkan oleh Imam-imam hadis dalam karangan-karangan mereka dari thuruq yang lain.
4. Pembahagian Hadis
Ahli hadis bersepakat bahawa ada tiga pembahagian hadis yang paling penting iaitu:
1. Hadis Sohih : Berada pada kedudukan teratas.
2. Hadis Hasan : Berada di kedudukan pertengahan.
3. Hadis Dhoif : Berada di kedudukan paling bawah, karena cedera pada satu
syarat saja dari syarat-syarat hadis Hasan.
Adapun Hadis Maudhu’ (palsu), maka ia terkeluar daripada skop yang kita bincangkan, karena ia adalah satu kekejian, gugur daripada hak untuk berhukum dan hak zatnya, samada disudut matan atau sanad atau kedua-duanya sekali, menurut Ijmak.
5. Pembahagian Hadis Dhoif.
Hadis Dhoif terbahagi kepada dua:
Pertama.
KeDhoifannya boleh ditampung (diperkuatkan) :
Apabila diperkuatkan oleh :
1. Hadis Dhoif Masyhur ,
2. Yang sama tetapi melalui jalan-jalan periwayatan yang lain.
3. Atau apabila mengisnadkannya oleh Sawahid yang makbul, terutama apabila Dhoif perawinya hanya disebabkan:
(a) lemah hafalan. atau
(b)lemah disebabkan Mursal atau
(c) Mastur (tertutup hal rawinya) ,
Maka ternaiklah martabatnya kepada martabat hadis Hasan Li Ghairih (iaitu bertaraf Hasan disebabkan adanya riwayat yang lain). Oleh itu termasuk dalam senarai hadis Maqbul (diterima) dan boleh dibuat hujjah sekalipun dalam soal hukum- ahkam sebagaimana yang telah dimantapkan di sisi para ulama’ dalam bidang Ilmu ini. Tidak perlu diperdulikan kepada dakwaan mereka yang mendakwa ahli dalam Ilmu ini padahal masih di tahap kebudak-budakan, tercari-cari dan tidak pernah belajar, mereka yang tahu satu perkara kemudian hilang pula beberapa perkara. Mereka mengikuti kaedah orang-orang bodoh untuk mengelabui hakikat kebenaran, mendakwa–dakwi diri dan mencari keuntungan dengan pendapat-pendapat pelik-pelik (Syaz) mereka.
Kedua.
KeDhoifannya tidak boleh ditampung:
Walaupun terdapat banyak jalan periwayatannya. Ia dinamakan sebagai al-Wahiy (sangat lemah) hal ini berlaku sekiranya perawi itu ternyata seorang yang fasik atau dituduh berbohong.
Para ulamak Ilmu Ini mengatakan: Hadis yang seperti ini jika diperkukuhkan dengan riwayat-riwayat yang lain, dan mempunyai Syawahid dan Mutab’at, maka tarafnya naik, daripada taraf (hadis Munkar, al-Waahiy atau hadis yang Tidak Ada Asalnya) kepada martabat yang lebih tinggi. Pada ketika itu ia boleh diamalkan dalam soal fadhilat-fadhilat amal selain pada soal:
1. Akidah
2. Hukum – Ahkam.
Sebahagian ulamak menambah:
1. Tafsiran al-Quran. Karena mendahulukan Hadis dalam menafsir daripada tafsiran berdasarkan fikiran semata-mata, tetapi pada pengecualian yang ketiga ini terdapat kritikan yang perlu pengkajian semula.
Dengan itu menerima pakai hadis Dhoif dalam segala jenis amalan yang berbentuk menggemar dan menakutkan, dalam soal adab, sejarah, ketatasusilaan, kisah tauladan, manaqib (biodata seseorang), sejarah peperangan, dan seumpamanya adalah diHaruskan. Perkara ini telah disepakati (Ijmak) oleh para ulamak seperti yang dinukilkan oleh Imam al-Nawawi, Ibn Abdul Barr dan selain mereka. Malah Imam al-Nawawi menukilkan pandangan ulamak bahawa dalam hal-hal tersebut disunatkan beramal dengan hadis Dhoif.
والاستحباب من جملة أصول الدين وأحكام الشرع الشريف
(Perkara yang sunat termasuk dalam himpunan Usuluddin dan hukum-ahkam syarak), perhatikanlah.
Tetapi kami berpendapat :
1. Penerimaan hadis Dhoif dalam perkara-perkara terbabit bersyaratkan jangan terlalu kuat keDhoifannya. Maka tidak termasuk hadis-hadis Dhoif yang ketunggalan periwayatannya yang salah seorang perawinya pendusta atau kesalahannya sangat keji.
2. Ia adalah merupakan perkara yang termasuk di bawah asas sesuatu Kaedah Syarak yang Kuliyyah (mencakupi seluruh soal-soal cabang perkara yang dihukum). Maka hadis-hadis yang tidak langsung berada di lingkungan asas tersebut bahkan merupakan perkara baru, adalah terkeluar dari keharusan ini .
3. Jangan pula hadis tersebut bercanggah dengan hadis yang Sohih. Maka terkeluar pula hadis-hadis Dhoif yang ditolak oleh hadis-hadis Sohih dan Sabit. Ini merupakan pendapat Ibnu Hajar al- Asqolani dan as- Sakhawi 3
6. Penerangan lebih jelas.
Abu al-Syeikh Ibn Hibban dalam kitabnya al-Nawa’ib meriwayatkan secara Marfu’ hadis Jabir r.a yang menyebutkan:
(( من بلغه عن اللّه عز وجل شيء فيه فضيلة , فأخذ به ايمانا به , ورجاء لثوابه ,
أعطاه اللّه ذلك , وان لم يكن كذلك )).
“Barang siapa yang sampai kepadanya sesuatu daripada Allah yang memuatkan sesuatu fadhilat, lalu dia beramal dengannya karena percaya terhadapnya dan mengharapkan ganjaran pahalanya maka Allah memberikan yang demikian itu, sekalipun sebenarnya bukan begitu”.4
Hadis ini merupakan punca asas yang besar dalam membincangkan hukum-hukum berkaitan hadis Dhoif, karena tidak mungkin sabdaan ini terbit daripada fikiran semata-mata tanpa Masmu’ (didengari dari Nabi s.a.w), bahkan ia sebenarnya merupakan dalil bahwa bagi hadis-hadis Dhoif mempunyai asal dan tanda pengesahan makbul (diterima).
Sesungguhnya para Ulama menukilkan daripada Imam Ahmad bin Hanbal bahawa dalam soal hukum-hakam, beliau berpegang dengan hadis yang Dhoif (jika ditampung keDhoifan tersebut dengan kemasyhuran hadis terbabit). Beliau juga mengutamakan hadis Dhoif dari pandangan akal. Beliau mengambil hadis-hadis Dhoif pada perkara-perkara halus (seperti akhlak) dan fadhoil. Seperti itu juga Ibnu Mubarak, al-Anbari, Sufiyan al-Thawri dan di kalangan pemuka-pemuka umat r.ahum.
————————————————————————————————–
3 Qaulul Badi’ : 195.
4 Pengarang Kanzul Ummal – ( 43132) – telah menisbahkan hadis ini kepada Abu Sheikh, Khatib, Ibnu an-Najjar, al-Dailami dari Jabir iaitu dalam kitab al-Durar karangan Ibnu Abdi al-Barr , al-Mu’jam al-Awsath karangan al- Tabarani dari Anas dengan lafaz – (( Sesiapa yang telah sampai kepadanya sesuatu fadhilat dari Allah , maka ia tidak mengakuinya , tidaklah ia mendapatnya.)) tapi terdapat kritikan pada riwayat yang ini , al-Ajluni telah menyebut dalam Kasf al-Khafa ( 2 : 327), telah di nukil dari Imam Sayuthi pada akhirnya (( maka pada jumlah , ada baginya asal )). Satu hadis lagi telah meriwayatkan oleh Imam Ahmad (5: 425) Ibnu Sa’ad dalam Tabaqat ( 1: 387/388), Ibnu Hibban telah menSohihkannya (92) – Bahawa Nabi s.a.w telah bersabda ((Bila kamu mendengar sesuatu hadis dari ku, yang hati kamu telah mengenalinya, lembutlah bulu dan kulit kamu , kamu nampak hadis tersebut hampir (boleh kamu faham) maka daku lebih utama dengannya dari kamu. Apabila kamu mendengar pula sesuatu hadis dari ku yang hati kamu ingkar, liar darinya oleh bulu dan kulit kamu dan kamu nampak hadis tersebut jauh (untuk difahami), maka daku lebih jauh dari kamu terhadapnya (lantaran ia bukan berasal dariku)).
Begitu juga para ulamak Hanafi mendahulukan hadis Dhoif terhadap pandangan akal, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Zarkasyi, Ibn Hazm dan selainnya.
Maksudnya, bahwa sesungguhnya bagi hadis-hadis Dhoif adalah zat-zat hadis yang terdapat I’tibar, dan kegiatan Ilmiyyah Syaria’t, karena tidak mencukupi sebahagian syarat-syarat hadis Sohih padanya. Maka meletakkan title makzub (hadis dusta/ maudhu’) pada hadis Dhoif adalah kesalahan yang besar di sudut Ilmiyah.
Mazhab Abu Daud samalah seperti mazhab Hanafi dan Hanbali, yang mana mereka mengutamakan hadis Dhoif berbanding penggunaan akal, jika tidak ada sumber lain yang boleh dijadikan dalil dalam sesuatu bab yang dibincangkan.
Tidak ada yang menyanggahi Ijmak bahawa hadis Dhoif boleh diamalkan melainkan Abu Bakar Ibn al-‘Arabi seperti yang dinukilkan oleh Ibn al-Solah. Percanggahan oleh Ibn al-‘Arabi ini mempunyai beberapa alasan yang telah dijawab oleh para ulama, atau penolakannya terhadap hadis Dhoif itu hanya terbatas kepada alasan-alasan yang diberikan saja. Oleh itu sebenarnya tidak ada percanggahan antara beliau dengan ijmak ulama dalam hal keharusan beramal dengan hadis Dhoif jika betul pada tempatnya.
7. Hadis-hadis dalam al- Sohih (al-Bukhari dan Muslim), Dhoif dan Mudha’af.
Di sana terdapat satu lagi bahagian hadis yang dinamakan hadis muda’af, iaitu hadis yang mana senarai perawi dalam isnadnya dianggap Dhoif (lemah) oleh satu kumpulan ulama sementara kumpulan lain pula mengatakan mereka adalah perawi yang thiqah (dipercayai). Kedudukan hadis yang sebegini berada di tengah-tengah antara hadis Sohih dan Dhoif. Dengan kata lain, martabatnya kurang daripada hadis Sohih tetapi melebihi taraf hadis Dhoif. Ia adalah saudara kepada hadis Hasan ataupun dari jenis yang lebih tinggi daripada hadis Hasan. Oleh karena itu para ulama mengharuskan hadis sebegini dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih. Namun hadis-hadis ini pada kebiasaan yang berlaku , dimasukkan dalam kitab-kitab Sohih hanya berperanan sebagai syawahid dan mutaba’ah atau hanya sekadar disebut ketinggian sanadnya (sanad yang A’liyy) saja.
Al-Bukhari telah menyebut secara bersendirian (tanpa Muslim) sebanyak lebih empat ratus lapan puluh nama perawi yang lapan puluh daripadanya dikritik oleh ahli hadis sebagai bertaraf lemah periwayatannya.
Adapun rangkaian sanad Muslim pula ada enam ratus dua puluh orang perawi, yang mana seratus enam puluh orang daripada mereka dikritik dan dikatakan bertaraf lemah. Namun mereka ini (yang dikatakan lemah periwayatannya) diperakukan sebagai perawi yang thiqah (dipercayai) oleh ramai ahli hadis yang lain.
Maka bagaimana pula fikiran mereka yang mendakwa-dakwi dalam Ilmu Ini cuba mengulas berkenaan hal perwai-perawi tersebut??..
Ibn al-Solah mengulas:
(( يقع بصحة ما أسنداه ( البخارى ومسلم ) أو أحدهما , سوى أحرف يسيرة تكلم
عليها بعض أهل النقد , لا كلهم .
(( Semua perawi yang disebutkan dalam sanad al-Bukhari dan Muslim diputuskan sebagai Sohih kecuali beberapa nama yang dipertikaikan oleh sesetengah ahli al-Naqd (pengkritik sanad) bukan kesemuanya.))
Kami pula mengulas: Beberapa nama yang dipertikaikan sesetengah pengkritik sanad inilah yang termasuk dalam bahagian hadis muda’af, yang mana ia harus dimasukkan ke dalam kitab-kitab hadis yang Sohih, tanpa ada celaan seperti yang telah kami terangkan.
Kemudian seterusnya :
: ان الحكم على الحديث بالصحة , أو الحسن , أو الضعيف , انما هو لظاهر الاسناد , لا لما هو فى نفس الأمر , فنفس الأمر هو اليقين المطلق الذى لا يعلمه الا اللّه وحده
Menentukan sesuatu hadis sama ada bertaraf Sohih atau Hasan atau Dhoif adalah berdasarkan pengamatan zahir terhadap nama-nama yang terdapat dalam sanad. Sesuatu hadis dikategorikan sebagai Sohih, Hasan dan Dhoif bukan berdasarkan hakikatnya, karena hakikatnya yang sebenar hanya Allah jua yang mengetahui. Oleh karena itulah para ulama hadis menyebutkan:
(( كم من حديث صحيح هو فى نفس الأمر ضعيف , وكم من حديث ضعيف هو فى نفس الأمر صحيح , وانما علينا التحرى والاجتهاد ))
((Mungkin ada di antara hadis yang Sohih pada hakikatnya ia adalah Dhoif, dan berapa banyak hadis yang Dhoif sedangkan pada hakikatnya ia adalah Sohih. Yang menjadi kewajipan kita ialah membuat pemeriksaan dan berijtihad.)
Mereka mengatakan lagi:
: لأنه يجوز الخطأ والنسيان على العدل الصدوق , كما يجوز على غيره , فاليقين هنا اعتبارى محض.
((Ini karena ada kemungkinan perawi yang adil/yang benar melakukan kesilapan atau terlupa sebagaimana hal tersebut harus berlaku kepada orang lain. Oleh itu keyakinan terhadap mutu hadis di sini hanya dalam bentuk iktibar (iaitu berdasarkan pengamatan yang zahir)).
ورواية (( العدل )) عن (( الضعيف )) تعديل له عند الأصوليين .
((Apabila seorang perawi yang bersifat adil meriwayatkan hadis yang diambilnya daripada perawi yang bertaraf Dhoif, maka bererti dia menganggap perawi itu bertaraf adil, menurut ulamak Usul.))
Pengarang kitab al-Manhal menyebutkan:
” وقياسه أنه تصحيح له أيضا عندهم ” .
((Qiyasnya, bererti perawi yang bertaraf adil itu telah mentashihkan hadis Dhoif tersebut, menganggap hadis tersebut sebagai Sohih disisi mereka.))
8. Ulama Sufi dan Hadis Dhoif.
Mudah-mudahan para saudara kita di kalangan penulis dan pembimbing selepas ini mengambil sikap warak (berhati-hati) daripada menghamburkan pandangan secara ithlaq (pukul rata) sehingga sampai menganggap palsu (maudhu’) terhadap hadis-hadis yang Dhoif yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Seolah-olah hadis Dhoif itu sebagai maudhu’, makzub dan muftara (( موضوع , مكذوب , مفترى ))
tidak boleh diambil manfaat, tidak perlu dihormati dan tidak boleh dinukilkan dan tidak boleh langsung berjinak-jinak dengan lafaz dan pengertiannya.
Kemungkaran yang paling teruk ialah apabila kemelut yang dihadapi oleh saudara-saudara kita ini tidak berkurangan sampaikan mereka sanggup mempertikaikan/ menuduh yang bukan-bukan kepada orang-orang Sufi hanya karena berpegang pada hadis Dhoif, walaupun dalam hal-hal yang disepakati oleh Para Ulama Hadis dan Para Ulama Usul ditimur dan barat bahawa hadis-hadis Dhoif terbabit sunat diamalkan, juga semata-mata karena mengetahui sebahagian besar di kalangan Ulama-ulama hadis dan Imam-imam mereka adalah Ahli Sufi yang memimpin (pengikutnya dan umat) sebagaimana yang terdaftar dalam senarai sanad-sanad dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka. Sentiasalah mereka yang redho dengan penyakit hadis Dhoif, berdalilkan dengan mereka (Ahli hadis di kalangan Ahli Sufi).
Ibn Abdul Barr berkata:
: (( أحاديث الفضائل لا تحتاج فيها الى من يحتج به ))
((Hadis-hadis yang berkaitan dengan fadhilat-fadhilat, maka kami tidak perlukan orang yang layak untuk dijadikan hujah.))
Ibn Mahdi menyebut dalam kitab al-Madkhal:
: (( اذا روّينا عن النبى _ صلى اللّه عليه وسلم _ فى الحلال , والحرام , والأحكام , شددنا فى الأسانيد , وانتقدنا الرجال , واذا روّينا فى الفضائل , والثواب , والعقاب , تساهلنا فى الأسانيد , وتسامحنا فى الرجال )) .
((Apabila kami meriwayatkan daripada Nabi SAW tentang halal haram dan hukum-hakam, maka kami akan memperketatkan sanad-sanadnya dan kami akan membuat kritikan (pemeriksaan) terhadap rijalnya (nama-nama perawi yang terdapat dalam sanad). Tetapi apabila kami meriwayatkan hal-hal berkaitan fadhilat, ganjaran pahala dan seksa, maka kami mempermudahkan sanad-sanadnya, dan kami bertolak ansur dengan rijalnya.))
Imam al-Ramli menyebutkan hadis-hadis yang terlalu Dhoif (iaitu hadis yang dinamakan al-Wahiy) apabila sebahagiannya bergabung dengan sebahagian yang lain, maka ia boleh dijadikan hujjah dalam bab ini (iaitu Bab Fadhilat, Perkara yang menambat hati, Nasihat, Ketatasusilaan, Sejarah dan seumpamanya). Berdasarkan inilah, maka al-Mundziri dan para pentahkik yang lain mengumpulkan hadis-hadis terbabit dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib (menggemar dan membimbangkan).
Pendekatan yang diambil oleh golongan terdahulu yang membuat pengkhususan dalam bidang hadis ini samalah dengan pendekatan yang diambil oleh sesetengah fuqaha’ dan ulama tasawuf. Dan dengan pendekatan inilah kami berpegang. Dalam Matan Hadis-hadis Dhoif, kita banyak menemui hikmah-hikmah, ilmu makrifah, perkara yang seni-seni/ halus, kesusateraan yang menghimpun semuanya oleh hembusan wahyu kenabian adalah merupakan barang khazanah (Ilmu ) orang mukmin yang telah hilang.
Inilah pendekatan yang diambil oleh ulama terdahulu seperti al-Thawri, Ibn ‘Uyainah, Ibn Hanbal, Ibn al-Mubarak, Ibn Mahdi, Ibn Mu’in dan al-Nawawi. Ibn ‘Adiy meletakkan satu bab berkaitan hal ini (penerimaan hadis Dhoif) dalam kitabnya yang berjudul al-Kamil. Begitu juga yang dilakukan oleh al-Khatib dalam kitab al-Kifayah.
*******
Pada masa kini, kita dapat melihat (amat mendukacitakan), ada golongan yang menolak hadis-hadis al-Bukhari karena tidak sejajar dengan kefahaman yang dipeganginya, dan tidak bersesuaian dengan kecenderungannya atas nama menolong Sunnah. Malah ada orang yang menulis buku berkaitan hal ini, sedangkan dia bukan orang yang berkelayakan. Ada berpuluh-puluh musuh Islam yang membantunya untuk mencetak buku berkenaan dan mengagihkan secara percuma di merata tempat walaupun menelan kos yang besar yang didorong oleh kepentingan mendapatkan keuntungan material dan niat yang buruk.
Kalau tidak dengan rahmat Allah, dan langkah-langkah yang diambil oleh majalah Muslim (iaitu majalah yang diasaskan oleh penulis) dan sesetengah ulama hadis (untuk menangkis usaha tersebut), nescaya akan menyebabkan timbul keraguan terhadap semua hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan riwayat oleh Imam-imam Hadis yang lain. Tentunya (jika tidak ada usaha yang diambil oleh sesetengah Ulama dalam menangkis golongan terbabit), maka Sunnah Nabi yang telah sabit secara ilmiah terdedah kepada fitnah (semoga Allah melindunginya) yang ditimbulkan oleh golongan yang mendakwa sebagai Salafiyah, kononnya mereka yang lebih mengetahui tentang ilmu Sunnah , berbanding makhluk Allah yang lain. Mereka menghukum kufur orang dan menghukum mereka sebagai Syirik dan Fasiq kecuali sesiapa yang menurut hawa nafsu mereka yang jelek.
Fahamilah keadaan Ini :
Sesungguhnya Imam Al-Nasa’ie telah mentakhrijkan (iaitu memakai dan beri’timad dalam riwayat sesuatu hadis) nama-nama perawi yang tidak diijmak pada matruknya, yakni nama perawi sesuatu hadis yang hanya bersumberkan daripadanya. Asalkan jangan dia dikenalpasti sebagai seorang yang pembohong.
Apa yang berlaku kepada kami (iaitu hadis-hadis yang diamalkan oleh kami) yang diriwayatkan oleh Tokoh-tokoh besar Sufi dan Pendakwah ke jalan Allah, tidak terdapat di dalam sanadnya perawi yang pembohong atau pendusta. Cukuplah ini sebagai dalil keharusan beramal dengan hadis yang Dhoif pada tempatnya. Inilah pendirian yang diambil oleh ulama-ulama Tasawuf dan yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Kami memohon keampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya. Dialah jua yang memberikan taufiq dan tempat untuk meminta pertolongan.
ونستغفراللّه ونتوب اليه , وهو الموقف المستعان .
وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصبه وسلم .
وكتبه المفتقر اليه تعالى وحده
محمد زكى ابراهيم
رائد العشيرة المحمدية وشيخ الطريقة الشاذلي
بسم الله الرحمن الرحيم.
فوائد علمية متناثرة
وكتبه تلميذ المؤلف :
محي الدين حسين يوسف
حول الحديث الضعيف وأحكامه
الحمدللّه , والصلاة والسلام على رسوللّه , وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه. أما بعد .
1. Bilakah naik darjat Hadis Dhoif kepada darjat Hadis Hasan?
Apabila diriwayatkan sesuatu hadis yang mana disegenap sudutnya adalah Dhoif, tidak semestinya hasil daripada berhimpun banyak akan dianggap sebagai Hasan. Maka Hadis Dhoif di sisi Para Muhaqiqin terbahagi dua:
A.Yang ditampung dengan hadis-hadis yang lain: Hadis yang sebegini dibuat hujjah pada masalah fadhoil dan sepertinya. Hadis Dhoif daripada bahagian pertama ini disebabkan beberapa sebab :
1) Dhoif disebabkan lemahnya hafalan perawi yang meriwayatkannya padahal perawi
tersebut bersifat amanah.
2) atau Dhoifnya disebabkan Mursal
3) atau bersifat Tadlis
4) atau tidak dikenal perawinya (Majhul).
atau yang sepertimana perkataan para ahli hadis:
: اسناده محتمل للتحسين , أو قريب من الحسن , أو فى اسناده لين , أو ضعف , ثم : اسناده َضعيف , ثم : فى اسناده مجهول , أو مستور , ثم : ليس فى اسناده متروك , أو من يترك , أو من أجمع على ضعفه.
(( Isnadnya diihtimalkan bagi Hadis Hasan atau hampir dengan martabat Hadis Hasan
atau pada isnadnya terdapat sifat Liin atau sifat Dhoif. Kemudian isnadnya lemah,
kemudian pada isnadnya Majhul atau mastur, kemudian tiada pada isnadnya itu seseorang yang bersifat Matruk, atau mereka yang matruk ( ditinggalkan) atau mereka yang telah di Ijmak kan atas Dhoif riwayatnya.
Maka Dhoif yang begini akan ditampung keDhoifannya dengan hadis Dhoif yang lain yang tidak rendah darjahnya ( sama-sama Dhoif) dan hilang keDhoifan nya dengan sebab terdapat thuruq ( jalan riwayat ) yang lain yang bersamaan atau lebih tinggi daripada darjahnya.
B. Dhoif yang tidak tertampung dengan riwayat yang lain, dan tidak boleh dibuat hujjah dengannya secara mutlak. Tidak boleh pada bab fadhoil dan tidak juga boleh pada perkara yang selain fadhoil. Diantaranya hadis Al Waahiy dan hadis Mungkar. Iaitu hadis yang keDhoifannya disebabkan fasik rawinya atau dusta. Itulah perkataan muhadissin berkenaannya:
اسناده واه أو ضعيف جدّا , أو ساقط , أو هالك , أو مظلم
Hadis-hadis yang begini tidak berfungsi sekalipun maufakat padanya hadis-hadis Dhoif yang lain, lebih-lebih lagi apabila hadis-hadis Dhoif yang lain hanyalah bersamaan dengannya pada istilah-istilah pangkat tersebut, disebabkan kuat Dhoifnya dan sama taraf kedudukan hadis yang menjadi penampung. Ya, bahkan boleh meningkat pangkat hadis-hadis Dhoif tersebut daripada keadaan pangkat-pangkatnya kepada pangkat Hadis Mungkar disebabkan berhimpun Turuqnya (banyak jalan riwayatnya), dan tidak harus (haram) meriwayatkannya melainkan hendaklah disertai penerangan berkenaan keDhoifannya yang Mungkar.
2) Ijmak Ulama menerima sesuatu hadis sekalipun ia tidak Sohih.
Sesuatu hadis yang telah diterima oleh para ulama melalui jalan periwayatan adalah makbul sekalipun tidak mencukupi syarat-syarat Sohih, karena Umat tidak akan bersependapat di atas sesuatu yang sesat.
Berkata Ibn Abdil Barr dalam kitab al-Istizkar:
لما حكى عن الترمذى أن البخارى صحح حديث البحر (( هو الطهور ماؤه )) , وأهل الحديث لا يصححون مثل اسناده , لكن الحديث عندى صحيح , لأن العلماء تلقوه بالقبول .
((Ketika dihikayatkan daripada Imam at-Tarmizi bahawa al-Bukhari telah menSohihkan hadis berkenaan laut هو الطهور ماؤه , padahal para ahli hadis tidak menSohihkan sanad yang sepertinya, tetapi hadis tersebut disisiku adalah Sohih , karena para ulama telah menerima hadis tersebut sebagai makbul. ))
Berkata Ibn Abdil Barr di dalam kitab at-Tamhid, Jabir telah meriwayatkan daripada Rasulullah SAW :(( الدينار أربعة وعشرون قيراطا)) Beliau berkata: Pada berkenaan pendapat sebahagian Ulama yang berkata :
واجماع الناس على معناه غنى عن الاسناد فيه.
((Ijmak manusia atas maknanya itu terkaya daripada isnadnya.))
Berkata al-Ustaz al-Isfiroyni:
, تعرف صحة الحديث اذا اشتهر عند أئمة الحديث , بغير نكير منهم .
((Dikenali keSohihan sesuatu hadis apabila masyhur ia di sisi para ulama hadis tanpa terdapat ingkar padanya.))
Berkata sebahagian ulama:
يحكم للحديث بالصحة اذا يلقاه الناس بالقبول , وان لم يكن اسناده صحيح .
((Dihukumkan sesuatu hadis itu dengan Hadis Sohih apabila para ramai Ulama menerimanya sekalipun isnadnya tidak Sohih.))
3) Beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada hukum-hukum.
Para ulama telah berdalil dengan hadis-hadis Dhoif, yang Dhoifnya tidaklah terlampau Dhoif. Sehingga pada masalah hukum-ahkam yang mana hadis-hadis yang Dhoif telah juga diambil iktibar. Istimewa lebih-lebih lagi bila pada bab yang bukan bab hukum-ahkam.
Contoh contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak. Misalnya hadis-hadis berkenaan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri ketika di dalam sembahyang. Maka hadis-hadis berkenaan dalam perkara tersebut adalah hadis-hadis yang Dhoif. Oleh yang demikian sekalipun tidak ada satu pun hadis-hadis dalam masalah ini yang sah. Ada yang paling Sohih pun ialah hadis yang diriwayatkan oleh Wail: ((Nabi SAW meletakkan kedua-dua tangan tersebut di atas dada.)) Pada hal ia bukan pula dalil untuk amalan meletakkan kanan atas kiri, al-Sawkani dan selain beliau telah menyebut tentang hadis ini.
Engkau akan jumpai contoh-contoh pada masalah yang sebegitu terlalu banyak misalnya di dalam (1.) Kitab Muntaqa al-Akhbar – karangan al-Mujid Ibnu Taimiyah, dan syarahanNya ( 2.) Nailul Awthar – karangan as-Syaukani, (3.) Takhrij Al-Hadith al Hidayah – karangan al-Hafiz Zailaie, (4.) Talkhis al-Habir – karangan Ibnu Hajar al-Asqolani, (5.) BBuluughu al-Muram, dan SyarahanNya (6.) Subul al-Salam- karangan as-Suna’ni. Di dalam (7.) Muwata- Imam Malik terdapat hadis-hadis bertaraf Mursal dan hadis-hadis yang di mulai dengan lafaz “Balagha”. Begitu juga di dalam kitab-kitab Sunan terdapat bab-bab hukum yang berhujahkan hadis-hadis Dhoif, dalam jumlah yang tidak sedikit.
Berkata al-Hafidz Abu Fadhal Abdullah bin Siddiq al-Ghumari r.h.m: Perkataan para Ulamak dalam Ilmu Ini:
الحديث الضعيف لا يعمل به فى الأحكام ليس على اطلاقه , كما يفهمه غالب الناس أو كلهم ؛ لأنك اذا نظرت فى أحاديث الأحكام التى أخذ بها الأئمة المجتمعين ومنفردين وجدت فيها من الضعيف ما لعله يبلغ نصفها أو يزيد , وجدت فيها المنكر والساقط , القريب من الموضوع.
((Hadis-hadis Dhoif tidak diamalkan dengannya pada hukum-ahkam tidaklah menurut lafaz ithlaqnya (makna yang menyeluruh) sebagaimana fahaman kebanyakkan manusia atau seluruh mereka. Karena jikalau engkau memerhati pada hadis-hadis hukum yang telah digunakan oleh Imam-imam, samada secara sependapat ataupun sendirian pada sudut berdalil dengan hadis dhoif, nescaya engkau akan dapati terdapat hadis-hadis yang Dhoif barangkali mencapai separuh daripada dalil-dalil hukum-ahkam tersebut atau melebihi separuh. Kadang-kala engkau akan jumpai hadis-hadis Mungkar, hadis Saqith dan hadis-hadis yang hampir kepada taraf Maudhu’.))
Perkara ini telah diisyaratkan oleh saudara kandung kami al-Allamah al-Hafiz as Saiyid Ahmad di dalam kitab al Masnuni wal Battal, maka hendaklah dirujuk di sana. Bahkan mereka yang telah mencontohkan kaedah tersebut adalah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah di mana mereka telah berhujah dengan hadis-hadis Mursal. Sebahagian daripada usul Imam Ahmad dan muridnya Abu Daud adalah berhujah dengan hadis-hadis Dhoif. Beliau telah mendahulukan hadis Dhoif daripada Pendapat dan Qiyas. Imam Abu Hanifah seperti yang telah dinaqalkan oleh Ibnu Hazam juga telah beramal seperti mana mereka yang seangkatan dengannya. Terdapat di dalam perpustakaan kami satu naskah kitab tulisan tangan berjudul al-Mi’yar, di dalamnya disebutkan hadis Dhoif pada tiap-tiap bab, yang telah dipungut daripada ijtihad para Ulamak Mahzab Empat, sebagai dalil mereka samada sependapat atau bersendiri menggunakan hadis-hadis Dhoif pada sesuatu hukum.
Apabila telah mantap bagimu pada kaedah ini, maka janganlah engkau berpaling disebabkan was-was yang telah dilemparkan oleh kumpulan buat kacau-bilau bahawa hadis-hadis Dhoif tidak boleh ditegakkan hujah dengannya sama sekali, karena engkau telah mengetahui kaedah tersebut adalah sebahagian amalan para Imam Umat ini. Tetapi alangkah menghairankan, Thoifah (kumpulan) ini telah menggunakan hadis-hadis Dhoif apabila sesuai dengan kehendak mereka dan mengutamakan hadis-hadis Dhoif daripada yang Sohih. Perkara sebegini boleh diketahui dengan memerhatikan cara mereka menggunakan dalil-dalil untuk menegakkan bida’ah dan bantahan-bantahan mereka. Ini adalah merupakan permainan-permainan yang patut mendapat murka Tuhan
4) Ijmak Para Ulamak atas beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif:
Tidak cedera Ijmak disebabkan terdapat pertentangan dan pendapat yang pelik
( Syaz.) Tidak terdapat seorang pun dikalangan para Ulamak yang menentang Ijmak pada Keharusan beramal dengan hadis-hadis yang Dhoif pada soal Fadhoil Amal melainkan Al-Qadi Abu Bakar bin Al-Arabi. Yang demikian itu telah menyebut oleh guru kami didalam risalahnya, perkataan yang berbunyi,:
له وجوه يرد عليه منها , ويحمل كلامه عليها … ويكفى انه انفرد بهذا القول لئلا يحتج به
((Beliau (Qadhi al-Arabi) mempunyai pendapat-pendapat yang dibangkang dan (diihtimalkan) ditujukan maksud beliau kepada…. Memadalah bahawa bersendirian beliau dengan perkataan itu dan tidak boleh dipegang sebagai hujjah.))
Adapun perbuatan sebahagian penulis kini yang suka mengubah-ubah fakta, cuba menisbahkan pendapat tersebut (iaitu tidak boleh sekali-kali beramal dengan hadis Dhoif sekalipun pada Fadhoil Amal) kepada Imam al-Bukhari dan Imam Muslim sebenarnya adalah merupakan perkara yang sangat ajeeb (menghairankan).
Kenapa begitu, jawabnya karena Imam Al-Bukhari telah menulis di dalam kitabnya Al-Adabul Mufrod dan di dalam kitab Tarikh yang mana beliau tidak mensyaratkan periwayatan-periwayatan hadis dengan meninggalkan hadis-hadis yang Dhoif. Maka di dalam kedua kitab tersebut, beliau telah menisbahkan riwayat-riwayat tersebut kepada diri beliau sendiri, tidak lain tidak bukan tujuannya supaya bersungguh-sungguh manusia beramal dengan hadis-hadis tersebut walaupun terdapat hadis-hadis yang Dhoif. Kemudian Imam al-Bukhari R.A telah menyebut hadis hadis yang tidak menurut syarat-syarat beliau dalam kitab Jami’ nya, iaitu kitab Jami’ Sohih dan sebahagian daripada hadis hadis tersebut sekalipun di dalam Jami’ Sohih, karangan beliau terdapat hadis-hadis yang Dhoif, Ini terdapat di dalam ta’lik atau tarjamah beliau. Berlakunya perkara yang demikian menunjukkan, bahawa beliau sebenarnya beramal juga dengan hadis-hadis yang Dhoif, Adapun sebab beliau tidak menyebut di dalam Asal Kitab Sohihnya itu karena bertentangan dengan syarat syarat beliau, yang mana beliau hanya akan meriwayatkan hadis-hadis didalam Kitab Jami’ nya itu tidak lain melainkan hadis-hadis yang Sohih saja.
Adapun Imam Muslim, maka sesungguhnya Imam Nawawi yang telah mensyarahkan kitab beliau, telah menghikayatkan Ijmak atas Keharusan, beramal dengan hadis hadis yang Dhoif pada Fadhailul amal,
Padahal Imam Nawawi lebih mengetahui, berkenaan Imam Muslim, dan berkenaan Kitab Sohih Imam Muslim, berbeza jauh apabila dibandingkan dengan mereka yang membantah.
Adapun perkataan, sekumpulan daripada golongan orang yang menisbahkan diri mereka, sebagai golongan Salafi pada zaman kita ini, maka tidaklah akan cedera pula Ijmak lantaran kurang faham mereka itu dan lantaran disebabkan mereka membantahinya pada perkara yang telah diamalkan (iaitu beramal dengan hadis-hadis Dhoif).
Selain daripada itu, sebenarnya kebanyakan mereka yang mendakwa sebagai Salafi itu, bukanlah Ahli di medan Ilmu Ini .
5) Meriwayatkan hadis-hadis Dhoif?
Adalah wajib menerangkan keadaan sesuatu hadis itu adalah Dhoif ketika meriwayatkannya atau wajib disebutkan dengan salah satu dari lafaz yang menunjukkan Dhoif seperti lafaz :
روى untuk memelihara perbezaan di antara hadis yang Sohih, yang Thabit dengan hadis yang Dhoif, yang tidak sempurna padanya syarat-syarat Sohih.
6) Pemuka-pemuka hadis dahulu kala.
Di dalam kebanyakkan kitab-kitab para pemuka hadis yang terdahulu mereka menyebutkan setiap hadis dengan sanadnya tanpa menerangkan darjah hadis tersebut. Demikian itu karena bersandar kepada kaedah:
(( من أسند فقد أحالك , ومن لم يسند فقد تكفل لك ))
Ertinya: ((Sesiapa yang menyebut sanad maka sesungguhnya ia memalingkannya kepadamu, dan sesiapa yang tidak menyebut sanad sesungguhnya memadai ia bagimu.)) Oleh yang demikian lazimlah berniat.
7) Sebahagian daripada tanda-tanda keNabian
Kepada mereka yang berpangkalkan Hadis Nabi s.a.w pada selemah-lemah sebab , dan telah menimpa mereka demam panas Ta’asub ketika mendengar perkara yang bertentangan dengan Hawa Nafsu mereka berkenaan Hadis Nabi , ditujukan kepada mereka sabdaan Rasul s.a.w :
(( لا ألفينّ أحدكم متكئا على أريكته يأتيه الأمر من أمرى مما أمرت به , أو نهيت عنه فيقول : لا ندرى ما وجدنا فى كتاب اللّه اتبعناه )) رواه ابو داود والترمذى وصححه
((Sesungguhnya tidak akan di dapati sesorang dari kamu yang bertelekan (duduk) di katilnya, yang datang padanya sesuatu perkara dari urusan dari perintahku atau laranganku, melainkan akan akan menjawab: Kami tidak tahu dan tidak menjumpainya ada dalam Kitab Allah untuk kami ikutinya.))
Waham dan Tadlis pada menerangkan pangkat hadis.
Telah beradat sebahagian mereka yang telah mewahamkan dan mentadliskan pada menerangkan darjah hadis dengan menggunakan perkataan:
(( ليس بصحيح)) يعنى (( حسن أو ضعيف ))
Ertinya: Tidak Sohih iaitu (maksud yang sebenar adalah samada) Hasan atau Dhoif, melainkan bahawa menisbahkan perkataan berikut sebenarnya bertujuan untuk memberi kesamaran kepada umat bahawa hadis tersebut adalah Maudhu’. Padahal tidak terdapat di dalam kitab-kitab hadis istilah yang begitu, sesungguhnya kebanyakkan mereka yang mengaku Salafi pada masa kita ini menulis di dalam majalah-majalah mereka perkara waham dan tadlis. Mesti diketahui apabila di dapati di dalam kitab-kitab ahli hadis yang terdahulu (al-Mutakaddimin) istilah seperti
لم يصح فى هذا الباب حديث
((Tidak sah pada bab ini suatu hadis pun)), maka yang dimaksudkan adalah terdapat hadis Hasan dan Dhoif padanya. Mereka menggunakan peristilahan sebegitu karena mereka berbicara dihadapan:
1.Para Ulamak atau
2. Pada ketika kebanyakkan hadirin yang hadir adalah membincangkan istilah-istilah di dalam ilmu ini.
9)Membatalkan hadis-hadis dengan menyangka membersih dan menolongnya.
Sebahagian bala Allah Taala yang ditimpakan pada segolongan orang, iaitu sengaja menyeluk kitab-kitab hadis dan membahagi-bahagikannya kepada hadis Sohih dan Dhoif, bahkan cuba mengumpulkan kesemua hadis-hadis Sohih dalam satu kitab dengan hanya menurut hawa nafsunya. Mengandingkan hadis Dhoif bersama Hadis Maudhu’ dalam satu kitab pula. Maka apakah bencana dahsyat yang ditimpakan lagi?. Adakah karena kemasyhuran dan banyak karangan yang menghasilkan banyak harta benda?. Atau di sana ada tujuan yang tersembunyi untuk mengenepikan hadis-hadis yang begitu banyak?. Lantaran menuntut redho syahwat orang-orang tertentu atau menuntut redho mereka yang di tangannya suruh dan tegah, dan menyebarkan sebahagian mazhab dan hawa nafsu yang mengikut siasah dengan memperdaya menggunakan agama?
10) Kaedah usul pada sesuatu yang pada perkara yang ditinggalkan الترك
Setengah daripada bencana yang meratai di kalangan masyarakat bahawa sesorang akan berkata: Perkara ini haram karena Nabi meninggalkannya atau tidak melakukannya.
Firman Allah Ta’ala:
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا
((Perkara yang telah mendatangnya pada kamu oleh Rasul, maka hendaklah kamu ambil, dan perkara yang Baginda tegah pada kamu maka hendaklah kamu tinggalkan.))
Tidak pula Tuhan berfirman: : وما تركهdan perkara yang ia tinggalkan. Maka Nabi meninggalkan sesuatu perkara tidak pula bermakna perkara tersebut haram karena kaedah:
والأصل فى الأشياء الاباحة , الاّ ما ورد فيه نص أو دليل شرعى .
((Asal pada sesuatu perkara adalah harus melainkan apabila telah datang padanya nas atau dalil syarak yang mengharamkannya.))
11) Penyudah, ditujukan pada Para Pemuda kami, Para Pewaris.
Sesungguhnya sebaik-baik perkara yang kami bentangkan pada hari ini kepada para pewaris umat ini dan pemukannya adalah: ((Bahawa berhadaplah sepenuh inayah kamu untuk kitab-kitab hadis, mengambil dan belajar kepada para guru yang beramal dan jadilah kamu para penolong pada beramal dengannya, janganlah kamu menjadi yang memusuhinya. Sejahat-jahat musuh adalah musuh yang menyerupai rupa teman. Dan sesungguhnya kitab-kitab hadis yang sangat berhajat para pemuda padanya lebih daripada berhajat kepada air sejuk pada ketika haus/ dahaga, maka lazim olehmu kitab :
1.Riyadus Solihin—- Imam Nawawi,
2.Al-Targhib wa al-Tarhib—-al- Munziri,
3.Subulus Salam- as- Sun a’ni,
4.Nailul Awthar-al-Syaukani,
Jangan meluputkan kamu oleh Kitab al Syamail al Muhammadiah— al-Tirmizi dan Sifru as Sa’adah– al-Fairu Zabadi. Maka pada perkara-perkara yang telah kami sebutkan terdapat kebaikan yang banyak, dan permulaan keharuman bagi pemuda Islam yang menuju kepada peradaban kebudayaan Islam yang sihat, yang tidak bertukar-tukar dan tidak kacau bilau.
“وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم”
Sabtu, Mei 07, 2011 | 0 komentar | Read More